News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Apresiasi Puisi “Luka” Karya Sutardji Calzoum Bachri

Apresiasi Puisi “Luka” Karya Sutardji Calzoum Bachri

Oleh Indra Intisa


Apresiasi Puisi “Luka” Karya Sutardji Calzoum Bachri

Dunia ini panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura pura
Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara
...
(Lirik Lagu: Dunia Panggung Sandiwara)

***
Dunia dengan hirup-pikuknya telah berhasil menjadikan manusia dengan banyak tingkah-polah. Ada yang beperilaku sesuai dengan tuntunan hidup—dari agama yang dianut, kepercayaan, adat-istiadat, budaya, dan aturan bernegara, dan ada pula yang berlawanan. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang berpikir dan berakal. Ia diciptakan bebas untuk memilih dan berbuat. Tuntuan dan ajaran hanyalah sebagai pengarah supaya manusia tidak berjalan sesat—sesuai dengan kaidah yang ditentukan, tetapi manusia bisa berubah haluan sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Sekalipun menurut agama, kepercayaan dan aturan bernegara telah membawanya melenceng dan berlawanan. Keberbedaan ini bisa memunculkan sebuah paham baru, tata kesepakatan yang baru—tidak taat pada bentuk lama, atau bisa pula sebagai fanatik tata aturan yang lama. Mereka menentukan jalan hidupnya masing-masing.

Dalam berkehidupan, manusia suka menyembunyikan sesuatu dari keadaan sebenarnya. Yang senang dibuat seolah sedih. Yang sedih dibuat seolah senang. Yang kaya merasa kekurangan. Yang kurang merasa lebih. Yang hebat merasa tidak hebat. Begitu seterusnya sesuai dengan keberpahaman diri dalam mengarungi kehidupan.

Kita sering melihat orang tertawa dengan girang, padahal bisa saja ia sedang bersedih. Di sebagian yang lain orang tersenyum menutupi kepahitan hidupnya. Di belahan yang lain menangis karena bahagia. Simbol-simbol tersebut kadang bisa kita tangkap dengan baik tanpa pernah kita protes. Pembiaran dari kontradiksi ini terjadi seolah adalah hal yang lumrah, sebagai pemaknaan hidup. Begitulah sastra hidup dalam diri mereka, melalui puisi, melalui pepatah, dan melalui banyak hal yang tidak terungkap.

Cara sederhana, kita banyak menjumpai pemuda-wanita yang tersenyum manis ketika kita mengunjungi kantor-kantor mereka untuk mendapati pelayanan, seperti kantor Bank, Asuransi, dsb. Kita dengan sangat senang dilayani tanpa pernah tahu makna dari senyuman tersebut. Kita tidak mempermasalahkan apa pesan dari senyuman itu. Apakah iklas, apakah bersahabat, apakah keterpaksaan, apakah luka, dsb. Yang kita tahu adalah urusan selesai dengan orang berwajah berseri. Selepas itu, di jalanan, di pasar, di lapangan, atau di mana saja kita bertemu dengan mereka, maka kita kembali seperti purba tanpa pernah saling mengenal—tanpa tegur sapa. Kita bahkan lupa akan wajah berserinya—senyum yang merona saat dulu mereka menyapa.


***
Puisi pun serupa itu. Penggambaran yang luas ditulis dengan bahasa yang padat dan rapat. Akan menjadi semakin sempit ketika dibaca sempit. Akan menjadi luas ketika dibaca luas. Ia memancar ke banyak bidang. Ia bisa sebagai gambaran, sebagai paradoks, sebagai sindiran, sebagai rasa haru, sebagai bualan, atau sebagai apa saja yang sesuai dengan jalan yang diinginkan oleh penyair. Sekalipun mungkin akan ditangkap sedikit berbeda. Yang pasti, ruhnya adalah sama.

Gambaran-gambaran yang menyimpang dan kontradiksi telah digambarkan oleh Sutardji melalui puisi super pendeknya yang berjudul “Luka”. Puisi ini dimasukkan ke dalam buku fenomenalnya O Amuk Kapak. Puisi ini dibuat sependek-pendeknya tetapi dipilih sepilih-pilihnya.

Siapa Sutardji, bisa dibaca secara lengkap di sini: Fatwa Pencerahan Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji mencoba memasukkan unsur mantra (sesuai dengan kredonya) pada puisi ini. Mari kita lihat:

Luka

ha ha

1976


Puisi “luka” ditulis dengan memanfaatkan unsur bunyi vokal “u” dan “a”. Bunyi-bunyian ini diharapkan mampu memberikan sugesti tersendiri pada puisi ini. vokal “u” hanya ditulis sebagai awal—pembuka saja. Kemudian dilanjutkan dengan bunyi vokal “a” yang berkelanjutan—sampai selesai. Rima yang beratur pada vokal “a”, menjadikan puisi ini lebih hidup. Bunyi mendengung “u” pada awal diharapkan sebagai tipuan yang tersembunyi. Dan akan terbuka: seperti luka yang semakin robek. Sutardji memang ahli dalam memanfaatkan unsur ini. Sesuai kredonya, ia akan mengembalikan kata ke mantra—sesuai asalnya—untuk mendapatkan sugesti (magis)—kata menjadi bola liar. Sebagian saya setuju, sebagian yang lain ia tidak konsisten. Saya pikir, di beberapa puisi lain terlihat sama saja dengan puisi umumnya.

Mari kita simak perbandingan antara judul dan isi. Bukankah terlihat kontradiksi dan berlawanan? Benarkah luka disimbolkan dengan tertawa? Sebagaimana kita tahu, tertawa adalah lambang dari kebahagiaan. Tetapi, manusia suka menutup-nutupi dirinya. Yang putih bisa menjadi hitam. Dan hitam menjadi putih. Puisi ini bisa menjadi paradoks, menjadi sindiran atau menjadi cerita yang banyak terjadi di masyarakat. Seumpama rakyat dikatakan makmur, padahal tidak. Begitu seterusnya.

Lambang (kata konret) yang dipilih pada isi, sengaja diambil dari suara tawa manusia. Sebenarnya ada banyak lambang lain yang bisa disimbolkan dengan riang. Tetapi, lambang tertawa (terbahak) dari puisi ini menyiratkan sesuatu yang sangat sakit, sangat dalam, atau sangat berlawanan. Bisa saja isi yang seharusnya menjadi judul dan judul menjadi isi. Keterbalikan ini menjadikan ruh yang kuat dari puisi ini. Coba kita simak lagi dalam-dalam, rasakan dengan sangat. Citraan pendengaran yang muncul dari lambang “Ha ha” seolah terdengar mengerikan. Bisa membuat merinding. Bukan begitu? Sekarang coba kata tersebut dibalik, akan didapat kata "Ah ah". Sebuah perlawanan dari kata tawa sebelumnya. Bukankah kata "Ah" bisa disimbolkan sebagai kata penolakan dari hal yang sebenarnya?

Pilihan diksi, kata konkret, majas, rima, dsb., memang benar-benar telah dipilih dengan baik oleh Sutardji. Tergantung kita mau melihat dan memandang dari sudut mana. Jika sempit akan menjadi sempit. Ini adalah kita. Kita yang hidup sehari-hari. Yang sering berpura-pura. Dan sering tertipu dari keadaan yang sebenarnya.

2016

__________
Indra Intisalelaki yang sangat produktif dalam menulis, baik puisi, esai, maupun cerpen. Sejumlah buku telah lahir dari tangannya, Panggung Demokrasi (2015), Nasehat Lebah (2015), Ketika Fajar (2015),Teori dan Konsep (Puisi Tiga Kata, 2015), Dialog Waktu (2016), Dunia dalam Sajak (2016), Sang Pengintai (2016), serta Sungai yang Dikencingi Emas (2017). Ompi -biasa dipanggil- juga menyukai dunia musik, kini bekerja sebagai PNS, dan tinggal di Sumbar.


Baca juga:


Representasi Alam Dalam Puisi "Terbaring" Karya SDD 
Memerdekakan Sajak dari Penyair Salon
Buku: kuberi kau nama: tuan. bukan fulan karya Indra Intisa
Buku: Sang Pengintai – Indra Intisa
Penyair Merdu
Si Penyair Nyinyir

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.