News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Apresiasi Puisi "Rimbaku" Karya: Husin Maliyakum, Sebagai Dongeng Nusantara - Indra Intisa

Apresiasi Puisi "Rimbaku" Karya: Husin Maliyakum, Sebagai Dongeng Nusantara - Indra Intisa

oleh Indra Intisa

I
Sewaktu kecil, saya sering diceritakan oleh nenek dan ibu sesaat sebelum tidur, yang bernama dongeng. Cerita yang dikabarkan adalah kisah yang tidak benar-benar terjadi tetapi mengambil setting di zaman dahulu. Kisah ini tentu saja diselipkan pesan amanat yang baik. Walaupun kejadiannya adalah fantasi, kita anak-anak merasa seolah-olah kejadian tersebut adalah nyata. Bukan sesuatu yang dibuat-buat.

Dongeng disampaikan terus-menerus secara berulang-ulang. Tidak ada kebosanan bagi kita anak-anak maupun orang tua yang menceritakan. Kalau di tempat kami (Tebo), dongeng dinamakan dengan "kbe", yang berarti kabar. Yaitu sesuatu yang dikabarkan terus-menerus--cerita tertentu pada saat tertentu. Hingga kemudian dongeng terus memudar dan menghilang seiiring makin melajunya perkembangan zaman.

Dalam ilmu sastra, dongeng digolongkan sebagai karya sastra lama dalam bidang prosa.  Ia duduk bersama-sama dengan legenda dan hikayat. Dalam sastra modern, ruh dongeng bisa saja ada dalam cerita yang disampaikan, tetapi tentu saja dikemas dengan cara modern, gaya modern, nama modern, latar modern, dst., dalam bentuk novel dan sebagainya.



II
Saat kita kecil (khususnya yang tinggal di area pedesaan), kita dapat menikmati alam terbentang dengan indah. Sungai-sungai mengalir dengan sejuk dan jernih. Ikan berlarian di antara batu. Emas mengilau. Sawah menghijau. Bukit dan gunung menjulang dalam rimbunan pohon dan hewan-hewan yang riuh di dalamnya. Tetapi, pelan-pelan mulai terhapus dan pupus. Sawah dan ladang berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit. Bukit-gunung terus menerus digunduli. Ikan-ikan mulai lengang di antara sungai yang semakin mengeruh oleh pencemaran di mana-mana. Emas terus dikeruk oleh banyak oknum.

Ada banyak anak-anak yang lahir di zaman modern yang tidak mengenal keindahan alam kita di zaman dahulu. Sebagai contoh sederhana, di sungai-sungai, dahulu di isi oleh pelbagai macam jenis ikan. Sekarang hanya di isi oleh beberapa saja, karena cenderung punah. Ketika kita ayah-ibu menceritakan banyak hal kejadian dan spesies yang ada di zaman dahulu kepada anak-anak, maka mereka bisa saja menganggapnya seolah-olah sama dengan dongeng. Sesuatu yang fantasi yang benar-benar tidak pernah terjadi. Hanya sebuah cerita yang dibuat-buat untuk mendapatkan makna tertentu saja. Jadi apakah Nusantara yang luar biasa itu akan benar-benar terhapus dan hilang sehingga menjadi sebuah dongeng?
Salah seorang penyair maya, Husin Maliyakum, menurutkan keadaan ini dengan prihatin dalam puisinya. Mari kita perhatikan:

RIMBAKU RINDUKU

rinduku di Nusantara
rimba-rimba belantara
dulu menghampar hijau
damar emas kemilau
domba harimau kerbau
duduk bersenda gurau
damai tanpa pengacau

kalap langkah nyanyian bangau
karna tiada kau, bakau
katanya ditelan kemarau
kabarnya perompak tak dihalau
koruptor tamak banyak mau

limpahan limbah di rimba
lantas rimba derita sakau
tiada kau bakau, tiada

busuk; bujuk merayu
di laut menjadi payau
omong kosong mulut berbau
monyong penuh sanjung

rimba bimbang limbung
jelata berbondong-bondong
melolong minta tolong

selamat tinggal rimba nan hijau
selamat tinggal hamparan bakau
suaramu payah nan parau
sesukamu tangis tiada yang tahu
selamatkan Nusantaraku wahai Kau

Gorontalo, 15 Mei 2016
-Husin Maliyakum-

Puisi yang ditulis penyair Husin Maliyakum, dituturkan dalam resah tentang kerinduan aku lirik pada keadaan dahulu, saat alam Nusantara masih menghampar indah. Uniknya, aku lirik tidak cukup menulisnya sebagai gambaran-gambaran perbandingan antara keadaan zaman dahulu dan zaman modern yang biasa atau banyak ditulis penyair umumnya sebagai kritik. Tetapi ia mencampuradukkan dengan gaya berdongeng dalam prosa lama. Ia menjadikan hewan seolah-olah hidup dan bertingkah layaknya manusia. Keadaan ini benar-benar mampu menyihir pembaca sehingga kita seolah-olah disugesti bahwa kejadian itu adalah hidup. Menyatu-padu antara manusia, alam dan hewan. Menjadikan semua itu hidup maka menjadikan ruh kritik satir yang unik kepada pembaca bahwasanya kejadian itu hanyalah sebuah dongeng. Beberapa orang akan menganggapnya hanyalah sebuah fantasi--cerita yang dibuat-buat. Barangkali penyair memang sangaja menyindir seperti itu.

Secara garis besar, dari awal-awal, aku lirik mencerca pembaca dengan bunyi-bunyi vokal parau, galau, putus asa, dst., itu terlihat pada permainan rima di akhir larik "au". Permainan rima ditulis tidak saja bertujuan untuk mengejar bentuk dan bunyi yang indah saja. Tetapi ada magis tertentu yang mungkin tidak disadar-sadar oleh pembaca. Sebagai contoh, coba kita bandingkan dan rasakan perbedaan suara anjing saat ia senang, bermain dan marah. Bagaimana suasananya? Begitu juga dalam puisi. Penyair yang pandai ia akan mampu memiliah rima dan bunyi untuk mendapatkan efek tertentu seperti puisi yang ditulis aku lirik di atas. Dua larik awal disengaja memakai persajakan akhir aa, sebagai pembuka dan energi yang berbeda ketika dibacakan.

Puisi yang ditulis aku lirik dengan menempelkan ruh dongeng ini, membawa pesan yang luar biasa. Kita pembaca atau siapa saja yang membaca, mendengar dan kepada orang-orang yang sedang dikritik--yang membuat perubahan pada alam (Nusantara), hanya bisa mengangguk, cemas, sedih, marah, takut, dst., tanpa bisa ikut berbuat. Serupa dengan kita mendengarkan sebuah dongeng. Kita tidak bisa ikut campur untuk mengubah kisah dan kejadian yang ada. Berbeda dengan puisi satir lain, kita diharapkan mampu turut serta untuk mengubah dan memperbaiki cita rasa yang ada di dalam puisi, contoh: puisi tentang pejabat koruptor. Ada pesan  yang meminta pejabat untuk berubah dan tobat (walau tidak secara langsung). Jika itu terjadi tentu akan membuat kisah dalam puisi berubah. Bukan sebuah dongeng. Berbeda dengan puusi ini, penyair tidak meminta kita-kita untuk mengubah dan mengembalikannya. Penyair ingin menceritakan betapa ...

Untuk lebih jelasnya, kita bisa menyimak penutup dari puisi:

//Selamatkan nusantaraku wahai Kau//

Perhatikan kata "Kau" di atas. Kata ini merujuk kepada Tuhan, bukan manusia. Sepertinya hanya kepada Tuhan kita benar-benar bisa berharap. Mengubah keadaan menjadi ke semula. Selebihnya, hanya sesatu yang tidak mungkin. Maka jadilah dongeng. 

Solok, Juli 2017

Indra Intisa, Penikmat dan Pemerhati Puisi.

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.