News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Narudin dan Yana Berbalas Pantun tentang Mencatat Demam Willy Fahmy Agiska

Narudin dan Yana Berbalas Pantun tentang Mencatat Demam Willy Fahmy Agiska

Kemenangan buku puisi Mencatat Demam karya Willy Fahmy Agiska di Sayembara Buku Puisi HPI 2019 secara mengejutkan menuai perdebatan di dunia maya. Salah satunya, antara Narudin Pituin dan Yana Risdiana. Berikut dua tulisan lengkapnya yang diambil dari status facebook masing-masing, 22 Oktober 2019.

WILLY FAHMY AGISKA LAGI DEMAM MENCATAT DEMAM
Oleh Narudin

I
Segalanya tak pernah seganjil ini:
sebuah jam bergegas ke arahku
tak ada yang datang
tak ada yang kusebut seseorang.

Dalam degup, waktu gugur batu
mengetuk-ngetuk, merejang
kemudian kutemukan namaku
terputus-putus, hampir hilang.

II
Di ranjang, cuma ada derit
dan jaket parasit yang berkerisik:
Tuhan barangkali sedang berbisik.

III
Sepi kerap jadi ilusi:
saban kali peluk diketatkan, tangan
sedingin gerak tamat sebangkai mayat.
Hujan di luar, orang-orang yang kuingat
adalah jarum-jarum morfin menyengat.

IV
Siapakah yang sedang kuucap-ucap ini?
Sedang dalam igau, silsilah juga nama-nama kacau.

2014

_____

Buku puisi Mencatat Demam karya Willy Fahmy Agiska merupakan buku puisi terbaik HPI 2019, menurut para juri, dengan dalih para juri, sesungguhnya tak ada buku puisi yang betul-betul bagus saat lomba ini. Apabila demikian, sebut saja bahwa memang belum ada buku puisi terbaik saat lomba ini dan buku puisi Willy tak disebut sebagai buku puisi terbaik.

Judul buku Mencatat Demam berasal dari judul puisi “Mencatat Demam” karya Willy yang pernah dimuat dalam Antologi Puisi Dari Negeri Poci 5 (153 Penyair Indonesia Mutakhir), 2014. Sebelum kelak saya mengkritik satu buku Mencatat Demam secara utuh, sebaiknya mari kita periksa bersama seburuk apa puisi “Mencatat Demam” karya Willy ini. Sebab, asumsi pertama, tatkala sebuah judul buku berasal dari judul suatu puisi, maka hampir dapat dipastikan puisi itu diduga oleh Willy sebagai puisi andalan.

Sudah 100 buku puisi lebih saya kritik dan lebih dari 100 puisi saya kritik secara utuh dan sistematis—baik dalam bentuk kritik akademis maupun dalam bentuk kritik umum. Agar pihak pembaca mudah memahami kritik saya, maka ditelaahlah puisi “Mencatat Demam” karya Willy secara kritik-populer—atau dalam jargon Rachmat Djoko Pradopo (2017) lebih spesifik sebutlah kritik akademis jenis esaistis, laksana kritik-kritik puisi A. Teeuw (1980) tempo hari. Dasar teori sastra kontemporer dan metode kritik sastra yang saya gunakan ialah analisis trikotomi semiotik (baca buku karangan Chye Retty Isnendes, Narudin, dan Toyidin, yaitu berjudul Teori Sastra Kontemporer: Formalisme, Strukturalisme, dan Semiotika, penerbit UPI Press, Bandung, 2018).

Secara semiotik, puisi Willy Fahmy Agiska di atas yang berjudul “Mencatat Demam” memiliki kelemahan yang fatal, yakni dari segi sintaksis (tata kata), segi semantik (tata makna), dan segi pragmatik (tata komunikasi).

Kita baca bait I (i dan ii).

I

Segalanya tak pernah seganjil ini:
sebuah jam bergegas ke arahku
tak ada yang datang
tak ada yang kusebut seseorang.

Dalam degup, waktu gugur batu
mengetuk-ngetuk, merejang
kemudian kutemukan namaku
terputus-putus, hampir hilang.


Kata kerja (verba) “bergegas” menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), arti pertama, ialah “bercepat-cepat”. Bercepat-cepat bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Jika pada baris 3 dikatakan oleh Willy “tak ada yang datang”, justru “sebuah jam datang” atau “sebuah jam bergegas” (ke arahku). Tak masuk akal sehat.

Kemudian, kata benda (nomina) “batu” dalam kata-kata “waktu gugur batu” ialah pilihan kata (diksi) yang tampak sepintas lalu. Kata “batu” itu sangat mengganggu secara semantik (maknawi) meskipun ditambah dengan dalih “mengetuk-ngetuk”. Periksa kembali secara logis, apa hubungan antara waktu dan batu? Apa hubungan gugur dan batu? Ini bukan perkara tata kata lagi (sintaksis), tetapi juga ini perkara tata makna (semantik).

Kita baca bait II.


II

Di ranjang, cuma ada derit
dan jaket parasit yang berkerisik:
Tuhan barangkali sedang berbisik.


Bait II ini, selayang pandang dari segi rima dalam dan rima akhir, tampak tertib. Perhatikan relasi bunyi kata “derit—parasit”, lalu relasi bunyi kata “kerisik—berbisik”. Kendatipun demikian, perhatikan kata “barangkali” pada baris “Tuhan barangkali sedang berbisik.” Kata “barangkali” atau “mungkin” terhadap Tuhan bukan suatu bentuk ketidaktahuan seseorang yang tengah dilanda demam, tetapi kemungkinan Tuhan itu tak mempercantik baris bahkan bait II tersebut.

Seharusnya baris itu diubah dengan tanda tanya di akhir, misalnya, “Tuhan sedang berbisik?”. Apabila baris itu “Tuhan sedang berbisik?”, baris itu secara dialogis-filosofis mengajak pihak pembaca bermenung lebih tinggi. Namun, jika baris itu tetap menggunakan adverbia “barangkali”, justru itu mengingatkan kita pada salah satu lagu pop tempo dulu yang berbunyi:


“Mungkin hanya Tuhan… yang tahu segalanya…..”

Kata keterangan “mungkin”, “barangkali”, dan “boleh jadi” yang dilekatkan terhadap konsepsi ketuhanan justru melanggar dualisme “mumkin al-wujud” dan “wajib al-wujud” dalam Filsafat Islam atau Sufisme, seperti pernah diuraikan secara terang-benderang oleh filsuf Ibnu Sina. Realitas Tuhan ialah “absolut”(wajib/pasti), sedangkan realitas selain Tuhan ialah “relatif” (mungkin/barangkali).

Kita baca bait III.


III

Sepi kerap jadi ilusi:
saban kali peluk diketatkan, tangan
sedingin gerak tamat sebangkai mayat.
Hujan di luar, orang-orang yang kuingat
adalah jarum-jarum morfin menyengat.


Selain kata “saban” itu bukan ragam kata resmi untuk kata “tiap” atau “setiap”, frasa “sebangkai mayat” itu mubazir secara fatal. Dalam KBBI, kata “bangkai” dan kata “mayat” itu hampir sama tetapi beda. Jika Willy menyandingkan kata yang sama dengan dalih agar itu sebagai penguat, tentu saja hal ini tampak kian melemahkan kemampuan bahasa Indonesia Willy. Renungkan lagi, menurut KBBI, “mayat” ialah “tubuh (orang) yang sudah mati” dan “bangkai” ialah “tubuh yang sudah mati (biasanya untuk binatang)”. Makna yang hadir bukan lagi sebuah ironi (sindiran), tetapi redundansi (kedodoran).

Simak definisi kata “redundancy” menurut Cambridge Advanced Learner’s Dictionary (Third Edition): “when something is unnecessary because it is more than is needed”.

Kita baca bait akhir, bait IV.


IV

Siapakah yang sedang kuucap-ucap ini?
Sedang dalam igau, silsilah juga nama-nama kacau.


Willy berharap bait IV atau bait akhir ini semacam kesimpulan filosofis yang menakjubkan, padahal apabila kita baca secara teliti (close reading), duat baris di atas menghancurkan kualitas puisi “Mencatat Demam” ini. Perhatikan baris pertama di atas, Willy bertanya secara pragmatik:

“Siapakah yang sedang kuucap-ucap ini?”

Sudah jelas sekali jawabannya di atas tercantum. Perhatikan dalam bait 1 dan bait 3. Yang sedang ia ucap-ucap itu ialah 1) “namaku” dan 2) “orang-orang yang kuingat”.

Lalu, jika baris kedua berbunyi, “Sedang dalam igau, silsilah juga nama-nama kacau.”, kita tak lagi tertarik dengan permainan bunyi rima dalam “igau—kacau”, tetapi justru Willy sedang mengigau sekaligus kacau sebab ia mempertanyakan kembali yang sudah jelas: Siapa yang sedang kuucap-ucap ini? Faktanya, sesungguhnya tak kacau dan tak lagi mengigau karena sudah jelas yang ia ucap-ucap itu namanya dan orang-orang yang ia ingat.

Kesimpulannya, dua baris di atas menderita “contradictio in terminis” (bertentangan dalam dirinya sendiri) atau dalam kasus puisi ini bertentangan dengan makna puisi itu sendiri alias makna bertabrakan dan saling menghancurkan.

Maka, janganlah menulis puisi kala demam sebab kala demam puisi yang ditulis akan kacau karena sedang gemar mengigau.

***

Dawpilar, 22 Oktober 2019

________
*) NARUDIN, sastrawan, penerjemah, kritikus sastra Indonesia, dan pemenang Anugerah Puisi CSH 2018.

________
DAFTAR PUSTAKA

Isnendes, Chye Retty, Narudin, dan Toyidin. 2018. Teori Sastra Kontemporer: Formalisme, Strukturalisme, dan Semiotika. Bandung: UPI Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2017. Teori Kritik Sastra dan Penerapannya dalam Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: UGM Press.

Teeuw, A. 1980. Tergantung pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya.




CATATAN KAKI BUAT SEORANG PEMBACA (TUAN N) ATAS PEMBACAAN PUISI “MENCATAT DEMAM” KARYA WILLY FAHMI AGISKA
oleh Yana Risdiana

Tulisan saya ini dari sudut pandang orang kantoran karena memang dibuat saat-saat rehat di sebuah smoking area dekat kantor saya. Mengapa menulis? Ya kepingin aja, setelah membaca seorang pembaca puisi “Mencatat Demam” dan menuliskan hasil pembacaannya di FB-nya. Intinya hasil pembacaan dia beda dengan saya. Ya biasa saja berbeda, boleh-boleh saja dan perbedaannya seputar isu-isu berikut: (sang pembaca itu selanjutnya disebut PEMBACA N dan tanggapan saya disingkat TANGGAPAN, sementara apa yang termuat di bagian PEMBACA N merupakan kutipan dari pendapatnya sejauh yang saya anggap relevan untuk dimuat kembali dalam tulisan ini:

PEMBACA N:

Kita baca bait I (i dan ii).

I

Segalanya tak pernah seganjil ini:
sebuah jam bergegas ke arahku
tak ada yang datang
tak ada yang kusebut seseorang.

Dalam degup, waktu gugur batu
mengetuk-ngetuk, merejang
kemudian kutemukan namaku
terputus-putus, hampir hilang.


Kata kerja (verba) “bergegas” menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), arti pertama, ialah “bercepat-cepat”. Bercepat-cepat bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Jika pada baris 3 dikatakan oleh Willy “tak ada yang datang”, justru “sebuah jam datang” atau “sebuah jam bergegas” (ke arahku). Tak masuk akal sehat.

TANGGAPAN

1. “Jam” di sini lebih tepat diartikan “saat tertentu” yang dibayangkan penyair sedang mendekat. Baris ketiga “tak ada yang datang” tampaknya dibuat untuk memberi kesan ambigu dengan baris keempat. Artinya “saat tertentu” itu seperti cepat-cepat akan mendekat, namun saat berhadapan, ia hilang atau samar. Boleh jadi juga ia bukan saja bergegas datang, sebetulnya sudah melekat pada tiap orang sebagai bagian dari eksistensinya, bagian dari sang penyair juga sebagai seseorang. Hanya saja, penyair seperti ngin menegaskan bahwa ia butuh seseorang di luar dirinya pada momen seperti ini. Dan yang teralaman semata sesuatu yang bergegas membawa semacam kabar “saat tertentu” sudah dekat

2. Momen yang secara fisik persis saat kita sedang sakit panas, ada halusinasi ketika benda-benda seperti tiba-tiba mendekat dan pada titik tertentu menimbulkan keheranan, sering menakutkan juga, dan kita membutuhkan seseorang yang berjaga dekat kita. Tentu saja demam dalam konteks puisi ini metafora untuk mewakili peristiwa lainnya, entah sedang demam pada sesuatu (lagu, tokoh, ideology, etc), boleh saja menyebut mirip pengalaman melupakan diri (mistik? Mengapa tidak).

PEMBACA N:

Kemudian, kata benda (nomina) “batu” dalam kata-kata “waktu gugur batu” ialah pilihan kata (diksi) yang tampak sepintas lalu. Kata “batu” itu sangat mengganggu secara semantik (maknawi) meskipun ditambah dengan dalih “mengetuk-ngetuk”. Periksa kembali secara logis, apa hubungan antara waktu dan batu? Apa hubungan gugur dan batu? Ini bukan perkara tata kata lagi (sintaksis), tetapi juga ini perkara tata makna (semantik).

TANGGAPAN:
Jika dikatakan kata “batu” mengganggu secara semantik, mungkin ada baiknya jangan terlalu berkutat secara semantik. Apalagi semata merujuk ke kamus, ia bukan segala-galanya. Ada baiknya melihat puisi lain Willy untuk penggunaan kata batu, Dalam puisi “Rajah Batu” terdapat larik: “Tuhan, aku batu./Pada kata-kata yang hilang ucap/kutemukan diriku sebegini kaku.” Kemudian dalam puisi “PARTERRE” disebutkan: “Hidup telah menundukan aku /kepada dekap batu-batu”. Terkait dengan pemahaman waktu, dalam puisi “Jam Pasir” terdapat larik: “dari pantai kesendirianku /yang panas nan cemas, yang tak berbatas/sebagaimana juga waktu.”

Dengan demikian frase “dalam degup” mengindikasikan saat keadaan denyut kehidupan yang keras, waktu berada dalam hamparan panas dan cemas yang tak berbatas, hingga melenyapkan posisi subjek (istilah Willy “gugur batu”). Pada kondisi seperti ini subjek hanya menemukan nama dirinya yang “hampir hilang”.

PEMBACA N:

Kita baca bait II.


II

Di ranjang, cuma ada derit
dan jaket parasit yang berkerisik:
Tuhan barangkali sedang berbisik.


….perhatikan kata “barangkali” pada baris “Tuhan barangkali sedang berbisik.” Kata “barangkali” atau “mungkin” terhadap Tuhan bukan suatu bentuk ketidaktahuan seseorang yang tengah dilanda demam, tetapi kemungkinan Tuhan itu tak mempercantik baris bahkan bait II tersebut.

Seharusnya baris itu diubah dengan tanda tanya di akhir, misalnya, “Tuhan sedang berbisik?”. Apabila baris itu “Tuhan sedang berbisik?”, baris itu secara dialogis-filosofis mengajak pihak pembaca bermenung lebih tinggi. …….
Kata keterangan “mungkin”, “barangkali”, dan “boleh jadi” yang dilekatkan terhadap konsepsi ketuhanan justru melanggar dualisme “mumkin al-wujud” dan “wajib al-wujud” dalam Filsafat Islam atau Sufisme, ……

TANGGAPAN:

Terlepas dari keberadaan konsep “mumkin al-wujud” dan “wajib al-wujud”, larik “Tuhan barangkali sedang berbisik” lebih tepat dilihat dari makna yang relevan di sekitar larik ini daripada dianggap sebagai pelanggaran pada konsep atau nilai tertentu yang ingin diterapkan oleh seorang pembaca/kritikus. Jika titik berat pada sejauhmana “Tuhan” dimaknai oleh penyair, puisi Willy berjudul“Madah Bandung Selatan” relatif menolong sebagai penjelasan pada larik,”Tuhan, tuhan./Kusimpan namamu di dalam semua keluhan.” Dalam keadaan demam, hal-hal kecil menjadi sensitif, karena itu yang terdengar, yang masih dikuasai subjek, setelah nama-nya pun hampir hilang, berharap sekecil apapun benda di sekitarnya menjadi ruang untuk munculnya tanda-tanda (bisikan) Tuhan.

PEMBACA N:

Kita baca bait akhir, bait IV.


IV

Siapakah yang sedang kuucap-ucap ini?
Sedang dalam igau, silsilah juga nama-nama kacau.


Willy berharap bait IV atau bait akhir ini semacam kesimpulan filosofis yang menakjubkan, padahal apabila kita baca secara teliti (close reading), duat baris di atas menghancurkan kualitas puisi “Mencatat Demam” ini. Perhatikan baris pertama di atas, Willy bertanya secara pragmatik:

“Siapakah yang sedang kuucap-ucap ini?”

Sudah jelas sekali jawabannya di atas tercantum. Perhatikan dalam bait 1 dan bait 3. Yang sedang ia ucap-ucap itu ialah 1) “namaku” dan 2) “orang-orang yang kuingat”.

…..Faktanya, sesungguhnya tak kacau dan tak lagi mengigau karena sudah jelas yang ia ucap-ucap itu namanya dan orang-orang yang ia ingat.

TANGGAPAN:

Jika demam mau diandaikan juga sebagai pengalaman di luar kesadaran dan kebetulan Mr N ini sudah menyinggung sisi sufistik. Menjadi pembahasan telah lama dan menarik sejauhmana pengalaman mistik yang tak terucapkan dan menjadi ladang dalam wacana atau puisi. Saya rasa Willy pada puisi ini sedang melakukan kritik kepada piha-pihak yang mengklaim memiliki semacam pengetahuan mistik, adikodrati etc, namun mereka banyak yang tidak memadai dari kapasitas pengalaman dan pengetahuan. Boleh jadi pula penyair termasuk tidak meyakini jenis pengalaman ini terlihat dari larik “Sedang dalam igau, silsilah juga nama-nama kacau.” Penyair seperti ingin menegaskan bahwa klaim seseorang memperoleh pengetahuan di luar panca inderanya atau pengetahuan intutif sesuatu yang tidak mungkin dan sebuah igauan belaka.

KESIMPULAN

Keseluruhan puisi Willy ada empat bagian. Buat saya bagian I ingin menggambarkan sisi paradox pengalaman kesunyian (tetirah, pada titik tertentu semacam mistik); bagian II, usaha untuk menarik sisi transcendental dari pengalaman yang sederhana sebagai kelanjutan dari bagian I; bagian III pasca pengalaman dalam kesunyian yang coba direfleksikan sebagai ilusi belaka; dan bagian IV sikap penyair sendiri yang seperti tidak yakin pada pengalaman intutif.

Pembaca N agaknya terlalu tekstual? Mungkin sehingga melewatkan sisi menyenangkan dari membaca puisi Willy ini.

Ya begitu saja. Maaf rokok saya juga pas habis, saatnya pulang.

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.