Quote Hari Ini

"Jatuh cinta itu hanya sekali, selebihnya terpeleset"

Penyair F. Rahardi Menyusup Baca Puisi di Acara Perkawinan

#KAWACA.COM - Dusun Slamet berhimpitan dengan hutan karet yang hijau dan selalu lembap. Di tempat sepi itu keluarga Pak Hadi Sugito hen...

#KAWACA.COM - Dusun Slamet berhimpitan dengan hutan karet yang hijau dan selalu lembap. Di tempat sepi itu keluarga Pak Hadi Sugito hendak melakukan acara ngunduh mantu. Putranya Heri Candra Santosa mengawini Akhil Bashiroh akan diupacarai, layaknya pemuda kampung.

Para tamu pasti akan dibuat terbengong-bengong, karena tak ada acara ritual pengantin Jawa yang rumit nan sakral. Deret acara selama empat hari, nyaris semua beraroma sastra.
Kamis, 16 November 2017 ada acara Layar Tancep, film Wali Songo oleh komunitas Hysteria, Semarang.
Jumat, 17 November 2017 Sastra Tandur, yakni warga dilibatkan menanam tanaman di sepanjang jalan tanah di depan rumah Pak Hadi Sugito. Dilanjutkan dolanan anak-anak dengan Babahe Widyo Laksono. Malamnya bedah buku kumpulan cerpen berjudul Menunggu Kelahiran karya Akhil Bashiroh, pengantin perempuan. Kumcer itu akan dibongkar oleh Gunawan Budi Susanto.
Sabtu, 18 November 2017 Baca puisi dari teman-teman, para tamu dan termasuk ketua RT.
Minggu, 19 November 2017, Wayang Lady Gaga oleh Ki Pambuko Septiardi dengan lakon Gandos Percil Nyumbang. Sebagai penutup ada pengajian bersama oleh KH Amin Budi Harjono.

Yang menohok ulu hatiku, bagaimana Heri berani menundukkan ego orang tua dan kerabat yang pasti lebih mencintai tradisi Jawa ketimbang sastra ? Bagaimana ia akan menjawab pertanyaan warga dan tetangga?

Sepertinya sastra sudah menyatu dengan jiwanya. Bukan saja ia tamatan Fakultas Sastra Undip, tetapi ia pentolan Komunitas Lereng Medini (KLM). Berbagai kegiatan sastra, baik Parade Obrolan Sastra dan Kemah Sastra, ia berada di garis terdepan.

Aku menyaksikan sendiri, ia sering membuat resensi dari buku yang ia baca. Ia menulis di media dengan berbagai tema. Sebelum ia menikah, ia mondok di kantor AJI Semarang. Singkatnya, ia menikmati dunia sastra, menulis, membaca dan berinteraksi dengan teman-teman pengarang.

Kado Poesie
Terkait rencana perkawinannya, aku dapat tugas mengumpulkan puisi. Sebut saja Kado Poesie aku cari dari teman-teman dekat yang tentu saja yang mengenal Heri. Beberapa puisi telah dikirim antara lain dari Tien Soewartinah dari Pontianak, Jeng Kellith dari Tegal, Iman Budhi Santosa dari Yogyakarta, Muda Wijaya dari Bali, Daurie Bintang dari Bogor dan F. Rahardi dari Jakarta.

Dari beberapa kado poesie itu, dua orang memberitahu, bahwa mereka akan hadir. Cuma mereka akan bikin kejutan kepada Heri. Sebab itu aku tidak boleh membocorkannya. Mereka adalah F. Rahardi dari Jakarta dan Jeng Kellith, guru SMA dari Tegal ini punya maksud serupa.

Nah, agar rencana sindikat ini berhasil dengan gemilang, maka aku menghubungi salah satu panitia, Pambuko. Ia harus mengatur serapi mungkin, supaya MC bersandiwara kelak memanggil F. Rahardi. Pada saat yang sama, F. Rahardi akan ditahan dulu, tidak boleh maju, MC akan menanyakan ke Heri dulu, ingin tahu bagaimana gesture dan responnya.

Dua Insiden
Sabtu, 18 November 2017 pukul 15.00 Jeng Kellith tiba di Pondok Maos Guyub, hampir bersamaan dengan F. Rahardi. Mereka berfoto bersama. Celakanya, Jeng Kellith kirim foto itu ke grup WA We LOVE Sastra. Aku kaget, karena Heri ada di grup itu. Kasihan F. Rahardi yang jauh-jauh datang dari Jakarta, 500 km dari dusun Slamet akan batal skenarionya. Jeng Kellith menghiburku, semoga Heri sibuk menerima tamu, jadi tak sempat lihat grup WA.

Keduanya berangkat menuju rumah Heri yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari Pondok Maos Guyub. Diperoleh informasi dari panitia, Heri sibuk dan tidak melihat WA grup. Aman, aman, batinku. Aku yang berada di Swiss terus memonitor rencana sindikat ini. Dikabarkan, saat tamu misterius ini sudah duduk di antara kerumunan tamu undangan, mendadak Heri hendak keluar ngeprint sesuatu. Kejadian ini membuat panitia kalang kabut, pasti Heri akan melihatnya. Buru-buru kedua tamu itu diungsikan masuk rumah kakak Heri yang berada di depan rumah orang tuanya.

Dewa keberuntungan berpihak ke kami, ibarat mobil menabrak tiang listrik, bukan masuk jurang. Kedua insiden di atas, terlampaui dengan mulus. Tiba acara pembacaan puisi,

Acara selanjutnya adalah pembacaan puisi oleh F. Rahardi, sastrawan dari Jakarta. MC sengaja memberi jeda waktu, Pambuko ingin menyaksikan dari dekat bagaimana reaksi Heri? Ia tampak lucu dan serius.

Seketika Heri memberi aba-aba, Lho tidak ada Mas Rahardi kok. Dan acara baca puisi dilanjutkan ke yang lain. Namun namanya kami sedang sandiwara, MC pura-pura tak mendengarkan instruksi Heri. MC masih memanggil F. Rahardi sampai tiga kali. Heri pucat, karena responnya tak digubris. Untuk mengalihkan suasana tegang, maka MC memanggil ketua RT maju untuk menbacakan puisi.

Rupanya ketua RT sudah dipesan Heri dan diberi puisi berjudul Ngunduh Mantu karya Sri Suwartinah dari Pontianak. Dengan memakai blankon dan sarung ketua RT maju membaca puisi.

Ngunduh Mantu

*Tien Suwartinah  Pontianak.

Heri yang kukenal
Heri yang kusayang
Hari-harimu telah kau lalui dengan senyum

Kini senyum itu akan mewarnai hidup barumu dengan pendamping setiamu
Cintai dia sepenuh rasa
Miliki dia sepenuh hati

Berikan yang terbaik untuknya
Kebahagiaan wanita jika ada cinta yang tidak terbagi
Bila ada cinta yang tidak terbagi
Bila ada genangan  air mata bahagia untuk dirinya

Wahai nahkoda sejati
Arungi samodra dengan perkasa
Semoga Allah SWT menuntunmu ke pantai bahagia
Wujudkan mimpi-mimpi indah yang pernah ada

Ngunduh mantu seperti ini adalah gagasanmu
Adalah mimpi-mimpi kecilmu
Penuhi syukur yang tak putus setiap tarikan nafas

Yakinlah kebahagiaan tak akan redup
Bila Allah Maha Pengabul doa ada di hatimu
Insya Allah
Kebahagiaan senantiasa menyertai dalam rumah tanggamu

Ini bukan sekadar kata mutiara
Satu, taburlah gagasan, petiklah perbuatan
Dua, taburlah perbuatan petiklah kebiasaan
Tiga, taburlah kebiasaan petiklah karakter
Empat, taburlah karakter, petiklah hasil

Steven R Covery

0o0
Usai ketua RT membaca puisi dan memanen tepuk tangan, MC masih ngotot, memang sengaja untuk menteror Heri dengan bilang lagi, Pembacaan puisi oleh F. Rahardi, sastrawan dari Jakarta, silakan ke depan.
Lagi-lagi Heri “geleng-geleng dalam batin, dikandani wonge ora teko kok ngeyel.“ Suasana hening sesaat F. Rahardi, si penyair Linggis, julukan Zawawi Imron, ketika aku ikut grup WA Sastra Sahabat Kita. Ia yang sudah terbenam di tengah tamu, dengan langkah pasti maju ke depan panggung dan langsung menyambar mikrofon. Pada detik yang sama Heri menatap tak berkedip, ia masih belum yakin, apakah ia F. Rahardi si tukang cangkul di punggung gunung Medini dulu, sebelum ia menjadi guru SD di Peron? Merasa benar amatannya, ia lari mendekat F. Rahardi dan ia peluk erat. Suasana bersemburat haru. F. Rahardi puas, aku tepuk tangan dari benua yang jauh. Skenario yang dirancang sebelumnya berhasil dengan gemilang.
Sepertinya Heri akan lebih lengket dengan sosok penyair penulis puisi Kontol Kambing di Jalan Kendal, Jakarta itu. Jeng Kellith yang sedianya akan melakukan adegan mirip F. Rahardi, tumbang sebelumnya, ia ketahuan berada di tempat duduk persis di belakang F. Rahardi. Selain ia tidak tega ngerjain Heri secara beruntun.

Berikut puisinya:

M (ÈM)
F. Rahardi

“Jadi marilah kita minum
Kata Mbah Jamali mengawali doanya
umat menjawab Minum apa Mbah?
Coca-cola, Starbuck, atau Black Label?
Sambil merem-melek
Mbah Jamali bertanya
“Opo kuwi blèk lèbel?
“Ciu Mbah. Tapi ciu larang, bukan ciu Bekonang
“Tak boleh minum ciu. Itu memabukkan!
umat lalu minum-minum
ada yang menyeruput teh, menenggak kopi
ada yang meniup-niup bandrek panasnya
doa dilanjutkan.

“Sekarang marilah kita makan
umat kembali bertanya
“Makan apa mbah? KFC, McD, Pizza?
Mbah Jamali menguap, sembari menutup mulutnya
dengan telapak tangan kiri
“Makan mangut welut dari Mboja.
maka umat pun menikmati hidangan mereka
dengan tangan tanpa sendok garpu
tanpa cuci tangan
“Min koman-kamin, kuman jadi vitamin!
pesta dilanjutkan.

“Sekarang marilah kita menghirup kabut!
kata Mbah Jamali sambil ngantuk lagi
umat bingung
“Di mana ada kabut Mbah?
“Di kebun teh Medini goblok!
Mosok di Mboja, di Semarang, di Jakarta  ada kabut?
“Ada mbah, kabut asap knalpot, kabut debu, kabut demo-demo!
“Kabut demo? Kalau begitu marilah kita demo!
maka iring-iringan massa itu berorasi, baca puisi
saling berpandangan
saling berhimpitan
berpasang-pasangan lalu berkencan.
Mbah Jamali  marah

“Marilah kita menikah, jangan berzinah!
kini gantian umat yang marah
“Mosok tua bangka begitu mau menikah Mbah?

Medini berkabut
jalan raya Mijen  padat merayap
delman di Boja bete menunggu penumpang
yang tak kunjung datang
suhu politik memanas
gunung Sinabung tak juga reda memuntahkan
awan panasnya
Mbah Jamali terbangun mendengar
sorak sorai pendemo
“Tua bangka tak tahu malu
Menikahi perawan umur belasan!
Mbah Jamali jadi keqi.

“Lho, yang saya minta menikah yang muda-muda.
Yang tua bangka kayak diriku ya musti minggir.
Ayo Mas Sigit, kita duduk di bangku kayu itu!

Massa makin beringas
mereka bergerak
mereka mencarter metro mini
naik truk
membajak mikrolet
membawa pentungan
mengacung-acungkan samurai
Mbah Jamali takut
“Lha kok terus jadi kayak gitu Mas?

Mbah Jamali lari
ke arah Limbangan
udara Indonesia berkabut
cuaca dunia mendung
resesi masih menggantung di Uni Eropa
di Amerika
tapi pasangan yang sedang menikah
wajib tersenyum
wajib tertawa menyambut
hari H.

Mbah Jamali terus berlari
dia tak sempat menyelesaikan doanya
massa juga mulai melupakannya.

“Yang tua-tua memang harus menyingkir
agar yang muda mendapat tempat
lalu bayi-bayi lahir
dari rahim ibunya.

“Ngomong sama siapa Mbah?
Mbah Jamali kaget
ia sulit menjawab
mulutnya masih penuh nasi
dan mangut belut.

Cimanggis, November 2017
0o0

Untuk mengimbangi teman-temannya baca puisi, pengantin cowok si Heri maju membaca puisiku. Aku kasih judul Kondro Di Muka, dari plesetan Condro Dimuko, sebuah kawah di cerita pewayangan yang bisa mencuci manusia menjadi sakti.
Adapun Kondro berasal dari pengalamanku setiap aku mentransfer dana untuk kegiatan sastra di kampung kepada Heri Condro Santosa, petugas bank selalu mengeja dengan k: kondro. Ganti petugas tetap saja c: tidak dibaca ce, tapi k: kondro. Di Muka, ia memang selalu di garis depan. Aku anggap pertemananku dengan Heri dalam bersastra sangat dekat. Teman dekatku lain, Eka Kurniawan dan Puthut EA, dua pujangga idolaku, Joyce dan Kafka, aku taruh sederet menjadi eka ea joyce kafka dan kondro.
Ketika aku hendak menuliskan puisi ini, kebetulan pengajian novel Ulysses sampai pada halaman 199 dan Kiai Fritz Senn menunjukkan sederet mantra Joyce untuk memikat wanita dalam bahasa Latin dengan posisi kedua telapak tangan dikatupkan dan mantra dibaca tiga kali.
Se el yilo nebrakada femininum! Amor me solo! Sanktus! Amen
Berikut puisiku:

Kondro Di Muka

*Sigit Susanto - Swiss

awan menggantung pekat di atas stasiun Zürich
antrean panjang di loket: Kondro? Ya, jawabku
antrean panjang di loket: Kondro? Benar, jawabku

ada kesibukan samar di timur sana, ya di kampung kami lahir
kondro hadir di garis depan, di muka
lintasan literasi terjalin melingkar melebar

kondro hadir di antara lingkar literasiku
eka ea joyce kafka dan kondro
mereka di ujung siku dari sepuluh tanganku

bumi bergetar kami terkapar
meneguk ronde hangat di angkringan jalanan Boja
kondro bergerak ketika angan belum tiba

Guru Fritz Senn menunjukkan mantra Joyce untuk memikat wanita
beritahu saya jika mantra itu berhasil:
Se el yilo nebrakada femininum! Amor me solo! Sanktus! Amen (Ulysses, hal:199)

kini kaki dan tanganmu berlipat
kepalamu berganda
makin kekar menuju gubuk tua

literasi sebagai jalan
diksi-diksi hinggap di daun jendela
rumah kita, rumah semua

0o0

Setelah acara purna, Heri kirim kabar di WA, Aku masih merasakan sentuhan kejutanmu, Mas. Mak, Tratabbb. Pas ujug-ujug Pak F. Rahardi muncul di balik kerumunan bocah-bocah yang pentas. Jadi kemarin malam yang baca puisi selain Pak ketua RT dan Pak F. Rahardi, juga Jeng Kellith, Slamet Priyatin, Anik (Istri Slamet Priyatin), juga Setia Naka Andrian, penyair cilik usia 8 tahun bernama Zidan Septianto Nugroho. Gayeng tenan semalam, Mas. Suwun2.

 *Sigit Susanto, Zug. Switzerland 20 November 2017.

Baca Juga:

Name

Agenda,26,Anekdot,59,Buku,54,Cerpen,13,Esai,94,Jeda,11,Pilihan,82,Puisi,75,Sayembara,33,Warta,144,
ltr
item
KAWACA.com: Penyair F. Rahardi Menyusup Baca Puisi di Acara Perkawinan
Penyair F. Rahardi Menyusup Baca Puisi di Acara Perkawinan
https://2.bp.blogspot.com/-mhKUiFdYnQE/WhQ4W85wkOI/AAAAAAAABnM/27kPcjLS-4QKVG0IL1P1u_mLsmvI_7PyACLcBGAs/s320/IMG_20171121_212837.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-mhKUiFdYnQE/WhQ4W85wkOI/AAAAAAAABnM/27kPcjLS-4QKVG0IL1P1u_mLsmvI_7PyACLcBGAs/s72-c/IMG_20171121_212837.jpg
KAWACA.com
https://www.kawaca.com/2017/11/penyair-f-rahardi-menyusup-baca-puisi.html
https://www.kawaca.com/
https://www.kawaca.com/
https://www.kawaca.com/2017/11/penyair-f-rahardi-menyusup-baca-puisi.html
true
6018571269726360398
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Bacalah Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All TERKAIT LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy