News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Apresiasi Puisi Penyair Na Dhien dalam Judul, “Kisah”, “Ziarah” dan “Solilokui”. - Indra Intisa

Apresiasi Puisi Penyair Na Dhien dalam Judul, “Kisah”, “Ziarah” dan “Solilokui”. - Indra Intisa

oleh Indra Intisa

Dalam menulis puisi, setiap penyair bisa mendapatkan ilham dari mana saja. Bisa melalui kejadian-kejadian yang terjadi pada dirinya sendiri, bisa pula pada peristiwa yang terjadi di sekitar: pada sahabat, pada keluarga, orang lain, sosial-budaya, agama, dst., serta dapat juga didapat melalui kejadian-kejadian yang ada pada alam—proses berjalannnya kehidupan didapat dari tanda-tanda yang terdapat di alam, seperti pada puisi yang ditulis oleh penyair Na Dhine berikut ini:

KISAH

angin laut
menabrak daun
batu dan tembok
atau karang

angin bukan eksakta
harapan tetap menyala
matematika ditolak DIA

bukanlah laut
jika tak beriak dan berombak
bukan pohon tinggi menjulang
jika tak goyang

aku hanyalah sebutir pasir
di padang gersang
diam itu emas: terbuang
!

17 Juni 2017

Mula-mula, kita diajak untuk memasuki sebuah alam—kejadian yang mungkin terjadi pada lautan: ada angin (dari laut), menabrak daun, batu dan tembok, atau karang. Membaca diksi-diksi pendek ini, kita diajak untuk masuk ke sebuah kejadian, sebuah cerita yang mungkin terjadi pada suatu hari di tepi laut. Citraan-citraan visual seperti: batu, tembok, karang dan citraan gerak dari angin, atau citraan rasa dari tabrak tentu menyatu menjadi satu-kesatuan cerita. Secara umum, bait pertama tanpa didukung oleh sudut pandang aku-lirik (monolog) ke-akuan, seperti sebuah kisah dalam legenda atau hikayat, bisa berbentuk sudut pandang ketiga, atau Pov-3 kalau dalam prosa. Kisah-kisah ini dituturkan sehingga menjadikan sebuah perumpamaan tentu yang mengajak pembaca untuk masuk ke alam yang ingin direnungi. Lalu bagaimana dengan bait kedua?

Pada bait kedua, puisi tiba-tiba berubah bentuk, berubah gaya dan berubah sudut pandangannya. Sebuah pernyataan yang disampaikan oleh aku lirik tentang makna dari sebuah angin. Pembaca dipaksa untuk mengikuti makna dari perumpamaan yang disampaikan oleh penyair (aku lirik), tentu berbeda dengan bait satu yang lebih membebaskan pembaca untuk merenungi pesannya.

Sedikit berbeda dengan bait tiga, ruh bait pertama dan kedua terasa menyatu. Ada penyerahan renungan pada pembaca dan ada juga pesan-pesan yang dibuat supaya pembaca ikut dengan apa yang ingin disampaikan penyair. Tetapi, perubahan yang cukup besar terjadi pada bait terakhir (bait ke-4), entah kenapa aku lirik tiba-tiba mengubah sudut pandangnnya menjadi sudut pandang pertama (aku). Perubahan yang tiba-tiba bisa menyebabkan bait-bait sebelumnya menjadi luruh dan pupus. Pembaca yang awalnya ingin memaknai dan merenung-renungi dipaksa diubah ke puisi curhat aku lirik. Apakah ini hanya curhat aku lirik tentang dirinya sendiri? Layaknya Chairil Anwar yang terkenal dengan ke-akuannya? Tetapi kembali kepada selera, cara pandang, cara penulisan, dsb. Penyair sah saja bebas bereksperimen dengan karyanya. Tentu ada hal-hal yang tersembunyi yang harus ditelaah oleh pembaca melalui mata tajamnya masing-masing.

Berbeda dengan puisi di atas, dua puisi berikutnya penyair Na Dhien justru menulisnya dengan lebih padat dan tepat guna. Tidak ada perubahan sudut pandang yang tiba-tiba—saya mengatakan puisi eksprerimen jika merujuk puisi sebelumnya—yang sering disebut orang dalam prosa: cerpen eksperimen—salah satunya bermain-main dengan sudut pandang. Lupakan itu, mari kita simak puisi berikut:

SOLILOKUI

Tak ada kecemasan ketika kupetik gitar di pojok ruang tamu 
Lalu kunyanyikan kitabku dengan suara merdu mengiring ramadhan
Angin pun membantu napas-napas tanpa terengah
Syair-syair merekah menggenangi jiwa yang gundah
Menyatu dalam kebeningan embun

2017

Solilokui disebut juga dengan senandika, sekilas sama dengan monolog. Bisa pula dikatakan sebagai curahan hati dan keluhan dari tokoh yang diperankan dengan berbicara seorang diri, kalau dalam puisi tentu maksudnya adalah aku lirik. Curhatan ini tentu mengambil sudut pandang pertama (ke-akuan). Puisi ini jelas konsisten dari sisi isi cerita, pesan amanat yang tidak melebar, tentu mampu membawa pembaca masuk ke suasana damai, nikmat, dsb., saat aku lirik mendalami, mengkaji isi kitabnya. Kalau dalam bulan Ramadan (muslim), salah satu amalannya adalah memperbanyak membaca Alquran. Coba bayangkan, apa yang sedang kita rasakan saat memainkan sebuah lagu di rumah sendirian dengan perasaan tanpa cemas? Apalagi ketika kita bisa merasuk jauh dalam-dalam ke lagu yang sedang kita nyanyikan dan mainkan. Bisa-bisa saja kita merasa nikmat, damai, bahkan stress tentang hidup jadi terlupa. Gambaran-gambaran itu diumpamakan ketika aku lirik membaca kitabnya dengan khusuk, dengan bacaan yang lembut, dst., seolah kesejukan embun masuk ke sanubari aku lirik.
Pada puisi berikutnya, penyair Na Dien mengajak kita (pembaca) untuk merenung-renungi tentang kematian. Mari kita simak:


ZIARAH

Kutaburkan kenanga, mawar, 
dan gading di tidurmu
Malam itu putih kamboja
terjatuh ke kepalamu
Kau pun tak mengaduh

Bendulmerisi, 16 Juni 2017

Berbeda dengan puisi kedua, puisi ini sekalipun mengambil sudut pandang pertama, tetapi bukanlah sebuah senandika. Ia mengajak kita pembaca (sudut pandang kedua) seolah-olah menjadi objek/subyek yang sedang diceritakan atau diumpamakan. Kita ditulis seolah-olah sudah meninggal, telah tiada. Dan aku lirik menziarahi diri. Puisi ini sekalipun tidak benar-benar ditujukan untuk kita secara umum—ditujukan oleh orang tertentu—tetapi sah saja diamanatkan buat kita secara umum supaya terkesan luas. Kita dipinta tidak perlu merasa cemas, sebab ia (penyair)—barangkali diumpamakan juga dengan orang-orang terdekat kita, seperti keluarga, akan selalu mengenang dan menziarahi kita—tidak akan pernah dilupakan. Tetapi, makna ini bukan pula makna yang pasti. Hebatnya, puisi ini juga prismatis. Bisa saja ziarah yang dimaksud bukan sebuah kematian seperti sebuah kejadian yang lampau—sebuah kenangan, dst. Tetapi, untuk menikmatinya, itu seperti kita mendengarkan sebuah lagu, setiap orang akan menikmati momen yang berbeda, walaupun maksud lagu tidak demikian—maksud penulis lagu bisa saja berbeda. Maknanya menjadi meluas dan terus hidup sehingga membentuk pesan baru.

Pulau Punjung, Juli 2017

Indra Intisa, Penikmat Puisi.

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.