News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Puisi Pagar Hijau - Sofyan RH. Zaid

Puisi Pagar Hijau - Sofyan RH. Zaid


Puisi Pagar Hijau

oleh Sofyan RH. Zaid

 

Singkatnya,

puisi merupakan sebuah kreasi keindahan yang berirama.

Edgar Allan Poe (1809-1849)


KAWACA.COM | Kapan saya kenal Budhi Setyawan? Ceritanya panjang. Namun akan saya ceritakan pendek saja:

1# Kegelisahan Puitik

Soren Kierkegaard pernah bertanya: "Siapa itu penyair?” Kemudian dia menjawab sendiri: “Seseorang tak bahagia yang menyembunyikan kesedihan mendalam di dalam hatinya, tapi bibirnya terbentuk sedemikian rupa sehingga ketika napas dan tangisan melewatinya, terdengar seperti musik yang indah.” Saya baru mengerti diktum tersebut ketika pertengahan tahun 2008, karena duka tertentu, saya bersumpah untuk tidak mengirimkan puisi ke media lagi selama masih mengharapkan honornya.

Sejak itu, saya menjauh dari pergaulan puisi dan menyibukkan diri dengan hal lain. Hanya sesekali menulis puisi untuk disimpan atau antologi puisi bersama.

Awal tahun 2012, saya pindah tinggal dari Jakarta ke Bekasi untuk memulai usaha bersama Indra Kusuma yang bergerak di bidang suplier dan international trading. Selama di Bekasi itulah, saya mengalami kegelisahan puitik: Merindukan puisi dan pergaulannya kembali setelah sekian lama hanya berwirausaha atau ‘setiap hari wira-wiri mengurus dunia’ dalam istilah Indra.

Saya mencari tahu dari berbagai sumber: siapa penyair yang tinggal di Bekasi? Keluarlah nama Budhi Setyawan, penyair yang sudah lama saya baca karyanya di media atau antologi puisi bersama. Setelah berkontak, ternyata Budhi adalah ketua Forum Sastra Bekasi (FSB). Kami pun janjian bertemu di acara rutin FSB, kediaman salah satu anggotanya di Cikarang. Itulah awal saya kenal Budhi dan bergabung dengan FSB.

2# Lumbung Sajak

Sejak di FSB, apalagi dengan terbentuknya program Lumbung Sajak (LS) di Grup BBM (Blackberry Messenger), saya benar-benar kembali ke dunia puisi. Saya mulai intens menulis dan menekuni puisi pagar yang sudah pernah saya tulis tahun 2006 di Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep. Di LS, Budhi selalu berkoar-membakar anggotanya agar mengirimkan karya ke media dengan tiga tujuan: (1) menguji kualitas karya, (2) silaturrahmi kreatif, dan (3) dokumentasi karya. Saya pun mulai mengirimkan puisi pagar ke media sesuai sumpah: tidak berharap honornya. Satu per satu puisi pagar saya muncul di media, hinggar akhirnya terkumpul dalam buku puisi tunggal pertama saya, Pagar Kenabian tahun 2015.

Barangkali karena saya kerap ‘melempar’ puisi pagar di LS, kawan-kawan menjadi penasaran perihal puisi pagar yang tak lazim dalam perpuisian Indonesia. Dengan niat belajar bersama -bukan mengajarkan apalagi menggurui- dan mengkampenyakan sastra pesantren, saya mulai membagikan seluk-beluk dan lika-liku puisi pagar yang berasal dari nazaman dalam dunia pesantren.

3# Belajar Bersama Puisi Pagar

Menulis puisi pagar atau nazaman dalam bahasa Indonesia, sama seperti menulis puisi pada umumnya. Hal utama yang dibutuhkan adalah keterampilan. Itu sebabnya butuh latihan dan tahapan. Artinya kembali pada kaidah umum: bisa karena biasa. Sesulit apapun itu. Karena puisi –menurut Allen Ginsberg- adalah sebuah tempat di mana seseorang dapat menyuarakan pikiran terjujurnya. Ia adalah jalan bagi seseorang untuk mengatakan kepada ‘publik’ apa yang diketahuinya, tetapi secara ‘pribadi’.

Idealnya, menulis puisi pagar mempunyai dua tahapan:

Pertama, memerhatikan jumlah kata, hingga suku kata. Jumlah kata pada tiap larik haruslah sama antara sebelum dan sesudah tanda pagar, misalnya pada puisi Budhi “Amabakdu”: aroma bunga menguar masih # bagai pelukan dari kekasih, yakni 4 tambah 4 kata sama dengan 8 kata. Bahkan kalau perlu, jumlah suku katanya juga harus sama antara sebelum dan sesudah pagar, misal pada puisi Budhi “Tabaruk”: masih ada gelombang hasrat # dalam diri lautan hayat, yakni 9 suku kata tambah 9 suku kata sama dengan 18 suku kata.

Kedua, memerhatikan rima akhir. Selain memerhatikan jumlah kata bahkan suku kata, tahap kedua dalam menulis puisi pagar adalah memerhatikan kesamaan rima akhir antara sebelum dan sesudah tanda pagar. Misalnya pada puisi Budhi “Api Abadi”: kita ini pelari jauh # pada waktu terus bertaruh. Atau pada puisi “Mazhab Percintaan”: mendaki puncak gunung # memetik pijar renung. Baik bentuk rima akhir yang sempurna atau pun tidak.

Lantas, apakah haram hukumnya kalau ada puisi pagar yang jumlah kata atau suku katanya tidak sama atau bentuk rima akhirnya tidak sempurna? Tentu tidak! Menulis puisi pagar dalam bahasa Indonesia tidak mesti seketat nazam dalam bahasa Arab. Karena inti penulisan puisi pagar hanyalah untuk mengambil corak dan spirit sastra pesantren yang sampai hari ini masih dipandang sebelah mata oleh sejumlah kalangan. Itulah kenapa, saya merasa begitu bersyukur ketika tahu ada orang menulis puisi pagar. Karena dengan cara itu, dia telah turut mendukung dan mendorong sastra pesantren tampil lebih terang di panggung sastra Indonesia.

Sekali lagi, sebagaimana puisi pada umumnya, standar keberhasilan penulisan puisi pagar adalah ‘tidak berat pada bentuk semata’. Bahasanya harus lentur dan rima akhirnya haruslah samar. Artinya, puisi pagar yang ditulis tidak dipaksa tunduk pada jumlah (suku) kata atau rima akhir yang sama. Prinsip penulisan puisi pagar adalah ‘terikat tetapi bebas’. Nah, saya menemukan hal itu dalam sebagian besar puisi Budhi Setyawan di Mazhab Sunyi ini.

4# Bahkan

Secara teks, puisi-puisi Budhi dalam buku ini telah mencapai derajat kelenturan bahasa dan rima akhir yang samar. Sebagai contoh misalnya pada puisi  “Monolog Doa”: dari pertapaan diam # terbitlah semacam gumam/ kembaraku pada langit # menempuh jalanan rumit// padaku tersimpan dingin # pelega rimbunan ingin/ kadang kusampaikan hujan # bila bumi kepanasan// namaku kerap disebut # di dalam bauran karut/ oleh mereka yang rindu # memburu sebuah temu.

Secara konteks, sebagaimana puisi-puisi bebasnya yang tak berpagar, Budhi berhasil menuliskan perenungan mendalam pada tiap puisinya. Misal pada “Ada yang Tertawa”: apakah engkau tak mendengar # kisah terlucu dari kabar/ hati menertawakan mata # kerap tunduk dalam pendarnya. Untuk memahami makna puisi tersebut, barangkali tidak cukup kalau kita hanya baca sekali. Puisi tersebut menyimpan perenungan Budhi yang dalam terkait laku-hidup manusia di dunia.

Memang benar, hati yang imateriel kadang suka menertawakan mata yang materi. Merujuk pada percik pemikiran Muhammad Iqbal, manusia ‘sempurna’ adalah dia yang telah berhasil menyadari bahwa ‘yang  imateriel lebih penting daripada yang materiel, misal akhirat dengan dunia. Itulah –kata Nabi Muhammad saw.- pengertian kecerdasan manusia yang sesungguhnya.

Namun meski demikian, kita sebagai manusia yang hidup di tengah godaan dan cobaan, hati yang awalnya menertawakan mata, justru tunduk pada pendarnya, yakni kilau gemerlap dunia yang indah tetapi menipu. Kabar semacam itu, kerap kita dengar atau lihat dalam serba-serbi kehidupan manusia sebagai ‘homo-theatrical’. Dalam konteks ini, Budhi berhasil menuliskan fenomena tersebut secara konkret tanpa kehilangan sisi puitiknya.

Sutardji Calzoum Bachri menulis dalam “Sajak-Sajak Ngantuk” (1978) bahwa “penyair yang baik bisa mengkonkretkan pengalaman puitik yang didapatnya dalam perjalanan hidup batinnya sehari-hari. Entah itu didapatnya dari pertemuannya dengan sehelai daun yang kena tetes hujan, luka kena pedang atau sipilis, pertemuannya dengan seekor ular, batu, pertemuannya dengan Tuhan, atau kerinduannya terhadap Tuhan, pertemuannya dengan setan, dengan lonte, atau dengan anak-anak, atau pun alkohol, dan seterusnya”.

Dalam buku ini, saya juga banyak menemukan puisi-puisi Budhi yang sufistik, misal “Suluk Rindu (4)” yang ingin saya kutip utuh sebagai khatamah:


Suluk Rindu (4) 


air mata menjadi jejak # isak terbit menjelma sajak

aku sucikan jalan malam # mekar mawar di takzim salam

Yogyakarta, 2015


Puisi yang pendek bentuknya, tetapi panjang maknanya. Puisi yang lirih suaranya, tetapi jauh gemanya. Puisi yang mengingatkan saya pada ucapan Emily Dickinson bahwa “Penyair menyalakan cahaya lalu dia sendiri memudar. Namun cahayanya akan terus-menerus berpendar!” Itulah salah satu puisi Budhi yang membuat saya iri dan bergumam: “Ternyata memang benar ada pagar tetangga yang lebih hijau dari pagar sendiri”.

Bekasi, 24 Agustus 2019


-Epilog dalam buku Mazhab Sunyi karya Budhi Setyawan, Jakarta: TareBooks, 2020

 

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post