News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Pengajaran Sastra di Sekolah: Pelajar Aceh Rabun Sastra

Pengajaran Sastra di Sekolah: Pelajar Aceh Rabun Sastra

oleh Sulaiman Juned

Perkembangan sastra di sekolah dewasa ini semakin menurun kualitasnya, siswa-siswi hari ini banyak yang tak mampu menulis dan baca puisi, menulis dan baca prosa, serta menulis naskah drama sekaligus memerankannya.

Siswa-siswi kita hari ini malas membaca apalagi membeli buku. Pernyataan ini terbukti, ketika penulis menjadi juri cipta/ baca puisi, cipta/baca cerpen hampir di seluruh sekolah baik sekolah dasar, sekolah menengah pertama, maupun sekolah lanjutan atas di Aceh. Para siswa rata-rata rabun karya sastra, juga tidak memahami cara membaca puisi dengan baik. Kondisi pelajar di Indonesia seperti hari ini, kurang mencintai sastra, salah siapa? Apa kabar siswa dan apa kabar guru Bahasa dan Sastra Indonesia?

Sementara itu, dinas pendidikan di provinsi maupun di kota/ kabupaten masing-masing juga sangat berpengaruh terhadap kemajuan sastra di sekolah. Namun, kepedulian sastrawan di daerah juga tidak kalah penting untuk memajukan kualitas pendidikan sastra di sekolah. Pendidikan sastra di sekolah dengan kurikulum yang sangat kaku, lalu diajarkan oleh guru bahasa dan sastra Indonesia yang minim pengalaman tentang kesusastraan Indonesia mengakibatkan sang guru lebih mengutamakan ilmu linguistiknya ketimbang ilmu sastra.

Proses belajar mengajar sastra di sekolah selama ini belum menjadi pembelajaran yang menyenangkan. Sementara, belajar sastra haruslah diciptakan pada suasana kelas yang mengasyikkan dan menyenangkan karena sastra memberikan kemerdekaan berpikir terhadap tafsir makna. Pembaca sastra tentu memiliki pengalaman empirik yang dialami dalam realitas sosialnya, secara otomatis ketika membaca karya sastra yang menyentuh pengalaman batinnya, karya sastra itu akan dimaknai melalui pemahamannya. Inilah yang dimaknai dengan pertemuan dua hati antara penulis dan pembaca, padahal apa yang dipahami pembaca belum tentu sama apa yang dimaksudkan oleh sang penulisnya, sebab karya yang sudah dipublikaskan untuk dikonsumsikan oleh pembaca akan menjadi milik pembaca.

Dalam proses pembelajaran karya sastra terjadi pula transformasi terhadap moralitas pembaca. Sastra mampu menjadi media pembelajaran untuk mempertebal keimanan, kejujuran, pengendalian diri, tanggung jawab, kebersamaan, optimisme, dan kepedulian terhadap sesama, serta mampu memanusiakan manusia. Saat membaca karya sastra, nilai-nilai ini akan hidup dalam jiwa pembaca sepanjang masa. Atas dasar itulah, sastra di sekolah penting untuk diajarkan secara benar kepada siswa. Sementara, daerah Aceh sejak dulu kala merupakan gudang para sastrawan besar Indonesia, tetapi mengapa kini sastra di sekolah menurun kualitasnya. Ini terjadi mungkin karena kurangnya perhatian dari guru bahasa dan sastra Indonesia. Sang guru mengajar hanya untuk memenuhi jam pelajaran semata, guru juga hanya mengejar sertifikasi. Sementara, kualitas pendidikan tidak lagi menjadi hal penting. Kepala sekolah juga sering bersikap meremehkan mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Berdasarkan fenomena itulah, sudah selayaknya diadakan pertemuan antara guru, pimpinan sekolah, pejabat di diknas kota dan kabupaten dengan para sastrawan yang berada di Aceh. Pertemuan ini, tentu membahas tentang paradigma pembelajaran sastra di sekolah-sekolah. Untuk pembelajaran menulis karya sastra dan membaca karya sastra perlu diadakan seminar serta workshop, baik untuk guru-guru bahasa dan sastra Indonesia maupun siswanya.

Sebagai bahan pertimbangan untuk dapat dibicarakan, dari pengalaman penulis dalam menjadi juri lomba cipta dan baca puisi, lomba cipta, dan baca cerpen, penulis menemukan bahwa para siswa yang membaca puisi rata-rata tidak memiliki ilmu tentang membaca puisi dengan baik. Pembacaan puisi masih melakukan deklamasi puisi, padahal membaca puisi dengan deklamasi puisi itu berbeda teknisnya. Ketika ditanyakan kepada siswa yang bersangkutan, ternyata guru-guru di sekolah tidak pernah memberikan pengetahuan tentang pembacaan puisi. Jadi, pihak dinas pendidikan di provinsi maupun kota/kabupaten di Aceh selayaknya sudah memprogramkan atau menginstruksikan kepada pihak sekolah untuk melaksanakan kegiatan rutin pelatihan menulis dan membaca puisi, bahkan pelatihan sastra secara umum. Begitu seharusnya.

Sungguh menyedihkan. Setiap tahun Kementerian Pendidikan Nasional melaksanakan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) se-Indonesia. Lomba seni siswa ini mulai dari SD, SMP, dan SMA. Dalam kegiatan ini selalu ada lomba cipta dan baca puisi, lomba cipta prosa dan bercerita. Sementara, juara lomba cipta/baca puisi dan lomba cipta prosa sekaligus bercerita yang mewakili Aceh, tak ada yang layak sebenarnya untuk menjadi juara. Lalu, kalau ini dipaksakan untuk dikirim ke tingkat nasional tanpa diberikan pelatihan untuk menulis dan membaca terlebih dahulu sebelum diberangkatkan, yakinlah, Aceh tak akan pernah menjadi juara dalam bidang ini. Marilah bekerja sama antara guru, sekolah, dinas pendidikan terkait, dengan para sastrawan untuk memajukan dunia pendidikan di Aceh, khususnya bidang sastra, baik tulis dan baca puisi. Berdasarkan fenomena ini, jelaslah bahwa guru telah menjadikan sastra sebagai anak tiri di sekolah atau sang guru yang tidak mengerti sama sekali mengenai sastra.

Sudah saatnya guru Bahasa dan Sastra Indonesia mengajarkan dua bidang ilmu sekaligus, Bahasa Indonesia dan sastra Indonesia. Bila kedua bidang ilmu itu tak mampu diajarkan, berhentilah menjadi guru bahasa dan sastra Indonesia. Barangkali sudah saatnya pula di Fakultas Keguruan atau mesin yang menghasilkan guru sastra menjadi jurusan tersendiri. Ya, jurusan Sastra Indonesia, sehingga di sekolah-sekolah pun Sastra Indonesia menjadi Bidang Studi Sastra Indonesia, terpisah dari Bahasa Indonesia. Bagaimana? Ditunggu kabarnya!***

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.