News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Tubuh Sastra, dan Penolakan Terhadap Rekayasa Denny J.A. - Hidayat Raharja

Tubuh Sastra, dan Penolakan Terhadap Rekayasa Denny J.A. - Hidayat Raharja

Tubuh Sastra, dan Penolakan Terhadap Rekayasa Denny J.A.
oleh Hidayat Raharja*

(1)
Sastra sebagai Tubuh

Sastra tak ubahnya potongan tubuh yang tumbuh dan berkembang secara alamiah dengan berbagai proses metabolisme yang mengiringi. Tubuh yang di dalamnya terbangun atas organ-organ vital yang melangsungkan kehidupan dengan berbagai aktivitas dan interaksi yang memberikan respon terhadap berbagai stimulus, baik dari internal ataupun dari luar tubuh. Sastra sebagai tubuh senantiasa akan memberikan reaksi terhadap setiap stimulan yang mengenainya. 

Maka tak dipungkiri, kalau pertumbuhan dan perkembangan tubuh sastra dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Secara internal, hakikat dan komponen penyusun kesastraan yang terus berkembang akan mempengaruhi. Sedangkan secara eksternal, perubahan–perubahan lingkungan sosial dan politik, juga ikut mempengaruhinya. Kedua faktor tersebut saling berinteraksi dan menjadi penentu ke mana arah tumbuh dan kembang tubuh sastra akan berlangsung.

Pergolakan tubuh sastra karena persoalan-persoalan politik yang mengitarinya telah menumbuhkan sebuah diskursus yang membangun perkembangan keilmuan sastra dan juga faktor sekelilingnya. Teks sumpah pemuda yang puitik merupakan sebuah pembauran antara unsur politik dan sastra yang memiliki satu tujuan membangun bangsa dan negara Indonesia. Pergolakan yang menandai tumbuh dan bangkitnya nasionalisme dalam tubuh sastra, secara langsung atau tak langsung memberikan pengaruh bagi pemikiran dan tindakan masyarakat.
Di tahun 1970-1990-an saat orde baru mencengkeramkan tangan kekuasaan, tubuh sastra merasa terbelenggu sehingga hadir karya-karya sastra yang menentang dan melawan terhadap kekuasaan. Pertumbuhan dan perkembangan yang mengarah kepada perlawanan untuk menempatkan peran sastra sebagai alat kontrol, dan dunia ideal bagi pengarang untuk menemukan dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan yang mulai terganggu. Gerakan berlangsung secara dinamis, sehingga menjadi sebuah wacana bagi perkembangan peradaban bangsa untuk menemukan nilai-nilai baru yang universal.

Perdebatan mengenai sastra kontekstual di tahun 1980-an merupakan penanda tumbuh kembangnya pemikiran dan kebudayaan dalam tubuh sastra Indonesia. Gagasan mengedepankan pemahaman bahwa nilai-nilai sastra tidak mengenal universalitas, tetapi tumbuh sesuai dengan tempat, waktu, lingkungan peradaban yang mengitari.  Perlawanan terhadap sastra Indonesia yang kebarat-baratan. Tubuh yang mulai dikuasai oleh wacana-wacana asing dan lepas dari persoalan-persoalan budaya setempat diresahkan akan menghilangkan pengaruhnya bagi masyarakat. Maka, perdebatan tersebut telah menumbuhkan pemikiran yang kompleks dan menelusuri kondisi kehidupan secara meluas. Perdebatan yang akhirnya menegaskan sastra sebagai salah satu faktor penentu peradaban dan berkembangnya budaya masyarakat  setempat. Gerakan yang kemudian mampu membuka daerah kesusastraan baru, yang selama ini tertutup oleh gemerlap sastra di pusat perkotaan dengan doktrin nilai-nilai universal.

Dekade 1990-an  ditandai munculnya Gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman yang dipelopori oleh Triyanto Tiwikromo, Sosiawan leak, Kusprihyanto Namma, Beno Siang Pamungkas, Wijang Warek Al-Mauti, dan bagus Putu Parto. Sebuah gerakan sastra yang menyampaikan karya sastra ke hadapan masyarakat secara langsung. Gerakan ini melakukan revitalisasi terhadap tiga hal, yaitu: (1) menghindari pemusatan sosialisasi nilai-nilai sastra hanya pada Jakarta, (2) surat kabar bukan merupakan satu-satunya media dalam melakukan sosialisasi sastra, (3) membentuk jaringan serta komunikasi dengan kantung-kantung budaya dimana saja dan kapan saja. Gerakan yang menginginkan hadirnya sastra dengan keragaman etnik dan kultural dan tidak didikte dari ibu kota Jakarta.


(2)
Sastra Hibrida

Pertumbuhan sastra tidak hanya berkembang dengan tubuhnya sendiri, tetapi juga berinteraksi dengan perkembangan pengetahuan di luarnya sehingga memunculkan varian-varian yang memperkaya khazanah karya, sekaligus memperluas dunia pengetahuan yang saling bersinergi memberikan makna kehidupan yang pantas untuk dimuliakan. BioArt, sebagai bentuk hibrid antara biologi dengan seni telah mempengaruhi perkembangan tubuh biologi yang diwarnai oleh puisi; puisi biologi. Atau juga pertautan antara dunia seni rupa yang melahirkan varian spesimen ilustrasi yang bisa memperkuat di antara keduanya. 

Perkembangan Rekayasa genetika dalam bidang biologi, telah memberikan inspirasi bagi kalangan seniman untuk menjadikan temuan sains sebagai dasar dalam mengembangkan kerja dan karya kreatif yang mereka lakukan. Eduardo Kac (2004) telah memanfaatkan kemajuan rekayasa genetika untuk menyisipkan  gen klorofil ke dalam  gen kelinci albino, sehingga tubuh kelinci bila terkena cahaya, hijau berkilau. Sebuah karya seni yang diaplikasikan kepada hewan peliharaan  yang menggabungkan antara rekayasa genetika dan seni visual. 

Kegilaan penyair Kanada Chritian Bök (2011), yaitu menyalin puisi pendeknya ke dalam kode genetik, dan kemudian ditanamkan ke dalam DNA bakteri Dienococcus radiodurans. Urutan kode genetik (kodon) yang diimplantasikan tersebut direspon oleh bakteri, sehingga menguatkan keinginan Chritian Bök untuk mengabadikan puisinya dalam tubuh  bakteri. Dalam penjelasannya kepada khalayak, dengan berhasilnya di tanaman kodon puisi ke dalam tubuh bakteri dan telah diterjemahkan ke dalam bentuk rangkaian asam amino, akan mengabadikan puisi tersebut selama bakteri D. radiodurans tersebut ada. Puisi akan abadi sampai galaksi jagad raya berantakan di akhir kehidupan. Bakteri telah menjadi media baru untuk menyimpan puisi. 

Begitulah tubuh sastra (juga puisi) tumbuh berkembang bukan hanya mengikuti arus politik tetapi juga arus perkembangan sains yang berlangsung secara akseleratif. Persoalan-persoalan yang muncul berkembang secara logis dan argumentatif yang muncul dari berbagai kalangan atau ahli, seperti para seniman, filosof, dan juga ahli antropologi. Perkembangan yang tumbuh secara dinamik dalam bentuk rekayasa logis seiring dengan perkembangan sains dan keilmuan lain yang menyertainya.



(3)
Rekayasa Denny J.A.
: sebuah pandangan evolutif

Namun persoalan menjadi runyam dan menuai aneka macam kritik dan perdebatan yang tak pernah usai, ketika di Indonesia muncul sebuah gerakan yang merekayasa sejarah sastra Indonesia yang didahului oleh ajakan Denny J.A. untuk menulis puisi esai. Terbitnya buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” dengan memasukkan Denny JA di dalamnya. Hadirnya buku tersebut dan juga gerakan puisi esai yang didanai Denny J.A sebagai penggagas dan menyebutkan dirinya sebagai pembaharu, telah menimbulkan polemik yang berkepanjangan baik di media sosial atau diskusi-diskusi kecil di beberapa tempat. 

Proyek puisi esai dilakukan untuk melegitimasi eksistensi Denny J.A dalam dunia sastra, merupakan persoalan yang mencederai tubuh sastra Indonesia. Cedera yang disebabkan rekayasa yang salah, sehingga memunculkan varian yang abnormal. Pertama, secara genetis, rekayasa yang dilakukan Deni, yaitu melakukan persilangan antara puisi dan esai, bukan merupakan hal baru. Puisi-puisi naratif dan panjang telah ada di zaman islam klasik yang menjadikan puisi sebagai media untuk menyampaikan keilmuan sains. Sebuah hibrid yang meleburkan antara konsep politik dengan konsep sains tanpa harus menghilangkan substansi keduanya. Artinya dalam kitab-kitab pengetahuan klasik islam, bentuk puisi yang menyampaikan sains ditujukan untuk mempermudah pemahaman terhadap konsep keilmuan tanpa menghilangkan unsur puitika. Keduanya membentuk varian yang sampai saat ini masih dikenal dan berkembang dalam dunia pesantren dan tubuh sastra Indonesia.

Denny J.A. belum sampai pada hakikat untuk menjadikan puisi sebagai ilmu yang di dalamnya mengemban pengetahuan dan untuk mempermudah pemahaman pengetahuan. Artinya rekayasa tersebut belum sampai pada tujuan untuk mempermudah hal-hal yang sulit. Menyederhanakan hal yang kompleks, dan mengkongkritkan hal yang abstrak. Jika  rekayasa genetika tubuh sastra yang dilakukan Denny dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh Christian Bök, maka jauh lebih mulia yang dilakukan Christian Bök. Apa yang dilakukan Christian merupakan sebuah upaya untuk menjadikan DNA sebagai penyimpan informasi sebagaimana fungsi utama DNA dalam tubuh manusia. Eksperimen Christian Bök, berkeinginan untuk menjadikan DNA Bakteri sebagai rak-rak yang menyimpan puisi atau buku puisi sehingga bisa langgeng pada akhir kehidupan jagad raya.

Kedua, secara evolutif, puisi esai yang dikemukakan Denny JA sebagai sebuah inovasi yang dilakukannya, nyatanya tidak menemukan rantai evolusi secara dinamis dengan periode sebelumnya. Biasanya rangkaian-rangkaian tersebut saling berkait dengan berbagai bentuk dan peristiwa yang mendorong munculnya “puisi esai”. Celakanya opini yang dilontarkan Denny J.A, tidak direspon positif oleh banyak pihak sehingga proses evolusi ini mengalami hambatan besar dan terkendala untuk mengawali terjadinya varian yang mengarah kepada terbentuknya spesies baru (inovasi) yang diharapkan.

Faktor internal merupakan faktor penentu yang paling kuat dalam menentukan arah evolusi, sebab temuan neodarwinisme yaitu terbentuknya variasi yang mengarah kepada terbentuknya spesies baru. Sebab, seleksi alam bukan hanya berlangsung terhadap faktor-faktor fisik tetapi juga kepada faktor genetik yang akan mempengaruhi terhadap ekspresi tubuh. Kekuatan internal tubuh sastra akan menentukan ekspresi kemana sastra tersebut tumbuh dan berkembang. Denny J.A. hanya berkisah kepada faktor fisik dan bentuk, bukan kepada esensi dari persoalan tubuh sastra Indonesia. Perubahan yang akhirnya kurang mendapat tempat dan respon dalam ekosistem sastra indonesia.

Evolusi sastra merupakan bentuk perubahan yang berlangsung secara bertahap, lambat, dan senantiasa berinteraksi dengan ekosistemnya, sehingga mendapatkan bentuk tubuh yang paling adaptif dan survive sebagai pendorong perubahan ke waktu-waktu berikutnya. Tubuh yang kokoh adalah tubuh yang terbentuk secara evolutif, sehingga teruji oleh waktu, seleksi alam yang kadang memang tak manusiawi. Dalam pandangan neodarwinisme yang memandang seleksi alam sebagai pengarah terhadap terbentuknya spesies baru, menegaskan seleksi genetik menjadi faktor pendukung yang menguatkan arah terbentuknya spesies atau inovasi baru. 

Dalam pandangan evolutif, perubahan-perubahan kecil itu tak ubahnya sebuah titik yang tidak akan serta-merta menentukan karakteristik suatu sifat atau individu, tetapi merupakan sebuah momen peristiwa yang akan berlanjut dalam perkembangan evolusi. Penolakan-penolakan terhadap “variasi” kecil tersebut merupakan bagian yang akan mengarahkan ke  bentuk paling adaptif (Mayor, 2010). Bahwa gerakan Denny J.A. pernah melintas dan mencoba membelokkan arah evolusi tubuh sastra Indonesia sesuai dengan yang dikehendakinya. Keinginan ini akan bersambut jika lingkungan juga mendukung dan mengiyakan terhadap arah yang diinginkan. Namun tubuh sastra dalam populasinya yang berinteraksi dengan keanekaragamannya akan lebih menentukan kemana arah pergerakan dimaksud.

Spesies dan varian yang gagal, adalah alasan untuk menegaskan bahwa sebenarnya mutasi yang dilakukan Denny J.A. keluar dari kodratnya. Ekspresi yang muncul karena menyitir evolusi - Jean-Baptiste de Lamarck yang mengedepankan bahwa evolusi dapat terjadi karena pengaruh lingkungan yang kemudian diwariskan pada generasi selanjutnya. Namun hal ini tidak mudah diterima, mengingat perubahan-perubahan karena lingkungan lebih mengarah kepada perubahan fisik daripada perubahan secara substantif. Maka, perubahannya hanya imanen, sementara dan tidak akan muncul pada generasi selanjutnya. Dalam posisi ini Denny lebih dekat kepada filosofi evolusi Lamarck yang meyakini bahwa perubahan fisik karena lingkungan akan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Perubahan yang akan diteruskan oleh generasi berikutnya. Keyakinan yang sebenarnya telah dipatahkan oleh August Weismann yang memandang bahwa peristiwa evolusi (seleksi alam) bukan hanya menyangkut faktor fisik tetapi juga berkenaan faktor genetika (internal). Demikian juga rekayasa terhadap penokohan sastra Indonesia dan variasi “puisi esai” yang dikumandangkan dan direkayasa dengan pendanaan, membiayai para sastrawan yang dilibatkan untuk membuat puisi seperti pesannya, adalah hal yang menyimpang. Rekayasa perubahan yang tidak logis dan menjadi persoalan, sehingga harus dihentikan.
Ketiga, mutasi. Bila dipandang proyek Denny sebagai sebuah upaya pembaharuan, sebenarnya dalam istilah biologi tak melebihi dari sebuah mutasi kecil yang dinamakan mutasi titik (point mutation) dan tidak berpengaruh terhadap ekspresi tubuh sastra. Mutasi yang berlangsung di titik basa nitrogen pada kode genetik, dan perubahan basa tersebut tidak akan merubah makna kodon dan rangkaian protein tubuh yang akan dibentuk. 

Rekayasa pada genre sastra yang terabaikan untuk bisa mempengaruhi tubuh sastra Indonesia. Karena beberapa sastrawan bertindak sebagai penjaga pertahanan (antibodi) gerbang sastra Indonesia dari manipulasi oleh para antigen-antigen yang menggerogoti tubuh sastra Indonesia. Gejala yang kecil kemungkinannya memberikan efek besar bagi tubuh sastra, karenanya digolongkan kepada jenis mutasi diam (silent mutation).
Mutasi diam, dapat terjadi karena penyisipan basa, karena sisipan tak kentara yang menyiasati situasi dalam rangkaian DNA tubuh sastra Indonesia. Penyisipan yang direkayasa untuk mempengaruhi pada arah dan bentuk pertumbuhan tubuh sastra. Namun, terlalu gegabah untuk menyebutnya sebagai penentu perubahan arah, karena perubahan yang dilakukan  tidak cukup signifikan untuk mengubah perintah terhadap penyusunan rangkaian senyawa yang akan dibentuk.


(4)
Penutup;
Sastra yang Memuliakan.

Rekayasa memiliki area yang sangat luas, dan mutasi buatan merupakan salah satu bentuk rekayasa yang mengubah sesuatu sesuai dengan yang diinginkan. Sayang memang, rekayasa terhadap sastra berbeda dengan rekayasa terhadap tumbuhan  atau binatang. Rekayasa dalam tubuh sastra melibatkan sosok manusia sebagai subyek yang bisa merespon dan menolak dengan apa yang tak diinginkannya. Rekayasa arah tumbuh dan kembang sastra, berhadapan dengan manusia-manusia yang menjunjung kejujuran sebagai landasan dalam melahirkan karya. Kemanusian menjadi filosofi, dan menempatkan hati nurani sebagai pengendali keliaran akal yang berkelebat ke berbagai arah. 

Proyek buku dan puisi esai yang didanai Denny sebenarnya hanya merupakan sebuah riak kecil dari para pemodal yang mencoba melakukan rekayasa, dan mengarahkan arah perkembangan sastra ke arah yang diinginkannya. Namun sayang, rekayasa yang dilakukan Deni hanyalah sebuah mutasi kecil, mutasi titik yang tak mampu mengubah ekspresi dan arah sastra Indonesia.

Pandangan secara evolutif, Denny, hanyalah memperpanjang filosofi evolusi Jean-Baptiste de Lamarck yang beberapa abad silam ditentang oleh August Weismann, dengan hasil eksperimen yang menunjukkan bahwa filosofi Lamarck tidak benar. Filosofi yang dikenal dengan istilah use and disuse. Sastra bukan berkembang karena rekayasa, tetapi berkembang karena kebutuhan secara alamiah untuk berkembang, memuliakan tubuh sastra sebagai tubuh yang menempatkan kejujuran dan hati nurani yang harus dijunjung tinggi. Tubuh yang harus mengemban amanat dan memberikan ruang bagi nilai-nilai kehidupan, di mana kemanusian tumbuh dan berkembang sehingga memuliakan kehidupan itu sendiri. Kehidupan yang pantas dimuliakan.

Mampukah Denny menunjukkan bahwa rekayasa yang dilakukan adalah sebuah proses evolutif yang berangkai dengan periode sebelumnya, atau sebuah revolusi, sebuah rekayasa genetik yang mampu memuliakan terhadap tubuh sastra, serta memberikan manfaat bagi kehidupan, atau hanya merupakan sebuah celah yang mengotori peta evolusi sastra Indonesia.

Sumenep, 13 Maret 2018

*Hidayat Raharja, lahir di Omben – Sampang, 14 Juli 1966. Seorang guru biologi yang suka puisi, dan menyilangkan antara puisi dengan biologi, yang dinamakannya puisi biologi. Buku puisinya “Kangean”, Bening Pustaka, 2016). “Penghayatan terhadap Cahaya” (INtishar, 2017) sebuah buku mengenai kamera lubang jarum. Saat ini menjadi tenaga pengajar biologi di SMA Negeri 1 Sumenep. Fb. Hidayat Raharja. WA.: 081939097356. Email: hidayatraharja66@gmail.com


___Sumber: Skandal Sastra Undercover, Remy Sylado, dkk, Yogyakarta: Kalam, 2019

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.