News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Masih Adakah Siswa Berintegritas? - Abdalla Vebriano Adrian

Masih Adakah Siswa Berintegritas? - Abdalla Vebriano Adrian

oleh Abdalla Vebriano Adrian


Dunia pendidikan di Indonesia bagaikan api dalam sekam. Ada hal-hal yang tidak baik dan tidak tampak semakin membahayakan. Seolah-olah kecurangan di kalangan remaja akan terus ada sepanjang masa. Pemerintah Indonesia memberikan kebijakan terhadap pendidikan bahwa setiap sekolah siswa-siswanya harus menempuh kurikulum yang telah diberikan dan melaksanakan ujian. Ujian tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat pemahaman siswa tentang materi yang telah diberikan. Hal tersebut menyiratkan seakan-akan pendidikan di Indonesia memiliki kebijakan yang sangat kompleks, apakah benar? Pemerintah selalu mengganti kurikulum dikarenakan “mereka” berpikir bahwa kurikulum yang terbaru memiliki mutu yang lebih baik daripada kurikulum terdahulu.

Seperti yang telah penulis sampaikan bahwa pelaksanaan ujian berguna untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa mengenai materi yang telah diberikan. Akan tetapi, banyak siswa beranggapan sebaliknya. Sebagian siswa di Indonesia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan tujuan awal dari pelaksanaan ujian yang merupakan kebijakan pemerintah, salah satunya menyontek. Menyontek merupakan satu dari banyak kecurangan yang dilakukan oleh sebagian siswa untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Mereka beranggapan bahwa ujian hanya mementingkan hasil akhir daripada proses dalam mendapatkan hasil yang baik. Karakter diri yang jujur dapat rusak akibat perilaku tersebut.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata integritas memiliki pengertian mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Menurut Henry Cloud ketika berbicara mengenai integritas, tidak akan terlepas dari upaya untuk menjadi orang yang utuh dan terpadu di setiap bagian diri yang berlainan, yang bekerja dengan baik dan menjalankan fungsinya sesuai dengan apa yang telah dirancang sebelumnya. Integritas sangat terkait dengan keutuhan dan keefektifan seseorang sebagai insan manusia.

Penanaman Karakter Setiap Individu

Pendidikan memiliki peran yang strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk berfikir, merasa, dan berperilaku. Hal ini sesuai tujuan pendidikan seperti yang dikemukakan oleh Langeveld (1979). Beliau mengemukakan bahwa pendidikan membawa manusia menuju taraf kedewasaan yang mencakup bersikap tanggung jawab, memiliki kecakapan dalam mengambil keputusan, melakukan tindakan sesuai dengan norma dan nilai moral, membentuk diri, dan memiliki peran yang aktif dalam masyarakat.
Kapan penanaman karakter yang jujur dapat mulai ditanamkan? Banyak individu memiliki pertanyaan tersebut di benaknya. Bagi orang yang telah memiliki karakter jujur dan mumpuni mereka beranggapan bahwa penanaman karakter dapat dimulai sejak di bangku taman kanak-kanak (TK) ataupun sekolah dasar (SD). Terkait dengan hal tersebut banyak pihak beranggapan bahwa sekolah dasar merupakan wadah utama dalam menanamkan karakter yang jujur. Perlu konsisten dan proses yang lama dalam untuk membentuk karakter yang jujur. Oleh karena itu, semakin dini penanaman karakter jujur maka semakin melekat karakter tersebut dalam diri seseorang untuk memiliki integritas yang baik. Integritas akademik memiliki peran penting dalam kehidupan siswa. Anies Baswedan menyatakan bahwa perilaku korupsi dapat berawal dari tindakan sontek-menyontek saat masa sekolah.

Ujian Nasional sebagai Pengukuran Tingkat Pemahaman Siswa

Pemerintah telah banyak melakukan pengukuran integritas, salah satunya dengan mengambil sampel tingkat integritas saat ujian nasional berlangsung. Penelitian ini telah dilakukan selama beberapa tahun berturut-turut. Pada tahun 2015 dan 2016 Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta meraih peringkat pertama dalam hal kejujuran. Meskipun demikian, dalam praktik kesehariannya masih sering terdapat kecurangan pada saat pelaksanaan ulangan harian ataupun penilaian tengah semester dan penilaian akhir semester. Masih banyak kecurangan yang terjadi saat berlangsungnya ujian. Perlu diketahui bahwa terjadi penurunan tingkat integritas di DIY. Kecurangan masih terjadi dengan persentase 10%—20%. Hal tersebut menandakan bahwa masih ditemukannya kecurangan di DIY sekalipun di sebuah Kota Pelajar.

Sebagai Kota Pelajar, Yogyakarta seharusnya menduduki kursi-kursi komplotan orang yang patut diteladani terutama dalam hal kejujuran. Akan tetapi, sepertinya sebutan Kota Pelajar hanyalah sebuah sebutan yang tidak memiliki arti sama sekali. SMA di Yogyakarta sendiri tidak sepenuhnya memiliki tingkat integritas yang tinggi. Pada tahun 2015 jurusan IPA di Yogyakarta memiliki tingkat kejujuran 80,38%, sedangkan jurusan IPS memiliki tingkat kejujuran 79,69%. Akan tetapi, pada tahun berikutnya tingkat kejujuran tersebut mengalami penurunan menjadi 78,36% untuk IPA dan 78,21% untuk IPS (Siswa Yogyakarta Paling Jujur saat UN SMA, 2016). Dengan melihat data tersebut apakah Yogyakarta masih pantas disebut Kota Pelajar?

Integritas Siswa SMA Negeri 6 Yogyakarta

Sebagai salah satu sekolah terdepan di Yogyakarta, SMA Negeri 6 Yogyakarta memiliki masalah yang sama dengan sekolahsekolah yang lain dalam hal tingkat integritas. Sama halnya dengan berbagai sekolah yang ada di Indonesia, SMA Negeri 6 Yogyakarta menerapkan ujian penilaian tengah semester (PTS) dalam rangka mengevaluasi pemahaman siswa tentang materi yang telah diberikan. Alih-alih mengetahui seberapa tinggi tingkat pemahaman siswa justru kecurangan yang diperoleh. Sebagai contoh ulangan harian diadakan setiap standar kompetensi telah diberikan. Di setiap tengah dan akhir semester diadakan ujian bersama yang diikuti oleh seluruh siswa. Dalam pelaksanaan penilaian tengah atau akhir semester siswa akan ditempatkan dalam sebuah ruangan yang diisi empat puluh orang dari dua hingga tiga kelas yang berbeda. Dengan begitu banyaknya siswa dalam satu ruangan hanya terdapat dua guru pengawas. Kecurangan rasanya tidak dapat terelakkan.

Bagai buah simalakama, sebuah peribahasa yang sesuai bagi siswa-siswa saat ini. Apakah nilai lebih penting? Ataukah proses yang jujur dan integritas yang lebih penting? Sebagian orang merasa bahwa hal tersebut bukanlah hal yang susah jika mereka sudah memiliki karakter jujur yang mumpuni. Beda halnya dengan seseorang yang tidak memiliki hal tersebut. Kedua pertanyaan itu terasa sangat berat untuk dipilih.

Seberapa tinggi tingkat integritas siswa di SMA Negeri 6 Yogyakarta? Faktor apa yang menyebabkan seseorang melakukan kecurangan demi nilai yang memuaskan? Kedua hal tersebut yang akan menjadi perbincangan lebih lanjut. Dengan menjawab kedua pertanyaan yang membuat kita penasaran, kita juga dapat memetik sebuah hikmah dan menambah wawasan. Hal lainnya yaitu agar sekolah-sekolah di Indonesia terutama SMA Negeri 6 Yogyakarta dapat bertindak dengan benar perihal tingkat integritas siswa-siswanya.

Ketika mendengar kata SMA Negeri 6 Yogyakarta, apa kata yang pertama kali muncul dalam pikiran kita selain tawuran? Sulit? Bagaimana dengan tingkat kejujurannya? Sebuah pandangan lain yang jarang terlintas di benak orang-orang. Setiap angkatan memiliki lebih kurang 250 siswa. Lebih kurang 750 orang yang mengejar mimpinya dalam waktu setidaknya tiga tahun untuk memperoleh sebuah ijazah dan rapor dengan nilainilai yang terus menanjak untuk mendukung masuk universitas yang diinginkan. Bagaikan peribahasa yang mengatakan “ingin hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.” Memiliki cita-cita yang tinggi, tetapi kurang kemampuan. Apakah benar? Mungkin tidak sepenuhnya.

Untuk menjadi salah satu siswa didikan di SMA tersebut, seorang anak pasti memiliki kecerdasan yang tinggi. Akan tetapi, berbagai godaan yang sebagiannya bukanlah godaan yang positif selalu menghantui para siswa. Terkadang godaan tersebut berdampak terhadap integritas siswa-siswa.

Penggunaan Kuisioner dalam Menilai Integritas Siswa

Berbagai cara dilakukan untuk mengetahui apakah siswa memiliki tingkat integritas yang tinggi ataukah tidak. Salah satu metodenya yakni dengan kuisioner. Kuesioner diberikan kepada responden (sebagian siswa SMA Negeri 6 Yogyakarta. Dengan sepuluh pernyataan, responden dapat menentukan pilihan sesuai dengan jawaban yang paling sesuai menurutnya. Dalam penelitian ini tidak dicantumkan nama responden dengan tujuan agar setiap responden dapat mengisi kuisioner dengan nyaman.

“Saya selalu belajar sebelum menghadapi ulangan.” Sebuah kalimat yang menyatakan bahwa mayoritas responden selalu belajar sebelum ulangan. Akan tetapi, tetap ditemukan sebagian responden yang menyatakan bahwa mereka tidak pernah ataupun pernah belajar sebelum ujian. Mayoritas siswa yang menjadi responden mengaku bahwa terkadang mereka memperoleh soal ulangan dari kelas lain yang telah melaksanakan ulangan. Dengan begitu, sebuah kecurangan telah ditemukan.

Walaupun masih terdapat siswa yang jujur dalam melakukan ujian, tetapi masih terdapat siswa yang tidak sepenuhnya jujur atas pekerjaan yang telah mereka lakukan. Malas atas hal yang buruk sepertinya merupakan hal yang baik, akankah selalu seperti itu? Sepertinya tidak.

Kecurangan di Kalangan Siswa SMA

Sebagian siswa yang berbuat buruk dengan mengetahui atau memperoleh soal ulangan sebelum ulangan dilaksanakan merupakan hal yang buruk. “Kecubung berulang ganja” sebuah peribahasa yang tepat bagi mereka. Saat malas menyelimuti mereka hal buruk lainnya yang dilakukan ialah menyontek pekerjaan teman saat ujian sedang berlangsung. Alih-alih tidak memberikan jawaban, dengan senang hati temannya memberikan jawaban kepadanya.

Kecurangan saat ujian bukanlah menjadi satu-satunya waktu bagi sebagian siswa melakukan perbuatan tercela tersebut. Seakan-akan sebuah tugas atau pekerjaan rumah merupakan hal yang sulit untuk dilakukan. Pekerjaan rumah memberikan kebebasan untuk mencari jawabannya sendiri. Akan tetapi, masih saja terdapat siswa yang menjadi dalang sumber jawaban bagi teman-teman yang akan mengikuti jawaban dalang tersebut.
Aneh tapi nyata, menyontek jawaban teman rasanya kurang cetar membahana, sebagian siswa sepertinya mencoba cara untuk menaikkan level kecurangan. Menyuruh teman mengerjakan tugasnya dengan memberinya upah. Serasa perkembangan akal membawa sebagian orang mengembangkan cara-cara untuk berbuat curang. Hal itu akan merusak integritas orang tersebut. Sebagian siswa mengaku bahwa kecurangan yang dilakukan bukan hal yang salah.

Bagaikan perisai yang dapat memantulkan kebenaran, siswa seakan kebal atas perbuatan salah yang mereka lakukan. Tidak cukup melakukan kecurangan saat ujian, tetapi kecurangan lain seperti menyotek tugas teman antara lain pekerjaan rumah, tugas praktikum. Hal-hal tersebut dilakukan untuk memperoleh nilai rapor yang memuaskan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa rapor yang memuaskan tersebut tercampuri keringat teman sendiri. Seakan-akan mereka telah memiliki rencana matang untuk memperoleh nilai rapor yang memuaskan yang akan mengantarkannya ke universitas dengan jurusan yang dicita-citakan. Akan tetapi, ketika mereka telah mencapai tujuannya apakah kemampuan mereka dapat menuntunnya menuju jalan yang mulus di jurusan tersebut?
Jika kita berbicara tentang integritas, seakan-akan tidak ada yang namanya sempurna. Setiap orang pernah melakukan kecurangan. Kecurangan terus mencurangi integritas seseorang. Integritas yang tercemari pasti akan mengganggu masa depan. Jika seseorang tidak memiliki karakter yang jujur, entah siapa tahu dia akan menjadi seorang koruptor. 

Sebuah penelitian mengenai tingkat integritas siswa SMA Negeri 6 Yogyakarta mengemukakan jika seseorang pernah melakukan kecurangan, untuk melakukan kecurangan berikutnya pasti tidak akan sesulit seperti saat melakukannya pertama kali.
Begitu juga, dengan kecurangan yang ketiga, keempat, dan seterusnya. Semakin banyak seseorang melakukan kecurangan maka semakin mudah orang tersebut untuk melakukannya. Seakan-akan mereka menjadi kebal atas perbuatan bersalah tersebut. Akan tetapi, di balik itu semua masih ada siswa yang dapat menahan diri untuk tidak melakukan kecurangan tersebut. Walaupun persentasenya tidak cukup tinggi, masih dapat dijadikan sebagai cikal bakal menuju masa depan dengan penuh integritas yang tinggi. Ada siswa sebanyak 24,4% mengaku selalu jujur dalam mengerjakan ujian. Siswa yang mengaku terkadang mendapatkan soal ulangan sebelum pelaksanaan ulangan ada
41,5%. Mereka memperoleh soal ulangan dari kelas lain yang telah melaksanakannya. Siswa yang mengaku bekerja sama dengan siswa lain saat ujian berlangsung ada 9,8%. Yang membahayakan yakni 14,6% siswa tidak merasa bersalah atas perbuatannya tersebut. Akan tetapi, dibalik itu semua 51,2% siswa mengaku tidak pernah membuat sontekan sebelum ulangan. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa terdapat siswa di SMA Negeri 6 Yogyakarta yang berintegritas.

Sekolah Sebagai Tempat Penanaman Karakter yang Jujur

Sebagai tempat siswa menuntut ilmu sekolah seharusnya memperbaiki cara mengajar yang sesuai untuk menciptakan integritas pada diri setiap individu. Di lain pihak seharusnya pemerintah tidak hanya memfokuskan pada penggantian kurikulum, tetapi juga pada integritas siswa. Hal itu mengingat integritas sama pentingnya dengan pengetahuan. Kita memiliki pengetahuan yang tinggi, tetapi kita berlaku curang seakan-akan hidup di dunia penuh dengan kebohongan.

Alasan Siswa Melakukan Kecurangan

Apakah masih ada siswa yang berintegritas? Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan, jawabannya masih. Akan tetapi, kemungkinan besar tidak ada yang benar-benar melakukan segala sesuatu secara jujur. Namun, bukan seberapa murni seseorang dari berbuat tidak curang, melainkan bagaimana kita bertindak, berperilaku, dan bersikap atas perbuatan curang tersebut. Apakah kita dapat menghindar dan meninggalkan perbuatan buruk itu ataukah kita akan tetap terjerumus ke dalam perbuatan curang tersebut? Seseorang yang melakukan kecurangan dikarenakan kecemasan yang melanda.
Ketika tidak dapat mengerjakan sebuah soal, kecemasan tersebut dapat dengan mudah muncul dalam diri seseorang. Hal tersebut yang membuat seseorang dapat melakukan kecurangan. Alasan lain seseorang melakukan kecurangan yakni dia tidak dapat menyikapi perbuatan buruk tersebut. Bagai makan buah simalakama, bagai seseorang di antara dua pilihan yang sulit, melakukan perbuatan yang jujur ataukah melakukan kecurangan. Pada akhirnya hanya diri setiap individu saja yang dapat menentukan pilihan mana yang terbaik, apakah melakukan kecurangan ataukah melakukan kejujuran untuk menjadi diri yang berintegritas baik.

Pembudayaan Karakter Jujur

Berdasarkan pembahasan di atas disimpulkan bahwa penanaman karakter jujur harus dilakukan sejak dini karena penanaman karakter jujur tidak dapat dilakukan secara instan atau spontan. Di Indonesia masih banyak siswa yang melakukan kecurangan dalam materi-materi pembelajaran yang merupakan kebijakan pemerintah. Hal tersebut dikarenakan sebagian siswa tidak dapat memercayai kekuatan mereka sendiri dan tidak dapat menyikapi perbuatan buruk tersebut. Alhasil, orang-orang yang tidak dapat menyikapi dua hal tersebut akan terjerumus ke dalam kecurangan yang merusak integritas masing-masing. Akan tetapi, di antara siswa-siswa yang berbuat curang tersebut masih ada siswa yang memiliki integritas yang baik. Merekalah yang merupakan cikal bakal menuju masa depan yang cerah.

Bersikap jujur merupakan cikal bakal untuk membentuk pribadi yang jujur dengan integritas yang baik. Jika seseorang telah memiliki integritas yang mumpuni, kelak individu tersebut akan menjadi pribadi yang sukses sesuai dengan cita-cita yang diharapkan. Seseorang dapat memercayai kekuatannya dan membuang jauh-jauh pikiran yang tidak menjunjung integritas yang baik dapat berujung pada kesuksesan. 

__

Sumber: Menyelamatkan Bahasa Indonesia (Antologi Esai Karya Pemenang dan Karya Pilihan Lomba Penulisan Esai bagi Remaja Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2017), Penyunting: Dwi Atmawati, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2017.

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.