News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Dukun dan Penyair - Supadilah Iskandar

Dukun dan Penyair - Supadilah Iskandar

DUKUN DAN PENYAIR
oleh Supadilah Iskandar
(Generasi milenial, pengamat sastra mutakhir Indonesia)



KAWACA.COM | Supaya usahanya lancar dan murah rejeki, Dukun Mbah Sumanto menyarankan agar Agung bisa melompat seperti tupai. Belum sempat dia menanyakan apa maksudnya tiba-tiba Sang Dukun mengeluarkan statemen baru lagi bahwa hidup ini harus dijalani seperti belut dan tidak boleh hangat-hangat tahi ayam.

Suatu kali, Mbah Sumanto menyarankan agar namanya diubah menjadi Ahmad Agung, kemudian plang pada tempat usahanya yang tadinya Lembaga Pendidikan Seni (LPS) harus diubah pula menjadi Rumah Kebudayaan (RK). Sempat juga kepikiran untuk memprotes, karena istilah RK nanti malah disamakan warga dengan Rukun Keluarga atau Rukun Tetangga (RT). Tapi apalah daya, dia tak berkutik menghadapi usulan dukunnya itu, apalagi sampai membantah petuah-petuahnya yang dianggap manjur bin mujarab.

Beberapa hari terakhir memang pernah dia mendongkol, meski tidak terang-terangan. Pasalnya royalti yang terakhir diterima dari sebuah penerbit yang jumlahnya tidak sedikit, malah diminta oleh dukun itu pada saat kunjungan terakhir di kediamannya. Lalu, permintaan Sang Dukun justru sama dan sepadan dengan jumlah royalti atas karya-karya terakhir yang ditulisnya. Dari mana sang dukun itu tahu bahwa dia memiliki uang berjumlah sekian yang ada di kantongnya?

Justru keanehan-keanehan seperti itulah yang seringkali menyelimuti benak Agung sang penyair. Sehingga, cukup beralasan bila ia merasa makin lengket dan kesengsem pada petuah-petuah Sang Dukun. Bahkan buku sastra yang terakhir ditulisnya yang berjudul “Petualangan Cinta”, bisa juga terbaca dari jarak jauh ketika sang dukun menatap mata Agung sambil berkaca-kaca, lalu menyemburkan segelas air putih di sekujur wajahnya.

“Sebetulnya bau banget, mungkin sudah berminggu-minggu dia nggak gosok gigi, tapi ya sudahlah, namanya juga barokah,” kata Agung kepada Salman sahabat karibnya.

“Tapi dari mana dia tahu kalau di kantong kamu ada uang lima juta?”

“Justru saya sendiri bingung,” dengan pandangan menerawang.

“Bagaimana dia bisa menebak judul buku terakhir yang kau karang?”

“Justru di situlah hebatnya dia, Man!”

Salman pun sepakat pula untuk menjadi murid setia dari Mbah Sumanto. Kalau penyair senior saja rela untuk dipinang menjadi jamaahnya, apalagi dia yang masih terbilang yunior. Bahkan diajak pula seniman-seniman lain agar bergabung mengikuti jejak-langkah Agung untuk bersimpuh bersujud sumarah pada Mbah Sumanto.

“Jangan jumawa, jangan macem-macem!” bentak Agung ketika mendengar adanya penyairn muda yang ngeyel bicara yang kurang sopan mengenai status Mbah Sumanto. “Dalam hidup ini kita semua butuh pegangan, butuh cagak yang menopang perjalanan hidup kita, seperti halnya kita butuh makan minum dan seterusnya.”

Suatu hari, disuruhlah Salman agar mengantarkan penyair yang ngeyel itu ke saung Mbah Sumanto, lalu dikeluarkan seekor keong dari kepalanya. Kemudian, keong itu dipukul-pukul dengan sapu lidi seakan-akan binatang itulah biang keladi yang membuat seniman muda itu bodoh dan tidak mau menuruti perkataan Agung selaku penyair senior.

“Setiap kepala ada penyakitnya,” kata Mbah Sumanto dengan melotot, “sekarang penyakit dari kepala kamu sudah saya keluarkan!”

Setelah disembur dengan segelas air putih, kontan saja penyair muda itu melolong-lolong histeris dan ketakutan, kemudian bersujud di kaki Mbah Sumanto serta minta maaf yang sebesar-besarnya, bahkan minta ampun yang seampun-ampunnya.

Selama berbulan-bulan lembaga kesenian yang dipimpin Agung berjalan sebagaimana adanya. Royalti yang diterimanya dari penerbit-penerbit Jakarta atas karya-karya puisi yang banyak membicarakan “cinta” kadang dihibahkan sebagai bantuan untuk maraknya dunia kesusastraan.

Penyair itu memang loyal kepada siapa saja, terlebih-lebih loyalitas akan dikorbankan sebanyak apapun demi kelanggengan status quo, sehubungan dengan prestasinya yang semakin terancam lantaran bermunculnya penyair-penyair muda yang berbakat. Bahkan, loyalitas itu akan dikorbankan berapa pun harganya untuk biaya kunjungan dan konsultasi kepada Mbah Sumanto yang dianggap sebagai sesepuh dan guru sucinya.

Tetapi lama kelamaan, ketika kemampuan berpikirnya semakin meningkat, maka semakin terbaca gelagat adanya kebohongan pada jalan hidup Mbah Sumanto. Seketika itu, belum sempat Agung melampiaskan dendamnya, tiba-tiba Mbah Sumanto membisiki dirinya, bahwa kita semua punya rahasia masing-masing, jangan saling membongkar aib sesama.

“Kau sendiri pernah menulis dalam karyamu bahwa hidup ini adalah panggung sandiwara, sekarang kau semakin paham bahwa kita punya sandiwara sendiri-sendiri.”

“Maksudmu?” tanya Agung kesal.

“Sama halnya dengan penyair dan sastrawan, mereka mengarang buku-buku untuk menyihir pembaca agar tertarik dengan karangan yang mereka buat. Bukankah karangan itu sendiri adalah kebohongan?”

“Ya, sekarang jaman sudah semakin terbuka,” kata Agung sambil menghela nafasnya, “Semakin sulit mencari orang-orang yang bisa dibohongi semakin sulit pula penyair memperoleh rejekinya.”

Keduanya saling diam dengan tatapan menarawang. Suasana makin sendu ketika keduanya merasa saling senasib sepenanggungan dalam dunia usaha. Kemudian, Mbah Sumanto bertanya, “Jadi, bagaimana dengan buku-buku puisimu sekarang ini?”

“Tidak ada orang yang mau baca puisi-puisi karyaku, Mbah,” dengan suara melenguh.

Keduanya diam sejenak, kemudian Mbah Sumanto membongkar rahasianya sendiri, “Begitupun dengan saya yang sudah berkali-kali mengarang mantra-mantra baru, tapi tetap saja pasien-pasien semakin berkurang saja.”

“Apa bedanya puisi dengan mantra?” penyair dan dukun itu tiba-tiba melontarkan kata-kata secara bersamaan.

Tak berapa lama, untuk memecah kebekuan Mbah Sumanto berseloroh, “Nah di situlah rahasia kita, Gung, kita ini punya usaha masing-masing, mulai saat ini seguru seilmu jangan sampai saling mengganggu.”

“Baikalah, Mbah, saya sepakat,” keduanya tersenyum saling menjabat tangan.

Kini, penyair Agung dan Dukun Mbah Sumanto saling menutupi rahasia dan keunggulannya masing-masing. Yang satu tetap berkarya dan menulis, meski belakang ideologinya telah bergeser untuk menulis berdasarkan kepeduliannya kepada lingkungan sekitar, hingga Agung pun mencoba menulis novel dengan judul “Cinta dan Limbah Pabrik”.

Sementara itu, Mbah Sumanto semakin kesulitan mencari keong di sawah, karena sawah-sawah di sekitar desa sudah beralih fungsi menjadi lahan industri. Kini, dia tidak lagi menghubungi kantor penerbitan, untuk menyelidiki jumlah royalti yang kadang diterima Agung, juga tidak lagi menanyakan buku puisi terakhir yang dikarang Agung, karena penyair senior itu sudah tidak lagi menulis puisi. ***

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.