News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Apresasi Puisi: "Senyum Kematian" dan "Mengukir Asa", Karya Romenah Rom

Apresasi Puisi: "Senyum Kematian" dan "Mengukir Asa", Karya Romenah Rom

oleh Indra Intisa

PUISI ADALAH KEJUJURAN
PUISI ADALAH KASIH SAYANG

Puisi adalah gejolak batin dari penyair. Ia bisa lahir dan hidup dari emosi, empati, keadaan, ketidakadilan, dan hal-hal yang mampu menyentuh lubuk hatinya paling dalam. Orang bilang, puisi adalah jalan sunyi. Puisi adalah kegelisahan yang tak tuntas. Begitu seterusnya tanpa tertulis.

Unsur batin dari puisi adalah unsur yang seharusnya lahir pertama kali dari wujud fisik sebuah puisi. Sepertinya halnya tema, pesan amanat, sikap penyair, dan perasaan penyair. Kelahiran ini bisa ditandai dengan emosi, kegelisahan, kehampaan, kegembiraan, dst., yang kemudian dituangkan dalam bentuk fisik, seperti tifografi, diksi, kata konkret, majas, versifikasi, dst.

Sikap penyair dalam memandang dan menangkap sesuatu harusnya ditulis jujur. Sekalipun puisinya tidak dalam bentuk monolog, tetapi dialog di luar ke-aku-annya, seperti puisi surealis yang menjaring mimpi, puisi epik, dst. (Saya tidak akan membahas ini lebih dalam).

Sikap jujur seorang penyair, bisa pula dilihat dari dua puisi yang ditulis oleh Romenah Rom. Mari kita simak:

1/
SENYUM KEMATIAN

Air mata darah mengalir di antara mortir
Jeritan hilang di telan dentuman
Melukis senyum di samping mayat bergelimpangan; senyum kematian
Wajahwajah tanpa ekspresi, tanpa masa depan
Inikah kiamat?
Akhir dari kehidupan?
Lihatlah, Tuan!
Anakanak itu tak berdosa
Tak mengerti hitam atau putih
Tak bisa membedakan benar atau salah
Mereka hanya butuh satu tarikan napas
Di mana kedamaian menjadi oksigen
Bukan surga yang dijanjikan
Tapi pelukan dari orang yang disayang
Itu, sudah cukup ....

2017

2/
MENGUKIR ASA 

Kakikaki mungil berlari menembus kabut
Mengejar mentari yang belum muncul
Senyuman mengembang
Siap mengukir asa; masa depan
Mengarungi sungai, mendaki gunung
Kakikaki  mungil itu mulai berdarah; luka bernanah 
Ibu pertiwi hanya menatap pedih
Tak kuasa memberi indah
Dedoa terucap, bangkitkan semangat
Terus maju, Nak! Jangan menyerah 
Jangan biarkan kalah karena orang-orang serakah
Cukong buncit kekenyangan memakan uang haram
Di pundakmu, titipan masa depan
Negeri ini hampir tenggelam
Jangan biarkan karam!

2017

***
Dua puisi di atas ditangkap dalam bentuk pamflet, gambaran terhadap suatu keadaan. Seperti halnya kita melihat sebuah perkelahian, kejadian tersebut kita tangkap dan masukkan ke dalam sebuah tulisan. Bisa dalam bentuk berita. Bisa pula dalam bentuk karya lain seperti prosa dan puisi.
Romenah Rom adalah salah seorang ibu yang mempunyai sifat keibuan yang tinggi. Potret anak-anak sangat jelas ia masukkan ke dalam puisi yang ia tulis. Itu mengingatkannya pada pengalaman-pengalamannya waktu masih kecil, masa kanak-kanak. Dalam kasih sayang ibu. Atau ketika melihat anaknya sendiri dalam tembuh-kembang.

Daya hantar puisi yang ditulis Romenah Rom, ibu yang lebih menyukai tata-tulis prosa dalam bentuk novel ini, memang masih terkesan memotret keadaan. Ibaratnya seorang fotografer yang melihat sebuah kejadian. Lalu ia memotret tanpa memerhatikan lebih dalam setiap sudut pengambilan, efek warna, kondisi, dst., yang benar-benar dipilih secara padat. Tetapi itu bisa saja terjadi karena pengaruh (kebiasaan) menulis prosa yang terlalu detil dan lebar dalam menjelaskan sesuatu cerita. Tetapi jikapun begitu, sugesti kasih sayang begitu terpancar dengan luas dalam setiap puisinya. Ini mengingatkan kita pada pepatah, "Kasih ibu sepanjang masa."

Puisi di atas bersifat diafan (telanjang). Pesan dan makna terpampang dengan nyata dan jelas tanpa banyak embel-embel pengaburan, penyimbolan, metafor, dst., yang kadang tersembunyi. Orang bisa saja berpikir puisi prismatis lebih baik karena bisa memancar ke segala arah. Atau puisi yang cenderung gelap. Padahal tidak juga. Tergantung disimak dan dinilai dari sisi apa. Bentuk puisi yang diafan ini menyimbolkan kejujuran dan budi yang luhur dari penulis Romenah Rum.

Puisi adalah kasih sayang tanpa batas. Barangkali begitu yang ia hendak sampaikan. Semoga anak-anak di dunia ini hidup dalam gembira, bahagia, tanpa ada kesedihan di mata mereka. Tidak ada kesulitan, perperangan, penindasan yang membunuh semangat hidup pada anak. Kecuali semangat juang yang terus menyala.

Pulau Punjung, 18 Maret 2017


Indra Intisa, Penikmat dan Pemerhati Puisi

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.