News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Buku: Kau Tiup, Aku Hembus karya Zulkarnain Al Idrus, dkk

Buku: Kau Tiup, Aku Hembus karya Zulkarnain Al Idrus, dkk

Buku: Kau Tiup, Aku Hembus karya Zulkarnain Al Idrus, dkk

kau tiup, aku hembus

antologi puisi:
Zulkarnain Al Idrus
Bayu Aji Setiawan
Tengku Syaf
Toni Busra
Dodi Dosh
Gun Gun
Syarwan Hamid



Atak dan sampul:
Apip R Sudradjat


Cetakan Pertama:
November 2018

Diterbitkan pertama kali oleh:
TareBooks
(Taretan Sedaya International)
Jalan Jaya 25, Kenanga IV, Cengkareng, 
Jakarta Barat 11730
tarebooks@gmail.com
+62811 1986 73
www.tarebooks.com

Spesifikasi:
xi + 86 hlm. – 14,8x21 cm
ISBN:
978-602-5819-12-4
____
DAFTAR ISI

Zulkarnain Al Idrus
Muda bak Rebung, Tua Si Buluh Betung
Muda Kok Latah
Kau Tiup, Aku Hembus
Mesti Kuluah
Janji di Ujung Kapak
Riang Keluang
Pantang Tetua
Menongkah Arus 
Asap Merayap
Hujan
Aku Jambat!
Jangan Terlalu Tinggi
Kupu-kupu Rembulan
Penutup Wajah

Bayu Aji Setiawan
Sajak Masa Kecil
Perkara dalam Sajak
Kita Tak Merayakan Apa-apa 
Pesan Anak kepada Ibunya
Sajak Tentangmu
Sajak Kelahiran
Sajak Pulang
Riwayat Kota
Ada yang Hilang, Setelah Kota Dibangun

Tengku Syaf
Nyawa kumaharkan
Si Daun Muda
Sudahilah

Do Dosh

Pembuka
Gerun
Lembar Malam
Ibu
Tidur
Raung
Mata Ilmu
Gempa 1
Matahari Senja
Aku Tak Takut
Rajut
Kasih
Novelia

Toni Busra

Mengenang Tanah Pasar
Waktu Terbelah Dua
Madah Lebah
Egois
Alamanak
Sepi Detik
Sepuntung Tunggu
Membaca Rahasia Rasi Bintang
Fatamorgana
Jejak Senyum Ayah
Sepuntung Rindu
Biar Waktu Menggali-gali di Dadaku

Gun Gun
Kepenatan dalam Jatuh Cinta
Aku Ingin Menjadi Hutan dan Kau Menebak yang Aku Simpan
Yang Paling Sejenak Dalam Hidup Ini
Laki-laki yang Tak Pandai Menghibur
Orang yang Datang Bertandang dan Menolak Pulang
Kita Akan Membenci Kedatangan
Jika Aku Perempuan, Aku Ingin Jadi Ibuku
Dipelukan kita kehilangan kata-kata
Seseorang
Anak Kecil yang Selalu Tertawa dalam Tubuhmu

Syarwan Hamid

AlQuran dan Rotan
Sepotong Senja di Siak Sri Indrapura
Waktu
Kunang-kunang Membaca Cerita Rindu
Ajari Aku Merayu Tuhan
Setan dan Kopi
__________

CONTOH PUISI

Zulkarnain AL Idrus
Asap Merayap

Kabut
jadi kemelut
kemarau panjang tanpa hujan
masuk berebut-rebut
disambut, semput.

Asap terhisap
dengan sigap mengusap
napas tercungap
kian gelap merayap

Terhalang!
tertutup pandang
kau menderu datang
bergelombang malam ke siang
bahkan pagipun kau jelang

Putihmu menjelma hitam
menggeram seperti dendam
menghajar menghantam
bermacam ragam menikam
gayamu suram
tak mudah dipaham

Bila kau datang lagi
akan kuajak dikau, minum kopi

Tengku Syed Zulkarnain AL Idrus nama lengkapnya. Lahir di Siak, 09 September 1984. Ayah dari tiga anak ini sehari-hari bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Dinas Pariwisata Kabupaten Siak. Selain menulis sastra seperti puisi, syair, pantun, dan naskah lakon, ia juga kerap tampil di atas panggung sebagai komedian Melayu, baik itu berupa teater komedi, group lawak, maupun celoteh atau lawakan tunggal,  bahkan juga tampil sebagai sutradara dalam pementasan teater. Selain itu, ia juga seorang pemantun dalam acara adat perkawinan Melayu, seperti dalam menghantar tanda, hantaran belanja dan pantun buka pintu. Sejumlah karya pantunnya telah dibukukan oleh PW BKMT Provinsi Riau Tahun 2008 dalam buku “Kemilau Pantun Melayu.” Syair yang ia tulis berjudul ”Ghatib Beghanyut” karya termaktub dalam buku “Bukan Batang Terendam” (Antologi Sastra Melayu Riau), editor Marhalim Zaini, yang diterbitkan oleh UPT Museum dan Taman Budaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau dalam Pergelaran Sastra Daerah dan Nusantara 2016.


Bayu Aji Setiawan
Kita Tak Merayakan Apa-apa 

Kita tak pernah merayakan apa-apa
hati kita tak pernah reda didera derita
selalu ada segala bentuk perkara
yang menjadi celaka sekaligus petaka

maka kita selesaikan
sebab puncak dari segala ketakutan
adalah penyesalan

2018

Bayu Aji Setiawan, lahir di Sei.Apit, Siak Sri Indrapura, Riau, 26 Agustus 1996. Menyelesaikan pendidikan di SD Negeri 003 Benteng Hulu, MTs Negeri Siak, SMA Negeri 1 Siak. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta ini mulai suka menulis sejak duduk di bangku SLTA. Bergiat di Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta, Komunitas Madah, Kelas Sunyi, Teater Jaringan Anak Bahasa (JAB) dan Kelompok Belajar Sastra "Jejak Imaji". Karyanya pernah dibukukan dalam, Rampak (2015), Palka (2016), Rumah Penyair 4 (2016), Yogya Halaman Indonesia (2016). Saat ini tinggal di Gg. Sholtonain, JL. Nitikan, No. 400, Giwangan, UH IV, Yogyakarta, 55165. Nomor kontak 085315816871, Facebook: BayuAji Setiawan, Instagram: @ajisetiawanbayu, email: ajisetiawanbayu226@gmail.com.

Tengku Syafrizan
Sudahilah

Sudahilah kalian bertengkarnya, sayang..
waktu sudah larut malam
kalian sudah harus tidur
pekerjaan esok telah menanti
dengan semangat dan tenaga baru
otakmu juga butuh istirahat
untuk hari esok menjelang.

Pertengkaran kalian juga takkan ada habisnya jika dilanjutkan
berdamailah dengan hati kalian masing-masing
lupakan, lepaskan..
karena pertengkaran kalian sudah direncanakan.

Tengku Syafrizan. Lahir di Siak Sri Indrapura, 11 September 1988. Telah menikah dan dikaruniai seorang anak. Bekerja sebagai Tenaga Kerja Honorer bagian protokol di Setda Kabupaten Siak. Lahir dari keluarga penikmat seni, dunia seni seperti mengalir dalam dirinya. Mulai dari menggeluti seni musik, seni gambar, seni video, seni arsitektur hingga ke dunia puisi.


Dodi Dosh
Ibu

Aku ingin kembali berpaut
Andai kain bedung itu masih ada
Untuk menatap wajahmu seluruh
Dan kau juga menatapku penuh
Cinta
Dalam terang atau gelap masa
Aku ingin kembali memekik tangis, sekeras-kerasnya
Sebagai tanda hidup
Tangisku yang kau simpan selamanya dalam ingatan
Saat kau menggendongku di waktu kecil

Dodi Dosh, lahir di pulau Bengkalis, 10 Desember 1979. Anak kedua dari enam bersaudara ini menjalani pendidikan SD hingga SMU di Bengkalis. Lewat jalur PBUD ia melanjutkan pendidikan di Fakultas FISIPOL UNRI Jurusan Sosiologi, tapi tak selesai. Ia pindah ke UIN SUSQA Jurusan PAI. Alasannya, ia merasa ilmu agama sangat kurang dan ingin belajar agama lebih serius. Sejak tahun 2005, ia menetap di Siak Sri Indrapura, dan mengajar di sebuah Sekolah Dasar Negeri di kecamatan Mempura Kabupaten Siak. Selain hobi membaca novel dan puisi, ia juga gemar mengendarai Vespa, bermain gambus dan gasing. Menjadi penulis adalah mimpinya sejak SMP.


Toni Busra

Biarkan Waktu Menggali-gali di Dadaku

Sedalam rindu digali waktu
Seumur lama
Sepanjang jauh
Batin bersajak di durasi kesunyian

Singgah yang tak sampai
Bepelukan di mimpi-mimpi malam
Langkah tak berjejak
Terlibat dalam kepergian yang hilang

Jarak tidak mengeruhkan cinta
Bimbang tidak menghapus sayang
Lama tidak merobohkan setia
Letih tidak menidurkan kasih
Sunyi tidak menghasut hati

Adinda!
Biarkan waktu menggali-gali di dadaku

Pekanbaru, 2011

Toni Busra, lahir di Lalang  18 April 1984. Mulai bergiat menulis puisi sejak tahun 2010. Beberapa puisinya pernah dimuat di rubrik Expresi koran Riau Pos, yang digawangi oleh Marhalim Zaini. Selain bekerja sebagai honorer ia juga menekuni usaha barang seni kerajinan. Beberapa waktu sebelumnya ia sempat bergiat di Sekolah Menulis Paragraf di Pekanbaru. Sejak tinggal di Siak ia bergiat di Komunitas Madah.


Gun Gun

Yang Paling Sejenak dalam Hidup Ini

Apa yang paling sejenak dalam hidup ini
Selain petang dan lintasan pikiran tentangmu

Kau memelihara jarak dan harum rindu dalam dirimu
Jauh sebelum aku sempat tau, jatuh cinta memiliki cara jahat untuk menyakitiku berkali-kali

Kelak aku jadi orang asing,
yang bertanya kepadamu alamat untuk pulang kepadamu
Kelak aku jadi penjaga toko buku,
Dan kau sekedar datang untuk menghabiskan waktu

Setelah tentang kau hanya tentang kenang-mengenang
Aku memelihara kucing
Lalu menghitung bulu-bulunya agar memperoleh cara lupa

Gun Gun, lahir, di Siak. Menyukai puisi dan masih terus belajar cara menulis di Komunitas Madah. Tulisan lain bisa dibaca di Instagram @setjangkir.kopi.

Syarwan Hamid
Sepotong Senja di Siak Sri Inderapura

Sepotong senja di siak sri inderapura
Riak-riak air di sungai jantan, tak lekang dari ingatan
Sungai penuh kenangan ciptaan Tuhan untuk nelayan
Berjejer pancang jamban, belat-tarik untuk menangkap ikan

Sepotong senja di siak sri indera pura
Semilir angin membelai tubuh siak
Lampu-lampu kota, berjejer  sepanjang jalan
Berkilau seperti sebutir berlian

Syarwan Hamid, kelahiran Siak Sri Inderapura. Mahasiswa semester akhir di UIN SUSKA RIAU. Aktif menulis bersama komunitas Madah.

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.