News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Buku: Perjalanan Kelekatu ke Republik Jangkrik karya Musa Ismail

Buku: Perjalanan Kelekatu ke Republik Jangkrik karya Musa Ismail


Perjalanan Kelekatu ke Republik Jangkrik
Sekebat Esai Sastra-Budaya
(Upaya Mengalami Sastra-Budaya)
Musa Ismail


MUSA ISMAIL
Perjalanan Kelekatu ke Republik Jangkrik
Sekebat Esai Sastra-Budaya
(Upaya Mengalami Sastra-Budaya)
Sampul:
Adeg Gembo
Atak:
Apip R. Sudradjat
Cetakan Pertama:
Februari 2020
ISBN:
978-602-5819-49-0
Penerbit:
TareBooks
(Taretan Sedaya International)
JI. Jaya 25, Kenanga IV, Cengkareng
Jakarta Barat 11730
0811 198 673
taresi.publisher@gmail.com
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
xii + 250 hlm. - 14,8 X 21 cm
© Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
All Right Reserved
Dilarang memperbanyak buku ini dalam bentuk apapun tanpa izin
tertulis dari penerbit.


Bismillah,
Buku ini kupersembahkan kepada siapa saja yang mau membacanya.
Teristimewa buat kedua orang tuaku: Ismail (Abah) dan Maimunah (Emak)
Terkhusus buat isteriku, Isnawati, S.Pd.
Anak-anakku: M. Iqbal Al Raziq, M. Syazily Al Raziq, dan M. Qushairi Asshiddiqie
Buat semua sastrawan dan semua guru


Alhamdulillah.

Pengantar Penulis

Bismillah,
Mendokumentasikan Sastra melalui Menulis Esai

Ini buku esai sastra-budaya saya yang kedua. Buku esai  sastra-budaya yang pertama bertajuk Membela Marwah Melayu (Penerbit BKKI dan UIR Press, Pekanbaru). Buku kedua ini bukan merupakan lanjutan dari buku esai pertama. Bukan pula sebagai perbandingan tulisan-tulisan esai sastra-budaya saya. Buku ini saya publikasikan hanya sebagai upaya menyemarakkan kelesuan tulisan-tulisan esai sastra-budaya di tanah Lancang Kuning. Dengan terbitnya buku esai ini, saya sedikit berharap dapat memekarkan publikasi tulisan esai. Ya, paling tidak di Riau. 

Saya membayangkan menulis ibarat makan. Menulis ibarat menelan santapan rohani. Menulis sudah mendarah daging pada diri saya. Karena itu, manulis sudah menjadi suatu kebutuhan. Menulis merupakan kebutuhan hidup saya. Saya menulis apa saja: karya sastra (sajak, cerpen, novel) dan karya ilmiah (artikel, esai, penelitian). Tentang kedua bentuk karya tulisan ini, saya pernah ditanya oleh seorang profesor ilmu ekonomi pada suatu perguruan tinggi negeri di Riau. 

”Mana yang lebih mudah, menulis sastra atau ilmiah?” Profesor itu berwajah serius bertanya kepada saya ketika sedang istirahat kuliah. Pertanyaan itu diajukannya setelah beberapa hari saya memberikan beberapa buku karya sastra saya kepadanya (kumpulan cerpen dan novel).

”Menulis ilmiah itu lebih mudah,” jawab saya dengan wajah serius juga. Saya sangat yakin dengan jawaban itu. Alasannya karena penulis karya sastra akan lebih mudah menulis karya ilmiah. Namun, penulis karya ilmiah belum tentu bisa menulis karya sastra. Buktinya, saya bisa menulis artikel, esai, dan penelitian. Profesor itu belum punya karya sastra (ha-ha).

Menulis esai (sastra-budaya), bagi saya, menulis karya ilmiah. Saya menganalisis, menyintesis, memilah-pilih, mengaitkan dengan berbagai teori, secara ilmiah pula. Karena itu, bagi saya, menulis esai sastra-budaya pada dasarnya melakukan penelitian apalagi menulis esai tentang karya sastra. 

Ya, saya menulis esai tentang karya sastra atau membahas karya sastra. Ini berarti bahwa saya akan berhadapan dengan karya sastra orang lain. Saya akan berhadapan dengan ide kreatif-ide kreatif dan latar belakang orang lain. Tentu saja dalam buku ini, saya lebih banyak membahas karya sastra penulis Riau. Dalam upaya membahas karya sastra ini, saya merasa terkendala pada karya sastra yang akan dikupas. Tidak mudah untuk memperoleh karya sastra dari penulis Riau. Mungkin karena aspek geografis dan aspek distribusi. Sulit sekali kita bisa menemukan buku karya sastra penulis dari Riau di toko buku. Sebagian besar karya sastra yang saya kupas dan terangkum di sini saya peroleh langsung secara gratis dari penulisnya. Saya sangat berterima kasih dalam hal ini. Terlepas dari semua itu, dengan menulis esai karya sastra, saya secara tidak langsung telah mendokumentasikan karya sastra tersebut. Sekedar contoh, dalam buku ini, saya ikut mendokumentasikan karya sastra Rida K. Liamsi, Taufik Ikram Jamil, Marhalim Zaini, Abel Tasman (sekedar menyebutkan beberapa nama). 

Sekebat esai sastra-budaya yang terangkum ini merupakan tulisan-tulisan saya yang pernah dimuat di Harian Riau Pos dalam rentang waktu 2007-2018. Dalam rentang waktu tersebut, cukup banyak esai saya yang dipublikasikan. Namun, saya akan menjadikannya beberapa buku esai sastra-budaya. Inilah upaya saya mendokumentasikan karya sastra. Sekali lagi, saya mendokumentasikan karya sastra melalui penulisan esai. Semoga bermanfaat.***
Alhamdulillah.



Daftar Isi

Laman Persembahani
Pengantar Penulis ii
Daftar Isi iii

Perjalanan Kelekatu: Pengucapan Estetik-Simbolik Dunia Melayu 1
Pengungkapan Realitas dan Permainan Pikiran Mencari Tuhan 10
Amuk Tun Teja: Antara Dunia Melayu Marjinal dan Futuristik 19
Impresionisme dalam BOOS 23
Catatan Buat Leksikon Sastra Riau 27
Membedah Perut Tun Amoy 31
Percakapan Sejarah Kekuasaan Melayu dalam Dendang Bunyi 
dan Religi 40
Dimensi Profetik: Kisah Penyair Mencari Tuhan dalam Hikayat Perjalanan
Lumpur 45
Estetika Versus Logika 50
Pertelingkahan Seks, Kelaraan, dan Memaknai Kerinduan Perempuan 56
Komedi Sindiran Hantu-Hantu Hang Kafrawi 65
Tragedi dan Jiwa Pemberontakan (Melayu) Riau 
dalam Hikayat Batu-Batu69
Karakter Bangsa dan Pembelajaran Berbasis Sastra 84
Megalomania: Kelainan Jiwa dan Kekuasaan yang Sakit 88
Kesetiaan Binatang Jalang 94
Kenyataan Kelam dan Perjuangan Hidup dalam Orang-Orang Kalah 102
Menyelami Tiga Lautan Husnu Abadi 106
Luka Hukum, Luka Cinta, dan Profeminis 110
Malam Api: Gambaran Kegelapan dan Alam (Riau) yang Tertekan 114
Menyadap Getah Damar: Tragedi Kekalahan 119
Magis Melayu: Karakteristik Jupen di Mata Griven 128
Bulang Cahaya: Aksiologi Melayu dalam Bingkai Sejarah 133
Konsep Keindahan Islami dalam Novel Bumi Cinta: Profetik dan Heroik 143
Pelangi Imaji(nasi) Marhalim Zaini: Sastra Kontekstual? 151
Realitas Psikologis dalam Novel  Air Mata Bulan 156
Pembelajaran Sastra dan Visi Riau 2020 161
Sastra yang Menggurui, Anak Cacat164
Sebutir Peluru dalam Buku: Realitas Penguasa/Pengusaha yang 
Membunuh (Melayu) Riau 167
Sumpah Pemuda sebagai Pucuk Kebudayaan 173
Tuntut Merdeka, Dewan Kemaruk, Telatah Wak Atan 178
Republik Jangkrik: Perlambangan Dramatik dan Idealisme 184

Daftar Pustaka 189 


Daftar Pustaka

Abadi, Husnu. 1998. Lautan Kabut. Pekanbaru: Universitas Islam Riau Press.
______. 2002. Lautan Melaka. Pekanbaru: UIR Press.
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru.
As-Suhrawardi, Syihabuddin Yahya. 1992. Hikayat-Hikayat Mistis. Mizan: Bandung.
Badri, M. 2007. Malam Api. Pekanbaru: UIR Press dan BKKI.
Barnard, Timothy P. 2003. Masyarakat dan Alam Siak & Sumatra Timur, 1674 – 1827. Pekanbaru: Universitas Riau dan PT Bumi Siak Pusako.
Danarto. 2004. Adam Ma’rifat. Yogyakarta: Matahari.
Depdiknas. 2004. Lomba Mengulas Karya Sastra 2003: 23 Naskah Terbaik. Jakarta: Depdiknas.
_______. 2005. 25 Naskah Terbaik: Lomba Mengulas Karya Sastra 2004. Jakarta: Depdiknas.
_______. 2006. 25 Naskah Terbaik Lomba Mengulas Karya Sastra 2005. Jakarta: Depdiknas.
Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Psikologi Sastra (Teori, Langkah dan Penerapannya). Yogyakarta: Media Pressindo.
­_______. 2008. Metodologi Penelitian Sastra (Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Media Pressindo.
Hamdani, Hamzah. 2006. Konsep dan Falsafah Novel Sejarah (Sayembara Menulis Novel Sejarah Johor). Johor: Yayasan Warisan Johor.
Harian Riau Pos, Ahad, 24 Februari 2008. Bagaimana Mengapresiasi Sastra?
Horison Edisi Nopember 1992.
Horison Edisi Januari 2003.
Horison Edisi April 2003.
Ismail, Musa. 2007. Membela Marwah Melayu. Pekanbaru: UIR Press dan BKKI.
Ismail, Taufik, dkk. 2004. Horison Esai Indonesia Kitab 2. Jakarta: Majalah Sastra Horison.
Liamsi, Rida K. 2007. Bulang Cahaya. Surabaya: JP Books dan Yayasan Sagang.
_______. 2009. Novel Bulang Cahaya dan Tradisi Melayu Bugis (Makalah yang dibentangkan pada pertemuan penulis serumpun 2009, Universitas Riau, 21 Februari 2009). Pekanbaru: Universitas Riau.
Jamil, Taufik Ikram. 1995. tersebab haku melayu. Pekanbaru: Yayasan Membaca.
_______. 2005. Hikayat Batu-Batu. Jakarta: Kompas.
Julia I. Suryakusuma, Karya Sastra Tiga Perempuan….(Horison Juni 2003).
Junus, Hasan. 2005. Acar, Selai, dan Zeno. Pekanbaru: Yayasan Sagang.
Katan, Ellyzan. 2008. Getah Damar. Pekanbaru: UIR Press dan BKKI.
Kurnia, Anton. Perempuan, Seks, dan Sastra (makalah).
Liamsi, Rida K. 2008. Perjalanan Kelekatu. Pekanbaru: Yayasan Sagang.
Mahayana, Maman S. 2005.  9 Jawaban Sastra Indonesia: Sebuah Orientasi Kritik. Jakarta Timur: Bening.
Mahdini. 2005. Raja dan Kerajaan dalam Kepustakaan Melayu. Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau.
Ratrioso, Imam. 2004. Kumpulan Petuah Tokoh-Tokoh Besar Dunia. Jakarta: Eska Media.
Riau Today, 11 Agustus 2007.
Ricouer, Paul. 2003. Filsafat Wacana, Membedah Makna dalam Anatomi Bahasa. Yogyakarta: IRCiSoD.
Sarjono, Agus R. 2001. Sastra dalam Empat Orba. Yogyakarta: Bentang.
Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media
Sumardjo, Jakob. 1983. Pengantar Novel Indonesia. Jakarta: Karya Unipress.
Thalib, Mosthamir. 2007. Dewan Kemaruk. Pekanbaru: Yayasan Taman Karya Riau
­_______. 2007. Telatah Wak Atan @ Kelakar Orang Melayu Kawin. Pekanbaru: Yayasan Taman Karya Riau.
_______. 2007. Tuntut Merdeka. Pekanbaru: Yayasan Taman Karya Riau.
Teeuw, A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
Zaini, Marhalim. 2004. Segantang Bintang, Sepasang Bulan. Jakarta: Yayasan Pusaka Riau.
_______. 2007. Amuk Tun Teja.  Yogyakarta: Pustaka puJAngga dan Paragraf.
­­_______. 2008. Tun Amoy. Pekanbaru: Gurindam Press.
W.M., Abdul Hadi. 2004. Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas (Esai-Esai Sastra Sufistik dan Seni Rupa). Yogyakarta: Matahari.


Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.