News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Siapa Bilang Harta Tidak Dibawa Mati - Samsudin Adlawi

Siapa Bilang Harta Tidak Dibawa Mati - Samsudin Adlawi

oleh Samsudin Adlawi

 ‘’WONG mati ora nggowo bondo’’

Ungkapan bijak itu merupakan pengingat. Sekaligus untuk menyindir. Terutama bagi ahlu almeditun. Orang-orang yang pelitnya tidak ketulungan. Yakni, orang yang tidak hanya pelit kepada orang lain. Lebih dari itu: juga sangat pelit terhadap dirinya sendiri. Belanja untuk memenuhi kepentingan sendiri saja berpikirnya sampai seribu kali. Padahal, kayanya tidak ketulungan. Hartanya berlimpah.

Secara fakta, ungkapan di atas tidaklah salah. Sangat faktual. Memang ada orang mati yang dikubur bersama barang duniawi. Biasanya barang-barang yang paling disukainya. Bisa buku, benda-benda berharga, jam tangan, perhiasan emas atau sesuatu yang jadi kelangenan si mayat. Itu pun barangnya tidaklah besar. Hanya yang cukup dimasukkan dalam peti bersama si empunya.

Belum pernah ada (bisa jadi karena keterbatasan pengetahuan saya), di abad ini orang mati dikubur bersama semua hartanya. Karena orang superkaya ia dikubur bersama mobil-mobil mewahnya, bersama tumpukan uangnya, atau bersama rumahnya yang besar dan bertingkat-tingkat. Tidak ada yang seperti itu. Yang seperti Qarun.

Berkaca dari fakta itu, mungkin, lantas orang menasihati teman dan keluarganya: harta tidak dibawa mati. Buat apa menumpuk-numpuk harta. Kalau toh ketika mati tidak ada yang dibawa serta. Buat apa membangun rumah magrong-magrong kalau pada akhirnya akan tinggal di tempat peristirahatan tipe S2DS2 (super super dupel sempit sekali). Hanya berukuran 2 meter! Tidak ada AC. Tanpa lampu.

Nasihat itu benar adanya. Tapi kurang tepat. Bagi saya pribadi, orang mati tetap akan membawa serta harta bendanya. Bahkan, harta paling berharga yang dikumpulkannya selama hidup itu akan sangat berguna untuk ongkos masuk ke surga. 

Maaf, stop di sini dulu. Anda jangan bingung ya. Silakan ambil napas. Setelah itu fokus ke penjelasan berikut ini. Bagi orang yang tahu rahasia menuju surga ia akan rajin membayar DP (down payment) . lalu mengangsurnya secara istikamah. Membayar dengan apa. Bagaimana caranya. Ya dengan harta. Dengan cara membelanjakan di jalan Allah Swt. Selama hidup di dunia. Orang yang rindu keindahan surga akan berlomba-lomba ke money changer. Tempat money changer itu bukan di bank. Atau gedung-gedung mewah. Melainkan di rumah-rumah kaum duafa. Yang rata-rata tembus cahaya matahari. Alias reyot. Juga di kantong-kantong lusuh baju anak yatim dan piatu. Di tempat-tempat itulah orang yang rindu taman-taman surga menukar harta bendanya dengan harta yang tak kasat mata: pahala. 

Kalau begitu surga sudah dimonopoli oleh orang yang banyak hartanya? Ah, tidak begitu. Kita juga bisa bayar DP masuk surga dengan tenaga kok. Membantu dengan ikhlas saudara-saudaranya yang lagi membutuhkan, pahalanya tidak kalah dengan menyumbangkan harta. Walau hanya menyingkirkan onak dari jalan. Apalagi kalau sampai mengorbankan tenaganya untuk membantu sesama yang ditimpa bencana. Silakan dihitung sendiri sudah senilai DP berapa itu.

Hal-hal seperti itu selalu saya dengungkan di lingkungan keluarga: anak dan istri. Juga kantor tempat saya bekerja. Lebih-lebih di lingkungan Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) Banyuwangi. Juga kepada para UPZ (Unit Pengumpul Zakat) di kecamatan. Saya selalu mengingatkan bahwa siapa pun yang aktif Baznas dan UPZ hanyalah pelayan. Melayani orang yang berzakat dan berinfak. Meneruskannya kepada para mustahik. Aktivis Baznas dan UPZ bukan bos yang bekerja dengan menghitung untung dan rugi. 

Memang, secara kaca mata ekonomi mendorong dan mengingatkan orang membayar zakat dan berinfak bukanlah pekerjaan yang prospektif. Apalagi, ditambah dengan beban menyalurkan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan (mustahik). Tapi harus diingat, perhitungan manusia tidaklah sama dengan perhitungan Allah Swt. Perhitungan duniawi cenderung materialistik. Sementara perhitungan akhirat itu immaterial. Tidak kentara. Itu sebabnya banyak orang yang enggan mengejar harta yang tidak kasat mata itu. 

Sulit mengajak orang untuk ikut berburu DP akhirat. Lebih mudah mengajak orang memburu Pokemon Go. Yang terbaru, masih ada sekolah menutup diri. Lebih tepat disebut menutup-tutupi. Kebetulan telinga Baznas makin besar. Jangkauannya makin luas. Semakin banyak laporan tentang anak keluarga miskin kesulitan membayar biaya sekolah yang masuk ke Baznas dan UPZ. Setelah diverifikasi oleh tim Baznas dan UPZ info itu benar adanya. Sangat valid. Setelah dikonfirmasi ke sekolah yang bersangkutan, pihak sekolah terkesan menutup-tutupi. Pihak sekolah bilang: ‘’Semua anak keluarga miskin sudah teratasi.” 

Jawaban itu tidak salah. Sangat benar. Pihak sekolah memang sudah membantu anak dari keluarga miskin dari dana SAS (Siswa Asuh Sebaya). Tapi, itu bantuan setengah hati. Ternyata dana SAS yang diterima siswa miskin hanya 50% dari total biaya SPP sekolahnya. Contoh, kalau SPP siswa per bulan Rp 200 ribu, siswa miskin masih harus membayar Rp 100 ribu. Bagi keluarga miskin, uang Rp 100 ribu itu sangat banyak. Berat kalau harus membayar Rp 100 ribu per bulan. Apalagi, bagi yang punya anak sekolah lebih dari satu. Hal yang sama juga berlaku untuk uang partisipasi pembangunan sekolah. Siswa miskin tidak 100% bebas dari biaya yang memberatkan siswa itu. Hati saya trenyuh ketika mengambil rapor anak saya di salah satu SMAN beberapa waktu lalu, wali murid yang anaknya masih punya tanggungan pembayaran uang partisipasi pembangunan dan SPP dikasih surat oleh wali kelas. Tentu saja itu bukan surat biasa. Tapi “surat cinta”. Berisi tagihan sekaligus teguran, barangkali.

Berangkat dari fakta itu, sebaiknya ada evaluasi khusus soal dana SAS. Setidaknya soal transparansi pengelolaannya. Sekolah tidak usah malu atau gengsi untuk menyampaikan ke publik atau ke Baznas soal dana SAS yang dikelolanya. Kalau memang kurang, sampaikan apa adanya. Nama sekolah tidak akan jatuh hanya dengan hal seperti itu. Kepala sekolahnya juga tidak akan dimutasi atau dikecam oleh masyarakat. 

Yang pasti, Baznas siap membantu biaya sekolah anak-anak pintar Banyuwangi lewat program zakat beasiswa. Seperti yang kami lakukan kepada salah satu siswa SMAN 1 Glagah kemarin. Baznas membayar lunas setahun SPP siswi cerdas itu. Plus uang tunai yang cukup untuk membeli buku pelajaran. 

Kalau menolong jangan setengah-setengah. Kasihan untuk mendapatkan bantuan SAS dan semacamnya orang tua siswa miskin sudah “mengorbankan” martabatnya di secarik kertas yang menahbiskannya sebagai orang miskin. 

Wa ba’du. Apa pun profesi dan pekerjaan Anda mari berlomba-lomba melakukan kebaikan sebanyak mungkin. Itulah satu-satunya harta abadi yang akan kita bawa mati. Harta yang akan menyelamatkan kita di akhirat kelak. In sya Allah.***

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.