News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Program Pemangkasan Populasi Manusia - Hafis Azhari

Program Pemangkasan Populasi Manusia - Hafis Azhari

PROGRAM PEMANGKASAN POPULASI MANUSIA
oleh Hafis Azhari
(Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten)



      KAWACA.COM | Sejak zaman penemuan mesin uap hingga revolusi mesin cetak, konon tidak ada yang menyamai dahsyatnya perubahan dibanding era revolusi digital saat ini. Dilaporkan oleh badan internasional PBB, sampai awal tahun 2030 nanti, diperkirakan tidak kurang dari dua miliar manusia akan kehilangan pekerjaan di seluruh dunia. Karena itu, pemerintah Amerika Serikat selalu membahas soal pelatihan ulang SDM pada pekerjaan-pekerjaan alternatif.
      Saat ini, miliaran manusia hidup di tengah inovasi besar yang menyebabkan segala hal yang diperbuat di masa lalu menjadi ketinggalan zaman. “Sejak dulu hidup manusia diperkaya dan dipermudah oleh teknologi. Namun, tak ada yang menimbulkan dampak yang hebat seperti era sekarang ini,” tegas Mary Aiken, seorang psikolog Cyber.
      Di sisi lain, ratusan perfilman Amerika (Hollywood) dengan tema yang sama telah diproduksi. Seumumnya memberikan solusi bahwa penyelesaian dari lompatan perubahan ini adalah upaya pemangkasan populasi manusia yang sudah mencapai 7,7 miliar lebih. Lagi-lagi, paradigma berpikir klasik manusia Barat, sejak masa eksperimentasi Prometheus maupun Odysseus, yang kemudian diolah kembali dalam karya Franz Kafka, lalu dirilis kembali dalam karya-karya sastra masa kini, seolah bersenandung sama: “Kita semua sedang berada dalam kecelakaan maut di tengah terowongan rel kereta api yang amat panjang. Setiap orang hanya bisa meraba dan berharap adanya cahaya.
      Tetapi, tiap kali cahaya keluar ditemukan, tiba-tiba ia menghilang kembali, hingga semua orang kebingungan menentukan dari mana kita masuk dan di mana jalan keluar.”

Paradigma yang Sama

      Jika paradigmanya sama, maka samalah artinya dengan menyimpan software atau state of mind yang tidak berubah. Lalu, muncullah pertanyaan cerdas dari generasi milenial yang menyoal Corona dan Covid-19 adalah bagian dari rekayasa genetika yang pada dasarnya dirancang oleh mereka-mereka juga.
      Ya, siapa lagi kalau bukan mereka, para insinyur social engineers yang berseragam putih-putih di pusat-pusat laboratorium itu? Siapakah mereka yang menanam elektroda ke dalam otak-otak manusia, lalu mendeteksi segala pikirannya yang serba rahasia? Siapakah mereka yang mengobservasi sepasang pria-wanita yang bersetubuh, untuk dibuatkan statistiknya mengenai gerak dan getaran dua sejoli, sebagaimana kita mengobservasi dua ekor jangkrik yang sedang diadu? Siapa lagi kalau bukan mereka, yang merancang gen-gen yang dimanipulasi sedemikian rupa, seperti halnya ikan-ikan duyung militer yang menjadi pilot-pilot Kamikaze dulu?
      Dalam kaitannya dengan virus Corona yang diproduksi oleh mereka, seorang mantan pejabat CIA, Philip Giraldi menulis argumennya di Strategic Culture Foundation (5 Maret 2020), sebagai berikut:
      “Kepanikan Donald Trump yang selalu mengangkat isu mengenai daya saing global dengan Cina, sebagai ancaman langsung terhadap keamanan dan ekonomi nasional, bisa saja membuat Washington melepaskan virus dalam upaya menciptakan ekonomi dan militer Beijing jatuh beberapa tingkat. Hal ini memang sulit dipercaya, seakan-akan Gedung Putih tidak bakal melakukan keputusan sembrono seperti itu. Tetapi, memang preseden untuk jenis perilaku memalukan itu sering mereka lakukan. Misalnya, pada tahun 2005 hingga 2009, pemerintah Amerika dan Israel secara diam-diam mengembangkan virus komputer yang disebut Stuxnet, yang dimaksudkan untuk merusak sistem kontrol dan pengoperasian komputer Iran yang digunakan dalam program penelitian nuklir. Mereka menyatakan, Stuxnet itu hanya untuk merusak komputer, bukan untuk menginfeksi atau membunuh manusia. Tetapi, kekhawatiran bahwa itu akan menyebar dan menginfeksi komputer di luar Iran terbukti akurat. Dan negara pertama yang menjadi pusat penyebaran itu adalah Cina, kemudian Jerman, Kazakhstan, hingga Indonesia.”
      Di akhir tulisannya, Philip Giraldi, sang mantan pejabat CIA yang telah menerima “hidayah” itu menandaskan:
      “Sangat mungkin jika Israel berperan selaku mitra dari proyek senjata biologis ini. Mereka juga berperan mengembangkan virus, lalu pada waktunya akan pamer bagaimana para ilmuwan Israel telah berhasil menciptakan vaksinnya dengan begitu cepat.”
      Dari perspektif seorang pakar Bioteror dalam negeri, Samihardjo menjelaskan bahwa pola penyebaran virus Corona memang persis sama dengan kasus flu burung, duabelas tahun silam. Baginya, mereka telah berhasil mengutak-atik perkembangan virus itu dengan teknologi rekayasa genetika (genetic engineering), sehingga membentuk virus baru yang belum ada vaksinnya, atau bisa jadi sudah ada vaksinnya namun dirahasiakan terlebih dahulu.
      Perlu diketahui untuk kalangan awam (termasuk para pejabat tinggi yang malas belajar), bahwa COVID-19 itu adalah nama penyakitnya. Virusnya itu sendiri secara resmi telah dirilis oleh ICTV (International Committee on Taxonomy of Viruses) dengan nama SARS CoV-2. Yang menjadi pertanyaan kita, mengapa mereka terburu-buru memberi nama virus SARS jilid dua? Hal ini mengindikasikan sumber penyakit COVID-19 adalah pengembangan yang lebih canggih dari virus SARS sebelumnya.

Faust dan Mefisto

      Apakah kita akan membiarkan nasib Faust berakhir dalam cengkeraman Mefisto (raja iblis)? Di dalam Alquran, iblis memang diberi kesempatan untuk menjalani hidup sebagai perusak dan penggoda manusia hingga akhir zaman. Tetapi, Faust sebagai manusia biasa, jelas memiliki keterbatasan-keterbatasan. Ia bisa lupa, lengah, tertidur, bahkan menghadapi usia tua, kesehatan yang menurun, hingga kematian.
      Apakah seorang Faust akan terus menuruti bisikan iblis dengan mempertahankan keangkuhan intelektualnya, lalu berpendapat sebagaimana pakar biologi modern, Jacques Monod, bahwa realitas kehidupan manusia termasuk flora dan fauna, hanyalah suatu hasil kebetulan semata dari suatu proses kebetulan dan perbenturan serba kebetulan menuju kepada sesuatu yang serba kebetulan. Evolusi setiap jenis makhluk tidak terencana sebelumnya sampai kepada titik akhir sang makhluk muncul di permukaan bumi. Kemudian, menghilang kembali ditelan bumi karena faktor-faktor kebetulan belaka.
      Kita mengenal tokoh Faust gubahan Wolfgang Goethe sebagai eksplorator ulung. Dialah lambang manusia progresif yang tak gentar mengambil risiko demi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan tata perdagangan baru yang menjadi demam orang-orang Barat imperialis (tak terkecuali Trump dan para pendukungnya juga). Tetapi, segala hal tergantung pada niatnya. Jika kita melihat konteks pengembangbiakan virus Corona di laboratorium, tentu memiliki niat yang berbeda dengan ketulusan seorang Marie Curie (1867-1934), seorang ahli fisika dan kimia yang menemukan unsur radioaktif polonium dan radium di awal abad ke-20.
      Berkat ketekunan dan pengabdiannya yang tulus demi kemanusiaan, Marie Currie akhirnya dinobatkan sebagai wanita pertama peraih nobel di bidang fisika (1903), kemudian ia pun mendapat anugerah nobel yang kedua kalinya di bidang kimia (1911). Kemenangan yang diraihnya, mendapat sambutan yang meriah dari para ilmuwan dunia. Sehaluan dengan pernyataan seorang filsuf wanita Prancis, Simone Weil yang menganalisis orang-orang yang tekun menelusuri kebenaran: “Sejauh apapun manusia mencari jalan kebenaran, pada akhirnya kebenaran itu didapatkan berkat rahmat dan kasih sayang Tuhan. Bukan atas jerih-payah dan kekuatan dirinya sendiri.”
      Sementara mereka yang punya niat-niat jahat untuk membangun pencitraan diri dan kelompoknya, dengan merusak dan mengorbankan peradaban bangsa-bangsa lain, tak ubahnya dengan menciptakan “juggernaut” yang dalam sepanjang sejarah, selalu menghancurkan dan menenggelamkan dirinya sendiri…. *

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.