News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Mal dan Destinasi Wisata Urban dalam Tinjauan Antropologi Pariwisata

Mal dan Destinasi Wisata Urban dalam Tinjauan Antropologi Pariwisata

oleh Mughnifia Putri Sabrina

Pusat perbelanjaan modern atau lebih membumi dengan sebutan mal telah menjadi ikon modernitas bagi suatu wilayah. Pada kota-kota besar di Indonesia jumlah mal juga menjadi salah satu tolok ukur pembangunan kawasan. Hal tersebut disebabkan oleh pembangunan mal yang melibatkan investor-investor, baik dalam maupun luar negeri. Selain itu, keberadaan mal juga akan disangkut-pautkan dengan pendayagunaan lahan yang harus dikelola sedemikian rupa agar kawasan tersebut tetap seimbang, baik secara ekologis maupun budaya.

Di atas lahan yang berhektar-hektar di Kota Yogyakarta dan Solo misalnya, di sana berdiri dengan congkak mal-mal dengan segala tenant yang disediakannya mulai dari toko sandang, arena bermain anak, kafe dan arena kuliner, bioskop, bahkan sampai dengan kios-kios penjaja jasa pijat refleksi, pusat kebugaran, serta salon kecantikan. Pantaslah jika kemudian mal dengan segala kelengkapan tenant yang tersedia menjadi jujugan wisata kaum urban. Bukan hal yang berlebihan rasanya untuk menyebut mal sebagai destinasi wisata alternatif kalangan urban lantaran semua lapisan masyarakat di kota besar sudah menjalin kedekatan dengan mal dalam kehidupan sehari-harinya. Banyaknya tenaga kerja yang terserap dengan adanya keberadaan mal merupakan salah satu penyebab kedekatan tersebut. Selain itu, bayangkan saja cukup dengan berkunjung ke satu tempat ayah, ibu, dan anak dapat sama-sama berlibur menikmati wahana mereka masingmasing.

Sporadis dan Menjamur: Mal sebagai “Gapura Selamat Datang” di Kota Yogyakarta

Aksesibilitas kota Yogyakarta sebagai kota tujuan wisata terpopuler ke dua setelah Bali memang tak diragukan lagi. Wisatawan lokal dan mancanegara yang berkunjung ke Kota Yogyakarta pada kuartal III tahun 2014 sudah menyentuh angka 327.856 orang (BPS). Yogyakarta dapat dijangkau melalui jalur darat dari segala arah baik utara, timur, selatan, dan barat. Hal tersebut menjadi menarik ketika dikaitkan dengan fenomena menjamurnya mal di kota itu. Ternyata keberadaannya justru menjadi tenger (penanda) semacam gapura selamat datang ketika memasuki Kota Yogyakarta. Jika akses yang dipilih untuk masuk ke kota ini dari sisi utara—Klaten, Solo, Boyolali seketika dibuat terkagum dengan kemegahan Plaza Ambarukmo (Amplaz) mal bintang lima yang berdiri kokoh. 

Plaza Ambarrukmo menyediakan area retail seluas 45.000 m2, terdiri atas tujuh lantai dengan lebih dari 230 brand internasional dan lokal yang eksklusif, serta menawarkan pengalaman berbelanja, kuliner dan hiburan yang tidak terlupakan. The Ambarrukmo adalah tujuan warisan terpadu yang diresmikan pada 28 Mei 2013 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur serta Raja Kraton Yogyakarta. Mengusung tagline “Eat, Pray, & Love di Jogja” perpaduan indah gaya hidup, budaya dan modern melalui tiga elemen: Plaza Ambarrukmo sebagai belanja dan tujuan kuliner, Museum Ambarrukmo sebagai representasi keagungan budaya dan Royal Ambarrukmo Yogyakarta Hotel sebagai simbol kehangatan dan kenyamanan dengan layanan kelas satu dan fasilitas.

Menjadi suatu kewajaran—di tengah tata ruang kota yang masih semrawut—jika arus keluar-masuk mal menjadi salah satu penyebab kemacetan yang rasanya sudah menjadi trademark kawasan ini. Di sisi barat tepatnya memasuki kota Yogya dari arah Magelang dan Purworejo, seonggok bangunan bergaya eropa klasik yang tersemat nama padanya Jogja City Mall (JCM) menjadi suguhan eksotis dan ciamik lantaran arsitektur bangunan yang tampak mencolok dan berbeda dari bangunan-bangunan di sekitarnya. Pilar-pilar berukuran besar dan jauh menjulang tinggi berhiaskan ukiran-ukiran khas Eropa klasik yang tersemir warna silver memancarkan keangkuhan, tetapi juga kemewahan dari tenant-tenant yang ada di dalamnya. Sekalipun tampak lebih megah dari segi desain arsitekturnya, ternyata JCM masih kalah pamor dari Amplaz.

Pada tapal batas Selatan saat memasuki kota tersebut, Jogjatronik Mall yang merupakan pusat perbelanjaan gawai terbesar di Yogyakarta sudah berdiri gagah menyambut kedatangan wisatawan dari arah Bantul. Bagi yang belum bertemu dengan Amplaz di sisi timur, masih ada sederetan mal yang bisa dijumpai sepanjang lima kilometer dari Amplaz di Jalan Solo, yaitu Lippo Plaza—menggantikan Saphire Square—dan Galeria Mall. Tidak cukup menjadi gerbang masuk kota saja, wisatawan akan dibuat sangat takzim dengan Hartono Lifstyle Mall di ring road utara yang baru saja diresmikan pada akhir November kemarin. Di jantung kota Yogyakarta geliat gaya hidup dan perekonomian dari Maliobro Mall dan Ramai Mall juga masih berdegup kencang. Mal tersebut terus berdegup atas nama pemenuhan kebutuhan manusia, baik secara materiel maupun morel—gaya hidup, kesenangan, dan eksistensi—yang kata Jogja Hip Hop Foundation seharusnya jogja ora didol. Komunitas Musisi Hip Hop yang berdiri pada tahun 2003 dengan tujuan utama memopulerkan rap berbahasa Jawa. Karya-karya JHP berperan aktif dalam membangkitkan semangat kejogjaan seperti kemunculan lagu “Jogja Istimewa” yang menggambarkan potret kehidupan masyarakat Yogyakarta.

Urban Tourism: Mal sebagai Destinasi Wisata

Urban tourism is a phenomenon that can be exploited successfully to benefit local economies and communities. To do so requires careful thought, palnning and design, combining vision with reality (Karski, 1990). Kutipan Karski di atas menjadi pembuka artikel Rob Macdonald yang berjudul “Urban Tourism: An Inventory of Ideas and Issue”. Rob kemudian mengambil sari pati dari segala telaahnya. Selanjutnya, Rob mengatakan bahwa urban tourism memiliki kaitan yang erat dengan tata ruang dan desain lanskap kota. Wajah kota bisa jadi mengalami perubahan lantaran ekspektasi dari para wisatawan yang ingin menikmati nilai estetis dari sebuah bangunan.

Pada dasawarsa ini pembangunan mal-mal baru tampak sangat mengedepankan nilai estetis arsitektur bangunannya bukan sekadar jendela kaca kotak-kotak kaku seperti desain perkantoran atau bahkan rumah susun, melainkan ada sentuhan-sentuhan “chic” baik dengan gaya minimalis modern maupun klasik elegan. Sebut saja JCM yang banyak menarik pengunjung lantaran keelokan arsitekturnya yang lebih eksotis daripada Malioboro Mall yang berdiri dengan arsitektur yang jauh lebih mainstream dan “polosan”.

Pemilihan gaya arsitektur tersebut tentu tak dapat dipisahkan dari segmentasi pasar keduanya. JCM lebih menuju ke arah lifestyle mall yang cenderung banyak digunakan untuk aktivitas nongkrong dan window shopping. Sementara Malioboro Mall dan Ramai Mall lebih berfokus pada aktivitas belanja. Jenis tenant yang tersedia di dalam mal juga terpengaruh oleh segmentasi mal tersebut. Segmentasi mal sendiri bukanlah hal yang dapat dinafikkan, justru segmentasi merupakan hal yang penting dan sangat diperlukan agar tidak terjadi oversupply dan benturan promosi antarmal. Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Surya Ananta, Wakil Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DIY kepada surat kabar Pikiran Rakyat dalam menanggapi pertumbuhan mal yang sangat pesat di Yogyakarta.

Tidak cukup sampai di JCM saja kemolekan arstitektur ditonjolkan untuk menjadikan mal sebagai jujugan wisata yang menarik. Hartono Lifestyle Mall yang terletak di ring road utara hadir dengan wajah yang segar dalam pola bangunan berbentuk oval dengan berkonsepkan green mall. Lokasinya yang berada pada area di luar pusat kota memungkinkan adanya lahan yang lebih luas. Hal itu ternyata dibaca sebagai kelebihan tersendiri dengan diciptakannya ruang hijau yang lebih luas dan penanaman pepohonan di sepanjang depan mal. Hal tersebut semakin menguatkan konsep green mall. Jika boleh dikatakan, pembangunan Hartono Mall di Yogyakarta tampak sebelas-dua belas dengan konsep The Park Mall yang letaknya berdampingan dengan Hartono Lifstyle Mall, Solobaru yang lebih dahulu berdiri. 

Kaum urban dengan gaya hidup dan segala kemudahan akses terhadap usaha pemenuhan kesenangan (pleasure) menjadi sasaran empuk bagi pengembangan mal-mal yang menawarkan konsep baru seperti green mall dan lifestyle mall. Ketika atap-atap gedung mal yang biasanya hanya difungsikan sebagai lahan parkir sekunder, jarang sekali ada pengunjung yang rela kendaraannya diparkir di di sana. Lantai mal teratas yang tak beratap kini telah disulap dengan kreativitas dan inovasi menjadi rooftop café atau rooftop garden seperti di Lippo Plaza yang berada di Jalan Solo. Keindahan alam Yogyakarta, baik siang maupun malam dapat langsung dinikmati dari atap pusat perbelanjaan modern tersebut. Kaum urban yang kesehariannya disibukkan dengan kukungan atmosfer kerja dalam ruang kantor yang pengap tentu akan sangat senang dan merasa mendapatkan keotentikan eksotisme alam dari sepetak atap mal. Inovasi arsitektur semacam itulah yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi urban tourism.

Fenomena tersebut menjadi sebuah bukti yang membenarkan pemaparan Rob Macdonald mengenai physical elements of urban tourist destination. Hal itu seperti yang tertera pada tabel yang diambil dari Jansen-Verbeke (1998; Law, 1992). 

The physical elements and facilities needed to support urban tourist destinations in any city are listed below (table 2). They range largescale urban and architectural features to small-scale product design…. (Macdonald, 2000:95).

Mari cocokkan satu saja mal yang ada di Yogyakarta dengan daftar fasilitas yang tertera pada tabel tersebut. Ajaib dan spektakuler! Hampir semua mal memiliki fasilitas-fasilitas tersebut dari kategori cultural facilities hingga additional elements. Pada cultural facilities misalnya, mal mana yang tidak memiliki exhibition halls? Nyaris tidak ada karena exhibition halls atau yang lebih akrab dikenal dengan atrium merupakan salah satu ruang yang menghidupkan mal itu sendiri. Banyak atraksi atau event yang digelar di atrium mal dengan tujuan untuk menarik wisatawan lebih banyak karena sejatinya atraksi atau event-lah yang menjadi nyawa bagi pariwisata.

The late nineteenth and early twentieth century was also a popular period for great urban exhibitions and expositions and the revival of the Olympic Games. At this time many cities became aware of their attraction to tourist, and turned urban tourism into a flourishing business. (Macdonald, 2000:92). 

I Gde Pitana dalam bukunya Sosiologi Pariwisata mengutip pendapat Gunn (1972:24) untuk memperkuat legitimasi atraksi bagi sebuah destinasi wisata. 

“The attractions represent the most important reason for travel do destinations.” (Gunn dalam Pitana, 2005: 102)

Berlanjut ke leisure settings dapat ditemukan parks and green areas pada Hartono Mall seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Selain itu, rooftop mall ada pula yang dipoles menjadi taman terbuka hijau. Gymnastic corner pada aspek sport facilities dapat pula ditemukan di dalam mal. Beberapa mal sarana kebugaran lain yang banyak tersedia yakni pijat refleksi, baik dengan tenaga manusia maupun dengan bantuan teknologi inframerah dari kursi getar.

Keberadaan pusat permainan anak sebagai bagian dari amusement facilities pada mal menjadi suatu hal yang wajib tampaknya. Pada mal-mal yang sudah tergolong cukup lama berdiri seperti Malioboro Mall, Galleria Mall, dan Plaza Ambarukmo wahana permainan anak dapat dengan mudah dijumpai. Bahkan, pada awal tahun 2000-an wahana permainan anak seperti timezone, kidsfun, funworld dan sejenisnya menjadi sangat populer dan diidam-idamkan oleh anak-anak. Pada tahun yang sama mal mulai ramah dengan masyarakat Indonesia. Masyarakat yang sebelumnya hanya terbiasa ke mal sekadar untuk berbelanja saat itu telah beralih untuk mencari hiburan bagi keluarga.

Selanjutnya, secondary elements dengan mengambil contoh ketersediaan café atau restoran. Fasilitas tersebut dapat ditemui di setiap mal karena tidak sedikit urban tourist yang berkunjung ke mal sekadar untuk menikmati kudapan-kudapan yang ditawarkan di foodcourt ataupun kios-kios mandiri. Aktivitas kumpul bersama kolega mulai dari para pekerja, sosialita, sampai dengan anak-anak berseragam sekolah juga banyak dilakukan di café atau restoran yang ada di mal.

Bagian terakhir yakni additional elements yang salah satunya meliputi ketersediaan lahan parkir. Ada mal yang memanfaatkan basement sebagai lahan parkir, ada pula mal yang ternyata menyisihkan sepersekian bagian dari setiap lantai untuk lahan parkir. Model terakhir dapat dicermati apabila jalan yang dilalui menuju area parkir berlika-liku seolah kendaraan sedang menaiki tangga demi tangga dari satu lantai ke lantai berikutnya. Terkait dengan area parkir dapat dilihat pula sisi multiplier effect dari tumbuhnya suatu destinasi wisata yakni penyediaan lapangan pekerjaan sebagai juru parkir yang memiliki lahan di luar mal. Jika parkir di dalam kawasan mal merupakan kuasa pengelola mal, lahan parkir di luar mal merupakan hak bagi regional administrative tempat mal tersebut didirikan. Hal tersebut dapat dijumpai salah satunya di Galeria Mall yang memberikan hak kepada warga RW 10 dan RW 11 di Sagan untuk mengelola parkir di sisi timur mal. Kebijakan tersebut terhitung sebagai sebuah tanggung jawab materiel sekaligus morel yang wajib diberikan oleh pengelola mal kepada masyarakat sekitar.

Cukup dengan Sepetak Ruang Bernama Mal

Tabel physical elements of urban tourism sejatinya disasarkan kepada sebuah kota destinasi wisata, baik kota dalam lingkup pusat kota maupun daerah satelit. Namun, hari ini hampir semua elemen tersebut dapat ditemui hanya dalam satu ruang, satu bangunan bernama mal. Segala kenyamanan fasilitas dapat dinikmati dalam skala kecil dari sebuah kota.

Terlepas dari gejolak sosio-kultural dan ekologis yang ditimbulkan dari pesatnya pertumbuhan mal di Yogyakarta, kita tersadarkan bahwa mal hadir sebagai ruang yang sempurna bagi sebuah kesesuaian destinasi wisata urban. Ketika banyak yang menghujat keberadaan mal-mal tersebut, sejatinya hujatan itu harus terpantulkan pada sebuah cermin yang kemudian terbaca sebuah refleksivitas bagi pengelola Kota Yogyakarta. Sudahkah mampu kota ini menyuguhkan fasilitas terbaik dan holistik bagi wisatawan? Physical elements of urban tourism yang dicantumkan oleh Macdonald dalam jurnalnya memang bukan satu-satunya parameter bagi urban tourism. Namun, setidaknya melalui tabel itu kita menjadi tersadarkan akan sebuah fenomena yang unik dan nyata di depan mata bahwa cukup dengan menyambangi satu gedung saja pengalaman berwisata yang nyaman dan lengkap dapat dinikmati.

However, city cores and inner areas did not always benefit because the twentieth century also saw the growth of out-of-town themed attractions and leisure shopping malls…. (Macdonald, 2000: 92) 

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.