Live KAWACA TV
Tonton
wb_sunny

Diajar Mengaji, Disiapkan Jadi Santri Mandiri - Samsudin Adlawi

Diajar Mengaji, Disiapkan Jadi Santri Mandiri - Samsudin Adlawi

oleh Samsudin Adlawi

SAYA kebingungan. Celingukan. Mencari-cari.  Sepatu sandal saya tidak ada di tempat semula. Ternyata tidak hilang. Hanya berpindah. Lebih tepatnya: dirapikan. Waktu datang saya melepas sapatu sandal seenaknya. Sembarangan. Pun para komisioner dan staf sekretariat Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) Banyuwangi. Seenaknya melepas sepatu dan sandalnya. Sekenanya. Tidak rapi. Itu sudah membudaya. Mulai ketika kenduri sampai salat di masjid/musala. Melepas sandal dan atau sepatu sekenanya. Tanpa ada keinginan menata. Merapikan posisinya. Sampai pulang pun letak sandal atau sepatu itu tetap tidak rapi. Malah morat-marit. Kena tendang orang yang datang belakangan.

Tapi itu tidak berlaku di asrama anak yatim dan duafa Ladunna. Para penghuni asrama langsung merapikan alas laki para tamu yang datang. Termasuk sandal dan sepatu rombongan kami pekan lalu. Alas kaki kami tertata rapi. Berpasangan. Membelakangi bibir lantai terakhir. Begitu acara selesai, kami pun langsung bisa memakainya. Alhamdulillah. 
Saya lebih sreg menyebut asrama di Dusun Kebonsari, RT 02, RW 02, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, itu sebagai pesantren. Ya kebiasaan penghuninya. Ya kehidupan seharinya persis pesantren jamaknya. Mengaji. Menghafal al-Quran. Belajar ilmu-ilmu agama Islam yang lain. Juga belajar pelajaran umum. 

Pesantren Ladunna sangat kecil. Hanya satu bilik. Ukuran 7 x 12 meter. Menempel di rumah pengasuhnya: Mohammad Ghufron. Masih sangat muda. Baru 42 tahun. Bilik kecil itu dihuni 11 anak. Yatim dan duafa. Yang terkecil umur 5 tahun. Yang terbesar 15 tahun. Berasal dari Nusa Tenggara Timur,  Ambon, dan Malang.

Pesantren Ladunna punya dua kelebihan. Pertama, santri tidak hanya diajari ilmu dasar memuliakan tamu. Tapi sekaligus praktik. Memberi salam dan menjabat tangan tamu itu sudah biasa. Santri Ladunna diajari yang lebih tinggi lagi. Menata dan merapikan sepatu atau sandal para tamu yang datang. Sesiapa pun tamunya. Saya membayangkan, kalau rombongan tamunya sampai 100 orang. Pasti 11 santri itu akan capek. Ah! Tidak seperti itu ternyata. Mereka malah tampak gembira. Sebab, mereka sudah mengenal prinsip: makin banyak sandal/sepatu yang dirapikan makin banyak pahalanya.  

Apa pun, itulah pelajaran akhlak tingkat tinggi. Sandal/sepatu jelas beda dengan songkok. Songkok itu lambang kemuliaan. Sesuai posisinya. Di atas kepala. Sebaliknya, maqam sandal/sepatu tidak hanya di bawah. Tapi, paling bawah. Di bawah kaki. Diinjak-injak. Posisi yang paling tidak enak. Jamaknya, santri hanya akan merapikan sandal kiainya. Sama dengan ajudan akan merapikan sepatu/sandal pimpinannya. Juga mengambilkan dan membawakannya. Padahal, mereka tidak pernah melakukan hal yang sama untuk sandal/sepatunya sendiri. Santri Ladunna tidak seperti itu. Mereka diajari merapikan sandal miliknya sendiri. Juga wajib merapikan sandal/sepatu para tamu. 

Kelebihan kedua, santri Ladunna diajari wirausaha. Di luar jam pelajaran, tentunya. Ustad Ghufron ingin kelak setelah “lulus” dari pesantrennya, para santri langsung mandiri. Tidak menganggur. Tidak bergantung pada orang lain.  Punya bekal membuka usaha. Usaha kecil-kecilan yang diajarkan. Membuat kripik singkong. Mulai proses mengupas, menggoreng, mengemas dalam plastik, sampai pemasaran. Benar-benar ide yang brilian. Terobosan yang luar biasa. Apalagi, santri Ladunna adalah anak yatim dan duafa. Tidak ada tempat berharap bagi mereka. Kecuali kepada pesantrennya sendiri. Kepada dirinya sendiri. Itu sebabnya, ketika ustad Ghufron meminta bantuan Baznas langsung saya jawab: OK. Permintaan itu disampaikan ustad Ghufron usai khotbah Jumat di Masjid al-Hilal (Jalan Brawijaya, timur GOR Tawang Alun, Banyuwangi), beberapa waktu lalu. Setelah menerima dan mempelajari proposal dari Ladunna, saya dan para komisioner Baznas Banyuwangi menyerahkan langsung bantuan produktif dana ZIS (zakat, infak, sedekah) kepada para santri Ladunna. 

Kami senang bisa berkumpul sekaligus membantu santri yatim dan duafa yang sedang mondok di Ladunna. Saat pulang saya sempatkan ngetes kemampuan bahasa Arab mereka. Masmuk (ma ismuka)? Min ‘aina anta? Kam umruka? Semua dijawab dengan benar. Dan, cepat. Ternyata kemampuan bahasa Arab mereka cukup bagus.  Saya jadi tidak sabar. Ingin kembali ke Ladunna lagi. Bukan hanya ngobrol bahasa Arab dengan mereka. Tapi, juga mencicipi keripik yang mereka produksi.***

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.