News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Apresiasi Puisi: “Babi Rebus” Karya Moksa - Indra Intisa

Apresiasi Puisi: “Babi Rebus” Karya Moksa - Indra Intisa

(Jalan Hidup sebagai Ketidakadilan dari  Kesenjangan Sosial, Budaya dan Efek Psikologis terhadap Penyair)
oleh Indra Intisa

Saya sangat senang sekali ketika mendapati respon yang luar biasa dari para penyair Facebook untuk mengirimkan karyanya supaya diapresiasi oleh saya. Tidak peduli apa bentuk dari apresiasinya, yang pasti semangat kirim-tulis begitu menggebu. Ini mungkin bisa dijadikan bahan renungan bagi para pemikir dan ahli di luar sana yang cenderung memojokkan kawan-kawan penulis medsos yang terkesan cepat saji, sekenanya, atau apalah yang mereka lepas-timpukkan ke para penggiat medsos. Mereka lupa tentang sugesti positif dari penulis medsos, yaitu tentang keriuhan dan kesukaan dengan riang tanpa embel-embel uang dan politik. Ini tentunya akan menambah daftar perbaikan peringkat untuk negara kita yang terkenal pemalas membaca dan menulis—negara yang dianggap rendah minat baca tulisnya. Sekali lagi, berterimakasihlah kepada mereka. 

Ada sekitar 80-an karya yang masuk ke postingan saya. Memang, tidak semuanya baik. Ada yang baik, bagus, istimewa, atau terkesan asal jadi. Ada pula yang baik tetapi dibuat tergesa-gesa—sekadar meramaikan. Itu tidaklah masalah. Kita perlu mengapresiasi semua usaha dan niat baik-baik. Kadang sebuah karya tidak bisa dinilai dari sebuah bentuk dan gaya, perlu pula dinilai dari niat dan usaha. Kemudian pesan yang ditimbulkan sesudahnya. Ke semuanya adalah istimewa dalam pandangan saya. Dalam waktu setengah hari, karya masuk dengan sesaknya. Semarak. Meledak. Luar biasa. Terima kasih buat kawan-kawan yang meramaikan. 

***

Untuk mengapresiasi puisi dengan lengkap, tentulah benar kita harus merujuk pada unsur fisik dan batin dari puisi itu sendiri. Keutuhan dari dua hal tersebut tentu mampu memecahkan dan membuka katup-katup yang seolah terkunci. Ketika kita membaca puisi tanpa melihat dari sisi batin, maka secara tidak sadar kita menjadi pembaca yang egois—memandang dari sudut pandang kita sendiri. Sekalipun boleh dan sah saja kita memahami dan mengartikan puisi dengan berbagai macam keinginan. Karena puisi bisa hidup dan tumbuh dengan cabang-cabang yang lain. Tetapi, jika ingin benar-benar memahami pola pikir penyair, tentu unsur batin tidak boleh ditinggalkan, seperti sikap penyair terhadap puisi dan pembaca, biodata dan jalan hidup penyair, keilmuan dan tempat hidup-kerja penyair. Dan ini tentu akan terkait pada pesan-amanat di dalamnya. Unsur fisik seperti bentuk perwajahan (tigografi), pemilihan diksi, simbol, kata konkret, rima, irama, majas, dst., yang tanpak dari luar, memang bagian yang umum sebagai awal untuk mengupas dan memahami puisi. Tetapi, keutuhan fisik-batin, istilah kerennya, unsur intrinsik dan ekstrinsik, tentu menjadikanya utuh dan lengkap.

Berhubung dunia maya, khususnya media sosial adalah media yang berbeda dengan media nyata, bisa saja apa-apa yang ada pada diri penyair tidak dalam artian sesungguhnya. Ada banyak orang berkepribadian berbeda dari aslinya. Ada pula dengan pekerjaan berbeda dari aslinya. Mulai dari foto diri termasuk info-info lain yang terkait pada diri penyair. Tidak pada penyair awam saja—penyair yang menulis dengan riang tanpa berniat dikatakan penyair—tetapi penyair dan sastrawan besar seperti bergelar professor pun turut serta memberikan kontribusi pemalsuan jati diri. Mulai dari gelar dan nama palsu, termasuk biodata lainnya. Itu sah-sah saja sebagai keamanan diri dari hal-hal yang tidak berguna. Lalu bagaimana supaya kita utuh memahami si penyair.

Setidaknya kita perlu menyimak dan mendalami kebiasaan menulis penyair. Penyair yang sering menulis puisi dengan tema tertentu, membahas hal tertentu, berbicara hal tertentu, sedikit banyaknya terkait pada perilaku, kehidupan atau apa saja yang mempengaruhi perilaku penyair. Kita bisa melihat karya-karya dan perilaku penyair selama di facebook—melalui beranda ataupun grup. Sekalipun hal ini tidak bisa dijadikan patokan resmi, setidaknya itu bisa jadi sandaran awal untuk memahami rumitnya pemikiran penyair.

Efek-efek kesenjangan sosial, kepolitikan, ketidakdilan, baik itu dalam bertatanegara, bermasyarakat dan bekerluarga, merupakan salah satu hal yang masih ramai diperbincangkan. Baik dalam bentuk tulisan biasa, ataupun dalam karya sastra. Kali ini, kita akan membahas puisi dari efek yang ditimbulkan terhadap kesengjangan sosial, ketidakadilan, dan hal-hal gelap terhadap mata batin penyair. Mari kita simak puisi berikut ini:

BABI REBUS

dalam antrian panjang itu
aku melihat wajah lapar
dengan wadah di tangannya
terlalu banyak mulut yang
minta disuapi dan perut
yang minta diisi

ibu mengantri nasi mengilap
dengan mulut terkatup
dan wajah yang selalu begitu
gugup, kuyu dan tembus
warna daun muda, pupus
sementara ayah, di barisan
yang mengantre babi rebus
malam ini kami makan enak
kata ibu dan ayahku tadi

hari ini ada yang mati
bunuh diri dengan menggantung
lidahnya terjulur keluar
ketika kutanya pada ayah
kenapa bisa begitu, pukulan
mendarat di kepalaku
lalu ayah bilang, jangan tanya itu
tapi tetap ayah bilang
: mungkin ada kata-kata 
yang belum selesai diucapkan
makanya lidahnya keluar

di meja makan, kami makan
dengan ribut, ayah yang ceramah
ibu yang bergairah dan aku
yang mengunyah pelan sekali
suara-suara dari mulut mereka
begitu berisik, seperti bertahun-tahun
tak makan babi rebus dan nasi
terkadang ingin kuhantam kepala
mereka itu hingga tak ada lagi
suara mulut berisik dan kecipak
dari sela-sela kunyahan

nasi mengilap dingin
babi rebus dingin
musim semi yang berlalu
meja semakin dingin
jangan lupa berdoa ibu
jangan lupa berdoa ayah
makanlah dengan tertib
meski kalian sudah mati
'selamat makan keluargaku'

2017

Membaca puisi panjang ini, kita tidak bisa membacanya satu-persatu layaknya puisi liris yang pendek. Atau membuka aura layaknya puisi Sitor Situmorang “Malam Lebaran” atau puisi-puisi pendek lainnya. Keutuhan dari puisi—dibaca ke seluruhnya adalah potret lengkap dari isi puisi. Puisi ini menghentakkan alam pikir kita terkait perilaku sosial yang ada di sekitar kita. Begitu sengsara dan kelamnya hidup seorang anak dalam sebuah keluarga.

Moksa, nama lain dari Titi Aoska adalah penyair Facebook yang sangat aktif menuliskan puisi-puisi kelam di dunia sosial. Hampir 80% puisi ditulis dengan tema dan pola pikir yang sama. Jika boleh menebak-nebak, puisi ini ditulis benar-benar dari hati dan pikirannya terdalam dalam memandang dan melihat sesuatu. Bukan saja kejadian yang terjadi pada lingkungan urban yang serba tersenjang, tapi pula kejadian pada dirinya—selama hidup yang hidup.
Ketermungkinan hidup di jalanan—hidup di area urban telah membuka batinnya dalam melihat dan menggambarkan sesuatu. Sesatu yang tidak bisa diubah dan dikendalikan, ia curahkan ke dalam puisi. Efek psikologis yang terpendam di dalam pikiran menjadikan puisinya semakin terasa dan kental. Muncul pula mimpi-mimpi yang acak layaknya surealis. Maka tidak heran sebagian diksi terkesan surealis dan mengada-ada. Padahal simbol-simbol tersebut adalah simbol yang tidak terpecahkan oleh diri tetapi ingin keluar dan hancur sama sekali. Ia ingin melihat alam terbentang dengan anak-anak kecil bermain layangan, bermain bola, bermain apa saja bersama keluarga. Tersenyum, tertawa, ataupun menangis di antara rintik hujan, bunyi air terjun dan awan-awan putih. Ataupun sesekali disengat matahari asal ada keluarga yang melindungi. Sesuatu gambaran terbalik dari puisi kelam di atas. Sebuah paradok, bukan?

Sesuatu yang terpandang terbalik adalah hal yang mungkin ingin dicapai dari sesuatu yang tidak mungkin dicapai. Ada orang ingin mendapatkan harta melimpah, mempunyai pesawat, istri cantik, perusahaan banyak, dst, sebagai lambang hidup dan kesenangan duniawi, tetapi tidak mungkin ia capai. Bisa jadi ia hidup di kalangan super bawah, pemalas, dst. Ia bisa saja terkesan arogan dan benci terhadap kesenangan tersebut. Padahal, belum tentu keadaan sebenarnya adalah ia sebagai pembenci. Jauh dari lubuk hatinya ia menginginkan hidup yang dibencinya. Itu serupa dengan wanita muda yang sedang jatuh cinta. Ketika ada pria idaman menyukainya, maka ia pura-pura malu dan berlaku tidak suka. Padahal keadaan sebenarnya adalah sebaliknya. 

Saya tidak perlu mengupas puisi satu-persatu dari diksi-perdiksi, permainan efek bunyi, permainan simbol dan majas, dan hal-hal fisik yang mampu menguraikan citraan suara, gambar, rasa, dst., yang mengarah pada efek fisik. Tetapi cukup pada kebatinan dari puisi. Silakan kawan-kawan melanjutkan baca puisi ini pelan-pelan. Kunyah-kunyah. Resapi. Dan rasakan dengan dalam isi dari puisi ini. Kelak Anda akan mendapatkan maksud dari apa yang ingin disampaikan oleh puisi. Salam puisi. Salam menulis.

Pulau Punjung, 09 Maret 2017

Indra Intisa, Penikmat dan Pemerhati Puisi.

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.