News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Pusai, Jalan Sunyi - Jejak Kembara

Pusai, Jalan Sunyi - Jejak Kembara

PUSAI, JALAN SUNYI
oleh Jejak Kembara



KAWACA.COM | Dokumenta Poetika 1 dan 2 sudah dicetak dan beredar, di dalamnya segala hal tentang pusai telah diwedar, bersama antologi tunggal pusai Sugiono MP sebagai rambu-rambu zaman pun ditancapkan. Hasilnya, Puri Pusai riuh penumpang, berdusun-dusun menyusun diksi merangkai makna menuang imaji, hingga melahirkan antologi pertamanya Indonesia Dalam Pusai" yang diisi 33 pemusai.

Untuk sebuah formula baru, pusai memang terlihat tidak main-main merawat apa yang telah disemai. Seperti derasnya arus perubahan yang juga tidak main-main, jika tidak segera didirikan pancang yang kuat maka tidak mustahil kita hilang tanpa setapak jejak.
Kegelisahan kawan-kawan di Puri Pusai, saya pikir masih berkutat pada visi neofuturistik, padahal itu seharusnya menjadi makna sarat yang diusung pusai, dan tertuang dengan kata yang hemat dan estetik. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah beda pusai dan purai? apakah pusai itu sekuler? apakah masa depan kalau bukan akhirat? dan seterusnya. Saya akan menjawabnya dengan sedikit cerita, pertemuan saya dan Sugiono MP, atau bisa dikatakan antara Timur Kembara dan Pusai.

Timur Kembara adalah rumah pertama sebelum saya mengenal pusai, bukan rumah sastra sebab saya memang bukan sastrawan dan tak hendak menjadi, maka sampai detik ini pun saya enggan membaca sejarah sastra. Dari rumah itu saya hanya ingin mengumpulkan sahabat yang bertujuan sama yaitu "timur", dan membagi pengalaman berharganya melalui aksara, tanpa terikat aturan-aturan sastra yang sedang menjamur saat ini. Suatu hari, mata saya melirik dan langsung tertarik dengan ungkapan PUSAI yang diusung Sugiono MP, bahwa sebuah puisi haruslah padat, mengurai dan menyolusi (neofuturistik)
Cling! saya seakan melihat kejernihan yang berkelip mewartakan cahaya, maka tidak menunggu lama, saya menyambut pusai sekaligus mengajak Sugiono MP untuk berbagi dan menularkan ide pusai-nya dalam grup, dengan pemikiran, bahwa ini (pusai) adalah pena yang sesuai untuk menggurit jejak di Timur Kembara. Dari sini jelas terjawab, apakah pusai sekuler? Saya nyatakan tidak. Meski begitu penggunaan istilah-istilah keagamaan mestilah harus dimengerti sebagai tindak dan tidak berhenti pada angan-angan yang menyisakan buntut pertanyaan. sayangnya sebagian warga Puri belum menggali serius dan dalam nilai-nilai hakiki yang sekaligus menjadi visi neofuturistik pusai. Bagaimana dengan Purai?

Purai adalah sebuah piagam penghargaan terhadap karya mutakhir Ghouts Misra; sebuah ekstase ketuhanan, tarian sufi. Ia (purai) bisa berupa kekaguman, kemabukan; rindu dan cinta akan Allah, atau juga rintihan seorang hamba yang merayu, memohon ampunan atas dosa yang menyandu, dan lain-lain. Sekarang Purai adalah wadah siapa pun yang mempunyai ghirah spiritual dan kekentalan cinta akan Sangkhalik. Tapi tetap saja, jika ia hemat kata, sarat makna, dan neofuturistik, bisa disebut pusai. Membumi, dalam arti jika kerja adalah ibadah maka PHK bukan momok menakutkan, menjilat adalah kemusrikan, dan menganggur bisa jadi sebuah pilihan. Dari sini sangat jelas kiranya, bagaimana harus membumi dan mereorientasi, meletakkan sesuatu sesuai proporsi yang tepat.

Seperti yang saya tulis dalam judul, "Pusai, Jalan Sunyi". Jalan yang tidak berubah, ditegakkan sebagai pemandu zaman, tidak "wah" sepi singgahan, kecuali, segelintir kepedulian akan kemaslahatan nilai-nilai hidup yang sejati, mendamaikan hati hari ini menyelamatkan langkah generasi nanti. Bersama-sama mencapai keselamatan yang abadi.
Berikut ini pusai, sebuah inti pesan yang saya tangkap dari surat al-Ikhlas. Reorientasi makna dari ikhlas, sudahkah terbaca?

IKHLAS

bersampan
bergantung kail
pada yang Esa

57_240319

Selamat berpusai!

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.