News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Jagat Sepi

Jagat Sepi

:Catatan Sayembara Penulisan Naskah Drama
oleh Ahmad Zamsuri

Tulisan ini merupakan catatan terhadap sayembara penulisan naskah drama yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada bulan September lalu. Sebelumnya, berkaitan dengan naskah drama, ada sebuah fenomena yang menjadi rasanan, yakni perihal minimnya, bahkan bisa dikatakan tidak ada, buku-buku naskah drama yang turut dalam penghargaan bahasa dan sastra yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa DIY. Bahkan, selama sepuluh tahun penyelenggaraan penghargaan bahasa dan sastra belum ada satu pun buku naskah drama muncul dan dinilai oleh dewan juri. Seakan ingin membuat sebuah tes, Balai Bahasa DIY menyelenggarakan sayembara penulisan naskah drama bagi remaja DIY. Tidak seperti ajang sayembara penulisan prosa (cerpen) dan puisi, sayembara penulisan naskah drama panggung dapat dikatakan sepi peminat. Tidak lebih dari dua puluh naskah drama diterima oleh penyelenggara sayembara.

Ikhwal minimnya buku-buku naskah drama dan minimnya (bila dapat dikatakan demikian) animo masyarakat, khususnya remaja, dalam sayembara penulisan naskah drama, mendorong munculnya asumsi bahwa penulisan naskah drama menjadi anak tiri. Secara proyeksi aktualisasi, naskah drama memang berbeda dengan prosa dan puisi yang tidak perlu dipangunggkan. Artinya, prosa dan puisi tidak perlu dipertunjukkan. Sementara, naskah drama masih perlu melanjutkan hidup menuju panggung pertunjukan. Namun, apakah itu yang menyebabkan penulisan naskah drama menjadi tidak menarik untuk dieksplorasi? Tentu saja banyak hal yang harus diurai untuk menjawab hal tersebut.

Penulisan naskah drama, bagi pemula, setidaknya tetap memerlukan referensi bacaan yang mendukung eksplorasi dan imajinasi. Minimnya dokumentasi naskah, setidaknya pernah diakui oleh Herry Mardianto ketika menemani Jakob Sumardjo dalam mengambil data-data tentang teater di Yogyakarta, yang ternyata sejak dahulu belum dikelola dengan baik, menjadi salah satu sebab minimnya sumber bacaan yang berkualitas. Mencari naskah drama karya Pedro Sudjono, misalnya, akan sangat sulit sebelum dibukukan oleh Balai Bahasa DIY dalam antologi naskah berjudul “Tarian Setan”. Tidak hanya itu, naskah-naskah karya drawaman lainnya juga mengalami hal yang sama, tidak terdokumentasi dengan baik. Bila menilik kondisi Yogyakarta sebagai kota berdinamika sastra tanpa henti, sebenarnya naskah drama, khususnya penciptaan, dapat berjalan beriringan dengan penciptaan genre prosa dan puisi. Dalam satu tahun, misalnya, penerbitan buku-buku prosa dan puisi tidak terhitung jumlahnya. Sementara untuk penerbitan naskah drama panggung menjadi hal yang langka dan timpang adanya.

Dari dokumentasi dan penerbitan inilah selanjutnya, setidaknya, memberi pengaruh terhadap timbulnya eksplorasi penciptaan naskah drama panggung. Kembali lagi pada minimnya peminat dalam sayembara penulisan naskah drama yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa DIY, membaca sekitar dua puluh naskah drama tidak ubahnya menapaki ruang-ruang imajinasi para penulisnya. Dari hasil pembacaan dapat disimpulkan bahwa banyak penulis muda yang belum paham benar konsep penulisan naskah drama panggung. Kesimpulan ini tentu bukan sebuah generalisasi dan berlaku bagi seluruh penulis pemula naskah drama panggung. Namun, setidaknya kedua puluh naskah drama tersebut menjadi gambaran singkat perihal pemahaman konsep penulisan naskah drama panggung bagi para remaja.

Secara teknis, dapat diungkapkan bahwa banyak naskah yang belum dapat dikategorikan sebagai naskah drama panggung. Ini didasari pada fakta bahwa imajinasi visual yang tertuang pada naskah banyak dipengaruhi oleh visual televisi. Maksudnya, banyak visual (setting) yang sejatinya tidak mungkin ditampilkan pada dunia panggung, oleh para penulis naskah disajikan secara lengkap layaknya dunia nyata tanpa rekayasa. Alhasil, bayangan visual yang muncul dalam panggung adalah serangkaian “satu set” dunia nyata di atas panggung. Sebagai contoh, ada satu adegan dengan setting kolam renang yang berlanjut ke lapangan basket dan akhirnya pelaku tertabrak kendaraan. Sebenarnya itu ranah sutradara untuk melakukan pemaknaan dan pengaturan. Akan tetapi, sangat sulit diwujudkan dalam sebuah tata panggung. Bisa sih bisa, tetapi dengan tingkat kesulitan yang tinggi.

Gambaran tersebut, kemudian, menjadi titik tolak pengukuran “keluasan” ide kreatif yang melatarbelakangi lahirnya naskah-naskah tersebut. Tidak adanya ide/wacana yang “menggigit” memunculkan asumsi bahwa agaknya para penulis jarang “berekreasi” dengan naskah-naskah atau pertunjukan drama (teater). Setidaknya itu tampak dari ide-ide yang sangat “sinetron” dengan remeh temeh persoalan yang jauh dari kesan tawaran pemikiran masalah humanitas yang berkonflik. Sejatinya, bila sering “rekreasi” dengan naskah-naskah dan menyaksikan pertunjukan drama (teater), maka ruang-ruang imajinasi akan terbentuk dan membuka lebar pintu eksplorasi ide-ide kreatif. Bolehlah hanya sedikit naskah yang dihasilkan, tetapi setidaknya naskah yang dihasilkan dapat memberikan dan membuka wacana dari sudut yang berbeda. Setidaknya, jagat sepi itu dapat sehingar bingar visualiasinya di atas panggung. Semoga.***

Pete-Seyegan, 2016

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.