News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Puisi di Tengah Sergapan Budaya Piranti - Suminto A. Sayuti

Puisi di Tengah Sergapan Budaya Piranti - Suminto A. Sayuti

Puisi di Tengah Sergapan Budaya Piranti
oleh Suminto A. Sayuti


Puisi di Tengah Sergapan Budaya Piranti - Suminto A. Sayuti

Berilah aku satu kata puisi
daripada seribu rumus ilmu yang penuh janji
yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi
yang kukasih
(Subagio Sastrowardoyo, “Manusia Pertama di Angkasa Luar,”)

0/.
Salah satu kecenderungan yang mengedepan dalam kehidupan kita dewasa ini ialah perubahan-perubahan yang berlangsung begitu cepat dan berpengaruh besar terhadap berbagai bidang kehidupan: jalar-menjalar antara bidang yang satu dan lainnya. Bahkan, batas-batas kewajaran antarbidang kehidupan pun mencair. Teknologi yang berkembang begitu pesat dan canggihnya berakibat pada perubahan pola tegur-sapa manusia, baik dalam hubungannya dengan diri sendiri, dengan sesama, maupun dengan semesta lingkungan. Akibatnya lebih jauh berupa pengedepanan sikap pragmatis-utilitarianis-materialis-hedonis di tengah masyarakat, yang akhirnya bermuara pada pemiskinan spiritual. Hidup keseharian kita dihadapkan dengan berbagai keniscayaan dan pilihan: memilih nilai baru yang avant garde atau tetap mempertahankan nilai lama yang substantif, walaupun konvensional.

Di era teknologis atau era multimedia, pengalaman kemanusiaan lebih dibentuk oleh berbagai informasi yang dapat disimpan dan ditransmisikan dengan kecepatan yang begitu dahsyat, dan dapat menjangkau kawasan yang begitu luas. Bahasa lisan, misalnya saja, digantikan peranannya oleh citra-citra visual. Manusia menjadi begitu mengutamakan makna dan hasil kerja, uang, kenyamanan lahiriah, dan beragam hal yang nekrofilik, yang semuanya diupayakan melalui cara-cara bertindak secara mekanis.

Dalam hal yang terkait dengan ruang dan jarak, kita cenderung menjadi semakin telegenik. Jarak sebagai salah satu aspek penting dalam tegur-sapa kemanusiaan makin diabaikan. Tatap-muka antarsesama menjadi satu hal yang dinomor-sekiankan.  Terjadi pula pelucutuan ikatan-ikatan primordial yang semula dijunjung tinggi dalam patembayatan, kekerabatan, keagamaan, dan persahabatan. Hubungan suami-istri, anak-orang tua, antarsahabat, antartetangga, menjadi satu hal yang tidak dipentingkan lagi. Kehidupan hari ini adalah kehidupan yang dramatis. Informasi dan gagasan sederhana disampaikan dengan bumbu glamour dan sensasional. Tujuannya, agar mudah ditangkap oleh penerima pesan, seperti tampak pada semaraknya iklan-iklan elektronik. Yang diutamakan bukan lagi isi, pesan, atau makna, melainkan kemasan, penampilan, atau bentuk; bukan lagi nilai-nilai, melainkan keuntungan. Kita terjebak dalam perangkap “kulit” dan lupa “daging,” bahkan acapkali kehilangan “ruh.” Sebagian dari kita  terjebak untuk meng-iya-kan dan menelan berbagai gagasan begitu saja, tanpa proses  pengamatan, pencernaan,  dan penilaian terhadapnya.

Harus diakui bahwa capaian kecanggihan di bidang teknologi telah membuat kehidupan menjadi mudah. Komputer, misalnya saja, mampu menyatukan dan menyajikan dunia tekstual, baik yang verbal, visual, auditif, maupun kinestetik, secara bersamaan. Kita diberi kemudahan dalam hal berkomunikasi dan berekspresi. Akan tetapi, “ruang baru” piranti-piranti teknologis tersebut juga menjadi penyebab utama terkotak dan terpusatkannya tindakan-tindakan manusia ke dalam sebuah ruang simulasi, yang dalam pandangan Baudriliard,  ruang tersebut membuat segala tindakan tubuh menjadi lumpuh karena seluruhnya dipusatkan dalam otak. Akibatnya, dalam taraf tertentu, manusia menjadi terasing dari hidup keseharian yang berlangsung dalam ruang konkret, yang di dalamnya komunikasi dan interaksi dengan sesamanya berlangsung secara wajar. Waktu pun banyak dihabiskan untuk memandangi “layar” sekaligus menelikungkan diri kepadanya. Diam-diam, subjektivitas diri pun mengalami abrasi karena berbagai-bagai hal dikendalikan oleh dan “hanya” bergantung pada piranti teknologis. Manusia tidak lagi menjadi pribadi yang memiliki kedaulatan penuh atas dirinya karena dalam “jagat piranti” terdapat sekat dan batas-batas untuk berekspresi.

Dalam “jagat hidup” seperti digambarkan di atas, individualisme berkembang begitu pesatnya berbarengan dengan tersudutnya nilai-nilai manusiawi ke berbagai arah dan tempat. Pandangan dunia masyarakat bergeser, pecah, dan bercabang-cabang. Komunitas menjadi terbelah dalam diferensiasi dan spesialisasi tertentu. Hidup manusia menjadi tidak merangkum dan menyeluruh. Hidup menjadi tidak lebih daripada sekedar kepingan-kepingan. Keadaan semacam ini sering menyebabkan manusia merasa dihadang atau dihadapkan pada berbagai pilihan, antara lain untuk tetap menjadi “manusia” atau menjadi semacam “robot teknologi.” Pertanyaannya,  siapa masih memerlukan puisi[1] ketika “pemerintahan piranti” dan bahaya-bahaya yang inheren di dalamnya datang menyergap tanpa dapat dihindari?

1/.
Hingga masa tertentu, puisi, baik lisan maupun tertulis, diakui dan menunjukkan dirinya sebagai baling-baling penggerak dan penyangga kehidupan budaya. Puisi juga diperhitungkan sebagai tempat penyimpanan pengetahuan, di samping sebagai sumber kesenangan. Akan tetapi, dalam konstelasi kehidupan yang makin teknologis, di tengah sergapan budaya piranti, peran dan sumbangsih puisi dalam memelihara, mengembangkan, dan memberdayakan nilai-nilai kemanusiaan mulai diragukan (oleh sejumlah kalangan).

Teknologi digital berikut piranti-pirantinya, kini dirasakan telah memberikan sejumlah keuntungan: lebih efektif, efisien, dan universal. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika terdapat kecenderungan bahwa sebagian dari kita begitu bergantung kepadanya. Dalam konstelasi semacam itu, tidak mustahil pula apabila budaya alfabetik yang salah satu perwujudannya berupa teks puisi akan dipandang sebagai sesuatu yang anakronistik. Puisi pun menjadi makin jarang diapresiasi secara individual pada kesempatan tertentu. Beragam “narasi pemikiran” yang bersandar pada pengalaman hidup kemanusiaan tidak lagi disimpan dalam dan dipindahkan melalui puisi, atau sastra umumnya, tetapi disimpan dalam beragam piranti, yang satuan-satuan lingualnya “berbeda” dengan yang selama ini umum dikenal sebagai sarananya. Piranti-piranti praktis yang kini diutamakan. Proyektor dan layar monitor menjadi hiburan utama bagi hampir semua orang. Bisa saja budaya alfabetik dalam sejarah peradaban manusia menjadi singkat hidupnya. Padahal, budaya literasi suatu masyarakat akan terbentuk dengan baik apabila dimulai dengan memperkenalkan hal-hal yang menjadi sumber pengetahuan yang bersifat primordial: teks-teks dan buku, termasuk puisi.

Merosotnya budaya alfabetik bisa saja dipandang sebagai salah satu bagian dari “bencana kemanusiaan.” Anggapan semacam ini bisa saja dipandang berlebihan. Akan tetapi, dalam kaitannya dengan ketergantungan yang begitu tinggi kepada produk budaya piranti, anggapan tersebut cukup beralasan. Kita memahami bahwa produk budaya piranti berikut nilai-nilai yang inheren di dalamnya lebih mudah dikendalikan, dimanipulasikan, dan didegradasikan oleh kekuasaan. Piranti pandang-dengar berbeda dengan kata-kata dalam puisi, dalam hal menyampaikan pesan-pesan dan tanda-tanda keabadian mengenai hati nurani manusia. Karena, kata-kata dalam puisi memberdayakan imaji dan simbol-simbol puitik.

Seringkali puisi mewujudkan dirinya sebagai benteng terakhir kebebasan, yakni ketika terjadi penelikungan pikiran yang harus tunduk-patuh secara total pada kekuasaan politik. Sementara, di “kerajaan piranti,” peluang melakukan perlawanan budaya begitu sempit. Kita tidak mungkin melawan nahkoda teknologi yang sekaligus sebagai seorang raja produksi kultural. Langsung atau tak langsung, hal itu bisa saja menimbulkan sejumlah akibat yang tidak diinginkan karena prakarsa budaya akan secara mudah diganti dengan sesuatu yang akhirnya menggelincirkan pikiran-pikiran kita menjadi budaknya.
            
Tidak seperti puisi, produk budaya piranti cenderung membatasi imajinasi, memajalkan perasaan, dan membuat pikiran menjadi pasif. Pengaruh produk budaya piranti pada kejiwaan manusia, terlebih pada anak-anak dan remaja, tidak pernah sebanding dengan puisi. Retensi pikiran dan imajinasi para pembaca puisi atau pendengar puisi yang dituturkan dalam situasi komunikasi bersemuka, niscaya lebih besar dibandingkan dengan pengaruh produk budaya piranti yang berlangsung hanya sesaat, bahkan ketika piranti-piranti itu telah diperkaya dengan tingkatan kreativitas yang tinggi sekalipun. Tentu argumentasi ini terlampau sepihak. Karena, dalam kenyataannya kita semua juga memiliki daya tolak terhadap produk budaya piranti. Karenanya pula, kita mestinya tidak perlu berpikir bahwa “kekalahan” puisi oleh piranti-piranti akan benar-benar terjadi. Semuanya berpulang pada sikap budaya kita. Maju mundurnya kebudayaan tidak pernah buta dan impersonal.

2/.
Awal-mula dan prototipe dari semua aktivitas puitik dapat dilihat pada mantra, puji-pujian, dan tembang/nyanyian yang terdapat dalam berbagai masyarakat etnik-lokal. Di kalangan masyarakat etnik-lokal, mantra (dan sejenisnya itu) lebih diarahkan oleh kepentingan praktis. Kepentingan tersebut membiasakan mereka pada keadaan yang di dalamnya seluruh energi ditujukan pada perolehan berbagai hal demi keberlangsungan hidup. Bagi mereka, puisi (atau segala sesuatu yang puitis) merupakan sarana dan teknik sederhana yang berorientasi pada tujuan. Yakni, membangun harmoni dengan semesta yang mengelilinginya agar daya magis tumbuh.[2]

Artinya lebih lanjut, otonomi berikut kualitas-kualitas yang melekat padanya: struktur kategori, moral, dan kreasi puitiknya, menjadi sesuatu yang sekunder. Karena apa? Karena, yang primer dalam pengertian praktis adalah keterlibatan manusia dalam usahanya untuk menyadari realitas demi mempertahankan eksistensi. Terlepas dari sifatnya yang bisa saja bermain-main, tak-acuh, fantastis, dan berlebih-lebihan, puisi terutama berfungsi mempertajam cerapan realitas, dan sebagai sarana magis yang bersifat ritual dalam perjuangan meraih eksistensi.[3]

Puisi selalu terkait dengan cara-cara mengubah kehidupan. Puisi bukan sekedar produk dari sebuah sikap kontemplatif murni, yang sekadar menerima segala sesuatu yang terberi. Dengan kekuatan atau kecerdasan, dengan cinta atau kebencian yang ada dalam dirinya, puisi merupakan sarana untuk menguasai “jagat hidup,” untuk menghegemoni dan melumpuhkan “mangsa pilihan.” Di kalangan etnik tertentu, mantra diciptakan dengan tujuan memburu, menangkap, dan membunuh binatang. Mereka juga melantunkan puji-pujian dan nyanyian pada situasi tertentu. Dengan demikian, sebenarnya puisi itu selalu berpihak, dan jauh dari sikap netral terhadap realitas. Pujian dan nyanyian mereka berorientasi pada dan untuk mencapai tujuan magis, baik lewat ekspresi yang penuh cinta ataupun yang sarat oleh penolakan. Aktivitas puitik itu merupakan cara memperoleh kekuasaan atas objek-objek realitas yang dikehendaki.

Masyarakat kontemporer pun mungkin saja menggunakan puisi sebagai sarana subsistensi, sebagai sebuah senjata perjuangan, sebagai sarana pelepasan dorongan agresif, sebagai penawar bagi kehendak destruktif, atau untuk mempertahankan diri agar tidak terjebak menjadi robot teknologi, untuk tetap menjadi manusia. Kita bisa menggunakan puisi untuk membenahi sesuatu yang dirasa masih belum lengkap.[4] Karena sifat mimesis dan semiosisnya, puisi mampu mengungkapkan berbagai karakteristik yang terkait secara langsung dengan hakikat kemanusiaan, baik dalam perspektif antropologis, fisiologis, sosiologis, psikologis, maupun teknologis. Puisi memang terhubung langsung dengan manusia, dengan pribadi-pribadi yang kombinasi pengalaman, watak, dan berbagai tendensinya tidak dapat direplikasi secara penuh. Akan tetapi, dalam kaitan ini kita boleh juga meyakini dan memandang bahwa puisi tidak berkaitan secara langsung dengan kebaikan atau keburukan, kebenaran atau kepalsuan, ataupun dengan hal-hal yang dikehendaki atau ditolak secara politis.

3/.
Puisi sejatinya merupakan tindakan realisasi. Substansialitas gagasan, oleh penyair dihubungkan dengan realitas yang dicari. Agar tujuan-tujuan aktualisasi puitik dan karakter sejati puisi tercapai, kekaburan demi kekaburan pun dihindari. Realitas yang dicoba digumuli penyair dari “serpihan waktu yang telah berlalu,” bisa saja pada akhirnya mengandung kebenaran yang tinggi atau gagasan murni. Karena apa? Karena, di dalamnya bersemayam pengalaman individual yang tidak hanya konkret, tetapi juga unik, partikular, dan khas. Beragam kesulitan yang disasa tak berkesudahan dalam menyingkap tabir yang menyelubungi berbagai pengalaman, pada akhirnya membangunkan kesadaran dalam diri bahwa penyair terikat oleh kondisi yang lebih dalam dan esensial. Oleh karena itu, semua gejala inderawi yang langsung bisa dipahami akan dirasa sebagai semacam telikung, yakni telikung yang menghalangi pencapaian sesuatu yang hakikatnya ideal, partikular, serta tak berkesudahan.

Sampai kapan pun puisi akan tetap menjadi tempat nilai-nilai manusiawi dirumahkan secara layak dan wajar. Melalui dan dalam puisi, nilai-nilai tersebut dipertahankan dan disebarluaskan. Realisasinya akan berupa proyeksi tematis yang terkait dengan kesadaran religius-spiritual-agamis, kesadaran sosial, dan kesadaran individual berikut irisan-irisan di antaranya. Dengan demikian, ketika menjelajahi lorong-lorong puitik, terbayang dalam pikiran kita sejumlah hal. Karena, dalam dan melalui bahasa pilihannya, para penyair memang membangun sejumlah hal. Di samping refleksi emosional dan intelektual yang ditimba dari sumur pengalaman individualnya tatkala bersemuka dengan realitas, juga dijumpai refraksi (tidak hanya refleksi) keadaan dan pengalaman yang ditimba dari sumur-sumur sosial dan spiritual-agama.

Mencipta puisi memang merupakan urusan yang soliter. Berkonfrontasi dengan medium pilihan (selembar kertas), seorang penyair seringkali tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengisolasi dirinya sendiri dari hiruk pikuk di luarnya. Ia meloncat ke dalam semesta ingatan yang paling dalam. Ia bangun perasaan nostalgik, hasrat-hasrat rahasia, intuisi dan instink, seluruh unsur yang memberi “makan” dan makna pada imajinasi kreatif.

Bisa saja, seorang penyair tidak pernah secara nyata mampu memahami secara penuh proses itu. Bahkan, tatkala para penyair itu mencoba menjelaskan proses kreatifnya, dan berupaya memaksakan sebuah kendali rasional di atas bentuk, diksi, metafor, berikut lanskap yang mewujud sebagai “bahasa” yang serupa sungai, mbanyu-mili, mengalir begitu saja. Ia bisa saja tak pernah dapat menghindarkan diri dari kegelapan tertentu, seperti menghadapi sebuah bayangan, mencoba secara sadar mengawal proses penciptaan sebuah puisi, apapun bentuk dan genrenya. Elemen yang secara spontan bergegas keluar dari suatu sudut paling rahasia dari personalitas seorang kreator tersebut akan menentukan kekhasan idiosinkratik puisi ciptaannya. Penetapan hirarki struktur puitik kadang malah menjungkirbalikkan intensi sadarnya secara subtil. Suatu makna atau simbolisme tertentu, dalam sejumlah kasus proses kreatif, kadang tidak serupa dengan gagasan awal (sebagai bagian dari the act of will), bahkan bertentangan.

Setelah menelusuri suatu proses yang panjang, pada akhirnya penyair, siapapun dia, akan menemukan apa yang lazim disebut sebagai “realitas puitik.” Karena perannya yang signifikan, realitas akan selalu ditempatkan pada posisi sentral dan utama dalam konteks keseluruhan puisi yang diciptakannya. Ia menjadi sadar akan kemampuannya untuk menangkap dan berpegang teguh pada realitas itu.[5] Baginya, berbagai kesan sederhana yang diperoleh dicatatnya sebagai hal utama; hal-hal yang membingungkan, dihadapinya sebagai sesuatu yang sensual dan konseptual. Jika dirasakan mengganggu, hal itu dihadapinya secara bahagia karena ia merasa telah mengalami sesuatu yang “tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.” Ia merasa terlibat dalam pengalaman eksistensial yang bermakna. Ia pun berkehendak menuliskannya, dan secara esensial merasa bahwa berbagai hal yang ada di dalamnya berfungsi untuk menjelaskan sekaligus “menemukan” sesuatu.[6] Penyair pun mampu menggenggam realitas dan menyimpannya: begitu nyata dan aktual. Realitas yang mengesankan, stilis, dan bobotnya tak terreduksi. Puisi, dari waktu ke waktu, siapapun penyairnya, semuanya “realistis,” semuanya dahaga dan berkehendak untuk meneguk sari-pati realitas.

Mungkin karena puisi memang diciptakan dari upaya memadukan yang nalar dan yang tak nalar, pikiran dan intuisi, cahaya fantasi yang bebas dari gelapnya intensi yang tak disadari, puisi umumnya memiliki kesinambungan transkultural dan regeneratif. Dengan demikian, puisi memungkinkan penyair bersama khalayak pembacanya menyeberangi lautan dan benua serta melintasi tapal-tapal batas geogafis. Puisi pun bisa memberikan kontribusinya bagi upaya pembentukan format tegur-sapa (trans-) kultural karena puisi, seperti disyairkan oleh M. Raudah Jambak, dalam “Tanda Bahasa dan Kata Jiwa,”  me- “… rekam/ setiap peristiwa dengan bahasa dan kata,” juga “suara-suara yang tenggelam dalam suara.” 
Melalui penjelajahan atas berbagai puisi, kita pun akan mengalami petualangan yang dikehendaki dalam beragam peristiwa kemanusiaan. Pikiran kita akan semakin kaya “narasi,” yang pada gilirannya berfungsi kontributif dalam pembentukan sikap kritis yang bermanfaat dalam menempuh kehidupan yang tengah dan akan terus disergap oleh produk budaya piranti. Puisi-puisi yang baik akan mampu menyekemakan imaji-imaji manusiawi, yang lifelike, secara simbolis atau alegoris, sehingga dengan menikmatinya dengan baik, kita pun akan mendapatkan raut muka kita sendiri.[7] “ … “Puisi adalah bau anyir keringat/ berjuta rakyat, … adalah kehidupan/ mereka yang alot dan berat, adalah pikiran/ dan tenaga mereka yang sekarat,” dan “… adalah darah luka mereka yang muncrat,” serta bukannya “… sejenis pakaian/ sore atau pakaian pesta yang terpampang/ di kaca etalase,” sebagai “hasil desainer-de­sainer/ kebudayaan,”  maka “setidaknya puisi bisa meng­ajari/ kita untuk berkata: T I D A K !” (Emha Ainun Najib, “Sajak Luka Menganga”).

Lereng-Merapi: Oktober 2019

Endnote:
[1] Bandingkan dengan: Mario V.Llosa,  The Sydney Morning Herald, September, 13, 1993.
[2] Misalnya penciptaan mantra yang dipakai sebelum menangkap binatang buruan atau sebelum “rumah tinggal” didirikan. Tidak ada pretensi simbolik, religius, ataupun estetik dalam the act of will mereka. Tidak terdapat pula pretensi imitatif. Yang ada hanya sebuah aktivitas praktis yang sederhana, yang tidak memerlukan perhitungan semacam efek panoramik, yang tanpa unsur kegunaan.
[3] “Ana kidung rumeksa ing wengi/Teguh hayu luputa ing lara/Luputa bilahi kabeh/Jim setan datan purun/Paneluhan tan ana wani/Miwah panggawe ala/Gunaning wong luput/Geni atemahan tirta/Maling adoh tan ana ngarah ing mami/Guna duduk pan sirna” (pupuh “Dhandhanggula”)
“Singgah-singgah kala singgah/Tan suminggah Durga-Kala sumingkir/Sing asirah sing asuku/Sing datan kasat mata/Sing atenggak sing awulu sing abuntut/Kabeh pada sumingkira/Ing telenging jalanidi//Aja nggodha lan ngrencana/Apaningsun, ya sun jatining urip/Dumadiku saka henu/Hening heninging cipta/Singgangsana ing tawang tawang prajaku/Sinebut pura kencana/Bebetenge rajeg wesi” (pupuh “Pangkur Singgah-Singgah”)
[4] Misalnya saja, dengan cara mengungkapkan suasana atau atmosfer yang suram dan tidak bergairah, yang tampak sia-sia dan tanpa tujuan, dalam jagat puitik. Apapun alasannya, puisi tetap bersifat realistis dan dinamis. Hanya dalam kasus-kasus perkecualian saja puisi mengekspresikan sikap tidak memihak atau netral terhadap permasalahan praktis, baik yang bersifat ekonomik, hukum, moralitas, maupun ilmiah. Bisa saja berbagai sifat tersebut terpadu secara esensial dalam jagat puitik, yang kesemuanya merupakan sikap terhadap realitas dalam rangka perjuangan eksistensial. Dalam hubungan ini, puisi menampilkan diri dengan berbagai keunikan sesuai dengan tempat dan waktu yang menyituasikannya. Keunikan dan kekhasan yang diungkapkan itu sekaligus menunjukkan orisinalitas dan individualitas cara berekspresi sang penyair sebagai kreator dalam rangka mencipta “sejarah” bagi diri sendiri dan realitas yang mengkondisikannya. Kepada tempat dan waktu berikut aspek-aspek yang melekat di dalamnya itulah para penyair berhutang budi, sehingga pengetahuan, gagasan, dan imajinasi yang ditawarkan melalui karyanya secara fungsional dimuarakan juga pada realitas tersebut. Keberpihakan pun menjadi pilihan yang tak terelakkan, yakni keberpihakan yang tidak memerlukan desubjektivikasi diri karena semakin subjektif, partikular, dan khas karakteristik sebuah puisi, semakin signifikan-lah jagat kreatif itu.


[5] Pada dasarnya, proses tersebut serupa dengan ditemukannya jawaban atas pertanyaan yang muncul dari sebuah kajian Ilmiah
[6] Misalnya saja, “gugus batang pohon terbakar, bongkahan arang batu, serpihan kabut asap, kepul kepundan, bau solfatara, juga gelimpang mayat,” yang diperoleh di dalam sebuah tamasya vulkanologis sehabis letusan Merapi, dan sebagai aspek yang paling mengedepan dari seluruh pengalaman itu adalah hilangnya rasa lezat dan gurih “jadah” yang dimakan dengan “tempe bacem.” Pertanyaan yang tersisa: dari manakah asal-usul perasaan “sedih” yang tak berkesudahan itu bermula, yang terhubung dengan cerapan-cerapan itu. Manakah yang merupakan potongan perasaan nostalgik yang terbuang, manakah pula realitas yang tersembunyi, yang kesemuanya pasti ada di dalamnya, sehingga “kenangan yang tak diharapkan” itu terasa begitu signifikan dan eksistensial. Pada akhirnya terbukalah sebuah pintu yang sebelumnya telah diketuk ribuan kali, tapi sia-sia. Mendadak ia bagai dibanjiri oleh perasaan “penuh”, disergap oleh realitas tersebut. Ia dikuasai oleh kejutan, bahwa tamasya vulkanologis yang berbeda situasinya mampu menghadirkan kenangan akan nasib kemanusiaan akibat bencana letusan gunung Merapi: juga bagaimana “decak mulut” yang mengunyah “jadah” dan “tempe bacem” bisa mengingatkannya pada “rintih suara pedih” di sepanjang jalur evakuasi korban bencana, yang membuat ia kembali terkenang pada tempat-tempat yang teduh dan rimbun yang pernah disinggahinya selama tamasya tahun-tahun sebelumnya. Sentuhan sehelai tissue bisa saja mengingatkannya pada selembar handuk yang pernah digunakan bertahun-tahun silam saat hidup dan tinggal di sebuah rumah di lereng gunung itu. Ingatan yang sarat dengan realitas yang begitu menusuk perasaan itu mampu membentangkan sebuah lanskap kehijauan lereng yang terhampar di depan matanya pada saat itu, yang kini berubah menjadi kerontang, gersang, dan kelabu.
[7] “aku telah terbuka perlahan-lahan, seperti sebuah pintu, bagiku/  satu per satu aku terbuka, bagai daun-daun pintu,/hingga akhirnya tak ada apa-apa lagi yang bernama rahasia;/begitu sederhana: sama sekali terbuka.//dan engkau akan selalu menjumpai dirimu sendiri di sana/bersih dan telanjang, tanpa asap dan tirai yang ber­nama rahasia/jangan terkejut: memang dirimu sendirilah yang kaujumpa/di pintu yang terbuka itu, begitu sederhana//jangan gelisah, itulah tak lain engkaumu sendiri,/kenyataan yang paling sederhana tapi barangkali yang menyakit­kan hati/aku akan selalu terbuka, seperti sebuah pintu, lebar-lebar bagimu/dan engkau pun masuk, untuk mengenal dirimu sendiri di sana” (Sapardi Djoko Damono, “Penyair,” Tonggak 2, hlm. 408-409)

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.