Live KAWACA TV
Tonton
wb_sunny

Antologi Puisi Bibir dalam Jas Hujan: Sebuah Evaluasi - Nanang Ribut Supriyatin

Antologi Puisi Bibir dalam Jas Hujan: Sebuah Evaluasi - Nanang Ribut Supriyatin

oleh Nanang Ribut Supriyatin

Tidak mudah menerbitkan sebuah kumpulan puisi dalam satu tema maupun dalam satu pola pengucapan. Sejak awal menulis puisi -- banyak perubahan yang terjadi terhadap saya saat proses kreatif itu berlangsung. Misalkan saat mengulas buku "Nyanyian Anak Negeri" (1984), Putu Arya Tirtawirya menyimpulkan sajak-sajak saya merupakan sajak-sajak transparan yang cukup jernih, efisien dan efektif dalam penerapan bahasa." Sedangkan Diah Hadaning saat mengomentari antologi puisi "Suara Suara" (1985), berkata "Dengan sajak, Nanang telah mencoba bersuara dalam kehidupan, mencari makna kehadiran diri, tentang arti sebuah eksistensi.".
Dan, Korrie Layun Rampan lebih melihat proses kreatif dari sudut pandang berbeda. Korrie lebih tertarik berkomentar secara keseluruhan dari puisi-puisi saya yang dimuat di media massa. Katanya: "Sajak-sajak Nanang Ribut Supriyatin merupakan sajak yang mencirikan pola pengucapan kiwari dalam persajakan Indonesia dari jalur sajak-sajak imagis. Penggunaan prosa di dalam bangunan puisi membuat pengucapan sajak jadi unik karena penghilangan unsur puisi seperti rima, irama, dan bait. Untuk lebih memberi tekanan pada makna tertentu penyair bahkan suka meletakkan enjambemen pada sejumlah sajaknya, sehingga baris-baris prosa dalam kalimat-kalimat yang kadang royal menjadi lentur. Beberapa sajaknya memberi perpektif untuk berkembang pada gagasan besar dalam perjalanan kepenyairannya membuat ia bersajak dengan santai, meskipun imagenya sering cukup tajam dan bernas."
*
Jika penilaian karya sastra (baca: puisi) hanya sebatas kumpulan tunggal, saya kira belum merupakan final. Pujian ternyata banyak diungkapkan kritikus saat membaca dan menelaah sajak-sajak Rendra yang dimuat dalam antologi "Sajak-Sajak Sepatu Tua" dan "Blues Untuk Bonnie". Tapi tak jarang penanggap menanggapi sajak-sajak pamflet Rendra sebagai sajak-sajak yang gagal.
Begitu pula dalam "O, Amuk, Kapak!" karya Sutardji Calsoum Bachri disebut-sebut sebagai puncak kreatifitasnya. Sehingga untuk kelahiran puisi-puisi yang belakangan kurang mendapat respon. Semua ini sesuatu yang lumrah. Pro dan kontra akan selalu ada dalam sebuah karya cipta. Sejelek-jelek apapun pendapat kritikus, kelak akan membawa penyairnya pada suatu sebutan "The Best!". Bagi saya, hal terpenting dalam berkarya ialah konsisten dan tak terjebak pada stagnasi.
Mengkritisi Karya Sendiri
Kalau ingin menjadi besar seyogyanya tak perlu takut pada keadaan. Hadapi, Seburuk-buruk apapun orang lain menilai karya kita. Satu puisi bagus, sembilan puluh sembilan puisi buruk, tak masalah. Artinya, jika dalam antologi puisi, dan hanya satu yg terbaik -- itulah kemenangan. Kemenangan penyair untuk ke depan. Tapi bersyukur jika penilaian mayoritas bagus. Antologi puisi penuh pujian dan sanjungan. Like, like, like! O, euforia!
*
Mengumpulkan puisi. Memilah puisi. Mengedit. Semua itu bagian dari mengkritisi ciptaan sendiri. Sebelum puisi-puisi dijadikan objek pembaca. Sebelum puisi-puisi di bedah sedalam-dalam pena kritikus.
Dan inilah pendapat beberapa pengamat mengenai kehadiran antologi puisi saya, maupun terhadap puisi-puisi saya di media massa sebelum lahirnya antologi puisi "Bibir Dalam Jas Hujan".
"Puisi-puisi Nanang R Supriyatin umumnya mengesankan sebagai puisi yang mengangkat hakekat personal dengan metode konvensional. Puisi-puisinya menarik justru karena ungkapannya yang sederhana, tapi masalah yang digarapnya tak pernah selesai dicerna. Menghanyutkan tapi tidak memuaskan." (Tajuddin Noor Ganie, cuplikan komentar dari buku "Suara Suara", Skh. Banjarmasin Post, 1985).
"Yang perlu tertangkap oleh saya sebagai penikmat sajak bahwa sajak-sajaknya banyak bercerita tentang kehidupan. Dengan Tuhan sebagai 'Sumber'. Lebih dari itu, gambaran kerisauan seorang anak muda terhadap seputar dunia yang dipihaknya terasa benar. Terkadang digugatnya tapi tak jarang dipasrahinya." (Ayid Suyitno Ps, cuplikan komentar dari buku "Suara Suara", Skh. Terbit, 1985).
"Tema-tema maut, kesepian dan kemisterian sangat akrab dalan sajak-sajak Nanang. Maut bagi penyair ini bukanlah sesuatu yang menakutkan. Maut adalah sesuatu yang ditunggu, sesuatu yang perlu dimesrai. Terlepas dari apakah kita siap atau tidak dalam menghadapinya..." (Drs. Maizar Karim, membedah antologi puisi "Pusaran Waktu", dalam diskusi sastra di Taman Budaya Jambi, 1995).
Puisi-puisi awal saya sangat buruk. Buruk karena belum bisa memilih kata yang pas dalam satu kesatuan. Buruk karena masih terpengaruh puisi-puisi penyair Indonesia ternama, juga puisi-puisi dunia yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Namun, puisi-puisi saya yang lahir setelah sekian tahun kemudian -- juga tak kalah buruk. Banyak puisi saya yang di tolak redaksi. Tak jarang juga manuskrip puisi hanya dipandang sebelah mata oleh penerbit. 25 puisi yang saya kirim ke DKJ dan kemudian sebagian puisi saya bacakan dalam laga "Tiga Penyair Jakarta Baca Sajak" (bersama Wahyu Prasetya dan M. Nasruddin Ansyori, 1988) di Teater Arena Tim, tak memperoleh respon. Meskipun saat itu audiance lumayan banyak dan diskusi begitu serius. Sesuatu yang juga terjadi sebelumnya saat pembacaan puisi "Tiga Penyair Jawa Barat Baca Sajak" (Acep Zamzam Noor, Nirwan Dewanto, Soni Farid Maulana). "Tiga Penyair Lampung Baca Sajak" (Isbedy Stiawan Z S, Iwan Nurdaya, Sugandhi Putra), dan sebagainya. Nyaris, hanya sebatas angin lalu. Miris. Meskipun mungkin gaungnya sangat terasa di daerah-daerah. Sebuah gagasan bagus dari komite sastra. Mengedepankan anak-anak muda untuk tampil beda.
Nirwan Dewanto mengritisi puisi-puisi saya yang dimuat dalam bentuk stensilan berjudul "Tiga Penyair Jakarta Baca Sajak", dan dimuat di Majalah Sastra Horison, 1988:
"Sajak-sajak Nanang R Supriyatin memperlihatkan kecenderungan berucap spontan, ditambah rasa sentimental yang berlebihan di sana-sini. Penciptaan sajak-sajaknya dilandasi oleh keharuan dan keperihan sesaat, dan kesesaatan itu nampaknya membengkalaikan eksplorasi penyairnya. Bahasa hanya digunakan sebagai alat yang gampang-gampangan untuk menyatakan obsesinya."
Penilaian Nirwan Dewanto atas puisi-puisi saya yang tercecer itu, sama persis dengan penilaian Bambang Widiatmoko saat mengkritisi antologi puisi "Suara Suara": "Mengamati sajak-sajak Nanang memang belum terlihat eksistensi yang kuat pada penyairnya. Sebagian besar sajaknya hanya berupa sketsa-sketsa, rekaman sesaat pada objek yang dihadapinya. Sehingga tentu sajak-sajaknya belum memberikan kedalaman makna yang kontemplatif... Bagi Nanang, sajak adalah sesuatu yang indah dan abadi, sehingga menarik untuk digeluti. Dan sajak adalah surga bila sewaktu-waktu kita mati. Tetapi Nanang belum mampu menghadirkan suatu keindahan di balik sajak itu sendiri. Sehingga yang nampak hanya permukaannya saja." (Majalah Pusara, Yogyakarta, 1987).
Agak bertolak belakang dengan tanggapan Anwar Putra Bayu saat mengomentari antologi puisi "Prosa Pagi Hari" (1995). Dalam dunia kepenyairan, Nanang RS dapat dikatakan sebagai penyair yang memiliki puisi-puisi kontemplatif. Tema-temanya begitu keseharian dengan kita. Puisi-puisinya merupakan sebuah dunia yang begitu dekat dengan problem manusia sehari-hari. Realitas dekat dari eksistensi manusia itu sendiri... (Majalah Puisi Diksi, 1995).
Yang ingin saya sampaikan bahwa cara pandang setiap orang atas suatu objek akan selalu berbeda. Dan perbedaan ini akan semakin menguatkan seseorang dalam menghasilkan karya bermutu. Saya percaya setiap perjalanan hidup ialah sebuah sejarah yang kelak membentuk karakter personil, maupun universil.
Memberi Ruang Pada Puisi
Jika saya tidur, saya tak akan menemukan puisi dalam tidur saya. Yang ada ialah mimpi-mimpi. Dan, bila saatnya saya terbangun, akan saya rekam mimpi-mimpi itu. Tapi, tak selalu mimpi dapat terekam. Kata orang tua dulu, mimpi hanyalah bunga tidur. Mimpi itu cahaya yang berkelebat. Mimpi itu bayang-bayang.
Jika saya terbangun dari tidur, dan dalam kondisi tubuh yang baik, maka akan muncul keinginan untuk menulis. Karena yang ada dalam kepala saya 'puisi', maka pikiran-pikiran saya dibayang-bayangi kata-kata. Dalam kamar, ruang yang sempit, akan bertaburan kata-kata bagaikan asap mengepul. Karena salah satu keberhasilan penyair dalam menulis puisi ialah membaca puisi-puisi penyair lain, dan tentunya juga membaca buku-buku diluar sastra (ungkapan HB. Jassin yang saya ingat) -- tentunya yang terpikir adalah sebuah pilihan kata yang tepat sehingga diperoleh gagasan yang dapat menyenangkan si pendengar atau pun pembacanya. Tapi sekali lagi, yang namanya 'diksi' terkadang dilupakan. Oleh karena puisi bukan prosa, maka selalu saya merasa keasikkan jika sedang menguntai kalimat. Seringkali terjadi pelanggaran batas larik saat menulis. Secara sintaksis satu kata/kalimat melompat. Dalam arti kerennya terjebak pada istilah enjambemen (asalnya dari bahasa Perancis). Sesuatu yang lumrah terjadi.
Sebagai contoh misalnya pada puisi "Etsa Yang Membusuk"*:
kepedihan itu
kubaca dari matamu
maut yang terbaring
seperti benda tajam
ingin melukaimu
aku rasakan kebahagiaan yang kelam
ketika kau katakan duka itu padaku
hanya nyanyian dan gitar mati
membentur pintu
kabut yang menyimpan kisah
telah lama memecah di udara
dan ketika kau berlagak sebagai
si penyamar, aku telah lama memelukmu!
* "Jakarta Jangan Lagi!", antologi puisi bersama Ayid Suyitno Ps, Endang Supriadi, Kurnia Effendi, Medy Loekito dan Wowok Hesti Prabowo, sisipan Kolong Budaya, 1996).
*
Puisi seyogyanya diberikan ruang, sehingga kedudukannya menjadi terhormat di mata batin pembacanya. Namun, usaha memberi yang terbaik seringkali terlupakan. Jika saya menulis puisi berdasarkan kaidah dan aturan, umpamanya memikirkan istilah sintaksis, linguistik, idiom dan sejenisnya -- kemungkinan terbelenggu pada istilah-istilah tersebut. Renungan terhadap cara hidup dan mengutamakan ketenangan (baca: kontemplatif) akan meluap dan terbang tinggi. Meskipun saya selalu ingat apa kata mbak Google, bahwa puisi yang baik antara lain pemilihan judul yang menarik, pemilihan kata/diksi yang digunakan tepat, adanya penggunaan majas/metafora (gaya bahasa) dan sebagainya.
Proses, Proses, Proses
Kegembiraan pertama bagi seorang penulis ialah saat ide/gagasan menjadi sebuah karya. Kita kesampingkan dulu kualitas. Biarkan bagus-jeleknya kita serahkan pada pembaca. Yang terpenting kita sudah tahu maksud dari tulisan, meskipun setelah rentang waktu kita tak lagi dapat menjelaskan apa yang kita tulis. Kegembiraan kedua, ialah menjadikan diri kita seorang penyunting abadi bagi karya kita. Menyiapkan naskah yang siap cetak dengan memperhatikan segi sistematika penyajian isi, dan bahasa. Untuk yang kedua ini tak sepenuhnya saya lakukan. Antologi puisi saya, "Suara Suara" (1985), "Dunia Di Persimpangan Jalan" (1989) dan "Bayangan" (1996), saya serahkan pada teman-teman penyair merangkap editor. Hasilnya lumayan bagus, sesuai dengan bayangan saya. Puisi tanpa enjambemen. Puisi tanpa perubahan kalimat. Tata letaknya juga bagus. Artinya ini sesuai naskah dasar tatkala masih menjadi manuskrip. Editor yang baik tentulah yang dapat mencari kelemahan kalimat, dan kemudian memperbaikinya.
*
Biarkan kritikus menilai isi puisi. Jangan biarkan kritikus meluap-luap dan meledak-ledak akibat kelemahan editor. Sedikit cacat pada tubuh puisi, maka gagallah ruh pada puisi.
*
Sesuatu yang membuat saya miris pernah terjadi saat antologi puisi saya, "Prosa Pagi Hari" (1995), "Apologia" (2013), dan "Pilihan Kata Serpihan Kata" (2016) terbit. Kalimat banyak salah. Hurup banyak raib. Terjadi enjambemen, diluar teks. Saat buku sudah tercetak, sangat berbeda dgn manuskrip dan juga pdf. Saya cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala. Tapi mau bilang apa. Saya mengabaikan editor. Sesungguhnya peranan editor begitu dominan. Melupakan proses, sama saja dengan melupakan keberhasilan.
Kelahiran "Bibir Dalam Jas Hujan"
Sejak adanya face book, sehari-hari saya terasa indah. FB bagaikan seorang istri. Setiap saat, sejak bangun tidur hingga berangkat tidur -- hand phone tak pernah jauh. Selain rutin membuka group whatshapp pegawai, ialah fb yang rajin saya buka dan saya baca. Maafkan saya, sebab engkau tak bosan-bosan menyapa serta memberi peluang saya untuk menuliskan status, setiap hari, bahkan hingga beberapa kali.
Begitulah. Hidup dengan puisi, dengan doa, dengan usaha dan upaya. Dunia bagaikan hamparan laut dengan debur ombak dan angin yang selalu menyapa. Jika ada sebagian orang alergi dengan postingan puisi, maka saya bagian dari alergi itu. Hampir setiap hari saya menulis puisi. Jika dulu melalui mesin tik, maka kini puisi hadir di tengah kehiruk-pikukkan kota Jakarta. Puisi hadir di tengah kesepian ibukota.
Hasrat menerbitkan buku puisi selalu ada. Terkadang bingung bagaimana menyatukan puisi-puisi yang ada di fb? Komputer, dan juga laptop ialah bagian dari hidup saya. Meskipun gagap teknologi, namun untuk alat yang terakhir ini harus bisa saya kuasai. Hanya sedikit. Ya sedikit dari kebanyakan. Saya buka beranda fb. Saya copy paste puisi. Saya kumpulkan pada file bernama 'sesuatu'. Saya baca ulang satu persatu. Saya edit jika ada kalimat yang kurang sesuai. Saya tambah dan kurangi kata demi kata. Huruf demi huruf. Tanda demi tanda. Tapi yang tetap stabil ialah tanggal penulisan.
Kenapa puisi mesti direka ulang? Penting. Saya katakan sebelumnya bahwa kita mesti 'berani' mengritisi karya sendiri. Ada perubahan secara signifikan? Tidak. Gambaran suasana malam di tepi laut dengan suara angin, ombak dan bisik-bisik tetangga tak akan hilang hanya gara-gara lampu-lampu jalanan mati. Hanya karena helikopter lintas di atas gedung-gedung. Puisi mesti punya pondasi bernama kata-kata, tema dan gaya. Meskipun kenyataannya saya tak mampu merevisi secara sempurna.
Bayangan untuk menerbitkan buku puisi ada. Bayangan untuk memilih teman yang siap membantu mengedit ada. Peluang menyatukan puisi dalam antologi tunggal ada. Dan, salah satu kebingungan yang dimiliki seorang Nanang tentulah memilih judul. Kebingungan yang manusiawi. Apalagi berjumlah 105 puisi, dengan judul puisi yang berbeda. Saya kira dengan "jabat erat dan doa kuat" (pinjam sapaan Sosiawan Leak), akhirnya terpilih judul buku "Bibir Dalam Jas Hujan". Salah satu judul puisi. Bukan semata-mata puisi berjudul "BDJH" baik. Tapi dikarenakan terkesan 'nyeleneh', termasuk didalamnya keremajaan dan keromantisan. Biarkan pembaca yang merepresentasikan judul. Tentunya seperti antologi puisi saya terdahulu, "Prosa Pagi Hari". Antologi puisi yang terakhir ini juga -- setiap puisi diletakkan sesuau tanggal penciptaan. Puisi pertama "Buah Tak Jauh Jatuh Dari Tangkainya" di tulis tanggal 01 Juni 2017.
Sedang puisi di halaman terakhir "Takluk" di tulis tanggal 27 Maret 2018. Sisanya, 103 puisi tentulah di tulis dalam waktu delapan bulan. Produktifitas yang mungkin berlebihan. Sementara Chairil Anwar untuk mendapatkan satu karya puisi bagus mesti berpetualang dan observasi ke tengah jalan. Memilih kata yang tepat. Selanjutnya saya mempercayai Humam S. Chudori sebagai editor. Humam ialah seorang novelis, cerpenis dan penyair. Perbendaharaan kata dan bacaan yang disadapnya, serta pengalamannya mengedit membuat saya yakin bahwa beliau mampu dengan tugas itu. Dan, Humam juga bertugas memediasi antara saya, puisi dan penerbit Kosa Kata Kita -- yang mana Kurniawan Junaedhie sebagai Supervisi Penerbitan.
*
Nama Kurniawan Junaedhie bukan nama asing bagi saya. Selain menulis puisi dan cerita pendek, KJ juga rajin mengumpulkan ungkapan, semacam kredo sastrawan. Bersama Adek Alwi dan almarhum Lazuardi Adi Sage, beberapa kali mengikuti forum puisi tingkat nasional.
Judul dan isi puisi -- diserahkan pada penyairnya, kecuali cover buku, tata letak dan huruf. Sebuah kolaborasi dan sinergitas sederhana.
Minggu pertama bulan Juli 2018, terjadi komunikasi antara saya, Humam S. Chudori dan Kurniawan Junaedhi. Buku "Bibir Dalam Jas Hujan" sudah tercetak dan siap diperkenalkan. Ditemani Pudwianto Arisanto, kami pun dipertemukan di sebuah cafe terbuka di daerah Bumi Serpong Damai. Kopi, teh, nasi goreng dan mie goreng menemani kami. Seorang wanita sekitar 30-an tahun memperkenalkan namanya. Wanita misterius, yang kemudian menyanjung-nyanjung nama Jokowi setiap kali bicara. Wanita ini yang kemudian berharap memiliki antologi puisi BDJH. Dan dengan ikhlas, saya pun memberinya 1 eksampler, dengan harapan dibaca.
*
Sepanjang Juli 2018. Buku BDJH sudah memberi peluang beberapa penulis untuk merasakan 'renyah'-nya ungkapan puisi. Puisi masih dalam kategori remaja yang bicara tentang cinta dengan latar keseharian. Meskipun beberapa puisi bicara tentang ruh, tentang hati, serta tentang kepenyairan itu sendiri. Pendapat dan penafsiran kemungkinan berbeda dari setiap penikmat. Seorang Sofyan RH Zaid sangat Berhati-hati dan penuh pertimbangan. Dalam status di fb-nya, ia cuma mengungkapkan "Engkau hanya jasad bagi ruhku yang tersesat!". Pada puisi berjudul "Kata Sambut", romawi V, hal. 81.
Sementara Alex R. Nainggolan tergoda pada puisi berjudul "Kegembiraan Yang Sederhana" (hal. 12): aku membayangkan sebuah kembiraan yang sederhana./ tak pernah ku berpikir: hujan turun, jalanan becek, maut menyapa./ sebab hanya reruntuhan kata-kata dan doa-doa yang keluar dari detak jiwa, mengiringi malamku. (bait ke-3).
Eko Windarto, asal kota Malang. Nama yang tak lagi asing. Kami pernah disatukan dalam komunitas Himpunan Penyair, Pengarang dan Penulis Nusantara (HP3N), dengan penggagas Putu Arya Tirtawiirya (Mataram). Eko lebih memilih puisi berjudul "Doa" dari 105 puisi yang tersaji. Sehari sebelum memberi ulasan, Eko sempat meminta saya memilih salah satu puisi yang dianggap baik. Saya tak menberi jawaban. Saya berpikir, tugas seorang penyair ialah menulis puisi. Jika puisi sudah lahir, maka tugas pembaca untuk memelihara dan menilainya.
sebuah doa tertulis di kertas, tergeletak begitu saja di ruang tak berpenghuni.
tulisannya kabur. ada bercak hitam di sisinya dan tak pernah seorang pun menorehnya.
setiap malam doa yang tertulis di kertas, membuka halamannya, melampiaskan aroma mawar.
katakan Tuhan, isyarat apa yang kau berikan hingga aku ingin membacanya.
di ruang tak berpenghuni, lelaki sendiri menangisi hidup.
ada airmata jatuh di atas sajadah!
26/06/2017
Catatan penting lainnya dari Eko Windarto. ia katakan, "Penyair adalah orang yang mengabarkan gagasan melalui puisi. Penyair juga sebagai pencipta sekaligus pelaras ide bahasa. Penyair telah lebih dulu membahasakan sejarah atau tentang kenangan masa lampau menjadi teks-teks sastra. Penyair juga mencatat dan mencatut kegelisahan dalam dirinya sendiri."
Puisi-puisi yang terdapat dalam buku BDJH, secara umum biasa saja. Baik dari tema, pilihan kata dan tipografi. Biasa, karena puisi di tulis saat waktu luang keseharian saya. Puisi sebagai sebuah status. Pembaca diperbolehkan menge-like atau mengomentari. Dan, saat puisi-puisi dalam face book itu disatukan, baru terasa betapa berartinya sebuah status keseharian. Puisi menjadi renyah dalam keterbatasan literature yang saya baca. Sekali-kali sebuah kalimat menohok seseorang. Sekali waktu kata bermain-main di tengah kegelisahan antara aku-kau. Pada waktu yang lain, ungkapan seperti tak habis-habis mempengaruhi pembaca untuk memahami sebuah kesederhanaan.
Teti Wiradinata, pemilik cafe 'Guitar Freaks' pernah mengirim kalimat melalui whatshapp. Ada rasa keterharuan saat membaca sebagian puisi, hingga menyeretnya untuk ingin membaca dan menuntaskannya.
Jika Eko Windarto memilih puisi "Doa" sebagai salah satu puisi yang dibahasnya. Maka beda dengan Sugiono Mpp maupun Isson Khairul. Sugiono memilih puisi "Bibir Dalam Jas Hujan" (hal. 57) sebagai sebuah kenyataan riil. Sebagai adonan diksi yang liris romantis. Saya katakan, puisi ini ada karena simbol kepedihan.
bibirmu yang terkatup saat hujan lebat mengingatkan aku pada kesedihan yang panjang
bus antarkota yang sesak oleh penumpang diam-diam membawamu dalam tangis dan kecemasan
aku memandangmu bagai wortel yang terbelah. tanpa darah
siapa korban dari sebilah pisau yang tergeletak di atas meja makan? tak ada! sebab hanya sebuah bibir yang terkatup, berlindung di balik jas hujan. meskipun dari tetes air matanya tumbuh cerita lama
hanya sebuah novel yang tak terbaca. mungkin! sebab hujan telah sampai ke tubuhmu
25/11/2017
Ada kebanggaan tersendiri saat Isson Khairul menulis judul Tarian Puisi Di Halte Bus. Judul tulisan terinspirasi dari puisi "Ada Puisi Di Jantung Halte" (hal. 93). Tulis Isson: "Di tangan penyair, halte menjadi puisi. Kenapa? Karena sebagai tempat singgah, halte tak hanya dimaknai sebagai tempat. Bukan hanya sebagai lokasi untuk janjian. Tapi, ada beragam percakapan hidup, berlangsung di sana. Antara mereka yang sudah saling mengenal, dengan mereka, yang sebelumnya tidak saling kenal."
ADA PUISI DI JANTUNG HALTE
nuyang bernyanyi sepi di jantung halte. rona wajahnya mengingatkan kota yang riuh. tapi siapa membawamu ke sini? sepenggal milor, sepercik nasi, kau santap habis bersama retno. uche berdehem. segelas kopi tak habis-habis di atas meja. tapi puisi masih menari-nari di jantung halte, tersaji bersama ubi cilembu. ada apa dengan puisi esai? saut si gimbal tergesa-gesa, berdiri dan duduk. narudin? wow, pituin masih on the way. ada arief, juga emi lesehan. ada apa dengan larik? nuyang gelisah oleh tubuh gemuknya. semoga kita sampai di whattsap. tapi, siapa menari-nari di jantung halte?
19/02/2018
pada kesempatan lain, Isson Khairul memilih bait 3 dari puisi berjudul "Whattshap Dari Pacar Lama" (hal. 29), sebagai catatan melengkapi kegembiraannya sesudah membuka dan membaca "Bibir Dalam Jas Hujan".
"aku sedih telah kehilanganmu!" ucapmu. "kupilih jalan hidupku dari malam ke malam, tanpa jarak. bahkan sekadar memeluk bayanganmu pun -- telah kubayar dengan airmata!"
Sejak menerbitkan antologi puisi di awal-awal saya menulis, selalu yang terpikir ialah rasa bangga telah menjadi bagian yang hidup dari kesusastraan Indonesia.
Saat ngobrol dengan Arswendo Atmowiloto di majalah Hai. Saat itu saya masih duduk di bangku SMA. Kebetulan sekolah saya masih di daerah Palmerah. Pertanyaan saya, "Bagaimana menjadi penulis yang sukses?" Masih terngiang dengan jawaban Wendo. Teruslah menulis, menulis dan menulis. Dan, saya berpikir bahwa sukses dan tidaknya karir seseorang tergantung seberapa besar usaha yang dijalankan.
Pertanyaan yang sama pernah saya sampaikan ke almarhum Wiratmo Soekito, saat saya berkunjung ke rumahnya di Setiabudi Barat, 19 tahun yang lalu. Jawabannya singkat, "Baca, baca dan baca!" Seingat saya Wiratmo Soekito memiliki banyak buku di rak ruang tamu. Mayoritas buku-buku berbahasa asing.
Dan, pertanyaan substantib mengenai kepenyairan dijawab almarhum Korrie Layun Rampan. "Satu puisi bagus dan dibaca banyak orang, lebih berharga dari pada menulis seratus puisi tapi tak terbaca dan tak terlihat orang lain."
Kini, melalui buku BDJH, beberapa penulis memberi komentar yang beragam. Rata-rata menanggapi buku ini positif, diantaranya ditulis Gianto Giyanto Subagio, Muklis Puna, Foeza Hutabarat, Humam S. Chudori, Alex R. Nainggolan dan Sofyan RH Zaid.
Para sastrawan mungkin sudah membaca sebagian atau melahapnya secara keseluruhan dari buku BDJH ini: Sutardji Calsoum Bachri, D. Zawawi Imron, Isbedy Stiawan Z S, Adri Darmadji Woko dan Eka Budianta Dua. Buku dengan warna merah marum ini juga mampir ke perpustakaan 'Universitas Malang', 'Limbah Pustaka' Purbalingga, 'Rumah Baca Taman Semesta' Bogor, dan sebagainya.
*
Untuk menutup tulisan ini, saya kutip puisi berjudul "Penyair" (hal. 3).
kau tulis tentang malam, tapi malam kian hitam. malam tak tampak pucat-pasi. angin terus berputar mencari-cari jiwa mati. dan tak kau temui cahaya dalam tubuhmu. padahal cahaya terus berpendar mengitari jagat-raya. memasuki tubuh musim. dan kau terus terjaga. sebab cinta sudah mengakar hingga ke uluhati.
kini engkau menjemput mimpi. kau tulis mimpi-mimpi itu. perempuan penggoda. bukankah pernah kau katakan, ia tak lebih dari kuda binal selalu menghilang di tikungan. dan ia, kau temukan sebulan kemudian. sayangnya telah menjadi berita luka di halaman depan koran kota.
penyair, hati-hati dengan baris-baris kata. pilihlah kalimat sederhana, misalkan, "kekasih, maut kah kamu?" o tidak, itu bukan bahasamu. katakan, "kekasih, jangan dustai aku!" tak perlu kau ulang-ulang. nanti kau dibilang klise. nanti kau dibilang klasik.
kau tulis tentang malam. tapi malan hanya hantu berkeliaran yang selalu kau jumpai saat hatimu girang. saat diam-diam tubuhmu di rajam!"

2018

• Nanang Ribut Supriyatin, penulis puisi dan cerita pendek. Karyanya dimuat di banyak media massa nasional sejak tahun 1980-an. Email : nanangrs62@gmail.com

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.