News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Merah Yang Meremah: Antara Puisi Sekadar dan Puisi

Merah Yang Meremah: Antara Puisi Sekadar dan Puisi


Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf

 Sebanyak seratus puisi dari sepuluh orang perempuan facebookers, bikin aku tertegun. Berhadapan dengan buku ini bikin hati dan pikirku melanglang buana.Apa pasal?
Aku telah sodorkan pengertian penyair (bagiku), dan beberapa tahun lalu dimuat di Pikiran Rakyat. Penyair Itu Binatang Apa? Itulah judulnya. Di sana ada batasan-batasan penyair yang kumaksudkan. Jelas bukan kucing buduk dan bukan pula binatang
jalang. Dan yang jelas, penyair itu bukan binatang, sayang. Kamu boleh bilang
kucing itu binatang. Dan binatang jalang adalah masa lalu, yang terkubur di buku
cetak-buku cetak. Kini, penyair itu produsen dan produknya adalah syair alias
puisi alias sajak.

Kemudian : ... Penyair merupakan profesi. Dan selain sebagai produsen, seyogianya dia itu adalah investor. .....Penyair tak memiliki, maka berhentilah sebagai penyair. Penyair
harus memiliki. Dengan kepemilikannya, penyair dapat melakukan investasi yang
pada gilirannya akan melahirkan produknya, tentu ujung-ujungnya akan
melipatgandakan kepemilikannya, dan akan memberi manfaat bagi dirinya dan atau
kepada orang lain.

Dan : Penyair yang investor punya portofolio investasinya. Boleh saja kepemilikannya dia letupkan pada puisi-puisi cinta, misalnya. Lain kali pada puisi-puisi jenis lainnya. Atau boleh saja penyair yang investor akan menginvestasikan kepemilikannya pada puisi realis, atau puisi postmodernisme, atau bentuk lainnya.

http://groups.yahoo.com/group/sastera_sarawak/message/1556
Penyair yang merupakan produsen puisi, maka dia harus memproduksi puisi. Saat memproduksi puisi, ada yang jadi, ada yang cacat, dan ada yang gagal. Sebagai produsen yang baik dan memperhatikan pengawasan kualitas (quality control), maka yang cacat (aku lebih suka menyebutnya puisi setengah jadi) dan yang gagal (aku lebih suka menyebut puisi yang bukan puisi) tidak akan dipasarkannya. Artinya, dia akan dikuburkan atau dia reka ulang, sehingga dia akan lahirkan puisi jadi yang lulus pengawasan kualitas (kendali mutu), tentu bisa masuk ‘pasar’ atau dipublikaskan.

Kelahiran puisi itu hasil ‘persetubuhan’ perasaan, pengalaman, pemikiran, pengetahuan, penglihatan, pengamatan dari penyair, yang menghasilkan suatu pesan atau gagasan, yang kemudian dengan bahan baku kata, dituliskannya dengan puitikal.

Ya. Tentu berbeda puisi dengan prosa, kendati genre ini sulit dipisahkan. Misalnya pada karya Sapardi Djoko Damono. Lantas, jadi apa puisi itu?

Ada seseorang mengatakan, tuliskan satu kata pada masing-masing kertas. Boleh jadi ada seratus kata. Kemudian kertas itu masing-masing digulung. Dan dikocok seperti dalam arisan. Lantas, setiap kata yang keluar dituliskan di selembar kertas. Setelah semua kertas keluar dan dituliskan, maka jadilah puisi, kata orang itu.

Betulkah itu puisi? Betapa gampangnya menulis puisi. Tapi, apa betul itu puisi?
Boleh jadi ya, boleh jadi tidak, kataku.
Namun bahan baku kata memang tak dapat dilepaskan dari puisi. Kata bagi penyair seperti tanah lempung bagi pematung. Pematung yang sudah akrab dengan tanah lempung, maka dia dapat melekuk-lekukan tanah lempung itu, sesuai gerak rasanya, untuk menghasilkan karya patung yang indah.

Begitu juga kata bagi penyair. Kata harus jinak, sehingga penyair dapat menggembalakan kata-kata agar menjadi alat penyampaian pesan dan gagasannya!

Tahap selanjutnya, bahasa dalam puisi cenderung menggetarkan kepuitikalan, sebagaimana dinyatakan di atas. Getar kepuitikalan itu, seperti idiom ‘keroncongan’ cenderung puitikal dibanding mengatakan sudah lapar. Atau juga seorang lelaki mengatakan pada seorang perempuan: Aku cinta padamu. Terasa biasa saja. Dan getar puitik terasa manakala pemuda itu menyerahkan setangkai mawar merah kepada perempuan itu, untuk menyatakan rasa hatinya.

Dalam menyampaikan ungkapan-ungkapan yang puitis, cenderung penyair menggunakan citra atau lambang-lambang. Biasanya lambang yang telah dikenal masyarakat banyak. Misalnya: Aku merenangi hidup. Bukanlah tokoh aku berenang seperti di kolam renang atau di sungai atau pun di pantai. Namun dia menjadikan ungkapan merenangi untuk menyatakan proses hidupnya.

Kebanyakan penyair melupakan hal mendasar ini, terutama ketika dia mementingkan pesan. Seyogianya hal mendasar ini harus menyatu dalam jiwa penyair, sehingga akan meluncur begitu saja pencitraan atau lambang yang melahirkan puitis.

Aku petikkan satu tulisan seorang kawan di facebook:

rasa sesal senantiasa menggelayut di benang angan
mengapa biarkan diri hanyut terlalu jauh
mengejar mimpi yang tak pasti, memburu fatamorgana
hingga perjalanan waktu merejam dan menggiring jiwa
pada nikmat duniawi nan bermuara pada kesia-sian
dalam menggapai ridho-Mu ... ya Rahman


Kita coba ungkapan yang kuberi bold pada petikan puisi tersebut. Penyair ini mencoba masuk ke arah pencitraan. Dia gunakan lambang-lambang. Namun penyair ini tak konsisten. Di lain baris dia pakai kata lambang gelayut yang sepadan dengan benang. Pada lain baris lagi dia pakai hanyut; pada baris lainnya mengejar dan memburu; mau pun perjalanan, merejam, menggiring, bermuara serta menggapai.

Apakah ini puisi? Sah-sah saja bila orang mengatakan puisi. Namun sebagai pembaca, aku melompat-lompat pada enam baris sajak itu. Imaji baris pertama sampai dengan ke enam memaksa aku untuk berjumpalitan. Lain lagi bila penyair konsisten dalam perlambangannya, maka akan mudah bagi pembaca masuk ke dalam puisi dan lebih nyaman menikmati puisi.
Kendati begitu, pembaca ikut menentukan puisi itu ‘berbicara’ kepada dirinya. Paling tidak, jika kita percaya pada pendapat Sapardi Djoko Damono bahwa membaca karya sastra sepenuhnya tergantung dari pembacanya. (Bakdi Sumanto: SAPARDI DJOKO DAMONO KARYA DAN DUNIANYA, Grasindo, Jakarta, 2006: vii). Tentu, pembaca yang mempunya latar pengalaman, latar pengetahuan, latar perasaan dan sebagaiya; ikut menentukan komunikatifnya sebuah pesan pada puisi yang ditulis penyair.

Dan di hadapanku ada 100 pusi dari sepuluh penyair yaitu Faradina Idzhihary, Dewi Maharani, Helga Worotijan, Nona Muchtar, Kwek Li Na, Pratiwi Setyaningrum, Shinta Miranda, Susy Ayu, Tina K dan Weni Suryandari. Dan mereka mengaku sbagai facebooker, kendati ada yang sudah punya latar penulis sebelum jadi facebooker.

Cukup menarik peryataan Kurniawan Junaedhie yang memilih, dan mengeditori buku kumpulan yang diberi tajuk Merah Yang Meremah. Jika Chairil Anwar mengatakan, ‘yang bukan penyair tidak boleh ambil bagian’ dijadikan acuan, maka saya kira, kita pun boleh saja berpendapat: ‘yang bukan penyair juga boleh ambil bagian’. Hemat saya, biarlah mereka’ yang bukan penyair’ ini ambil bagian, agar taman kesusastraan Indonesia lebih colorfull. (Merah Yang Meremah, iv). Sah saja pendapat Kurniawan ini.

Bahkan Kurniawan mengatakan: Tapi benarkah mereka bukan penyair? Bagi mereka sendiri, sebutan penyair atau bukan penyair, tampaknya bukan perkara yang penting benar. Bahkan sedikit pun saya tidak melihat niat mereka untuk membuat angkatan tersendiri, boro-boro menyerang Sastra Koran (Merah Yang Meremah, iv). Jadi para penyair ini tidak peduli apakah mereka disebut penyair atau tidak. Namun sayangnya, Kurniawan kurang jeli sebagai pengamat sastra maya, karena dalam catatan kakinya:  Pada tahun 2001 muncul Cybersastra, situs online yang menampilkan puisi, dengan tokoh-tokohnya antara lain Medy Loekito, Ahmadun Yosi Herfanda dll.(Merah Yang Meremah, iv). Dalam hal ini, sepanjang sepengetahuanku, Ahmadun Yosi Herfanda, yang Redaktur Harian Republika, disebut sebagai tokoh Cybersastra. Sampai dengan ‘matinya’ Cybersastra.net, karena situs itu tak ada yang mengurusinya lagi, setelah aktivisnya punya kesibukan masing-masing, nama Ahmadun tidak termasuk tokoh Cybersastra.net. Ini Cuma koreksi!

Kemudian Kurniawan memberikan alasannya tentang mengapa dia menyebut sepuluh perempuan ini penyair. : Penilaian saya sendiri praktis-praktis saja: pertama, sebutan penyair adalah sebutan yang pas untuk mereka yang menulis syair, dan kedua, ke-10 teman ini sudah jelas-jelas menulis puisi, bukan cerpen atau wartaberita. (Merah Yang Meremah, v). Padahal dalam bacaanku, sepuluh permpuan ini tidak menulis syair yang belakangnya aaaa… Namun kesepuluh orang ini mencoba menulis puisi.

Aku mencoba masuk ke puisi-puisi mereka. Sebelumnya ingin kupetik pendapat  Robert Frost : ...A poem begins with a hump in the throat, a homesickness or a lovesickness. It is a reaching-out toward expression; an effort in find fulfiment. A complete poem is one where an emotion has found in thought and the thought has found the words ...  My definition of poetry (if I were to give one) would be this: words that have become deeds...(Robert Frost A Collection of Critical essays, editor James M Cox, Prentice-Hall, Englewood Clifs, NJ, 1962: 16).

Aku merasakan puisi kesepuluh penyair ini, membenarkan tentang apa yang dikatakan Frost saat kebrangkatan sseorang ingin menulis puisi. Namun seringkali keinginan itu tak diikuti pernyataan Frost : A complete poem is one where an emotion has found in thought and the thought has found the words. Hal mana melahirkan :  words that have become deeds..
Hal ini, umumnya karena pemahaman hal-hal mendasar tentang puisi tak mereka dapatkan. Bahkan tak aneh jika Ahmadun Yosi Herfanda mengatakan: “Menulis puisi tanpa orientasi kesusastraan -- tanpa pretensi untuk menjadi penyair atau mencapai prestasi estetik yang tinggi -- tentu akan lebih banyak melahirkan sajak-sajak yang
bersahaja, ala kadarnya, yang 'pokoknya puisi' – yang kadang-kadang gagap dalam pengucapan.” (Merah Yang Meremah, vi)

Kita simak karya Faradina Idzhihary.

TENTANG KAU DI HATIKU

lelakiku....
sudah lama aku ingin ceritakan
tentang sebuah ladang yang kau cipta di hatiku
ladang itu kini merimbun
setiap kau tatap mataku
bunganya bermekaran
buahnya meranum hingga melandai ke tanah
namun, tanganmu dengan kukuh menjaganya
agar tak runtuh
sebab buah dan bunga terlalu penuh
lelakiku....
aku tak tahu apakah kau menyadari
bahwa senyum yang kau beri setiap saat
hangat yang kau dekapkan
pada dadaku yang sering kerontang
menyuburkan lahan di hatiku
menuaikan mimpi-mimpi manis
meski ketika gerimis terlalu besar mengguyur
hujan air mata di jantungku
melebihi tangis alam bulan desember
selalu kusembunyikan diam-diam
aku tak ingin kau hanyut dalam banjir dukaku
karena kau lelakiku
tak ingin aku, sedikit pun membuat gagahmu goyah
karena padamu
kusandarkan akar kehidupanku
agar menjadi teduh
lelakiku,
aku tahu hanya padaku
kau cucurkan peluh
siang ketika harus bersaing dengan kejamnya dunia
malam ketika padaku kau sandarkan lelah
semua resah, kesah, dan gairah
begitu deras kau pancarkan
hingga darahku meletup
menyuburkan lahan yang kau buka dulu
dengan pinangan dan janji kesetiaan
lelakiku, padamu aku harap
sepanjang usia kan merimbun
kasih dan bahagia
karena bagiku
takkan lagi ada yang kedua
selamanya. (Merah Yang Meremah, 16)

Penyair sudah mencoba meraih metaforanya. Konsitensi lambangnya dibangun pada tiap bait (jika boleh kuanggap setiap kata lelakiku sebagai awal bait). Di mana ladang dan semua kaitan dengan ladang, menjadi simbolnya. Namun pada puisi bertajuk KEMISKINAN, justru lebih menonjolkan pesan sosialnya. Kendati begitu, getar puitikalnya masih terasa: Kemiskinan adalah anugerah bagi kami/menghindarkan dari rasa sombong dan kejahatan.

Sedangkan Dewi Maharani, kita simak pada puisi betajuk MAAF, JIKA TERNYATA DIA SUAMIMU, mengguratkan puisinya dengan keliaran batinnya. Keapaadaannya dalam kata-kata, justru menguatkan puisinya. Dan kata kunci dari puisi ini terdapat pada baris-baris terakhir yang mengagetkan pembacanya: ma'af, jika ternyata dia suamimu/ karena baru semalam seekor gagak hitam memberi/ khabar itu padaku ...
Hal ini, mungkin, karena penyair yang juga buruh migran di Singapura, melakukan protes terhadap realitas hidupnya.

MAAF, JIKA TERNYATA DIA SUAMIMU

dia menyapaku dengan senyum
ah, bukan hanya senyuman
ada kerlingan dari hatinya
mencoba mengetuk kebekuan
gerbang bergembok karatan
dengan syairsyair kearifan ...
dia tawarkan bahu bahkan dadanya
untuk membaringkan hati lelahku
yang terlena oleh detak waktu
saat jantungnya bekerja meluluhkan batu
berjuntai mutiara rindu adalah menu utamaku
seikat mawar berdaun surga kuterima darinya setiap
waktu
menikmati malam dengan guyuran cintanya tak perlu
kutunggu
aku terjatuh, mengaduh pada tatapan matanya yang
teduh!
ma'af, jika ternyata dia suamimu
karena baru semalam seekor gagak hitam memberi
khabar itu padaku ...
spore, 131009 (Merah Yang Meremah, 23)

Kekuatan Dewi Maharani pun terlihat pada puisi HATIKU BUKAN PUALAM, yang judulnya mirip novel popular yang pernah dilayarperakan. Penyair ini mencoba memanfaatkan keterampilan mendasar puisi, yaitu lambang-lambang yang melahirkan metafora, yang pada gilirannya mengantarkan pembaca pada imajinasinya: jika sudah kau genggam sebuah mainan sejak wanita tua/ itu melahirkanmu,/ mengapa masih harus kau rebut boneka bernyawa di/ dalam tubuhku?/ bukankah semua yang ada telah kupersembahkan untuk/ perjamuanmu?

Teknik pemotongan baris pun memperkuat kebradaan puisi, sesuai pesan yang akan disampaikan.
Sementara bila kita melirik kepada puisi Helga Worotijan, yang menggali intensitas hubungan sebadan antara dia dan lawannya. Bagi penyair, senggama bukan kata yang tabu dan dilukiskannya : betapa malamnya cinta/ betapa paginya rindu dalam puisi.

HARI SENGGAMA

Mari berpeluh bersamaku
dan akan kutunjukkan padamu
betapa malamnya cinta
betapa paginya rindu
sedang siang dan sore kurendakan di pinggir-pinggir
keduanya
agar ada sebuah hari
yang bernama senggama
: taut kita berkali-kali hingga mati sebagai setali (Merah Yang Meremah (35)

Namun idiom-idiom keperempuanan tetap menyertai kata-katanya. Lihat saja: sedang siang dan sore kurendakan di pinggir-pinggir/ keduanya
Walau pun Helga mcoba bereksperimen dengan judul panjang, namun isi puisiya hanya sebaris. Namun belum menghasilkan getar puitik!

SEWAKTU MATA ANAK BUNGSUKU MASIH
TERENTANG LEBAR-LEBAR DI DEPAN TV,
MENYIMAK KARTUN SALURAN KABEL YANG
TAK BERLUCU SAMA SEKALI, MALAH
MENEMPELKAN KESAL DI PARASKU KETIKA
KUCERMATI ANAKKU TERTAWA HINGGA
MATANYA JUGA IKUT TERBAHAK SEMENTARA
WAKTU SUDAH MENUNJUKKAN PUKUL SATU
DINIHARI DAN WAKER-WAKER KOMPLEK MULAI
MEMUKUL TIANG LISTRIK DEPAN RUMAH
TIDAK BERKALI-KALI LAGI
Ini sudah jam kecil Nak !
Bontang, 14 April 2009 (Merah Yang Meremah, 37)

Jika kita menyimak pada puisi Nona Muchtar, maka kita merasakan penyair ini mencoba mencari daya ucapnya. Pencarian itu ditekuninya. Dia mencoba menuliskan getar-getar yang dirasakannya, bukan sekadar. Dia berusaha mencari perumpamaan, yang terkadang mengingatkan kita pada lagu populer.

DIAMMU

Sebegitu lamanya kau diam, aku jadi lupa cara mengeja
namamu
Bahkan tak ingat lagi bagaimana rasaku bekerja,
Menempa akal dan pikiran untuk selalu merinduimu.
Mungkin seperti cara ulat berubah, melewati masa
kepompong untuk menjadikannya kupu kupu,
Aku tak pernah ingat.
Pun ketika rindu ini berubah kopong dan kosong sejak
kau tak kembali menemui malam. (Merah Yang Meremah, 52)

*
Masuk ke puisi Kwek Li Na, yang bermukim di Taiwan. Penyair ini menukilkan keagungan cinta. Dalam menuliskannya, penyair mencoba mengusung lambang-lambang. Namun belum lancar sekali. Kendati luapan perasaannya bisa memberikan getar puitik.

Dan pada puisi ini cukup menarik:

CINTA ABADI
Aku ingin masuk ke sangkar cintamu
Jadikan aku tawanan hatimu
Cambuklah aku dengan rindu akanmu !
Bilur-bilur menetes darah rasa
Pedih dan nikmat ajari aku makna
Sumbang dan merdu, luapan ekspresi jiwa
Akan kucinta engkau dengan segala puja
Kusayangi engkau dengan segala laku
Untuk setiap musim, kuingin jadi berarti
Hingga waktu tak mau lagi bersekutu
Kau dan aku melebur menjadi satu
Dan kembali menjadi debu
Cinta ini akan menjadi, tutup peti matiku
Taiwan, 230909 (Merah Yang Meremah, 66)
Memang, menurut pengakuan penyair, bahwa : “Menulis membuatku bisa mengungkapkan segala rasa. Di saat sepi memeluk dan kerinduan yang tak terbendung akan tanah air dan keluarga menyelimuti, di puisi dan cerpenlah tempatku mencurahkan
segala aksara imajinasi dan nyata, yang kupungut saat anganku berkelana.”. Mudah-mudahan!

Sementara itu, memperhatikan puisi Pratiwi Setyaningrum, tampaknya kematangannya terasa dibanding kawan-kawan terdahulunya. Walau dia mencoba menuliskan puisinya beraroma prosaik. Kta simak puisinya:

GADIS KECIL LINCAH TAWANYA
MUSIM SEMI

Lentur halus suara bedug memecah sepi
ditingkah jantan kokok ayam yang gagal menyaingi
Tak lama sang surya pun melongokkan diri
Sinarnya semburat kampungku terlihat
"Hari ini kita kemana embun?"
-tanya gadis kecil lincah tawanya musim semi,
Berdenting lengking suaranya musik di telingaku
Rambut hitam meliuk nakal bikin gatel pipinya merah
wortel
"Ah, hallo semilir angin?! hihi belaimu menggelikanku!"
"Hayo olah raga! angin! lari! kukejar kamu! kyaahaha!"
Kuning lembut rok panjang menggelembung dia bak
melayang
Gadis kecil lincah tawanya musim semi
Laksana terbang melintas sepanjang tegal dan pematang
Burung-burung emprit ribut berceruwit menyemangati
Berloncatan riang dari runggutnya tanaman padi
dari bulir ke bulir, dari batang ke batang, lompat, loncat
Derai tawanya mencerahkan pagi
dari sawah dekat petak kebun kami
jauhnya tak sampai seratus pedang
Saat mentari tlah lelah dan pamit
Saat angin malam mendesau dingin
Saat bedug kembali lirih berdegup sampai di hati
di antara perdu ilalang tak jauh dari pematang
terbaring kaki melekuk aneh sekali
Rok panjang di sekitar tubuhnya, masai
dan hitam kecoklatan. Bukan, bukan kuning lembut
Rambutnya layu memahkotai wajahnya
lengket semu darah. Bukan, bukan hitam meliuk nakal
Matanya kelam wajahnya pasi senyumnya musim salju
Gadis kecil lincah tawanya musim semi
Terlihat tergelak riang bersama pria berdasi necis
siang tadi
12-08-2009 (Merah Yang Meremah, 79)

Penyair menukilkan keterpesonaannya terhadap sosok kesahaajaan gadis, namun kesahajaan itu dinodai, dan kemudian meninggalkan suasana kesahajaan menuju suatu realitas urban ( pria berdasi necis).

Sedangkan Shinta Miranda menuliskan puisinya berupa catatan-catatan yang merupakan permasalahan sehari-hari, namun berbenturan dengan noma-norma. Ingn melakukan protes, namun realitasnya menohok. Simak puisinya:

APA YANG MESTI KUKATAKAN

apa yang mesti kukatakan ketika anakku perempuan
berkata
"bunda, aku mengandung.,..!"
apa yang mesti kukatakan ketika anakku perempuan
berkata
aku tak pernah tau jahanam yang mana
apa yang mesti kulakukan ketika anakku perempuan
berkata-kata tanpa terbata-bata
menggantung seraut wajah lesu yang pasi
lalu mengangkat kepala menatap kosong lewati mataku
apa yang mesti kubayangkan tentang sebuah peristiwa
ketika anakku perempuan terkulai tanpa daya
tanpa suara rintih atau jerit tangis
di lantai apartemen ia berdiam
di pagi buta bulan mei sembilan delapan (Merah Yang Meremah, 89)

Shinta pun menyikapi permasalahan itu dengan tanya-tanya yang menggugah.
*
Memang menyimak karya Susy Ayu, terasa narasi prosaik. Bahkan terkadang filmis. Susy sudah menjinakkan kata, kendati dia tak mempedulikan tetang kaidah kaidah puisi. Baginya yag pentig kepuitikalan yang lahir dari puisinya.
Kita simak:

SETIAP KALI KEMARIN

Sanggupkah kita menghitung kata-kata barusan?
Jika kau lupa kita bisa mengitari lagi jalan yang
melingkar ini
Tentu akan kita temui cinta yang tak sengaja terserak
Ketika kau menciumku buru-buru
Waktu cepat sekali menguncup
Lampu jalanan seperti petir yang sesekali singgah
Wajahku terang gelap bergantian
Seperti matamu yang menyambar ketika terang
Dan berpaling ke jalan ketika gelap
Ingin kulepaskan ragu dalam mencatat kesungguhanmu
Tapi putaran jarum di arloji tidak bisa kuajak kompromi
Dia terus menegaskan makna jika cintamu padaku
bergantung pada jumlah putarannya di setiap pertemuan
Kau menciumku lagi dengan terburu
Maka kuletakkan hatiku di jok mobil
Bawalah pulang, isi dengan cintamu penuh penuh
Aku takut jika kita jarang bertemu (Merah Yang Meremah, 106)

Tentu cumbu mencumbu yang merupakan perwujudan dari cinta, tampaknya mejadi keahlian penyair ini. Dia sudah mencoba keluar dari pertabuan. Namun getar puitiknya terasa. Coba simak lagi:

USAI BERCINTA

ketika kita usai
kekosongan di telapak tanganku masih terasa penuh
serupa dirimu
pada rambutmu yang sempat kujambak
pada dadamu yang kusinggahi
pada tamanmu yang buas namun indah
sebelum kedua tangan ini bersembunyi di punggung
lehermu
aku sempat cemas
kupikir cintaku semata pada geletar matamu
sinar yang mendambai penyerahan
namun lewat rasa hangat yang terpapar telanjang
kau antar aku mencapai keyakinan cintai seluruhmu
ketika kita usai
kekosongan di seluruh tubuhku masih terasa penuh
serupa tubuhmu
aku cinta padamu
170809 (Merah Yang Meremah, 107).

Menukik ke puisi Tina K, kemampuannya memanfaatkan kata untuk kebutuhan penyampaian pesan pada puisinya amat terasa. Kejujurannya dalam menuliskan baris-baris puisiya, dengan kelntura kata, menggiring pembaca ke arah yang diinginkannya. Kita simak puisinya:

PARTHENON
wajahmu tersembunyi di antara seribu
dewa, yang
memandangku dari tempatnya yang tinggi.
ibakah itu yang kulihat
ketika mereka tahu, kau kucari
sampai ke ujung bumi?
2004 (Merah Yang Meremah, 117)
Berbeda dengan penyair terdahulu, permpuan ini tidak menunjukkan keperempuanannya. Kejujurannya memandang permasalahan, menjadi modal untuk menuliskannya. Lihat saja pada sajaknya berjudul PEDIH : dalam gereja yang sesak/ saat hosti dibagikan/ alangkah masak kesedihan./ 2009. (Merah Yang Meremah, 118).
Tampak sekali Tina mencoba mengeksplorasi, walaupun bereksperimen, puisi pendek seperti haiku. Dan, penyair ini akan memupus anggapan penyair facebooker tak berkualitas.
Dan akhirnya,  masuk pada karya Weni Suryandari, terasa ada pembrontakan. Ada nafas gerakan feminis pada karyanya. Dia ingin meletakan kesejajaran antara lelaki dan perempuan, kendati dalam pengertian yang proporsional. Dan pembrontakan itu digambarkannya lewat idiom-idiom yang khas. Kita simak:

PEREMPUAN DAN KALIMAT AZIMAT

Aku perempuan yang telapak tangannya
menangguk air mata dan bulir keringat
demi menyiram benih pada nyawanyawa sejiwa
rontokkan kalimat azimat kitab suci teragung
Yang dipujapuji dan dikeramatkan
Langit tak mampu memindah bola matanya
Ia tahu dengusku meletih perih
Saat suara lelaki berteriak pongah “Hei, nak. Laki laki
tak boleh pegang sapu!”
(ia lihat seorang balita lelaki memegang sapu di sebuah
teras)
Darah mancur dari ubunubunku
“Siapa katakan itu? Jika perempuan bisa kumpulkan
rupiah
Mengapa lelaki tak boleh pegang sapu?”
Langit menangis tersedan bukan di musimnya
Petir menyambar lalu apinya didihkan salju
Sementara lelaki itu terbahak mengipas pongah
sambil main burung satusatunya yang ia miliki dan
banggakan
Ia tak sadar bahwa ia makan dari keringat perempuan
yang buah dadanya terbitkan syahwat lelaki?
Teladan Nabi Muhammad mana yang kau ambil jadikan
pegangan?
Pintu kemarahan,Jelang akhir September 2009 (Merah Yang Meremah, 130)

Dan penekanan itu terasa: Saat suara lelaki berteriak pongah “Hei, nak. Laki laki/
tak boleh pegang sapu!” Kemudian dikuti dalam baris-baris selanjutnya: Darah mancur dari ubunubunku/ “Siapa katakan itu? Jika perempuan bisa kumpulkan/ rupiah/ Mengapa lelaki tak boleh pegang sapu?”
Pendobrakan itu menggelegar. Dan terasa.
Weni bukan saja mahir menggeletarkan pendobrakan, namun memainkan kata yang jinak itu, untuk mengantarkan imajinya kepada kita:

PURNAMA NAMAMU
DI DINDING DADAKU

Kau tahu tak selamanya aku bisa menggambarmu di atas
kanvas
pada setiap lekuk wajahmu bahkan bulu bulu halusmu
Dan bau nafasmu menyandu seperti awan sesekali pekat
lalu mengurai dan menyatu lagi. abstrak. terus ulang
kuletakkan wajahmu di dada kiriku
agar jeli kau dengar detak jantungku
yang menggaungkan namamu
Sajak-sajak suci yang kau larungkan untukku
kusimpan di ruang puja kepalaku
bersama setanggi nafas dan aliran darahku
agar purnama ingatan tentangmu
dan tak lagi menyabit
sementara kau
kubiarkan terbang lepas kupu kupu dan kumbang
di antara mawar-mawar merangkai
sambil sesekali kau munajatkan rindu cium harum
parfumku
Dan pada kening yang pernah kau kecup. malam itu
kau bisikkan, “segeralah buka pintumu,
akan kulihat namaku di dinding dadamu. Terukir.”
Agustus-September 2009 (Merah Yang Meremah, 131)

*
Jika saja meminjam pendapat Cunong Nunuk Suraja, Sastra Kutu selalu menggelitik kepala untuk “menggaruk”nya karena selalu mengganggu imaji yang kadang sedang terkonsentrasi pada kebiasaan penulis untuk bermeditasi, mencari ilham, menangkap pikiran penulis lain untuk ditanggapi, ataukan mengibarkan bendera polemik yang kadangkala hanya berbicara hal tak begitu pelik tapi sangat mudah untuk mengutak-utik menjadi setitik percakapan-percakapan kecil (semisal tulisan tentang Sastra Kutu ini!) (http://www.facebook.com/note.php?note_id=329997995539&comments=#!/note.php?note_id=483249215013); maka puisi dari sepuluh orang penyair ini bisa dimasukkan kategori penyair kutu atau sastrawan kutu. Puisi-puisi mereka ada, membikin terasa kepala digelitik, dan tangan ‘menggaruk’nya.
Secara keseluruhan, penyair dalam buku ini. Memang perlu belajar lagi (eh, belajar itu sampai mati) dan aku berharap besar, pada masa mendatang mereka akan menjadi penyair, bukan penyair sekadar, tentu!

Bekasi, Peb 2010.

--Sebuah pengantar dalam peluncuran buku Merah Yang Meremah
di PDS HB Jassin, 20 Pebruari 2010



Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.