News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Identitas Tunjukkan Kualitas (2)

Identitas Tunjukkan Kualitas (2)

oleh Desbri Arvita



Giatkan Budaya Berbahasa Indonesia

Peran sekolah tentu sangat diperlukan untuk mewujudkan budaya berbahasa Indonesia. Setidaknya satu hari selama satu minggu, siswa diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia yang baik di lingkungan sekolah. Hal ini sangat efektif untuk meningkatkan perbendaharaan kata generasi muda, karena selama ini sering kita jumpai fakta “tahu bahasa daerahnya, tapi bahasa Indonesianya apa ya?”, sehingga sangat diperlukan gerakangerakan bertem kebahasaan di tengah masyarakat.

Pendidikan di Indonesia yang mengedepankan IPTEK, tentu tidak memberikan batasan bagi masyarakat untuk menyerap bahasa asing. Akan tetapi, penguasaan terhadap bahasa sendiri seharusnya lebih diutamakan. Dengan menguasai IPTEK, mata dunia akan tertuju pada Indonesia. Saat seperti itulah, waktu emas untuk mempromosikan bahasa Indonesia, karena saat kita menguasai ilmu pengetahuan, banyak orang yang akan lebih menghargai dan menyadari keberadaan kita. Berperadapan dunia, tidak harus meninggalkan jiwa Indonesia, kan?

Dengan melakukan usaha yang tidak kenal lelah, pastinya Indonesia akan mampu mewujudkan budaya berbahasa Indonesia di kalangan masyarakat. Bahasa Indonesia sebagai identitas nasioal akan terjaga dan tetap lestari. Indonesia mampu bersanding setara dengan negara maju lainnya, karena memegang IPTEK dengan tidak meninggalkan identitas bangsanya. Srmoga dengan identitas, Indonesia mampu menunjukkan kualitas.

Teknologi adalah manifestasi dari imajinasi manusia tentang sebuah dunia yang lebih baik. Melalui teknologi, manusia membangun masa depan kebudayaan dan kehidupan mereka. (Yasraf Amir Piliang)

Pada abad 21 ini, wajah kebudayaan bangsa kita tengah mengalami perubahan yang sangat pesat, apalagi dengan dibukanya pasar bebas atau yang sering kita sebut sebagai MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Dengan dibukanya MEA bukan hanya persoalan gaya hidup yang menjadi ancaman manusia modern, namun agama dan kepercayaan pun menjadi ancaman yang cukup serius. Jika agama dan kepercayaan manusia sudah hancur, cara pandang manusia modern juga akan rusak. Apabila cara pandang sudah rusak, apa saja yang berkenaan dengan pemikiran juga akan rusak.

Hal ini sama dengan apa yang dikhawatirkan Ritzer bahwa, McDonaldisasi tidak saja memengaruhi bisnis restoran, akan tetapi juga pendidikan, kerja, perawatan kesehatan, trevel, waktu senggang, makanan, politik, keluarga, bahkan nyaris setiap aspek kehidupan sosial. Mcdonalidisasi memang menjadi ancaman manusia dari segala bentuk, bahkan kebudayaan juga tak luput dari virus manusia modern ini[1].

Semua itu bisa kita buktikan dengan maraknya orang-orang yang menjadikan mal sebagai tempat suci, altar atau ka’bah. Orang-orang mencari Tuhan-tuhan artifisial, roh-roh digital dan nabi-nabi virtual di tempat ini. Sebab pada abad ke-21 ini, mal menjadi sebuah agen defusi, menjadi sebuah ruang kelas tempat manusia mempelajari seni dan keterampilan untuk menghadapi peran baru mereka yang sentral sebagai konsumer masa depan. Mal tidak lagi sekadar tempat untuk transaksi barang dan jasa, melainkan berperan sentral sebagai citra cermin (mirror image) sebuah masyarakat. Bukan hanya itu, mal juga menjadi tempat setiap orang membangun gaya hidupnya (life style) dan tempat orang mencari identitasnya. Inilah budaya manusia modern dengan kemajuan teknologi yang tak ada batasnya.

Di tengah-tengah masyarakat global atau yang disebut oleh Karl Poper sebagai open society atau masyarakat terbuka, kita dipaksa untuk memasuki dunia baru yang di dalamnya kegiatan apapun dapat dilakukan dengan tingkat pengalaman yang sama, yaitu di dalam jagat raya maya. Alam jagad raya maya tersebut dianggap lebih menyenangkan daripada dunia maya itu sendiri. Bahkan, segala sesuatu yang telah terjadi pada masa lalu, yang
dianggap sebagai fantasi dan halusinasi pada saat ini, dapat dialami sebagai sebuah realitas yang nyata. Semua itu tidak lain karena bantuan dari teknologi yang telah menstimulasi manusia, sehingga antara dunia realitas dan nonrealitas tidak dapat dibedakan lagi[2].

Baudrillard melihat hiperealitas sebagai kondisi membaurnya dunia realitas dengan fiksi, fantasi, ilusi, dan halusinasi, sebagai peristiwa besar; Paul Ricoeur justru melihatnya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Ricoeur melihat peleburan itu sebagai hal yang wajar karena ia tidak melihat konsep fiksi dan realitas sebagai dua konsep dalam relasi oposisi biner atau polaritas. Fiksi, menurut Ricoeur, mempunyai hubungan yang kompleks dengan realitas. Ia tidak hanya merujuk pada realitas, tetapi juga membentuk ulang realitas (remakes). Fiksi, yang di dalamnya beroperasi imajinasi dan fantasi-fantasi, yang dapat mengkonstruksi berbagai dunia yang belum ada, dapat membentuk ulang dunia realitas dengan menawarkan sebuah dunia kemungkinan (a possible world). Dengan kata lain, sebuah fiksi merupakan sebuah calon realitas atau bibit dunia, yang suatu ketika dapat menjadi kenyataan, lewat peran sains dan teknologi dalam merealisasikannya.

Alvin Tofler, salah seorang futuris terkemuka mencoba memberikan suatu penjelasan tentang konsep manusia masa depan. Konsep pemikiran Alvin Tofler diawali dari karya monumentalnya yang dirumuskan dengan istilah future shock (kejutan masa depan). Dalam tulisan tersebut, Alvin Tofler melukiskan tentang tekanan dan disorientasi hebat yang dialami oleh manusia jika terlampau banyak dibebani perubahan dalam waktu yang sangat
singkat. Jelasnya, kejutan masa depan bukan lagi merupakan bahaya potensial yang masih jauh, tetapi merupakan penyakit nyata yang diderita oleh manusia modern[3].

Masa depan manusia merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk didefinisikan. Oleh karena itu, Alvin Tofler menyebut bahwa masa depan adalah gelombang perubahan. Setiap kali gelombang perubahan menguasai suatu masyarakat tertentu, pola perkembangan masa depan menjadi relatif untuk diamati. Sebaliknya, bila suatu masyarakat dilanda gelombang perubahan besar dan belum jelas yang mana yang paling dominan, citra manusia masa depan itu menjadi retak. Namun, mau tidak mau manusia itu tidak bisa mengelak dari apa yang disebut Tofler sebagai perubahan. Kemungkinan-kemungkinan yang ada pada manusia sekarang merupakan kemungkinan semu dan halusinasi belaka. Jadi, apa yang pernah dikerjakan manusia pada masa lampau mempunyai korelasi pada masa depan manusia.

Generasi Manusia Konsumsi

Letak permasalahannya bukan pada masa depan manusia itu sendiri, namun lebih pada manusia sekarang atau lebih tepatnya pada generasi muda, di mana kemajuan teknologi dan informasi telah mengubah sebagian besar masyarakat dunia, terutama masyarakat yang tinggal diperkotaan. Sebagaimana diketahui, adanya kemajuan informasi, di satu sisi, remaja merasa diuntungkan oleh adanya media yang membahas seputar masalah dan kebutuhan mereka, sedangkan di sisi lain, media merasa kaum remajalah yang tepat menjadi konsumen dari berbagai produk yang ditawarkan. Media berperan besar dalam pembentukan budaya masyarakat dan proses peniruan gaya hidup. Tidak mengherankan, perubahan cepat dalam teknologi informasi juga dapat menimbulkan pengaruh negatif, meskipun pengaruh positifnya masih terasa.

Tidak jarang anak-anak muda sekarang seringkali meniru gaya hidup orang-orang barat. Semua itu terlihat dengan maraknya para remaja yang selalu mengikuti mode dunia, mulai dari gaya rambut, ponsel yang gonta ganti dan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, pakaian, dan sebagainya. Melalui pengaruh ini, generasi muda diajarkan untuk hidup boros dan konsumtif, sehingga membuat mereka tidak lagi kritis terhadap persoalan sosial yang terjadi di masyarakat. Mereka terbuai oleh perkembangan zaman.
Berdasarkan hal tersebut, apa yang dihawatirkan Baudrillard terhadap budaya konsumerisme telah menimpa kalangan anak muda. Bagi Baudrillard konsumsi bukan sekadar nafsu untuk membeli begitu banyak komoditas, satu fungsi kenikmatan, satu fungsi individual, pembebasan kebutuhan, pemuasan diri, kekayaan atau konsumsi objek. Namun lebih jauh lagi, konsumsi merupakan suatu struktur atau fakta sosial yang bersifat eksternal dan bersifat memaksa individu. Jadi, manusia dipaksa untuk mengonsumsi tanpa henti, secara rakus dan serakah. Konsumsi yang dilakukan tidak memberikan kepuasan, dan justru yang terjadi adalah mahasiswa senantiasa merasa haus untuk membeli produk-produk baru yang disuguhkan oleh para produsen[4].

Kemudian, aktivitas konsumsi merupakan aktivitas yang “wajib” dilakukan. Hal itu bisa dilihat dari semakin banyaknya jumlah permintaan akan suatu barang konsumsi dibandingkan dengan jumlah penawaran yang ada. Semakin hari sikap konsumtif mahasiswa semakin memprihatinkan dan semakin tak terkendali. Apapun yang bisa dibeli, akan dibeli, tak peduli mereka butuh atau tidak pada barang tersebut.

Lebih jauh lagi, aktivitas konsumsi ini telah menjadi salah satu medium menuju ekspresi eksistensial; aku belanja maka aku ada. Ya, itulah mungkin ungkapan yang tepat dalam melihat realitas budaya konsumerisme di kalangan anak muda dan mahasiswa. Hal ini bisa kita lihat di pusat-pusat perbelanjaan. Mal, misalnya, selalu dipenuhi dengan anak-anak muda. Hal ini terutama terjadi pada anak-anak muda perkotaan dengan gaya hidup metropolis. mereka senantiasa mempertontonkan seputar kehidupan mereka yang mewah dengan baju bermerek, tas bermerek, makanan mahal, gadget terbaru, dan sebagainya.

Jika demikian, praktik konsumerisme telah merasuki kebudayaan kita, di mana budi dan jiwa telah lenyap. Kini tubuh manusia telah menjadi sebuah titik sentral dari mesin produksi, promosi, dan konsumsi kapitalisme. Tubuh diproduksi sebagai komoditi dengan mengeksplorasi segala potensi hasrat dan libidonya untuk dipertukarkan sebagai komoditi (video girl), tubuh juga dijadikan sebagai metakomoditi, yaitu komoditi untuk menjual komoditi lain[5].

Pengaruh dari munculnya budaya konsumsi di kalangan anak muda ini tak lepas dari peran industri dan bisnis yang menciptakan rasa bosan yang teratur. Konsumen diusahakan agar tidak terlampau lama terikat terhadap suatu hasil pabrik. Pada saatnya, konsumen diusahakan agar merasa bosan dan siap menerima hasil produksi baru. Hal ini berlaku pada barang-barang seperti, sepatu, baju, televisi, mobil, dan yang paling parah adalah ponsel atau gadged. Misalnya ponsel Samsung yang sekarang ini merupakan salah satu merk yang menguasai pasar Indonesia, secara reguler selalu melahirkan tipe dan model-model baru. Oleh karena itu, perlahan-lahan masyarakat Indonesia dihisap ke dalam jaringan perdagangan dan konsumsi modern.

Dunia yang kita hadapi sekarang ialah dunia sebagaimana dinyatakan oleh Baudrillard, yaitu matinya realitas, matinya tanda, berakhirnya representasi, akhir dari makna, matinya sosial, matinya utopia, selamat tinggal media, atau matinya seksualitas. Realitas telah mati, tanda telah mati, representasi telah berakhir, sehingga tidak ada lagi landasan berpijak. Dunia berlari di atas sebuah kehampaan. Kita lebih mengenal kehidupan ranjang seorang artis, tetapi kita tidak mengenal tetangga sebelah. Kita tidak lagi melakukan ritual keagamaan tetapi menggantinya dengan ritual gymnastic di hotel-hotel. Maka dengan kemajuan teknologi yang tak bisa kita bendung, tuhan-tuhan virtual dan agama-agama virtual akan bergentayangan menghantui hidup manusia modern.

Daftar Pustaka
Baudrillard, Jean. 2009. Masyarakat Konsumsi. Yogyakarta: Kreasi
Wacana.

Ritzer, George. 2013. Teori Sosiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. James Brook & Iain Boal Resisting. 1995. Virtual Life: The culture
and Politics of Information. New york: City Light.

Toffler, Alvin. 1989. Future Shock, Terj. Sri Koesdiyantinah.
Jakarta: Pantja Simpati.

Slouka, Mark. 1999. Ruang yang Hilang Pandangan Humanis tentang Budaya Cyberspace yang Merisaukan, Bandung: Mizan.

Endnote:
1 George Ritzer, Teori Sosiologi, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 993-995.

2  James Brook & Iain Boal Resisting, Virtual Life: The culture and Politics of Information, (City Light, New york, 1995), hlm.68.

3 Toffler, Alvin. Future Shock, Terj. Sri Koesdiyantinah, (Jakarta: Pantja Simpati, 1989), hlm. 70-79

4  Jean Baudrillard, Masyarakat Konsumsi, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009), hlm.76.




5 Mark Slouka, Ruang yang Hilang Pandangan Humanis Tentang Budaya Cyberspace yang Merisaukan, (Bandung: Mizan, 1999), hlm.55.

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.