News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Membaca "Alarm Sunyi": Memaknai dan Menghayati Kesunyian Penyair Emi Suy

Membaca "Alarm Sunyi": Memaknai dan Menghayati Kesunyian Penyair Emi Suy

oleh Micky Hidayat


Membaca "Alarm Sunyi": Memaknai dan Menghayati Kesunyian Penyair Emi Suy - KAWACA.COM

Pekerjaan mengapresiasi karya sastra, dalam konteks ini puisi, tidaklah mudah. Tetapi, bagaimana pun puisi juga punya hak untuk diapresiasi, tanpa peduli siapa penulis atau penyairnya. Namun yang pasti, karya puisi Emi Suy yang hadir dalam buku antologi "Alarm Sunyi" (diterbitkan oleh TareSI Publisher, 2017) ini bagi saya merupakan puisi-puisi yang berhasil sebagai Puisi (dengan P besar), dan telah menunjukkan kualitasnya sebagai seorang Penyair (dengan P besar pula). Kehadiran buku "Alarm Sunyi" ini paling tidak juga merupakan sebuah energi baru yang membawa kegairahan di ranah perpuisian dan kepenyairan kaum perempuan di tanah air. 

"Alarm Sunyi" adalah buku puisi Emi Suy yang kedua. Buku kumpulan puisi tunggal perdananya yang diterbitkan adalah "Tirakat Padam Api (2011). Lantas, sedemikian pentingkah puisi bagi hidup dan kehidupan? Ya, sangat penting, paling tidak bagi penyair dan dunia kepenyairan.  Tersebab puisi adalah hasil upaya seorang penyair untuk menciptakan 'dunia besar dan dunia kecil' dalam kata-kata lewat metafora yang memiliki peran penting bagi kehidupan. Adakalanya kita perlu menulis atau mencatat sesuatu pengalaman atau peristiwa untuk kemudian direnungkan, diendapkan, dan dihayati, sebagaimana puisi memberi arti bagi kehidupan dan bagi dunia ini. 

Membaca dan menghikmati 65 puisi Emi di buku ini, seperti membaca kegelisahan, kesunyian, dan kerinduan yang berasal dari dalam dirinya maupun dari luar diri penyairnya. Sebagian besar puisinya berbicara tentang persoalan hidup dan kehidupan serta mencoba memahami dan memaknainya untuk mengisi ruang waktu yang tersedia selagi manusia masih diberi kesempatan menikmati kehidupan di alam fana ini. 

Saya merasakan getar kenikmatan ketika membaca puisi-puisi Emi Suy ini. Ada nuansa ketenangan dan keheningan, juga kebeningan nurani ketika penyair mengemas kata-kata yang digunakannya dalam merasakan kegelisahan dirinya. Gambaran kegelisahan batin seorang penyair perempuan yang kemudian melahirkan pula perasaan sunyi, rindu, risau, sedih, perih, luka, duka, mimpi, harapan, kenangan, kesia-siaan, kehampaan, kegetiran, keterasingan, gerimis, hujan, angin, badai, gemuruh, laut, ombak, pantai, langit, awan, pagi, siang, senja, malam, doa, dosa, kematian, tuhan, dan diksi semacam itu banyak ditemukan pada puisi Emi. Intensitas penghayatan penyair terhadap lingkungan yang mengondisikannya secara individual telah menjadi sumber inspirasi kreatif penciptaan puisi-puisinya yang diekspresikan melalui bangunan citraan aku-lirik sebagai aktualisasi kediriannya. Intuisi kreatifnya dalam menjelajah objek-objek yang berada di sekitarnya dengan diksi sederhana atau konvensional mampu menghasilkan suatu komunikasi antara penyair dan pembaca puisinya. Puisi yang lahir dari dari rasa kepedulian dan hubungan intensif antara penyair dan dunia sekitar di luar dirinya akan melahirkan puisi yang indah, luhur, dan membawa keberkahan. 

Demikian pun interaksi penyair terhadap persoalan alam dan lingkungan, menjadi dialektika bagi penyair untuk melahirkan puisi-puisinya. Sebagaimana diungkapkan Emi Suy lewat puisi panjangnya yang saya kutipkan dua bait ini:

....
dan bebatuan itu masih bisu, 
lereng gunung kehilangan pucuk-pucuk menghijau, 
tak pernah menjawab kegelisahan hujan. 
hutan tak kuasa menahan bah karena sudah gundul
air meluncur ke bawah, menadah rumah-rumah

palingkan wajahmu wahai, 
agar kau melihat gugusan awan hitam di langit itu
pada sunyi sekuntum rindu terbitkan di hatimu jangan lagi kau nodai. 
buatlah bising  gergaji ingkar janji, 
berhenti untuk membuat kerusakan yang kian beranak pinak. 

.....

(sajak "Menyimak Hutan, Menyibak Padang")

Baca pula sajak Emi dengan metafor yang indah ini:

YANG MAHA RINDU

bagaimana mungkin
jejak hujan mengering dalam ingatan
sementara kenangan menggenang
menelaga di kepala
memenuhi seluruh ruang
yang sejuknya sampai ke dada
batu-batu rindu menjadi bisu

aku telah menggali lubang
di tubuh sendiri
menanam harapan
agar tumbuh di segala musim
di luar hujan


Akhirnya, kata penyair, (ke)sunyi(an) itu akan menemukan (ke) mati(an) dengan sendirinya,
.....
kelak nisan adalah petunjuk terakhir
pertemuan kita
saat angin berubah arah
dan sunyi akhirnya mati sendiri
(sajak "Sunyi Mati Sendiri")

Akhirulkalam, saya meyakini bahwa proses kreatif penyair Emi Suy terus berjalan menuju perenungan ke puncak pendakiannya. Artinya, kepenyairan Emi Suy tidak berhenti pada "Alarm Sunyi" ini saja. Untuk itu, proses kreatif Emi Suy diupayakan terus hadir dengan konsisten untuk mencapai puncak kepenyairannya. 

Ini saja, Emi. Terima kasih atas kiriman "Alarm Sunyi"-nya yang dahsyat ini. Selamat dan sukses, serta salam dahsyat dan kreatif senantiasa! (MH).

Banjarmasin, 12 Agustus 2017

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.