News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Cobaan itu Bernama Hidup Lapang

Cobaan itu Bernama Hidup Lapang

oleh Samsudin Adlawi


Cobaan itu Bernama Hidup Lapang

HIDUP ini berpasang-pasangan. Begitulah pernyataan yang sering kita dengar. Mulai dalam ceramah agama sampai ceramah ilmiah. Ada yang telaten mencatat pasangan-pasangan itu. Tapi, mungkin, banyak juga yang mencatatnya sambil lalu – di dalam otaknya. 

Tidak masalah. Coba sebut satu per satu pasangan-pasangan itu! Sudah? Saya bantu menuliskannya ya: ada siang ada malam, ada gelap ada terang, ada tua ada muda, ada lelaki ada perempuan, ada pintar ada bodoh, ada hidup ada mati, ada kalah ada menang, dan masih banyak lagi yang lainnya (silakan diingat-ingat dan dicatat sendiri ya!). 
Tak mungkin menyebutkan semuanya di sini. Apalagi mengulasnya. Bisa bersambung-sambung sampai beberapa edisi. Saya hanya berselera membahas yang satu ini: kaya dan miskin. Sebab, pasangan itu yang paling bersentuhan dengan kita. Tapi persentase persentuhannya tidak sama dengan pasangan yang lainnya. Pasangan yang satu ini terasa akrab dengan kehidupan kita. Bahkan, setiap detik kita merasakannya. Baik sebagai orang miskin maupun sebagai orang kaya. 

Kedua status tersebut bisa mempengaruhi orang yang menyandangnya. Sering kita jumpai orang kaya merasa lebih hebat daripada orang miskin. Sebaliknya, yang miskin merasa inverior di hadapan orang kaya. Tapi, juga banyak orang yang sebenarnya miskin tapi berlagak kaya. Sok kaya. Berperilaku seperti orang kaya. Berpakaian seperti orang kaya. Itu dilakukannya karena tidak ingin disebut miskin. Alias pengin disebut kaya juga. Padahal, untuk berpenampilan seperti orang kaya itu mereka rela tidak makan berhari-hari. Rela menjual barang-barangnya. Kalau mereka itu perempuan, rela menyuruh suaminya korupsi. Mengambil uang kantor. Atau, merayu suaminya ‘menyeleweng’, melakukan perbuatan yang menabrak aturan dan sumpah jabatan. Na’udzubillah min dzalik.

Orang kaya itu punya kecenderungan hanya mau berkumpul dengan sesama orang kaya. Itu bukan rahasia lagi. Fenomena seperti itu tidak hanya ditunjukkan oleh artis-artis di Ibu Kota sono. Tapi juga dengan mudah kita temukan sampai di daerah. Ada perkumpulan sejumlah istri pejabat dengan istri para pengusaha dan profesi yang lain. Buat seragam yang sama. Tentu saja mahal seragamnya, maklum seragam kumpulan orang kaya. Mereka berkumpul dalam momen-momen tertentu. Tempat kumpulnya tidak hanya di daerahnya. Sering juga di luar kota. Di hotel berbintang. Di restoran ternama. Bahkan, ngelencer bareng di luar negeri. 

Momen-momen ngelencer bareng itu biasanya digelar saat salah satu anggota perkumpulannya merayakan ulang tahun. Yang namanya ulang tahun, yang hadir pastinya pakai dresscode mahal-mahal. Bukan hanya mahal, tapi harus yang terbaru dari merek terkenal. Tak peduli kelihatan lucu atau tidak. Pernah saya melihat foto acara ulang tahun kelompok orang kaya. Semuanya perempuan. Pakaiannya branded. Bahkan, ada yang pakai sepatu pantovel. Persis seperti joki balapan kuda. Saya menahan tawa sampai sakit perut. Bagaimana tidak. Bayangkan, pantovel itu kan biasa dipakai bule-bule cewek ketika musim dingin. Kedua, itu sepatu kan lebih cocok untuk remaji-remaji (baca cewek) yang sedang ingin tampil. Lah, mereka itu kan sudah kewut (tolong dibaca terbalik dari belakang). Tapi, si pemakainya tampak percaya diri banget. Tidak canggung sama sekali. 

Akhirnya saya sadar, mana ada orang gila malu berada di tengah orang gila. Ha ha ha....
Tapi, mereka itu bukan orang gila. Mereka adalah kumpulan orang kaya. Baik yang kaya suaminya ataupun dia sendiri yang kaya. Orang disebut ‘gila’ jika ia meninggalkan anak dan suaminya hanya untuk menghadiri acara foya-foya. Apalagi, sampai berhari-hari. Kepergiannya jelas bukan untuk bekerja mencari nafkah keluarganya. Melainkan hanya untuk menghambur-hamburkan uang saja. Jangankan perempuan, kalau ada laki-laki yang berbuat seperti itu juga tidak dibenarkan oleh agama. Itu menurut ajaran agama yang saya imani loh. Tidak tahu kalau menurut agama Anda. Atau, bisa jadi agama kita sama tapi kita beda memahaminya. Bisa jadi, dengan pemahaman seperti itu Anda mencap saya terlalu kolot! Anda juga bebas mencurigai, pernyataan saya itu cerminan orang yang iri. Pernyataan orang miskin yang tidak bisa berbuat yang sama seperti mereka. Penilaian seperti itu saya terima dengan perasaan bahagia. Sebab, kenyataanya saya memang belum layak disebut orang kaya. Tapi saya bahagia. Sebab, dengan kondisi seperti sekarang saya bisa selalu waspada. Punya kesempatan banyak untuk selalu mengingat pesan Ibnu ‘Athaillah dalam kitabnya: Al-Hikam. Albasthu takhudzu an-nafsu minhu hadhdhaha biwujudi alfarah. Semasa lapang, nafsu bisa mempunyai andil melalui rasa gembira. 

Siapa yang tidak tergoda bila semuanya ada. Tersedia. Begitulah, kelapangan (harta dan fasilitas) adalah lahan subur kecenderungan nafsu untuk berbuat apa saja. Mereka yang kaya cenderung memanjakan diri dengan segala sesuatu yang diinginkan. Sikap memanjakan diri itulah sering kali menjadikan diri berat untuk menempuh perjalanan menuju Allah Swt. Kewajiban menjadikannya beban. Perasaannya gundah ketika beribadah. Gundah ketika diajak kegiatan sosial dan beramal. Kalaupun hadir dalam aksi sosial membantu orang-orang miskin, hanya fisiknya saja. Tidak dengan hatinya. Itu sebabnya, kebanyakan aksi sosial dilakukan justru oleh orang-orang yang tidak terlalu kaya. Bahkan, malah masih tergolong miskin. Kalaupun ada orang kaya yang terlibat, bisa dihitung dengan jari. Itu pun cukup dengan jari satu tangan. Maaaf, saya sudahi dulu tulisan ini. Saya mau ambil cermin dan ngaca: jangan-jangan saya masuk dalam golongan orang yang dihitung dengan jari satu tangan itu. Hi hi hi.***

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.