News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Pesan Gurindam 12 dalam Pembentukkan Karekter Anak

Pesan Gurindam 12 dalam Pembentukkan Karekter Anak

oleh Maswito

Perilaku penyimpangan yang dilakukan oleh kalangan pelajar saat ini sungguh menyedihkan. Media seperti tiada henti terus memberitakannya. Mereka bukan sekadar membolos sekolah, tidak disiplin mengikuti proses belajar, atau merokok di dalam atau di luar sekolah. Lebih jauh lagi, perilaku penyimpangan itu sudah di luar kebiasaan yang pada umumnya mewarnai dalam dinamika keseharian pelajar. Pelajar kita telah terperangkap dalam jebakan hedonisme, anak kandung dari kapitalisme yang rahimnya berasal dari ideologi sekularisme. Perilaku seks bebas di kalangan pelajar, tawuran, dan menenggak narkoba atau minuman beralkohol dengan obat-obat berbahaya sambil duduk di diskotek atau bar, seakan menjadi hal lumrah dan biasa-biasa saja. Menyedihkan memang, tetapi itu realitasnya.

Ini adalah badai “tsunami” yang tengah mengancam pendidikan kita. Wabah perilaku hedonisme didukung oleh realitas lingkungan sosial yang memberikan tempat dan waktu untuk menyapa siapa saja, termasuk di lingkungan keluarga. Kemajuan teknologi informasi, seperti internet, ponsel, dan televisi yang seharusnya berdampak positif untuk membantu dan mempermudah bagi kebutuhan kalangan pelajar, akhirnya menjadi candu dan racun yang sangat berbahaya perkembangan generasi penerus bangsa ini ke depan.

Saban hari televisi mengeksploitasi aib artis yang tak patut ditonton kalangan pelajar. Acara televisi yang mengumbar birahi, kekerasan, mistik, seks, dan sensualitas tanpa kenal waktu, mulai pagi hingga dini hari. Film-film kartun yang seharusnya memberi hiburan dan pendidikan kepada anak, malah menjadi tontonan tak seronok, tak pantas dilihat anak. Bermain internet di warnet dengan bebas melihat-lihat (browsing) gambar porno. Chatting korespondensi mengumbar birahi dari dunia maya ke kopi darat. Mengabadikan perbuatan mesum melalui telepon seluler menjadi kebanggaan. Tidak heran, jika anak-anak sekolah lebih senang membeli pulsa seharga Rp20.000 sampai Rp50.000, daripada membeli buku atau menabungkan uangnya di bank.

Inilah sebagian dari potret nyata perilaku pelajar kita. Apa yang terekspos di media hanyalah gambaran kecil dari sebagian potret permasalahan yang dihadapi oleh pelajar kita. Fenomena perilaku penyimpangan pelajar ini tidak boleh dianggap hal wajar dan biasa. Rangkaian peristiwa perilaku penyimpangan yang dihadapi sebagian kalangan pelajar kita sudah melampaui dari sikap dan perilaku di luar kewajaran. Kita tidak bisa hanya sekadar mengungkapkan prihatin dan miris atau pun sedih melihatnya. Kita pun tidak boleh hanya menyerahkan persoalan tersebut kepada orang tua murid, pelajar, atau guru, begitu juga menyalahkan teknologi sebagai kambing hitam rusaknya karakter anak. 

Seluruh stakeholder pendidikan harus bertanggung jawab dan ikut aktif untuk duduk bersama membicarakan dan menyelesaikannya. Dari mana memulainya? Tidak bisa tidak, dalam menjalankan sistem pendidikan kita harus memiliki karekater atau jatidiri pendidikan. Karakter atau jatidiri pendidikan sangat dibutuhkan karena di sanalah bermulanya suatu proses pendidikan. Sebab, pendidikan bukanlah sesuatu yang terberi (given), tetapi, proses menjadi, yaitu sebuah proses terus menerus untuk menjadi.

Sebagaimana dikemukakan para ahli, bahwa pendidikan itu bukanlah sekadar transfer pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi alat atau wahana pembentukan kepribadian (character building), mulai dari pola pikir, kejiwaan, dan pola tingkah laku (attitude). Dimana kita dapat mencari pendidikan karakter tersebut? Jawabnya, tentu ada di tempat kita ini. Kita tak perlu melihat atau mencarinya di luar daerah kita, apalagi berasal dari budaya asing yang belum tentu sesuai dengan karakter budaya kita.

Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Pendidikan, Baedhowi mengatakan, pendidikan di sekolah bukan cuma memberi pengetahuan, tetapi melengkapi siswa dengan keterampilan, kemampuan, dan karakter. Sayangnya, para guru terjebak untuk mengajarkan pencapaian nilai akademik tinggi, sedangkan masalah non-akademik dalam hal pembentukan karakter, kepribadian, sikap, etos kerja, dan nasionalisme yang termasuk soft skill terabaikan.
Sesungguhnya tidak sulit untuk digali jika kita memang mau mencari penyelesaian penyimpangan di kalangan pelajar ini. Gurindam 12 karya agung Raja Ali Haji sesungguhnya sarat bermuatan nilai-nilai sebagai kekuatan budaya lokal yang sesungguhnya dapat menjadi titik masuk pencarian karakter atau jatidiri pendidikan kita. Kebijakan pendidikan berkarakter bukan hanya sekadar diajarkan guru di sekolah-sekolah secara verbalistik, tetapi, menyatu dalam keteladanan seorang guru di hadapan muridnya. Tidak mungkin seorang guru melarang muridnya untuk merokok, misalnya, bila guru tersebut ternyata seorang perokok berat (smoker). Oleh karena itu, penanaman karakter anak sangat bergantung pada karakter dan keteladanan seorang guru. Ungkapan guru kencing berdiri, murid kencing berlari, meskipun tidak sepenuhnya benar, tetapi hal itu patut menjadi renungan buat para guru.

Tentang karakter guru, peringatan Baedhowi patut direnungkan, bahwa pendidikan tidak semata mengusai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi memiliki karakter manusia Indonesia yang kuat. Untuk itu, Indonesi butuh pendidik (guru) yang cerdas dan berkarakter kuat. Hal yang sama juga hendaknya dilakukan oleh orang tua murid di rumahnya masing-masing. Kesadaran orang tua murid akan pentingnya pembangunan karakter anak harus menjadi gerakan bersama. Jangan sampai dalam pikiran orang tua murid urusan pembentukan karakter cukup ditangani oleh guru di sekolah. Tentu pikiran seperti itu tidak relevan lagi. Sebab, pembentukan karakter anak yang paling efektif adalah dimulai dari sebuah keluarga. “Tiap-tiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang dapat membentuk (karakter) anak menjadi Yahudi atau Nasrani atau Majusi” (al-Hadist Riwayat Bukhari).

Untuk mengatasi perilaku anak yang menyimpang, pendidikan itu harus dimulai dari keluarga. Sejak anak dalam rahim seorang ibu, anak sudah dapat diperkenalkan kepada Tuhan Sang Pencipta.  Dalam ajaran Islam, begitu anak terlahir ke dunia, kedua orang tuanya dianjurkan memperkenalkan dan memperdengarkan keagungan asma Allah swt. Kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan Sang Pencipta, al-Khaliq, dibunyikan di telinga kanan dan telinga kirinya melalui seruan azan dan ikamah. Kemudian, setelah berumur tujuh tahun anak sudah disuruh mengerjakan salat lima waktu, bahkan orang tua diperkenankan untuk “memukul” (bukan menyakiti dengan kekerasan) anak bila umur sepuluh tahun tidak mau salat. Di usia 7 tahun, anak laki-laki sudah harus dipisahkan tidurnya dari orang tua dan saudara perempuannya.

Ini hanya contoh terkecil dari bagaimana menanamkan dan membangunkan karakter anak. Banyak lagi pesan moral dan kekayaan budaya lokal yang dapat membangun karakter anak, seperti kekuatan sastra dan seni dalam karya-karya sastra, seperti Gurindam 12. Gurindam 12 sangat tepat jika dijadikan sebagai titik masuk untuk memulai dan menemukan karakter atau jatidiri anak.
Secara ringkas, pesan-pesannya adalah anak diajarkan untuk mengenal Tuhan sebagai Rob-nya (pasal ke-1),  anak diajarkan untuk melaksanakan ajaran agama (syari’at) (pasal ke-2),  anak diajarkan untuk menjaga mata dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan sia-sia dan tercela (pasal ke-3), jiwa anak diajarkan untuk memiliki karakter atau jatidiri, seperti tidak bersifat dengki, tidak bohong, tidak pemarah, tidak berkata kotor (pasal ke-4), anak diajarkan mengenal budi bahasanya sebagai jatidiri anak bangsa (pasal ke-5), anak diajarkan untuk berinteraksi sosial dengan baik, seperti mencari dan memilih kawan yang setia (pasal ke-6), anak diajarkan untuk tidak banyak berbual, tidak berlebih-lebihan dalam keseharian, tidak banyak tidur, agar anak tidak menyia-nyiakan masa hidupnya (pasal ke-7), anak diajarkan untuk tidak berbuat khianat kepada diri sendiri, dan apalagi terhadap orang lain. Anak juga diajarkan untuk bersikap pamrih dalam berbuat kebaikan (pasal ke-8), anak diajarkan untuk tidak mengikuti hawa nafsu agar tidak diperbudak setan (pasal ke-9), anak diajarkan berbuat baik kepada ibu-bapaknya dan berbuat adil kepada sesama (pasal ke-10), anak diajarkan untuk berbuat jasa terhadap masyarakat dan memegang amanah, kepercayaan, bukan berkhianat (pasal ke-11), dan anak diajarkan agar menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana (pasal ke-12). 

Melihat pesan-pesan dalam Gurindam 12 tersebut, saya berpendapat, sudah saatnya pendidikan menjadikan nilai-nilai yang ada dalam Gurindam 12 sebagai titik masuk membangun karakter dan jatidiri pendidikan. Para orang tua dan guru di sekolah sudah saatnya mengajarkan atau memperkenalkan Gurindam 12 kepada anak dengan metodologi yang menyenangkan dan dapat menggugah kesadaran dan emosional anak. Patut diingat, mengajarkan sastra kepada anak, berarti membangun kepercayaan diri sang anak. Khalifah Umar bin Khattab pernah memberi pesan kepada orang-orang tua di Jazirah Arab agar mengajarkan sastra kepada anak-anak mereka agar menjadi pemberani. “Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu, agar anak pengecut menjadi pemberani.”***

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.