News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Mengembalikan Keberadaan Tembang Dolanan - Maria Lintang Restu Semesta

Mengembalikan Keberadaan Tembang Dolanan - Maria Lintang Restu Semesta

oleh Maria Lintang Restu Semesta



Ya prakanca dolanan ing njaba Padhang bulan padhange kaya rina Rembulane sing ngawe-awe Ngelingake aja pada turu sore

Lirik di atas merupakan lirik salah satu tembang dolanan yang tentunya tidak asing lagi di telinga. Tembang tersebut berjudul Prakanca. Selain Prakanca, tembang dolanan yang tidak kalah menarik seperti Ilir-ilir, Cublak-cublak Suweng, Jamuran, kerap dinyanyikan anak-anak pada zaman dahulu. Namun, bagaimana keberadaan tembang dolanan saat ini?
Bicara soal kesenian Jawa, tidak lepas dari yang namanya tembang. Zaman dahulu masyarakat menggunakan tembang sebagai sarana hiburan dan edukasi. Bahkan, anak-anak pun sudah dikenalkan dengan tembang.

Tembang ialah ciptaan sastra yang terikat oleh aturan tertentu yang dibacakan dengan cara dilagukan. Tembang dibangun dengan rangkuman kata-kata yang disebut cakepan. Saat melagukan tembang, perlu diperhatikan pedothan, andhegan, dan cengkok. Pedhotan dan andhegan merupakan perhentian nafas ketika sedang melagukan tembang. Perbedaannya, perhentian andhegan lebih lama daripada pedothan. Sementara itu, cengkok adalah cara me lagukan suatu tembang berdasarkan titilaras tertentu (Glosarium
Istilah Sastra Jawa).

Berdasarkan macamnya, tembang dibagi menjadi:1) tembang gedhe (besar), yaitu tembang yang menggunakan bahasa Jawa Kuna, 2) tembang tengahan, yaitu tembang yang muncul pada zaman Majapahit dan menggunakan bahasa Jawa Tengahan, dan 3) tembang cilik (macapat).

Setiap tembang memiliki watak. Tembang macapat yang berjumlah tiga belas memiliki watak di setiap tembangnya. Misalnya, tembang Kinanthi berwatak senang dan penuh cinta kasih, tembang Maskumambang yang berwatak sedih, tembang Durma yang berwatak emosional tinggi, dan lain-lain.

Seiring berjalannya waktu, muncul tembang yang tidak terikat oleh aturan tertentu yang disebut tembang dolanan. Berbeda dengan tembang tengahan dan tembang macapat, tembang dolanan tidak terikat oleh aturan guru gatra (jumlah baris), guru wilangan (jumlah suku kata dalam satu baris), dan guru lagu (huruf vokal terakhir dalam satu baris). Tembang dolanan bisa disajikan dengan iringan musik gamelan. Ciri tembang dolanan antara lain: 1) bahasanya sederhana, 2) mengandung nilai-nilai estetis,
3) jumlah barusnya terbatas, 4) berisi hal-hal yang selaras dengan keadaan anak, dan 5) mudah dipahami.

Tembang dolanan memiliki fungsi, antara lain: pertama, sebagai sarana hiburan. Tembang dolanan digunakan oleh anakanak sebagai lagu pengiring dalam permainan. Di antara nama permainan tersebut, ada yang menggunakan judul dari tembang yang digunakan, misalnya Cublak-Cublak Suweng dan Jamuran. Anak-anak menyanyikan tembang sambil memainkan permainan diikuti gerakan dalam suasana riang. Walaupun kelihatannya hanya untuk bermain dan bersenang-senang, tembang dolanan mengandung unsur pembentukan karakter anak.

Kedua, sebagai ajakan dan nasihat, misalnya tembang Prakanca. Pada kutipan lirik “rembulane sing ngawe-awe, ngelingake aja pada turu sore” (bulan sendiri yang mengajak, mengingatkan agar jangan tidur di sore hari) mengajak anak-anak untuk tidak bermalas-malasan dan bersuka ria bersama pada saat bulan purnama. Contoh yang lain, ialah tembang dolanan yang menyambut bulan suci Ramadhan berjudul E, Dhayohe Teka (Eh, Tamunya Datang). Tembang ini digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk mengajak masyarakat menyambut bulan Ramadhan dengan hati yang bersih.

Ketiga, sebagai sarana untuk bercerita. Tembang dolanan juga digunakan anak-anak untuk menceritakan tentang sesuatu yang dimilikinya. Misalnya, tembang Aku Duwe Pitik tentang seorang anak yang bercerita memiliki seekor ayam.

Keempat, tembang dolanan digunakan untuk menyampaikan nilai sosial kepada anak-anak. Contohnya, tembang dolanan yang berjudul Sluku-Sluku Bathok. Pesan yang dapat dipetik dari tembang ini ialah hidup tidak boleh dihabiskan hanya untuk mencari uang. Contoh yang lain ialah tembang Gundul-Gundul Pacul yang menyiratkan pesan bahwa menjadi pemimpin tidak boleh sewenang-wenang pada rakyatnya.

Selain itu, dengan mengenal tembang dolanan, anak-anak dapat srawung (bergaul) dengan orang lain. Anak-anak menjadi tidak individual, melainkan juga memiliki sikap sosial dengan sesamanya. Hal itu dapat terjadi karena, secara tidak langsung, tembang dolanan mengajak anak-anak untuk bermain dan bergembira bersama.

Dilihat dari berbagai manfaat positifnya, lirik-lirik dalam tembang dolanan mengajarkan tentang nilai-nilai karakter pada anak seperti: cinta alam, mengasihi sesama, kepedulian, dan lainlain. Namun, bagaimana keberadaan tembang dolanan dewasa ini?

Zaman dahulu tembang dolanan kerap kali dipertunjukkan kepada masyarakat. Bentuk pertunjukan tembang dolanan antara lain drama. Anak-anak memainkan drama yang menceritakan isi tembang, misalnya tembang Prakanca. Dalam drama tersebut, anak-anak bermain dan berkumpul bersama di bawah bulan purnama. Contoh yang lain ialah tembang Gajah. Pertunjukan tersebut menceritakan tentang salah satu hewan, yaitu gajah. Dalam pertunjukan tersebut anak-anak bertingkah seperti gajah.

Dibandingkan dengan saat ini, dahulu lirik tembang dolanan sudah di luar kepala. Sekarang, pada zaman globalisasi, mendengar anak dapat menyanyikan tembang dolanan dapat dikatakan sesuatu hal yang langka. Ironinya, anak-anak sekarang, beberapa di antaranya lebih mengenal lagu-lagu asing daripada lagu dalam negeri.

Anak-anak yang bisa menyanyikan lagu berbahasa asing seringkali dianggap pandai. Oleh karena itu, ada orangtua yang mengajarkan anaknya lagu berbahasa asing. Tidak hanya itu, dewasa ini anak-anak sudah mengenal lagu-lagu tentang jatuh cinta, patah hati, curahan hati ditinggal kekasih, dan sebagainya. Anak-anak dapat mengenal, bahkan, hafal liriknya karena sering mendengar dari televisi, radio, dan youtube.

Lagu-lagu modern tidak semuanya memiliki nilai moral untuk anak. Beberapa di antaranya masih dipertanyakan, apakah lagu tersebut boleh didengarkan anak-anak atau tidak.
Hilangnya “keberadaan” tembang dolanan menyebabkan hilangnya karakter anak pula. Anak-anak menjadi lebih bersikap individual dan tidak mengenal budayanya sendiri. Padahal, budaya merupakan cermin kepribadian bangsa. Lunturnya tembang dolanan pada era globalisasi dapat disebabkan beberapa hal, seperti lingkungan anak-anak dan pelajar, serta adanya kemajuan teknologi.

Dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, bahasa Jawa merupakan salah satu pelajaran yang harus didapatkan oleh peserta didik dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Dalam pelajaran bahasa Jawa tersebut, tidak lepas dari tembang, baik tembang macapat maupun tembang dolanan. Namun, mampukah pelajaran tembang meningkatkan minat pelajar terhadap tembang dolanan?

Beberapa pelajar rata-rata mempelajari suatu materi untuk mengejar nilai. Setelah nilai didapat, materi bagaikan masa lalu yang tidak perlu diingat. Hal yang sama terjadi juga pada materi tembang yang diberikan oleh guru. Guru sering kali menggunakan materi tembang sebagai materi untuk ujian praktik. Pelajar amat antusias saat menjelang ujian, tetapi setelahnya, materi tembang dengan mudah dilupakan.

Sebenarnya, tembang dolanan memiliki nada yang enak dan nyaman didengarkan. Namun, pada saat ini, nada-nada tembang dolanan yang lembut, bersemangat, dan enak didengar tersebut kalah di telinga remaja bila dibandingkan dengan lagu-lagu modern yang berirama beat, jazz, mellow, dan sebagainya. Beberapa remaja mengaku lebih senang mendengar lagu-lagu dengan irama tersebut dengan alasan sesuai dengan kehidupan remaja.

Tembang dolanan mulai luntur di kalangan anak-anak juga bisa disebabkan karena permainan anak-anak pun sudah berubah bentuk. Permainan anak-anak memang tetap ada sampai sekarang. Hanya, bentuknya sudah berubah. Kini, anak-anak lebih sering bermain lewat gadget, sehingga permainan tradisional sudah jarang dimainkan.
Tembang dolanan juga sudah jarang diajarkan di sekolah, khususnya sekolah untuk anak-anak usia dini. Mereka lebih sering mengajarkan lagu-lagu berbahasa asing. Sadar atau tidak, hal tersebut dapat menyebabkan anak usia dini tidak mengenal budaya daerahnya.
Berdasarkan hal tersebut, perlu adanya upaya untuk mengembalikan “keberadaan” tembang dolanan. Sejak dahulu, telah banyak upaya untuk melestarikan tembang dolanan. Salah satunya, pada tahun 1938, H. Overbeck mendokumentasikan 690 tembang dolanan dalam bukunya yang berjudul Javaansche Meisjesspelen en Kinderliedjes. 

Pada zaman ini, mengembalikan “keberadaan” tembang dolanan dapat dimulai dari diri sendiri. Pertama, mengenal tembang dolanan itu sendiri. Ada pepatah, tak kenal maka tak sayang. Jika sudah mengenal tembang dolanan (mengetahui makna dan nilai yang ingin disampaikan), orang akan lebih mudah untuk melestarikan tembang dolanan.

Kedua, orangtua dapat mengajarkan tembang dolanan untuk anak-anaknya. Orangtua dapat membiasakan anak-anaknya untuk bermain permainan tradisional sambil diiringi tembang dolanan. Orangtua pun dapat mengajarkan lirik tembang dolanan dan maknanya.

Ketiga, menyadarkan pada diri sendiri bahwa materi tembang tidak hanya seperti angin lewat. Materi tembang yang diberikan oleh guru, dapat menjadi sarana untuk mengembalikan “keberadaan” tembang dolanan. Setelah mendapat materi tembang dari guru, kita dapat mengembangkan materi tersebut.

Keempat, menggunakan tembang dolanan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya pelajar. Contohnya: saat kegiatan di sekolah, misalnya kemah bakti, diadakan lomba-lomba untuk tiap kelompok. Lomba tersebut salah satunya dapat diadakan dalam bentuk lomba menyanyikan tembang dolanan. Dengan hal sederhana ini, diharapkan kehidupan pelajar tidak melulu diisi dengan lagu-lagu modern.

Kelima, mempertunjukkan tembang dolanan di khalayak umum. Mencontoh dari masa lalu, mempertunjukkan tembang dolanan dapat dilakukan di masa kini. Kita dapat mengadakan dramatisasi tembang dolanan seperti zaman dahulu. Harapannya ialah supaya anak-anak muda tertarik dan mencintai tembang dolanan.

Keenam, melestarikan permainan tradisional. Tembang dolanan merupakan bagian tak terpisahkan dari permainan tradisional. Oleh karena itu, dengan melestarikan permainan tradisional, dapat melestarikan tembang dolanan pula. Selain itu, permainan tradisional dapat menyehatkan fisik dibandingkan dengan permainan pada gadget. Permainan tradisional juga memiliki nilai sosial untuk anak-anak. Salah satu upaya pemerintah melestarikan permainan tradisional, antara lain pada tahun 2016, pemerintah Kabupaten Sleman mengadakan Festival Dolanan Anak Sleman di Sindu Kusuma Edupark, Sinduadi, Mlati, Sleman (HarianJogja, 23/5/16)

Melestarikan tembang dolanan tidak terlalu sulit untuk dilakukan asalkan ada kemauan. Dengan upaya pelestarian tersebut, diharapkan tembang dolanan mampu bersaing di dunia yang senantiasa mengalami perkembangan. Sudah saatnya kita, generasi muda, mengembalikan “keberadaan” tembang dolanan sebagai cermin kepribadian anak bangsa. Zaman boleh berubah, generasi boleh berganti, tetapi menjaga kelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama.


Sumber: Menyelamatkan Bahasa Indonesia (Antologi Esai Karya Pemenang dan Karya Pilihan Lomba Penulisan Esai bagi Remaja Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2017), Penyunting: Dwi Atmawati, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2017.

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.