News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Catatan buat Leksikon Sastra Riau - Musa Ismail

Catatan buat Leksikon Sastra Riau - Musa Ismail

Catatan buat Leksikon Sastra Riau
oleh Musa Ismail



KAWACA.COM | Memang patut kalau ada upaya untuk mendokumentasikan sejumlah nama sastrawan, karya-karyanya, atau pun segala macam informasi yang berkaitan dengan dunia (seni) sastra. Apalagi kalau pendokumentasian itu dilakukan dalam bentuk buku yang dipublikasikan. Salah satu bentuk dokumentasi yang dapat dilakukan untuk dunia sastra kita adalah penyusunan leksikon sastra. Secara harfiah, leksikon bermakna kosa kata, kamus yang sederhana; daftar istilah dalam suatu bidang disusun menurut abjad dan dilengkapi dengan keterangannya; komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa; kekayaan karya yang dimiliki suatu bahasa (KBBI, 2002:653). Namun, dalam penyusunannya, penyusun tentu dibenarkan membatasi diri dengan melihat situasi dan kondisi yang sesuai dengan apa yang akan dientrinya. 

Ketika pertemuan penyair se-Sumatera pada penghujung 2004, kritikus sastra UI, Maman S. Mahayana mengatakan bahwa Harian Kompas dan Horison berfungsi sebagai barometer dan legitimasi predikat sastrawan. Artinya, penulis yang karyanya pernah dimuat di media massa tersebut secara tidak langsung memperoleh gelar sastrawan di nusantara. Cara kedua, katanya, terbitkan karya-karya itu dalam bentuk buku. Dua penulis Riau yang berbeda generasi, Husnu Abadi dan M. Badri, telah melahirkan Leksikon Sastra Riau (UIR Press dan BKKI, Januari 2009). Buku yang ber-cover gelap dan bergambar buku-buku yang pernah terbit di Riau ini, memuat sekitar 159 entri nama sastrawan. Di Negeri Serambi Mekah, juga telah terbit Leksikon Sastra Aceh (Editor: Mukhlis A. Hamid dan Medri Osno, 2007). Untuk Indonesia, leksikon sastra pernah disusun oleh Pamusuk Eneste (Gramedia, 1981), Ensiklopedi Sastra Indonesia oleh Hassanudin WS, dkk  (Titian Ilmu, 2004), atau leksikon sastra yang disusun oleh Korrie Layun Rampan (Balai Pustaka, 2000). 
Apapun kelemahan dalam penyusunan leksikon atau ensiklopedi sastra di tanah air, baik bersifat kedaerahan maupun nasional, menurut saya, layak memperoleh penghargaan dari berbagai pihak. Paling tidak, langkah sudah terbuka untuk merentas hingga ke tujuan yang sebenarnya. Laiknya kamus, tentu akan mengalami perkembangan. Karena itu, penyusunan leksikon sastra sebenarnya tidak akan pernah tuntas sebab akan terjadi perkembangan baru, baik dari sisi mutu maupun jumlah sastrawan yang lahir. 
Namun sangat disayangkan, mungkin kehadiran Leksikon Sastra Riau ini masih asing. Memang itulah salah satu kelemahan karya-karya di negeri ini yang sudah terbit, tetapi bagai terpendam (dipendamkan). Seumpama ada faktor X yang menghadangnya sehingga tidak mampu membahana sedemikian merecupnya. Padahal, kehadiran Leksikon Sastra Riau ini telah berupaya memberikan gambaran konkrit tentang biografi singkat para sastrawan Riau, juga kepengarangannya.

Keberadaan leksikon memang tidak terbatas ruang dan waktu. Namun, Leksikon Sastra Riau yang sudah lahir ini mesti diberi penegasan apa sebenarnya muatan isi yang dikandung. Ada dua kandungan, yaitu (1) informasi tentang sastrawan/penulis Riau. Informasi tentang penulis yang tertuang di sini, tampaknya, dimulai dari sastrawan Riau yang terkategori zaman Balai Pustaka seperti Suman Hs danSariamin Ismail dan (2) dokumentasi sejumlah halaman depan (cover) buku sastra Riau.  Dari kedua kandungan ini, muncul dua kelemahan yang seharusnya tidak terjadi. Pertama, ada beberapa nama sastrawan/penulis yang tercecer seperti Muchid Al Bintani dan berkemungkinan sekali beberapa nama lain. Kedua, pemuatan cover buku sastra/budaya di dalam leksikon ini terkesan kurang serius karena tidak dapat mewakili setiap generasi. Namun, tentu saja hal ini berkaitan dengan proses pembiayaan dalam penerbitan. Tetapi, menurut saya, menghadirkan cover  buku sastra/budaya di dalam leksikon ini tidak terlalu penting dan akan menjadi lebih bermutu apabila dipisahkan. Apalagi kehadiran cover tersebut memisahkan entri nama sastrawan/penulis Riau antara abjad T dan U. Mungkin tim  penyusun punya alasan tersendiri untuk hal ini. Ketiga, persoalan pengumpulan data pun patut kita pertanyakan. Kalau kita baca, masih banyak data yang hilang dari setiap entri yang disusun. Dengan kata lain, pengolahan data dalam leksikon ini kurang lengkap. Tidak sedikit entri tersebut hanya memuat keterangan beberapa kalimat. Mudah-mudahan ini sudah merupakan upaya yang gigih. 

Dalam hal pengumpulan data, saya pernah bertanya kepada Tuan Husnu Abadi. Data-data yang terkumpul diperoleh dari berbagai media yang layak dijadikan referensi seperti Harian Pagi Riau Pos, Majalah Sagang, dan beberapa nama majalah budaya/sastra yang pernah bernapas di negeri ini. Abadi memang mengakui bahwa proses penyusunan leksikon ini terkendala pada pengumpulan data. Makanya, ada beberapa entri sastrawan itu, datanya kurang memuaskan. Kalau penulis itu sengaja dilupakan dalam leksikon ini, tentu tidak etis. Namun demikian, katanya, kemunculan Leksikon Sastra Riau ini, paling tidak bisa menjadi dasar, langkah awal, ancang-ancang untuk proses berikutnya. Kehadiran leksikon ini merupakan pengumpulan kekayaan sastrawan/penulis Riau. Sebab, dalam catatan beberapa leksikon Indonesia di atas, seolah-olah sastrawa(wan) Riau tenggelam dan mati suri. 

Masalah penting lainnya menyangkut sumber yang digunakan. Leksikon merupakan teks ilmiah. Sesuatu yang diolah secara ilmiah, tentu memiliki standar keilmiahannya. Dapat dipastikan, tak ada satu pun leksikon atau ensiklopedi yang penyusunannya tidak menggunakan sumber rujukan. Ensiklopedi Sunda (Jakarta: Pustaka Jaya, 2000, xv + 719 halaman) yang disusun Ajip Rosidi, dkk., misalnya, menggunakan sumber rujukannya dengan memanfaatkan 10 buah naskah lama berbahasa Sunda, 12 majalah, suratkabar, dan almanak, dan 190 buku. Hasilnya, hampir 4000 entri tercatat di sana. Sementara itu, Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern (Jakarta: Pusat Bahasa, 2003, xii + 271 halaman) yang disusun Tim Pusat Bahasa, meskipun hanya memuat 151 entri, mereka mendasari penyusunannya dengan menggunakan 14 artikel dari suratkabar dan majalah, dan 51 buku sebagai sumber rujukannya. Bandingkanlah dengan buku Buku Pintar Sastra Indonesia, Pamusuk Eneste yang menggunakan 35 sumber dan buku Leksikon Sastra Indonesia, Korrie Layun Rampan yang menggunakan 83 sumber.

Dalam tradisi penyusunan ensiklopedia di Amerika atau Eropa, Ketua Tim Penyusun atau Pemimpin Redaksi (Managing Editor), kerap bertindak sebagai “manajer” dan sekaligus editor. Ia mengumpulkan para ahli, memintanya menulis mengenai biografi seseorang atau bidang tertentu, pengumpul bahan yang ditulis para ahli itu, dan menyusun kembali semua bahan, mengurutkannya secara alfabetis atau berdasarkan periode jika berpretensi menyusun sejarah nengenai satu bidang tertentu. Maka, satu entri atau satu bidang ilmu, bisa saja disusun oleh satu orang dengan sumber rujukan yang bertumpuk. Periksa saja, delapan jilid buku British Writers (1979), sebuah buku yang memuat biografi dan pembahasan karya-karya sastrawan Inggris. Untuk biografi William Shakespeare (I: 295—330), misalnya, Stanley Wells, penyusunnya, menggunakan lebih dari 150 sumber rujukan. Demikian juga, biografi Rudyard Kipling (VI: 165—206), A.G. Sandison memerlukan sekitar 100 sumber rujukan. Lalu, bagaimana dengan Leksikon Sastra Riau? Mungkin terlupa? 

Dalam Pengantar Editor Leksikon Sastra Riau ini, dapat kita baca proses penyusunannya. Berbagai upaya sudah dilakukan, berbagai kendala pula bermunculan. Editor sendiri mengakui bahwa kehadiran Leksikon Sastra Riau ini belum tersaji dengan sempurna. Perlu berbagai perubahan dan perbaikan setiap entrinya. Namun sekali lagi, kita sangat bersyukur ada yang peduli dengan persoalan ini. Pancang yang telah ditegakkan (walaupun belum sempurna) oleh Husnu Abadi dan M. Badri ini—semoga suatu saat—akan semakin kokoh. Harapan saja, semoga Leksikon Sastra Riau ini lebih memasyarakat.***

Sumber:  Buku Perjalanan Kelekatu ke Republik Jangkrik (TareBooks, 2020) karya Musa Ismail

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.