News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Apakah Dunia Tak Lagi Sama setelah Pandemi? - Dwi Pranoto

Apakah Dunia Tak Lagi Sama setelah Pandemi? - Dwi Pranoto

Apakah Dunia Tak Lagi Sama setelah Pandemi?
oleh Dwi Pranoto
Rencana Penyusunan Kanon Sastra: Proyek Lancung?

KAWACA.COM | 4 April 2020 pukul 10:04, virus Corona telah berjangkit di 205 negara dan 2 kapal pesiar: Diamond Princess dan MS Zaandam. Worldometers melaporkan di seluruh dunia 1.098.434 orang terjangkit, 228.923 orang sembuh, 59.160 meninggal. Oxford Economy, 16 Maret 2020, memperingatkan bahwa perkembangan sepekan terakhir telah makin meningkatkan kemungkinan ekonomi global meluncur ke dalam krisis karena merespon sengatan kasus virus Corona di seluruh dunia.

Aku sedang mendengarkan Tom Waits (2002) menyanyikan salah satu lagu dari album Blood Money, “God’s Away On Business” dengan suara berat-seraknya:

Ship is sinking
The ship is sinking
The ship is sinking
There's leak, there's a leak, in the boiler room
The poor, the lame, the blind
Who are the ones that we kept in charge?
Killers, thieves, and lawyers
God's away, God's away
God's away on business
Business
God's away, God's away
God's away on business
Business
Digging up the dead with a shovel and a pick
It's a job, it's a job
Bloody moon rising with a plague and a flood
Join the mob, join the mob


Terbitnya Dunia Orwellian

Someday they won't let you, now you must agree
The times they are a-telling, and the changing isn't free
You've read it in the tea leaves, and the tracks are on TV
Beware the savage lure
Of 1984

(David Bowie, 1984, 1974) 

Pandemi covid-19 kurang dari setahun padam. Dua orang yang sedang asyik masyuk berhubungan intim tiba-tiba dikejutkan oleh dering ponsel mereka  yang ada di atas meja di samping ranjang yang tengah berderit-derit.  Aliran darah yang dipompa membanjiri dan terperangkap dalam alat vital langsung surut dan buyar. Keterkejutan mengempiskan gairah seksual. Sambil menggerutu mereka menyambar ponsel masing-masing. Keduanya menerima pesan yang sama dari ‘Pusat Pemantauan Kesehatan Nasional’: “Berdasarkan pantauan, jantung anda berdetak di atas rata-rata, tekanan darah naik di atas rata-rata, suhu tubuh mengalami peningkatan. Anda harus segera ke rumah sakit. Jika penyimpangan tanda vital dikarenakan aktivitas tertentu, silahkan isi daftar pertanyaan di bawah ini”. Pasangan itu tidak dapat menghindar, mereka harus segera mengisi daftar pertanyaan jika tidak ingin ditangkap dan digelandang ke kantor polisi dalam tempo kurang dari satu jam. 

Ilustrasi di atas mungkin terjadi dalam dunia imajiner Yuval Noah Harari – ‘The World After Coronavirus”, Financial Times, 20 Maret 2020 – yang membuat fiksi sains terasa ketinggalan jaman. Salah satu kemungkinan radikal perubahan dunia pasca pandemi adalah menguatnya pemantauan tiap individu oleh negara. Negara memasang gelang digital pada tiap lengan warga untuk memantau status kesehatannya secara langsung guna menutup resiko berulangnya pandemi. Pengawasan manusia oleh negara bergeser dari pengawasan ‘di luar kulit’ ke pengawasan ‘di dalam kulit’. Kondisi kedaruratan dipermanenkan dengan menormalkan situasi kekarantinaan beserta protokol-protokol pengawasannya. Hamlet hampir benar saat berbicara dengan Rosencrantz dan Guildenstern bahwa seluruh dunia adalah penjara. Seluruh dunia adalah karantina. 

Lockdown Wuhan menjadi model yang diperluas, dintensifkan, dan disofistikasi. Pada saat lockdown, tiap orang di Wuhan dipantau, setiap hari pada jam yang sama mereka diwajibkan mengisi daftar pertanyaan berkait kondisi kesehatan yang dikirimkan ke ponsel mereka. Pada suatu hari pada masa lockdown di Wuhan, mungkin seseorang yang akan membeli kebutuhan pokok dihentikan di ujung gang oleh sejumlah petugas. Ia diminta menunjukan layar ponselnya untuk mengonfirmasi identitas personal dan status kesehatannya saat itu. Namun, dunia karantina imajiner Yuval Hariri mungkin tidak memerlukan petugas untuk mengendalikan, gelang di lengan bukan hanya mengirim langsung informasi di bawah kulit individu secara rinci ke departemen-departemen terkait, gelang itu juga berfungsi sebagai pengendali perilaku jarak jauh, seperti kalung pengendali perilaku anjing. Kita semua menjadi Danny the Dog tanpa harus tinggal di kandang kerangkeng bawah tanah.

Bagaimana bila data biometrik yang dipancarkan melalui gelang tangan bocor atau sengaja dibagikan kepada agen pemasaran? Data biometrik yang juga dapat mencakup informasi-informasi perasaan seperti senang, sedih, marah yang merupakan respon kita saat berhadapan dengan segala macam bentuk informasi di laman internet dapat dikelola untuk menawarkan suatu komoditas yang sesuai atau  membentuk suatu komoditas tertentu agar dapat menjadi barang yang sangat kita butuhkan. Konsultan-konsultan politik dengan lembaga-lembaga polling dan survei dalam sistem demokrasi kita hari ini dapat melompati proses penyebaran kuisioner untuk mendapatkan data persepsi pemilih, bahkan dengan lebih akurat dan mencakup jumlah total populasi, jika mereka juga dapat mengakses data biometrik. Karena kapitalisme sebelum pandemi telah mengubah masyarakat menjadi massa, sistem demokrasi kita sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem pasar. Lebih setengah abad lalu Raymond Williams (1961) menulis dalam The Long Revolution, “’Massa’ mendesakan pengaruhnya untuk mengarahkan masyarakat, tidak dengan partisipasi, tapi dengan mengekspresikan suatu pola permintaan-permintaan dan preferensi-preferensi – hukum-hukum jenis baru pasar – dan ini, bagi kaum elit, adalah suatu titik tolak: dipelajari secara seksama (dengan tekhnik-tekhnik seperti penelitian pasar dan jajak pendapat), dan kemudian digarap” (p. 129). Pada pasca pandemi proses pengambilan input dan pengelolaan output sebagai strategi-strategi politik menjadi lebih efisien, efektif, dan tersofistikasi dalam demokrasi yang telah terintegrasi sepenuhnya dalam hukum-hukum pasar. 

Kapitalisme yang kembali setelah pandemi dengan lebih bugar dan kuat dari sebelumnya ini juga disokong oleh pengalaman kita menghadapi pandemi yang mungkin membentuk perilaku kita yang membatasi hubungan dengan orang lain dan benda-benda di sekeliling kita, bahkan, dengan tubuh kita sendiri. Kita mungkin tidak akan ke tempat pelacuran, duduk-duduk di bangku taman kota, membatasi ke pasar dan mall, tidak bersalaman, dan tidak menyentuh hidung dan mulut kita sendiri. Satu-satunya dunia yang menjamin higienitas adalah dunia virtual. Dunia milik segelintir orang super kaya. Dunia yang membuat kita merasa bebas meski lebih mudah dipantau, dikendalikan, dan ‘dikompas’ secara diam-diam

Terbitnya Solidaritas

If you're out there all alone
And you don't know where to go to
Come and take a trip with me
To future world
And if you're running through your life
And you don't know what the sense is
Come and look how it could be in future world
We all live in happiness our life is full of joy
We say the world tomorrow without fear
The feeling of togetherness is always at our side
We love our life and we know we will stay

(Helloween, Future World, 1987)


Tumbuhnya kapitalisme yang otoritarian bukanlah satu-satunya kemungkinan dunia yang muncul setelah pandemi padam. Pandemi telah menggasak struktur sistem ekonomi kapitalis hingga nyaris terjungkal ke dalam jurang krisis. 13 Maret 2020 CBS mengabarkan pasar saham global telah kehilangan sedikitnya enam belas triliun dolar kurang dari sebulan dan pasti akan terus membesar. Sepanjang interaksi antara manusia masih berbahaya, bisnis tidak akan kembali normal. “Dunia hampir pasti terjerat dalam resesi yang menghancurkan akibat pandemi virus Corona”, tulis koresponden ekonomi Eropa The New York Times, Peter S, Goodman, pada 1 April 2020. Ekonomi pasti akan keluar dari krisis dan kembali normal, setelah pandemi padam, tapi ekonomi tak akan kembali pada kenormalan seperti sebelum pandemi. 

Tindakan dan kebijakan efektif langsung yang dibutuhkan pada masa pandemi bukan kebijakan moneter dan fiskal, tapi pengendalian-pengendalian untuk perlindungan kesehatan dan mitgasi dampak-dampak sosial-ekonomi. Negara dipaksa meninjau kembali sistem kesehatan nasional. Kekhawatiran akan meletusnya krisis sosial yang luas yang dipicu kepanikan massa akan ketakmampuan memenuhi kebutuhan hidup karena pembatasan-pembatasan yang mengakibatkan hilangnya pekerjaan, negara, lebih dari sebelumnya, mengalokasikan kemampuan ekonominya untuk membantu kelompok-kelompok masyarakat miskin.  

Ironi, pandemi yang menjauhkan orang dari orang lain justru membuat orang lebih memikirkan orang lain karena takut penularan. Ketakutan melahirkan tindakan-tindakan pencegahan berupa inisiatif-inisiatif sosial dalam hal himbauan dan pemantauan ketetanggaan hingga mitigasi kebutuhan pangan dalam lingkungan ketetanggaan bahkan lebih luas. Prakarsa-prakarsa sosial bahkan menjangkau upaya-upaya membantu memenuhi kekurangan rupa-rupa alat pelindung diri yang dibutuhkan para tenaga kesehatan. Solidaritas sosial negara dan masyarakat tumbuh didorong oleh kondisi darurat yang disebabkan ketakutan akan pendemi.

Gelombang solidaritas sosial bahkan tumbuh melampaui batas-batas nasional, membesar hingga melingkupi dunia internasional. Di tengah kamarahan para menteri Jerman atas tawaran pembelian Amerika untuk hak ekslusif  vaksin potensial untuk virus Corona yang dikerjakan oleh perusahaan farmasi Jerman, anggota komite kesehatan parlemen Jerman, Erwin Ruddel, kepada The Guardian pada 16 Maret 2020 mengatakan, “yang penting sekarang kerjasama internasional, bukan kepentingan nasional”. Pada CNBC tanggal 20 Maret 2020, salah satu direktur eksekutif WHO, Dr. Mike Ryan, menegaskan, “. . . kita harus punya vaksin yang tersedia untuk setiap orang. Harus ada akses yang adil dan setara atas vaksin bagi setiap orang”. 
  
Dalam Paralimpomena to “On the Concept of History”, Walter Benjamin (1940) menulis, “Marx mengatakan bahwa revolusi adalah lokomotif sejarah dunia. Tapi barangkali sangat sebaliknya. Barangkali revolusi adalah upaya para penumpang di dalam kereta – yakni ras umat manusia – untuk menarik rem darurat”. Bagi Fredric Jameson, gagasan Benjamin ini ganjil, akselerasi kapitalisme itu sendiri adalah kondisi untuk revolusi. Namun, bagi Benjamin, kapitalisme adalah suatu kondisi darurat yang dinormalkan (gagasan ini dikembangkan lebih jauh oleh Agamben), untuk itu kesadaran penumpang akan kondisi darurat di balik akselerasi kapitalisme itulah yang mendorong para penumpang untuk menarik rem darurat. Namun demikian, di tengah pandemi ini, ternyata kesadaran penumpang akan kondisi darurat tidak tumbuh dari balik akselerasi kapitalisme, tapi saat akselerasi kapitalisme terhenti dihantam virus Corona. Seperti potensi utopis yang ditarik keluar dari film-film bencana kosmik oleh Fredric Jameson, ancaman bencana global virus Corona melahirkan solidaritas global. Mengutip Slavoz Zizek dalam “’Kill-Bill’-esque”, “Poinnya adalah bukan secara sadis menikmati penyebaran penderitaan sepanjang penderitaan membantu masalah kita – sebaliknya, poinnya adalah merefleksikan fakta menyedihkan bahwa kita membutuhkan suatu bencana agar kita mampu memikirkan ulang corak paling dasar masyarakat yang kita tinggali”. 

Pandemi virus Corona yang menciptakan kondisi darurat membuat kita bergandengan-tangan dan bahu-membahu. Solidaritas internasional yang tumbuh untuk mengatasi pandemi teranyam bersama dengan solidaritas nasional sampai solidaritas komunitas-komunitas sosial kecil seperti RT/RW. Segala bentuk tindakan yang bertentangan dengan solidaritas, seperti ketamakan Amerika yang berusaha membeli hak eksklusif perusahaan pemroduksi vaksin di Jerman, ditolak. Sebaliknya, kedatangan dokter-dokter Kuba di Spanyol dan Italia disambut dengan tepuktangan. Meneladani paket bantuan dari Jepang yang menempelkan puisi kuno Cina “Walaupun kita adalah laut yang terpisah, bulan yang sama menautkan hati”; paket bantuan Cina ke Iran dan Italia datang beserta kutipan puisi dari penyair dan filsuf negara penerima yang mengungkapkan kasih sayang dan menghancurkan perbedaan. “Kita adalah ombak dari lautan yang sama, daun-daun dari pohon yang sama, bunga-bunga dari taman yang sama”; kutipan Seneca dari Cina untuk Italia. Untuk Iran, kutipan dari Saadi, “Masing-masing anak Adam adalah anggota tubuh, diciptakan untuk satu hakikat”. Pada sisi lain, jauh di Jember, ibu-ibu di Perumahan Bumi Tegal Besar berusaha menggalang bantuan untuk mengatasi dampak kesulitan pangan bagi warga yang tidak beruntung.  

Setelah pandemi mungkin bukan pengawasan dan kontrol ketat yang menjadi permanen, sebaliknya, mungkin solidaritas sosial mengambil tempat hukum-hukum pasar bebas. Istilah ‘individu’ seolah dibebaskan dari jerat pasar bebas dan mendapatkan kembali maknanya yang kuno, yang tersimpan dalam skriptur keagamaan. ‘Individu’ bukan lagi ‘yang terpisah’, tapi kembali sebagai ‘yang tak terpisahkan’ sebagaimana istilah itu mengacu pada Tri-Tunggal. ‘Individu’ yang tak terpisahkan mungkin kembali dengan membawa ingatan akan sisi utama dari ‘manusia telanjang’ yang lahir bersama pasar bebas, yakni hak-hak dasar. Etika pasar bebas ‘siapa yang bekerja keras akan berhasil’ mungkin akan berubah menjadi ‘bekerja keras untuk keberhasilan bersama’.  

Tamatnya Antroposentrisme

I fell into the ocean
And you became my wife
I risked it all against the sea
To have a better life
Marie you are the wild blue sky
Men do foolish things
You turn kings into beggars
Beggars into kings
Pretend that you owe me nothing
And all the world is green
We can bring back the old days again
When all the world is green

(Tom Waits, 2002, All The World is Green)

Virus Corona yang menjangkiti dan menular antara manusia barangkali menyentak kesadaran bahwa manusia bukanlah pusat dunia. Manusia hanyalah bagian dari alam yang berhubungan secara interaktif dengan manusia lain, lingkungan dan makhluk-makhluk lain, termasuk mikroorganisme. Penumpang kereta api dalam metafor Walter Benjamin ternyata bukan hanya umat manusia, tapi juga makhluk-makhluk lain dan lingkungan alam. Bukan umat manusia yang menarik rem darurat saat lokomotif melaju, tapi mikroorganisme bernama virus Corona.

Kejatuhan dramatis dan cepat kerajaan Aztec yang besar pada Agustus 1521 – Hernando Cortes tiba di ibu kota Aztec, Tenochtitlan, 1517 – bukan hanya disebabkan oleh kekuatan dan kecanggihan persenjataan penakluk Spanyol. Penyakit cacar yang mewabah memainkan peran penting pada kejatuhan Aztec. Penyakit cacar yang dibawa oleh budak bernama Francisco Eguia dari Cuba ke Mexico (Aztec), diangkut dengan kapal pasukan Spanyol kedua yang dipimpin Panfilo de Narvaez tahun 1520, menular di tengah-tengah penduduk Tenochtitlan seperti api melalap jerami kering dan menghamparkan pemandangan mengerikan-menjijikan mayat-mayat yang berkaparan. Penulis kronik Cortes, menceritakan mereka tidak dapat melangkah tanpa menginjak tubuh-tubuh dan kepala-kepala orang Indian mati. 

Pada awal abad 18, tahun 1770 -1771, mikroorganisme juga memainkan peran penting dalam perang Bayu yang berujung pada kejatuhan dan sirnanya kerajaan Blambangan. Mungkin bukan hanya kharisma kosmologis Rempeg dan penindasan yang mendorong penduduk Blambangan mendaki lereng gunung Raung untuk bergabung dengan pasukan pejuang di Bayu. Wabah disentri mengerikan yang menguar di daerah pesisir yang berawa-rawa dan lembab mungkin menjadi faktor yang mendesak para penduduk untuk mengungsi ke Bayu. Wabah itu begitu mengerikan sehingga dikatakan bahkan mereka yang berlindung di balik benteng di pantai pun tak dapat mengelak. Pasukan kompeni bantuan dari Semarang yang sedang melayari laut Jawa yang mendengar wabah mengamuk di Blambangan pasti sudah melarikan diri jika tak  diancam tembak mati oleh pemimpinnya. Kekuatan pejuang yang terpusat dan terisolir di Bayu dengan mudah dipukul dengan menghancurkan sumber-sumber pangan dan memblokade jalur-jalur pasokan logistik. Pejuang-pejuang Bayu yang dikenal berani dan keras kepala dilumpuhkan oleh wabah dan kelaparan. Wabah, kelaparan, dan senjata kompeni membunuh dan ‘mengusir’ orang-orang Blambangan hingga penduduk Blambangan tersisa kurang dari 10% setelah Blambangan jatuh.

Wabah penyakit bukan hanya menjadi faktor dalam perubahan sosial masyarakat. Pun sebaliknya, perubahan sosial atau perubahan peradaban juga menjadi faktor pemicu kemunculan wabah penyakit. Perubahan dari masyarakat pengumpul dan pemburu menjadi masyarakat agraris yang diiringi oleh pemusatan manusia, binatang-binatang ternak, dan hama-hama memungkinkan penyakit-penyakit yang menginfeksi binatang dan hama beradaptasi untuk dapat menginfeksi manusia. James C. Scott (2009) pada bab Keeping State at Distance, sub bagian Crowding, Health, and the Ecology of State Space dalam The Art of Not Being Governed menulis, “Pertanian biji-bijian menetap dan pemeliharaan ternak-ternak domestik (babi, ayam, angsa, itik, sapi, biri-biri, kuda dan sejenisnya) merupakan, ini jelas, lompatan besar untuk penyakit-penyakit infeksius (menular). Banyak dari penyakit epidemik yang mematikan yang kita derita – cacar, flu, tbc, pes, campak, dan kolera – adalah penyakit-penyakit zoonotis yang berevolusi dari binatang-binatang yang didomestikasi. Kerumunan adalah hal penting. Dan kerumunan berarti tak hanya terpusatnya orang-orang tapi juga binatang-binatang domestik dan hama-hama ‘wajib’ yang tak terhindarkan menyertainya: tikus, nyingnying, kutu, kepinjal, tungau, dan sebagainya. Sepanjang penyakit yang dipersoalkan disebarkan oleh kedekatan (batuk, sentuhan, sumber air bersama) atau melalui hama-hama wajib, tingkat kepadatan inang belaka merepresentasikan suatu lingkungan ideal untuk penyebaran wabah penyakit secara cepat”. Menjadi jelas bahwa perubahan peradaban, sering diasosiasikan sebagai kemajuan atau pencapaian umat manusia, yang membawa perubahan hubungan-hubungan antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan binatang, serta perubahan ekologi telah memaksa virus dan bakteri melakukan adaptasi-adaptasi yang diperlukan untuk kelangsungan hidup mereka. 

Penularan virus Corona yang diperkirakan dari binatang liar – kelelawar – ke manusia mesti dilihat sebagai hasil adaptasi virus tersebut terhadap lingkungan sosio-ekologi yang berubah. Ledakan kepadatan penduduk yang membuat permukiman merangsek sampai merampas habitat binatang liar, hingga persentuhan antara manusia dan binatang liar berpeluang besar terjadi, mengakibatkan penularan penyakit atau perpindahan mikroba dari binatang liar ke manusia rentan terjadi. Perubahan gaya hidup, terutama terkait kuliner, yang kerap memperluas penikmat selera dan manfaat tertentu menyantap hewan liar yang berasal dari kebudayaan kuno, telah memicu ledakan permintaan terhadap binatang-binatang eksotis sebagai bahan pangan hingga pasar-pasar binatang eksotis tumbuh di mana-mana. Barangkali para penikmat olahan binatang eksotis di restoran-restoran punya resiko kecil untuk dihinggapi virus atau mikroba dari binatang liar santapannya yang telah dimasak. Namun, di pasar-pasar yang disesaki binatang-binatang hidup membuat para pembeli, para penjual, para penjagal dan para tukang daging beresiko besar menjadi inang baru bagi virus yang sudah beradaptasi dan kemudian menularkannya ke orang lain. 

Pandemi virus Corona barangkali membuat manusia menengok kembali pada sistem biologisnya yang ternyata merupakan rumah untuk sekitar 100 triliun mikroba. Makhluk-makhluk tak kasat mata telanjang itu bukan penyerobot atau anak kos, mereka adalah pemilik sah dan berfungsi menyokong hidup manusia juga diri mereka sendiri: pencernaan, pembentukan vitamin, hingga melindungi tubuh dari mikroba asing atau penyakit. Karenanya, sistem tubuh yang menopang hidup manusia tidak hanya terdiri dari organ-organ, tapi juga termasuk triliunan mikroba. Keberadaan hidup manusia sendiri sebenarnya adalah suatu koeksistensi hidup antara manusia dengan mikroba. Apa jadinya bila triliunan mikroba itu mogok menjalankan fungsinya? 

Mari kita bayangkan – bersama viralnya gambar dan foto-foto sejumlah lingkungan di dunia yang ‘memulihkan diri’ saat lokomotif kapitalisme ditarik rem daruratnya oleh virus Corona – orang-orang memborong alat-alat kontrasepsi dan pil-pil pencegah kehamilan agar spesiesnya tidak lagi mengekspansi habitat spesies lain. Kemajuan tidak lagi dilihat dari bagaimana manusia mencapai kesejahteraan dirinya dan kaumnya, tapi juga dilihat dari pencapaian kesejahteraan makhluk lain dan lingkungan alam. Suatu kesadaran baru tumbuh, bahwa semesta adalah suatu sistem saling ketergantungan yang tidak menempatkan manusia lebih tinggi dari nyamuk, mikroba, laut, dan gunung. 

Bagaimana rupa dunia setelah pandemi padam? Berbagai bentuk kekuatan sosial tampaknya tengah berkontestasi di tengah pandemi. Kebijakan lockdown Cina oleh berbagai negara dikecam sebagai kebijakan draconian. Trump masih juga memperkeras sangsi terhadap Iran yang sudah babak-belur dihajar Corona. Di Indonesia, terbitnya Kepres dan Perppu yang mengesankan kesungguhan penanganan virus Corona dan dampak-dampaknya ditingkahi oleh DPR yang berkeras menjalankan proses pembahasan Omnibus Law, oleh banyak pihak dikritk sebagai pro pengusaha dan anti-lingkungan, di tengah para tenaga kesehatan yang menjerit kekurangan alat pelindung diri. Prakarsa-prakarsa sosial tumbuh, bahu-membahu berusaha menambal kebocoran-kebocoran penanganan pandemi yang dilakukan oleh pemerintah. Sebaliknya, ketakutan-ketakutan telah mendorong sebagaian masyarakat untuk melindungi diri dan komunitasnya dengan ketat dan keras, seperti menolak pemakaman jenasah pengidap Corona di lingkungannya. Belum lagi munculnya bayangan sikap diskriminatif terhadap bekas pengidap Corona. Kita seperti berada di persimpangan, sementara korban terus berjatuhan.   
     
Still don't know what I was waitin' for
And my time was runnin' wild
A million dead end streets and
Every time I thought I'd got it made
It seemed the taste was not so sweet
So I turned myself to face me
But I've never caught a glimpse
How the others must see the faker
I'm much too fast to take that test       

(David Bowie, Change, 1971)


___
Dwi Pranoto merupakan seorang esais, penerjemah, pemerhati budaya dan sastrawan kelahiran Banyuwangi. Puisinya dimuat antara lain di antologi bersama Cerita dari Hutan Bakau (Pustaka Sastra, 1994), dan Lelaki Kecil di Terowongan Maling (Melati Press, 2013). Buku puisi tunggalnya Hantu, Api, Butiran Abu (Gress, 2011). Karya terjemahannya Piramid (Marjin Kiri, 2011), novel karya Ismail Kadare. Kini dia tinggal di Jember sambil terus menulis dan mengisi berbagai acara kebudayaan.

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.