News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Buku: Guru Hebat karya Musa Ismail dan Isnawati

Buku: Guru Hebat karya Musa Ismail dan Isnawati


GURU HEBAT
Buku Motivasi Guru dan Pendidikan
Musa Ismail, S.Pd., M.Pd.
Isnawati, S.Pd.
Sampul dan Atak: Apip R Sudradjat
Cetakan Pertama: Juli 2019
iv + 120 - 14,8 x 21 cm
ISBN: 978-602-5819-35-3
Harga: 
Diterbitkan pertama kali oleh:
TareBooks
(Taretan Sedaya International)
Jalan Jaya 25, Kenanga IV, Cengkareng,
Jakarta Barat 11730
+62 811 1986 73
tarebooks@gmail.com
www.tarebooks.com


DAFTAR ISI

Kenalilah Diri Sendiri 1
Berubah atau Mati! 5
Jadilah Penulis! 9
Memperbesar Mimpi 13
Mencintai Pekerjaan dengan Ikhlas 15
Menjadi lebih Berharga.17
Menanam Kejujuran 19
Pemalu dan Penyabar 23
Selalulah Berbahagia! 25
Berpikir Besar.27
Dan Bertindak Benar 27
Kembangkanlah Indera 31
Bermainlah dengan Imajinasia 35
Belajarlah menjadi Semut 39
Pemimpin tim dalam Bermain 43
Berpikirlah seperti Pemula 47
Manfaatkanlah Keadaan Positif Siswa 51
Menjadi Pelayan bagi Pelanggan 55
Menjadi Pemikir 57
Mengutamakan Kebenaran 59
Menghormati Guru 61
Akuntabilitas Sekolah 65
Yang Mandul 65
Bercermin ke Finlandia 69
Menjadi guru Terkini 73
Guru Berhati Emas 77
Kembalilah ke Akar 83
Bangunkan Jiwa Indonesia Raya 87
Budayakanlah Literasi di Sekolah 93
Belajarlah Berkarakter dan Bersastra 97
Menjadi Guru Generasi Digital 103
Sekolah bukan Penjara 107
Guru bukan Penindas 121
Daftar Buku Rujukan 127
Biodata Penulis 129


KENALILAH DIRI SENDIRI

Guru tidak bisa tergantikan dalam dunia pendidikan. Secanggih apa pun teknologi, atau semaju apa pun zaman, keberadaan guru tetap diperlukan dalam pembelajaran. Keberadaan guru bagaikan air bagi kehidupan.  Tanpa air, kehidupan akan gersang dan mati. Tanpa air, takkan ada tanda-tanda kehidupan. Tanpa keberadaan guru, pembelajaran tidak akan memiliki jiwa. Meskipun ahli pendidikan mengandalkan model belajar mandiri atau otodidak, hasilnya tetap kurang memuaskan dalam dimensi dunia pendidikan yang sebenarnya. Bangsa yang kuat tentu akan berupaya keras membidani kelahiran guru-guru yang hebat jika ingin membentuk pembangunan karakter bangsa yang mantap. Dunia tidak mungkin melahirkan guru robot-guru robot yang tak memiliki roh, kepribadian, atau kemanusiaan. 

Memang, nama guru dinilai rentan. Ini dikarenakan profesi guru terlalu dimuliakan. Sebagai contoh, ada beberapa ungkapan ke arah tersebut. Pertama, guru pekerjaan yang mulia. Kedua, guru adalah orang yang digugu dan ditiru. Ketiga, guru merupakan panutan masyarakat. Keempat, guru pahlawan tanpa tanda jasa. Ungkapan itu sebenarnya memberikan dampak negatif terhadap marwah profesi guru sebab melahirkan cemoohan. Guru bukanlah malaikat. Padahal, sejatinya, kemuliaan bukan semata terletak pada suatu profesi, tetapi juga pada individu. Kemuliaan suatu profesi akan terconteng oleh sifat-sifat individu yang tidak mendukung. 

’’Kebebasan dan kemuliaan seseorang itu didukung oleh tiang-tiang yang sederhana sekali berupa cinta kepada keyakinannya sendiri, cinta kepada sesama makhluk, dan cinta kepada pekerjaannya sendiri’’ (Achdiat K. Miharja, dalam Kumpulan Cerpen Kenangan Tiang-Tiang Sederhana). Nama guru rentan sekali oleh hal-hal negatif. Ulah-ulah negatif beberapa oknum, bagaikan menghapus kepercayaan masyarakat terhadap kepribadian guru dalam menjalankan peranannya. Sekali lagi, guru tetap diperlukan karena alasan nilai manusiawi. Norma prikemanusiaan melalui guru-guru sejati tidak bisa diambil alih oleh mesin-mesin berteknologi tinggi. 

Makna Sebuah Nama
Kalau ahli terdahulu mempertanyakan atau meremehkan makna sebuah nama, itu merupakan sesuatu tindakan keliru. Nama merupakan suatu perkataan yang penuh makna. Dalam rahim nama guru, mengandung makna yang tidak terhingga jika dijelaskan dengan berbagai pengertian. Memahami makna nama  dengan mempertanyakan ’’siapakah saya?’’  memberikan implikasi dahsyat terhadap kemungkinan perubahan yang bakal terjadi. Sebagai guru sejati, memahami makna jatidiri guru akan memberikan dampak luas terhadap pembangunan kepribadian masa depan dunia pendidikan.

Sagala mengatakan bahwa guru adalah seseorang yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan, diberi tugas pokok mendidik dan mengajar dalam kerangka tanggung jawab sekolah dan pengembangan profesi, di samping tugas-tugas kenegaraan, kemanusiaan, juga kemasyarakatan (2006: 121). Djamarah menjelaskan, guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah. Selain itu, guru juga menanamkan nilai-nilai dan sikap kepada anak didik agar memiliki kepribadian yang paripurna (2002). Fathurrohman dan Sutikno berpikiran, guru adalah manusia unik yang memiliki karakter sendiri-sendiri. Perbedaan karakter inilah yang akan menyebabkan situasi belajar yang diciptakan oleh setiap guru menjadi bervariasi (2007: 43).  Ahmad Sabri mengungkapkan, guru merupakan pemegang peranan utama dalam proses belajar mengajar. 

Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atau dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu (2005: 68). Selanjutnya, di dalam UU Nomor 20 Tahun 2003, tidak disebutkan secara khusus istilah ’’guru’’. UU tersebut menyebut guru dengan istilah pendidik. Menurut UU ini, pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong pelajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

Siapakah saya? Siapakah guru? Berdasarkan secuil pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa guru adalah,

1. Pribadi yang memenuhi persyaratan tertentu,
2. Pendidik dan pengajar yang bertanggung jawab terhadap individu, bangsa, dan negara,
3. Pentransfer ilmu,
4. Pembangun karakter siswa,
5. Pribadi yang berkarakter unik sehingga mempengaruhi pembelajaran,
6. Pemeran utama dalam proses belajar mengajar.

Terlepas dari penjelasan tentang guru menurut beberapa pakar di atas, berikut ini izinkan saya menerjemahkan guru dari sisi yang agak berbeda. Menurut saya, guru adalah pribadi yang mampu membuat siswanya terbang ke bulan, mendidik siswanya membaca daun, mengeja awan, menghitung bintang, mengkaji langit, menjelajah dunia, menyelami dalamnya lautan. Guru bukan merupakan jelmaan malaikat. Guru adalah sosok manusia yang memiliki keberanian bermimpi agar siswanya bisa berinteraksi dengan Tuhan dan diri sendiri. Guru bukanlah teladan dari kata-kata, tetapi dari kreativitas tingkah laku yang membangun jatidiri bangsa. Guru bukan juga pahlawan tanpa tanda jasa. Guru bukanlah pekerjaan yang tanpa pamrih. Yang terpenting, guru adalah pemberi inspirasi bagi kreativitas siswanya supaya bisa menjelajah ilmu dengan sayap kebenaran yang dibentangkannya.***

BIODATA PENULIS


MUSA ISMAIL
MUSA ISMAIL dilahirkan di Pulau Buru Karimun, 14 Maret 1971. Beliau seorang ASN, guru, dan dosen. Karyanya adalah kumpulan cerpen "Sebuah Kesaksian" (2002), esai sastra-budaya "Membela Marwah Melayu"  (2007), novel "Tangisan Batang Pudu" (2008), kumpulan cerpen "Tuan Presiden,  Keranda,  dan Kapal Sabut"  (2009), kumpulan cerpen "Hikayat Kampung Asap" (2010), novel "Lautan Rindu" (2010), kumpulan cerpen "Surga yang Terkunci" (2015), dan novel ”Demi Masa” (2017). Pernah meraih Anugerah Sagang kategori buku pilihan (2010) dan peraih Anugerah Pemangku Prestasi Seni Disbudpar Provinsi Riau (2012). Puisi-puisinya terjalin dalam beberapa antologi karya pilihan harian Riau Pos,  antologi "Setanggi Junjungan" (FAM Publishing, 2016), antologi puisi HPI "Menderas sampai ke Siak" (2017),  "Mufakat Air" (2017), ”Jejak Air Mata: Dari Sitture ke Kuala Langsa (Jakarta, 2017), ”Mengunyah Geram: Seratus Puisi Melawan Korupsi” (Jakarta, 2017), ”Dara dan Azab” (Malaysia, 2017), ”Kunanti di Kampar Kiri” (Pekanbaru, 2018), ”Jazirah” (Tanjungpinang, 2018). Kumpulan puisi perdananya bertajuk Tak Malu Kita Jadi Melayu (TareBooks, 2019). Pernah menjadi guru.


ISNAWATI
ISNAWATI dilahirkan di Pekanbaru, 06 September 1971. Setelah menyelesaikan pendidikan S1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di FKIP Universitas Riau pada 1994, beliau mengabdikan dirinya sebagai Cikgu di beberapa sekolah. Cikgu ini pernah bertugas di SMP YKKP Dumai, SMPN 2 Telukbelitung, SMPN 4 Bengkalis. 

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.