News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Membangun Ekosistem Kepenulisan di Siak - Marhalim Zaini

Membangun Ekosistem Kepenulisan di Siak - Marhalim Zaini

(Sebuah Pengantar)
Membangun Ekosistem Kepenulisan di Siak - Marhalim Zaini

Oleh Marhalim Zaini

KAWACA.COM | SUDAH cukup lama saya tidak menulis prihal perkembangan sastra di Riau, sejak sekitar sepuluh tahun-an lampau esai-esai saya yang tersiar di Riau Pos, semisal yang berjudul “Catatan Sastra Riau 2005”, “Catatan Sastra Riau 2007”, “Catatan Sastra Riau 2008”, dan “Ihwal Regenerasi Sastra Riau.” Dan selama satu dasawarsa itu, saya lebih intens mengamati perkembangan sastra (terutama puisi) di Indonesia, apalagi setelah saya harus menulis kolom tetap di Riau Pos dan Indopos (2013-2016). 

Tentu, bukan berarti bahwa pergerakan sastra di Riau serta-merta lepas dari pengamatan saya. Setidaknya ada satu atau dua esai pendek saya di kolom tetap saya itu, semisal esai “Generasi Baru Penyair Riau” (2014). Dalam esai ini saya menyebut dan menandai beberapa nama penyair “muda” yang muncul, seperti May Moon Nasution, Cikie Wahab, Ahmad Ijazi H, Anju Zasdar, Muhammad Asqalani Eneste, Fatih El Mumtaz, Cahaya Buah Hati, Alvi Puspita, Boy Riza Utama, Alpha Hambali, Reky Arfal, Eko Raghil, (dan beberapa nama lain) yang rata-rata memang menetap di kota Pekanbaru. Ada satu-dua penyair yang tinggal di daerah kabupaten, seperti Riki Utomi dan Jasman Bandul. Penandaan nama-nama tersebut berdasarkan pada keterbacaan saya terhadap karya-karya mereka di media massa cetak dan buku. Beberapa nama tampak masih eksis dan berupaya mengembangkan “sayap” kepenyairannya sampai saat ini, sementara sebagian yang lain, meredup, bahkan padam. 

Kalau kita lihat peta persebaran penulis puisi tersebut, maka tampak jelas bahwa penulis yang berasal dari kota Pekanbaru cukup ramai dibanding dengan penulis dari daerah/kabupaten. Mengapa demikian? Sejak lama pertanyaan ini muncul, dan hemat saya, juga sejak lama ini jadi fenomena umum dalam dunia kepenulisan di Indonesia. Kecenderungannya memang pergerakan dan perkembangan kehidupan sastra lebih semarak di kota dari pada di daerah/kabupaten. Asumsinya, boleh jadi karena iklim bersastra di pusat kota yang notabene dihuni oleh para “kaum intelektual modern” lebih kondusif untuk menstimulus para penulisnya. Mulai dari ketersediaan fasilitas, akses ruang/media publikasi, sampai pada intensitas terbukanya ruang-ruang diskusi/pertemuan yang digelar oleh komunitas/lembaga tertentu. 

Namun, tentu saja asumsi ini bisa keliru jika melihat pesatnya pertumbuhan  daerah/kabupaten hari ini. Dan segera dapat terbantahkan juga ketika di sejumlah daerah/kabupaten di luar Riau, pergerakan sastranya justru menuju ke ceruk-ceruk kampung. Ini dapat ditandai misalnya dengan berbagai iven sastra nasional, bahkan internasional, yang digelar di kampung-kampung—meskipun di lain pihak, tidak juga bisa menjamin bahwa tempat di mana iven tersebut berlangsung memiliki banyak penulis. Setidaknya upaya semacam itu dapat memotivasi tumbuhnya etos menulis, dan membangun ekosistem kepenulisan yang kondusif.

Apakah tidak mungkin ini terjadi di Riau? Sangat mungkin. Karena daerah-daerah kabupaten di Riau, hemat saya, sesungguhnya sangat potensial. Penulis-penulis yang aktif berkarya dan tinggal di kota Pekanbaru misalnya kebanyakan adalah para penulis yang lahir dari daerah-daerah juga, dari kampung-kampung. Tinggal lagi sekarang bagaimana menggerakan aktivitas kepenulisan di daerah itu, dengan menghimpun para penulisnya, para calon penulisnya, para pembacanya, dalam sebuah komunitas menulis. Meskipun menulis itu proses personal, akan tetapi lingkungan atau ekosistem yang sehat akan sangat berpengaruh pada produktivitas penulisnya. 

Upaya membangun ekosistem yang sehat itulah yang sedang dikerjakan oleh para penulis dan oleh para calon penulis di kabupaten Siak. Selain membentuk komunitas, tempat mereka berhimpun, berdiskusi, membangun sinergi, mereka kini mulai menghimpun pula karya-karya mereka dalam sebuah buku kumpulan puisi berjudul “Kau Tiup, Aku Hembus,” (yang diambil dari salah satu judul puisi karya Zulkarnain Al Idrus). Sebagai sebuah awal pergerakan sastra, upaya ini tentu wajib diapresiasi. 

Puisi-puisi yang terhimpun dalam buku ini ditulis oleh para penulis yang bermastautin di kabupaten Siak, yang beragam latar belakang profesi, dan tentu beragam pula pengalaman menulis puisi. Ada yang telah cukup lama berkecimpung, ada juga yang memang baru masuk dalam dunia tulis menulis. Mereka menulis dengan gaya mereka masing-masing, dengan kegelisahan masing-masing. Tempat tinggal boleh sama, tapi puisi lahir tentu tidak dari kegelisahan yang sama. Mereka memang tengah bicara tentang Siak, yang itu artinya juga mereka tengah bicara tentang diri mereka sendiri. Siak di luar diri dan Siak di dalam diri, boleh jadi semacam rumah tempat mereka pulang dan pergi. Kadang berucap dengan dialek Melayu yang kental dan arkais, dan kadang berucap pula dengan bahasa sederhana yang melankolis. 

Lidah kental Melayu dapat kita rasakan dalam puisi-puisi Zulkarnain Al Idrus, Tengku Syaf, Dodi Dosh, dan Toni Busra. Meski tampil dengan karakter mereka masing-masing, potensi bahasa Melayu sebagai sumber penciptaan setidaknya dapat menemukan “kekuatannya” sebagai bahasa ucap dalam puisi-puisi mereka. Orisinalitas justru kadang muncul ketika puisi ditulis dengan improvisasi-improvisasi. Sementara dalam puisi-puisi Bayu Aji Setiawan, Gun Gun, dan Syarwan Hamid, kita akan menemukan pengucapan-pengucapan yang sederhana, lebih universal, dan membangun kekuatan lebih pada suasana, menciptakan ruang-ruang kontemplasi dalam diri pembaca. 

Terlepas dari bagaimana nasib puisi-puisi dalam buku ini kelak, yang pasti buku ini telah hadir dalam khazanah kesusastraan di Riau, dan di Indonesia. Setiap kreativitas, sekecil apapun itu, tentu akan dapat tempat. Waktu yang akan mengujinya, apakah ia akan bertahan dan ambil tempat dalam gerusan zaman. Sastra Siak telah mulai bergerak, mulai membangun ekosistem kepenulisan di daerah, yang selama ini dianggap senyap.*** 

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.