News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Buku: Mazhab Sunyi karya Budhi Setyawan

Buku: Mazhab Sunyi karya Budhi Setyawan

Mazhab Sunyi
Kitab Puisi
BUDHI SETYAWAN


Buku: Mazhab Sunyi karya Budhi Setyawan

Atak:
Apip R Sudradjat
Sampul: 
Budhi Setyawan
Cetakan Pertama:
Agustus 2019

Diterbitkan pertama kali oleh:
TareBooks
(Taretan Sedaya International)
Jalan Jaya 25, Kenanga IV, Cengkareng, 
Jakarta Barat 11730
tarebooks@gmail.com
+62811 1986 73
www.tarebooks.com

Spesifikasi:
x + 90 hlm. – 14,8x21 cm
ISBN:
978-602-5819-38-4

Harga: 
Pesan: +62812 2680 7247 / +62811 1986 73 (WA)
__________

Terima kasih dan cintaku pada 
istriku Dian Rusdiana
dan keempat anakku: 
Rifqa Aziza Ramadhani
Fitra Setya Firdaussy
Phiva Mustika Prabawany
Teja Narendra Permanajati



______
Mukadimah

Pada masa kecil saya menyukai karya sastra berbentuk pantun dan syair, termasuk tembang Jawa macapat yang dalam bait-baitnya memperhatikan unsur bunyi atau rima. Pada tahap selanjutnya saya menyukai lagu berbahasa Indonesia yang kebanyakan dalam liriknya sangat peduli rima. Kesukaan saya ini begitu merasuk sehingga pada puisi-puisi saya banyak yang menggunakan rima, bahkan pada beberapa puisi awal teramat kental sehingga pernah dibilang seseorang sangat pekat dan terasa kaku, bahkan bisa menjemukan akhirnya. 

Saya mengenal puisi dengan tanda pagar (#) dalam kegiatan di komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB). Penyair asal Sumenep, Sofyan RH. Zaid mengenalkan puisi yang ditulis dengan memberikan tanda pagar (#) di antara 2 kalimat dalam tiap lariknya. Puisi-puisinya yang bertanda pagar tersebut kemudian dibukukan dalam kumpulan puisinya yang berjudul Pagar Kenabian (2015). Ketika ia mengenalkan bentuk penulisan seperti itu, yang membuat saya senang adalah kepaduan rima tertulis dengan tertib, akan tetapi kalimat yang ditulis sangat lentur. Dua hal ini yang menyebabkan saya menulis beberapa puisi dengan tanda pagar (#). Pembelajaran puisi bentuk ini pernah aktif dilakukan di grup Lumbung Sajak (LS) FSB dengan aplikasi media sosial di telepon seluler. Jadi selain penyair Sofyan RH. Zaid dan saya, masih banyak yang pernah menulis puisi bertanda pagar (#) ini, terutama yang pernah berkegiatan di LS FSB. 

Saya tidak mempelajari lebih dalam mengenai sejarah, asal usul, bentuk baku atau awal dan hal-hal terkait lainnya dari puisi bertanda pagar yang dikenalkan penyair Sofyan RH. Zaid. Saya hanya secara sederhana merasa suka dengan bentuk atau gaya puisi ini. Selanjutnya saya langsung praktek menulis beberapa puisi bertanda pagar termasuk dalam pembelajaran di LS FSB dan diskusi bersama anggota komunitas. Ada semacam kontradiksi dalam menulis puisi bertanda pagar, semacam pertentangan di satu sisi dituntut kedisiplinan atau keteraturan yang mengikat, namun di sisi lain juga mesti memberikan ruang kebebasan sebagai jiwa atau semangat gairah dari puisi. 

Mengarang puisi dengan tanda pagar ini menurut saya teramat sulit karena ada pembatasan tertentu yang dalam prosesnya tidak mudah mengalir. Pembatasan yang menjadi pertimbangan dalam penulisan puisi ini muncul menjadi semacam tahapan yang mesti dilalui, antara lain, memilih kata yang sesuai agar diperoleh rima, memilih kata agar tercipta jumlah yang sama dalam kata atau suku kata pada dua kalimat yang dibatasi tanda pagar, dan memilih kata yang akan disusun ke dalam kalimat yang sesuai tema dan bermakna. Tiga hal tersebut yang minimal mesti dilewati dalam menulis puisi bertanda pagar tersebut, atau puisi dengan kalimat pendek dengan unsur rima agar mempunyai kedalaman estetik. 

Saya mendokumentasikan puisi bertanda pagar (#) ini sebagai ungkapan syukur bisa mengenal bentuk puisi ini. Memang puisi bertanda pagar yang saya tulis belum banyak, dan saya bukukan dari yang ada sejumlah 72 (tujuh puluh dua) puisi. Hasil dari tahapan menulis puisi bertanda pagar  yang saya rasakan sulit ini saya wujudkan menjadi buku puisi berjudul Mazhab Sunyi, yang bisa jadi puisi-puisi di dalamnya belum mencapai kualitas yang paripurna. Saya meyakini bahwa setiap upaya membuat buku puisi tetaplah bagian dari proses belajar, yang bergerak dan tak pernah kenal kata berhenti.  

Tentu ucapan terima kasih saya sampaikan kepada penyair Sofyan RH. Zaid yang telah mengenalkan dan membagikan ilmunya terkait puisi bertanda pagar (#). Selain itu saya juga hendak mengingatkan pada diri saya sendiri, syukur bisa meluas kepada pembaca, agar selalu menghargai apa yang sudah ditulis, mengarsipkan dengan tertib, yang dalam beberapa tahun ke depan dapat dibaca lagi dan menyemangati untuk menulis yang lebih produktif dan kreatif lagi. 

Saya juga berterima kasih kepada yang membaca buku ini. Jika anda menemukan makna setelah membaca buku ini berarti anda dikaruniai ketajaman batin yang luar biasa, maka makin bersyukurlah. Akan tetapi jika setelah membaca buku ini anda tidak mendapatkan apa-apa, artinya buku ini memang belum bisa membagikan manfaat apa-apa kepada dunia literasi. Dan mestinya penulis puisi-puisi di buku ini yang lebih tekun belajar mempertajam mata batinnya. 

Salam progresif.

Jakarta, 23 Agustus 2019
Budhi Setyawan 
______

Daftar Isi

Mukadimah | v
Amabakdu | 1
Alamatulhayat | 2
Tabaruk | 3
Sumur di Timur | 4
Kasidah Lembah | 5
Moksa | 6
Api Abadi | 7
Pijar | 8
Monolog Doa | 9
Lelaki Bermata Safir | 10
Raut Laut | 11
Air Mata Bulan | 12
Suluk Percintaan | 13
Mengingatmu | 14
Mazhab Sunyi | 15
Mazhab Percintaan | 16
Zikir Penyair | 17
Pengupas Sepi | 18
Hakikat Burung | 19
Hikayat Sungai | 20
Subuh | 21
Berbagi Pagi | 22
Pagar Gaib | 23
Kecintaan Doa | 24
Taman Tergantung | 25
Taman Berdoa | 26
Dibatasi Pagar | 27
Di Luar Pagar | 28
Fosil Rindu | 29
Hujan Pertama | 30
Alawar | 31
Sang Guru | 32
Kepada Guru Sejati | 33
Kapak Rindu | 34
Budak Rindu | 35
Rajah Rindu | 36
Menyebut Kekasih | 37
Penuang Anggur | 38
Ainunjariah | 39
Kesturi Rindu | 40
Air Kendi | 41
Lautan Terbelah | 42
Risalah Sujud | 43
Burung Waktu | 44
Napas Sepi | 45
Tangis Pisau | 46
Mahabah Al Fatihah | 47
Tamsil Maaf | 48
Kepada yang Tercinta | 49
Jalan Makrifat | 50
Bunga Tasbih | 51
Sungai Ibu | 52
Saat Diperam Waktu | 53
Tafsir Debu | 54
Mazhab Rindu | 55
Munajat Waktu | 56
Munasabah | 57
Mubarak | 58
Rabas | 59
Berkhalwat | 60
Rihlah Mahabah | 61
Tarekat Kata | 62
Istiklal | 63
Pada Jalan Keabadian | 64
Keseimbangan | 65
Ada yang Tertawa | 66
Sifat | 67
Manunggal | 68
Suluk Rindu (1) | 69
Suluk Rindu (2) | 70
Suluk Rindu (3) | 71
Suluk Rindu (4) | 72
Khatamah | 73

_____
Suluk Rindu (4)

air mata menjadi jejak # isak terbit menjelma sajak
aku sucikan jalan malam # mekar mawar di takzim salam 


Yogyakarta, 2015

_____

Budhi Setyawan, atau akrab dipanggil Buset, lahir di Purworejo 9 Agustus 1969. Buku puisi tunggal sebelumnya adalah Kepak Sayap Jiwa (2006), Penyadaran (2006), Sukma Silam (2007), dan Sajak Sajak Sunyi (2017). Puisi-puisinya banyak dimuat media massa dan buku antologi bersama. Mengelola komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB) dan Kelas Puisi Bekasi (KPB), serta ikut bergabung di komunitas Sastra Reboan dan Komunitas Sastra Kemenkeu (KSK). Kini, Budhi bekerja di Kementerian Keuangan dan tinggal di Bekasi. Kontak: setyawan.budhi@gmail.com / +62 812 2680 7247

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.