News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Puisi Pilihan Arco Transept

Puisi Pilihan Arco Transept


Sukma di Tanah Sriwijaya

Sukma dirangkum angin malam yang bercahaya.
Sukma duka dan sukma suka berbaris
seperti lilin makan malam dalam mimpi manis.

Berpuluh tahun angka makin samar di pelipis, sebagian
habis menghitung bintang,
menggambar rasi, dan menulis catatan kaki di tanah yang
dibelah sungai.
Seperti legenda batu di samping klenteng Hok Tjing Rio.

Bulan ke sembilan setiap tahun,
kecemasan selalu mencuat dalam kemasan pagoda.
Mengerucut ritus yang berulang
seperti kisah cinta Siti Fatimah
dan Tan Bun An yang karam.

Sekujur tubuhku adalah bambu-bambu bersembilu.
Tumbuh di pinggir kota dan kolam-kolam
pada dindingnya retak menyimpan masa kanak.
di tebang jadi rel kereta.

Aku membayangkan tak ada lagi
sisa tanah kosong di kota ini.
Segala sisi kota ditaburi uang,
sebulan atau setahun lagi berdiri gedung
yang congkaknya hampir sekeras kepala kami.
Dan pelan-pelan terlupakan.

2016

Sajak untuk Sajak-Sajakmu

...............................

Dan aku takkan berhenti mencintai
Sampai luka terobati
Sampai kita, ditaburi rupa-rupa bunga.

Dan aku takkan berhenti merindui
Sampai sepi tak dikenali
Sampai kita, menemu dahan rindang daun-daun

Hingga akhir padanya,
sayap kunang-kunang yang jatuh di jantung sungai.

Kita takkan mati di sajak ini

................................

2016


Tak Bermusim

Aku mencintaimu
selembut angin pesisir
bertekuk lutut pada lekuk
tebing pipi yang tak bisa tersusur.

Aku mencintaimu
sederas arus laut mendebur debar
tepian tubuh yang tak menemui jantung
muara hulu dan hilir.

Aku mencintaimu sepanjang kesedihan
bermukim di matamu yang tak bermusim.

2016

Becermin di Sungai

Di tepi sungai,
aku melihat wajahku yang tirus diseret arus,
dan ketika aku ingin menulis puisi perihal rindu,
perahu nelayan melintas, ombak memecah wajah,
sampai selang waktu, aku kembali semula.

Di tepi sungai,
riak-riak kecil di rambut, bibir, telinga, dan mataku
bikin bergetar.
Ada pohon yang lebat daunnya,
setiap angin berhembus, beberapa helai daunnya gugur,
jatuh ke sungai, mengalir membelah wajahku.

Di tepi sungai,
aku menunggumu di hilir lengan.
Barangkali ini malam, perahu nelayan tak menepi.
Walaupun daun gugur tak mengenal siang dan malam,
kau takkan membelah dan memecah wajahku lagi.

2016


ARCO TRANSEPT lahir di Musi Banyuasin, 15 September 1984. Arco merupakan penyair pengembara. Dia pernah tinggal di Yogyakarta, Malang, Bali, Jakarta dan sekitarnya. Puisi-puisinya terbit di sejumlah media, dan buku bersama, antara lain: Matahari Cinta Samudera Kata (Sagang, 2016), Pasie Karam (Temu Penyair Nusantara, 2016), Puisi Kopi 1550 mdpl (Festival Puisi Kopi Dunia, 2016). Cinta Kenangan dan Hal-Hal yang Tak Selesai (Gramedia Pustaka Utama, 2011). Arco kini tinggal di Jakarta, dan menjadi redaktur di Lokomoteks.com

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.