News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Sastra dalam Konotasi Miring - Sori Siregar

Sastra dalam Konotasi Miring - Sori Siregar

Sastra dalam Konotasi Miring
oleh Sori Siregar
Sastra dalam Konotasi Miring - Sori Siregar

Dalam beberapa hal kita selalu bertolak dari prasangka. Bahkan uluran tangan yang paling ikhlas pun tidak jarang kita nilai dengan prasangka itu. Sastra juga tidak dapat melepaskan diri dari prasangka itu.

Dengan kata sastra banyak di antara kita yang segera berasosiasi, beban pikiran berat yang lahir dalam bentuk tulisan. Karena itu sastra adalah berguna untuk orang-orang tertentu dan bukan untuk semua orang. Pemikiran seperti ini mendominir sebahagian besar masyarakat kita, tidak terkecuali tokoh-tokoh yang sering bicara tentang pentingnya kesenian dan kebudayaan nasional dalam pembangunan bangsa.

Sastra telah ditempatkan dalam posisi yang tidak menguntungkan dan kemudian ditatap dengan konotasi miring. Sastrawan telah mencoba membuat sastra menjadi milik semua, namun benturan-benturan yang harus dihadapi membuat usaha mereka tidak dapat berjalan lancar. Kalau sastra ingin dijadikan ”milik semua”, tentunya sastrawan harus pula memenuhi apa maunya ”semua” itu. Di sinilah terjadinya konfrontasi yang ternyata tidak pernah dapat diselesaikan.

Adanya konfrontasi yang tak pernah selesai, adalah akibat munculnya dua sikap yafig berbeda, bahkan bertolak belakang. Sikap yang satu terlalu mementingkan idealisme, sementara sisi lain menuntut "penyedap” semacam es krim. Sastrawan memang tidak menolak adanya es krim, tetapi mereka tetap ngotot bahwa es krim adalah minuman santai yang hanya diperlukan sewaktu-waktu dan bukan merupakan kebutuhan utama untuk mengisi perut.

Sisi yang satu merasa perutnya telah berisi dan hanya tenggorokan sedikit kering, sehingga yang diperlukan hanyalah es krim. Sisi lain berpendapat perut memang telah penuh terisi, sayangnya isi perut itu bukanlah makanan bergizi yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tubuh kita.

Konfrontasi jadi berlarut-larut sampai Sekarang antara dua kutub yang sangat tidak seimbang. Kalau kata konfrontasi dianggap terlalu keras untuk digunakan barangkali kata perbedaan pendapat (differences, kata orang Inggris) lebih tepat digunakan.

Akibatnya memang fatal juga. Majalah Horison jadi kewalahan untuk memperbesar sirkulasinya karena dengan oplag seperti sekarang saja sudah sering harus nombok. Kalau sebuah buku sastra dengan jumlah cetak 5.000 'bisa habis dalam waktu lima tahun, itu namanya bestseller”, kata Direktur Utama P.T. Balai Pustaka Drs. Soetojo Gondo.

Yang jelas cerita tentang karya-karya sastra selalu bernada minor. Pengecualian tentu saja ada. Misalnya buku Nh. Dini, Pada Sebuah Kapal yang mengalami cetak ulang dalam waktu singkat. Untuk buku-buku sastra, apa yang dialami oleh buku Dini itu adalah suatu ”kejutan”. Namun kejutan ini tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan buku-buku fiksi populer bisa mencapai jumlah cetak ulang sampai tujuh kali dalam waktu yang relatif singkat.

Seorang penulis dengan berani mengatakan, ”orang yang tidak memahami puisi adalah orang yang belum dewasa”. Tentu saja yang dimaksudkannya bukan dalam arti biologis. Tetapi belum dewasa dalam sikap dan pengetahuan yang justru Sangat diperlukan untuk memahami puisi, karena puisi adalah kristalisasi dari penghayatan penyair akan makna hidup dan kehidupan ini. Barangkali anggapan penulis ini dapat juga dikembangkan unjuk karya sastra yang lain, selain puisi, walaupun kedewasaan yang dituntut mungkin tidak ”sematang” apa yang dituntut oleh puisi. 

Walaupun benar bahwa karya sastra yang lain adalah penjabaran dari pengalaman pengarangnya, namun kedewasaan masih tetap dituntut dari orang yang ingin memahaminya. Pemupukan apresiasi harus berangkat dari sini Pemupukan yang akan membuat orang semakin cepat dewasa, semakin (dapat . melihat dengan persepsi yang benar. Dengan begitu kita tidak hanya tahu nama-nama pengarang atau judul-judul buku yang mereka tulis saja. Kita harus lebih jauh dari itu.

Yang menjadi persoalan di mana harus kita mulai pemupukan apresiasi ini? Di rumah ? Di sekolah? Atau kedua-duanya sekaligus. Idealnya memang begitulah.

Sayang sekali, realitas memberikan gambaran yang lain, sehingga sastra sampai saat ini .masih tetap diberi konotasi miring. Untuk memulai apresiasi di tengah-tengah keluarga yang memberi konotasi miring itu, jelas tidak mungkin. Karena itu mungkin di sekolahlah kita harus mulai. Dari tingkat terendah sampai ke tingkat terakhir.

Dengan pemupukan apresiasi ini tidaklah sama sekali dimaksudkan untuk mempersetankan buku-buku fiksi populer. Betapa pun kita membutuhkan makanan yang bergizi dan penuh protein, namun sesekali kita masih juga membutuhkan rujak atau es krim. Yang kita inginkan hanyalah, menempatkan sastra di tempat seharusnya dan membetulkan konotasi yang miring selama ini.

Jakarta, 13 Juli 1979

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.