Live KAWACA TV
Tonton
wb_sunny

CURAH PENDAPAT (BRAINSTORMING): OPERA I'M NOT FOR SALE - Emi Suy

CURAH PENDAPAT (BRAINSTORMING): OPERA I'M NOT FOR SALE - Emi Suy

CURAH PENDAPAT (BRAINSTORMING): OPERA I'M NOT FOR SALE

oleh Emi Suy




Kami berada dalam tahap melakukan mengumpulkan gagasan untuk mencari ide agar mendapatkan solusi pada proses produksi Opera Musik Klasik I'm Not For Sale : Menyelamatkan Kehidupan. Dengan brainstorming ini kami dapat menemukan ide mengidentifikasi persoalan, lalu mencari solusinya secara kolektif. Ini merupakan bagian dalam proses kreatif kami.

Opera ini berkisah tentang tentang Auw Tjoei Lan, perempuan keturunan Tionghoa yang melawan perdagangan manusia di Batavia di masa penjajahan Belanda, mendirikan Rumah Hati Suci mengabdikan hidupnya untuk kemanusiaan. Sebuah karya kemanusiaan -- memanusiakan manusia, dan memuliakan kehidupan.

Opera Musik Klasik merupakan penggabungan musik (klasik tentunya), nyanyian, dan teater. Kolaborasi dari beberapa aspek untuk menghasilkan sebuah pertunjukan yang spektakuler. 

Pada opera yang sedang kami garap ini, teks yang dipergunakan disusun dalam bentuk puisi. Inilah yang menjadi tugas saya selaku penulis naskah yang lazim disebut libretto atau scriptwriter. Saya menyusun puisi berdasarkan hasil riset, berupa studi literatur dari buku tentang perjuangan Auw Tjoei Lan, mewawancarai keluarga serta pihak-pihak yang bersentuhan dengan beliau, serta sumber lain seperti brainstorming atau curah pendapat ini.

Proses curah pendapat dimulai dari Mas Ananda Sukarlan memeras sari-sari puisi yang saya tulis yang merupakan adaptasi kisah nyata perjuangan Auw Tjoei Lan menjadi musik sehingga menghasilkan partitur dan puisinya akan dinyanyikan oleh soprano, tenor, bariton dengan perpaduan gerak tari dan theater yang akan diperankan oleh beberapa tokoh utama dan juga tokoh pendukung.  

Setelah musik selesai digarap oleh Mas Ananda Sukarlan menentukan plot alur cerita dan disampaikan pada Mas Rama untuk diolah menjadi sebuah rangkaian opera musikal yang menjadi satu kesatuan yang utuh dengan mengisahkan cerita yang menarik dengan dramaturgi yang mampu menguras air mata penonton juga ada adegan-adegan yang akan membuat tawa penonton pecah. 

Dengan curah pendapat ini akhirnya ditemukannya bagian-bagian yang berlubang yang harus ditambal dengan plot yang akan menambah sempurnanya sebuah rangkaian peristiwa yang disajikan lewat opera. 

Bertempat di kediaman Ibu Yana Handali di Bilangan Jakarta Selatan pada hari Jumat 22 Maret 2024, Mas Ananda Sukarlan , Mas Chendra Panatan , Ibu Nina Prawiro, Mas Rama Soeprapto, dan saya Emi Suy. Ini kali merupakan rapat kedua versi lengkap namun rapat ke sekian kali dalam proses penulisan naskah. 

Setelah ini masih panjang perjalanan proses produksinya mulai dari audisi pemeran masing-masing tokoh, persiapan mencari desainer untuk pengadaan kostum untuk masing-masing pemeran, hingga sesi latihan tokoh-tokoh pemainnya. 

Kiranya semoga niat mulia ini diberikan kemudahan dan kelancaran dalam prosesnya, semoga sukses luar biasa di hari H pementasannya. Sebuah dedikasi untuk Pahlawan Perempuan Auw Tjoei Lan. Saya menyebutnya Pahlawan karena keberaniannya melawan praktik-praktik perdagangan perempuan dan anak yang marak terjadi pada saat itu era penjajahan Belanda dan berlanjut pada era penjajahan Jepang. 

Opera yang digarap oleh Mas Ananda Sukarlan berjudul “I'm Not for Sale: Menyelamatkan Kehidupan”. Dalam opera tersebut, tokoh Ny. Auw Tjoei Lan akan diperankan oleh soprano Mariska Setiawan, seorang penyanyi sopran berbakat yang kini sedang naik daun, dan pementasan melibatkan Ananda Sukarlan sebagai Composer dan Casting Director. Stage Decor & Artistic Director oleh Rama Soeprapto, koreografi Hartati dan sutradara Chendra Panatan.

 Mariska akan menyanyikan cuplikan opera ini untuk pertama kalinya tanggal 4 Juli 2024 nanti bersama Melbourne Symphony Orchestra saat kunjungan mereka ke Jakarta dalam rangka perayaan 75 tahun hubungan diplomatik antara Australia dan Indonesia. Ratna juga akan kembali memerankan sebagai seorang korban di opera yang rencananya akan diperdanakan pada November 2024 ini.

Opera yang menceritakan tentang perjuangan Auw Tjoei Lan ini dilatarbelakangi oleh isu perdagangan manusia masih menjadi PR besar bagi bangsa Indonesia. Perdagangan manusia masuk ke dalam kategori kejahatan luar biasa. Pada tahun 2020-2022 terdapat 1.418 kasus dan 1.581 korban yang dilaporkan. Sebanyak 96% korban perdagangan orang adalah perempuan dan anak (data SIMFONI PPA). Fakta ini memantik rasa kemanusiaan kami -- Rumah Hati Suci bersama KEMENPPPA -- untuk membuka mata dunia lebih lebar tentang urgensi isu perdagangan manusia.

Ananda Sukarlan dan Tim ingin mengemas pesan penting ini melalui media seni opera yang menggabungkan seni teater, musik dan tari. Kami meyakini cara ini dapat memantik kesadaran di masyarakat, karena pengemasan pesan yang mudah diterima serta menggugah perasaan. Opera kemanusiaan ini akan mengangkat kisah heroik dan inspiratif dari Ny. Auw Tjoei Lan, seorang perempuan Tionghoa, yang pada tahun 1914 telah memerangi perdagangan perempuan. 

Siapakah AUW TJOEI LAN? Auw Tjoei Lan atau dikenal juga sebagai Ny. Lie Tjian Tjoen, adalah seorang istri seorang Kapitan China yang bermukim di Batavia setelah menikah. Di sanalah hati Auw Tjoei Lan mulai terpanggil untuk menyelamatkan anak-anak dan perempuan korban perdagangan manusia.

Para korban umumnya didatangkan dari daratan China yang dijanjikan kehidupan yang lebih baik di Batavia. Namun, faktanya mereka dijual ke rumah bordil dan terjerat prostitusi. Mereka lantas diselamatkan Auw Tjoei Lan, dan dibekali keterampilan di Rumah Ati Soetji. Dampaknya, putri dari pengusaha dan Kapitan Auw Seng Hoe ini pernah diancam akan dibunuh dan menerima kekerasan fisik dari orang-orang yang tidak suka bisnis prostitusinya "diusik". 

Peran Auw Tjoei Lan dinilai signifikan dalam memperjuangkan HAM di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Namun, sosoknya belum banyak dibicarakan yang berpengaruh ke minimnya catatan sejarah tentangnya. Oleh karena itu, Ananda Sukarlan, seorang komponis dan pianis terkemuka, berinisiatif menghadirkan pertunjukkan "Musuh si Mucikari" untuk mencatatkan sejarah perjuangan Auw Tjoei Lan melalui seni opera. 

Adapun Rumah Ati Soetji (saat ini menjadi Rumah Hati Suci), yang didirikan sejak 1914, sampai saat ini masih berdiri untuk meneruskan nilai kemanusiaan dan semangat Auw Tjoei Lan yang berfokus mengasuh anak-anak perempuan terlantar yang tidak mampu, hingga korban kekerasan.

Auw Tjoei Lan (1889-1965) adalah seorang wanita kelahiran Majalengka sekaligus istri dari Kapitan China, Lie Tjian Tjoen. la dikenal sebagai pahlawan keturunan Tionghoa yang memiliki peran besar dalam menyelamatkan ratusan anak-anak dan perempuan dari aksi kriminal perdagangan manusia pada abad ke-19. la menampung, melindungi dan membekali para korban dengan berbagai keterampilan di Roemah Ati Soetji yang didirikannya. 

Perjuangan Auw Tjoei Lan tidak berjalan mulus. Para mucikari geram dengan aksinya hingga melakukan berbagai serangan hingga ancaman pembunuhan. Namun, Auw Tjoei Lan tak gentar. la tetap pasang badan demi para korban hingga akhirnya perjuangannya berbekas dan masih terus berlanjut melalui eksistensi Rumah Hati Suci yang telah bertahan 109 tahun lamanya hingga sekarang.

Jasa Auw Tjoei Lan yang luar biasa dalam aksi kemanusiaan dirasa pantas disejajarkan dengan R.A Kartini dan Dewi Sartika. Namun, namanya tidak melambung tinggi sebagaimana dua sosok perempuan yang disebut belakangan, malah cenderung tidak dikenal. Opera ini akan menjadi sekian anak tangga lainnya untuk mencatatkan dan melambungkan nama Auw Tjoei Lan sebagai salah satu pahlawan kemanusiaan abad-19, atau sekurang-kurangnya pahlawan nasional. 

Menurut saya, Auw Tjoei Lan adalah pembawa obor nilai yang penting dan relevan kita bicarakan sekarang, dan tentu saja kita mesti banyak mengangkat perempuan-perempuan hebat lainnya, yang turut membawa obor nilai yang sama, yang membawa kita dari kegelapan menuju ke “terbitnya terang”. 

Jika Anda penasaran dengan kisah dramatis Auw Tjoei Lan dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaan yang dibalut dengan megahnya orkestra dari Ananda Sukarlan? Yuk, saksikan dalam opera "Musuh si Mucikari". Itulah sekilas tentang opera berjudul “I'm Not for Sale: Menyelamatkan Kehidupan.”




Penasaran seperti apa nantinya? Tunggu ya tanggal mainnya...

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.