Live KAWACA TV
Tonton
wb_sunny

Menjaga Nurani Merawat Negeri - Yoseph Yapi Taum

Menjaga Nurani Merawat Negeri - Yoseph Yapi Taum

MENJAGA NURANI MERAWAT NEGERI
Oleh Yoseph Yapi Taum*

        Dibandingkan dengan seniman-seniman lain, barangkali para penyairlah yang paling banyak mengekspresikan rasa cintanya kepada tanah air. Tampaknya ada hubungan yang erat antara kepenyairan dan rasa cinta tanah air. Dalam sejarah sastra Indonesia, penyair-penyair awal bangsa ini muncul dengan mengemukakan rasa cintanya kepada tanah air. Mereka menerbitkan karya-karyanya melalui Balai Pustaka, sebuah lembaga resmi yang dibangun pemerintah kolonial Belanda: ‘Comissie voor de Volkslectuur’ (Komisi Bacaan Rakyat) tahun 1908. Lembaga ini dibangun sebagai konsekuensi politik etis, yang mendirikan sekolah bagi kaum Bumi Putera. Banyak pemuda yang dididik secara Barat mendapatkan wawasan tentang nasionalisme dan demokrasi.
Ada tiga orang penyair terpenting Angkatan Balai Pustaka, yakni: Muhammad Yamin (Tanah Air, 1922), Rustam Effendi (Bebasari, 1924, Percikan Permenungan, 1926), dan  Sanusi Pane (Pancaran Cita, 1926; Puspa mega, 1927). Muhammad Yamin dalam puisi berbentuk soneta berjudul “Indonesia Tumpah Darahku” mengungkapkan pujaan dan rasa cinta tanah airnya yang sangat besar.
INDONESIA TUMPAH DARAHKU
Oleh Muhammad Yamin

Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai,
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya,
Dilingkari air mulia tampaknya:
Tumpah darahku Indonesia namanya.            

Bahkan Muhammad Hatta, tokoh proklamator kemerdekaan RI yang kemudian menjadi Wakil Presiden RI pertama, juga menulis puisi cinta tanah air yang tak kalah indahnya berjudul  “Beranta Indra.”  

BERANTA INDERA
Oleh Muhammad Hatta

Lihatlah timur indah berwarna,
Fajar menyingsing hari pun siang;
Syamsyu memancarkan sinar yang terang,
Khayal tersenyum berpanca indra.

Angin sepoi bertiup dari angkasa,
Merembus ke tanah ranting diguncang;
Margasatwa melompat keluar sarang,
Melihat beranta indera indah semata.

Langit lazuardi teranglah sudah,
Bintang pun hilang berganti-ganti;
Cahaya Zuhari mulai muram.

Haiwan meneriak selawat alam,
Hati pun  girang tiada terperi;
Melihat kekayaan subhan Allah.

Melalui puisi, kita ikut merasakan getaran cinta tanah air dan rasa bangga atas keindahan bumi bangsa  kita. Fenomena keterkaitan penyair dan rasa cinta tanah air bukan fenomena yang khas Indonesia. Ini merupakan sebuah fenomena global. Di berbagai belahan bumi ini, para penyair dengan ekspresif menggemakan rasa cinta mereka terhadap tanah airnya masing-masing. Allen Ginsberg (1926–1997), seorang ikon penyair Amerika yang terkenal karena kepeduliannya terhadap persoalan kebangsaan, menerbitkan antologi puisi berjudul Poems for the Nation: A Collection of Contemporary Political Poems (1999) (Puisi-puisi untuk Negeri: Antologi Puisi Politik Kontemporer”).  Di Uganda, Christopher Henry Muwanga Barlow menghimpun puisi-puisi dalam antologi berjudul Building the Nation and Other Poems.
        Hadirnya antologi puisi Kita  Adalah Indonesia secara tegas mengungkapkan obsesi dan rasa cinta para penyair akan persoalan-persoalan penting di tanah air yang bernama Indonesia.  Bagaimanakah ekspresi para penyair Indonesia tentang negerinya di tahun 2017 ini? Seperti apakah gambaran rasa cinta tanah air mereka setelah Indonesia merdeka selama 72 tahun? Persoalan-persoalan kebangsaan apa sajakah yang sedang dihadapi bangsa ini, yang digulati penyair-penyair kita?  Catatan ini tidak berpretensi mengulas semua tema yang terkandung di dalam antologi yang sangat kaya ini. Beberapa catatan dari hasil pembacaan tentang hal-hal krusial saja yang akan dicatat. Di antaranya: keragaman, keindahan, dan harapan.

Keindahan Indonesia
        Tema keindahan masih dominan dalam puisi-puisi ini. Akan tetapi keindahan Indonesia tidak seromantis keindahan yang dibayangkan penyair-penyair Angkatan Balai Pustaka: keindahan tanpa batas. Bagi para penyair sekarang, keindahan Indonesia masih seperti lukisan namun bingkainya retak. Puisi karya Panjikristo “Lukisan Berbingkai Retak” kiranya mewakili estetika keindahan tanah air tahun 2017. Berikut ini puisinya.

Lukisan Berbingkai Retak

Deretan titik  membentuk garis
lurus dan lengkung.
Kanvas dipenuhi goresan dan sapuan,
hasilkan gradasi pada lukisan,
tipis dan tebal
gelap dan terang
dengan paduan warna-warni
semua unsur berpadu satu
Seandainya saja,
ada satu saja warna yang hilang?
apa jadinya?
Jika warnanya cuma hitam,
memangnya mau bikin siluet?
Tidak ada lukisan satu warna
jangan hilangkan satu warna
akan berkurang keindahannya.
Lukisan itu indah,
sayang bingkainya retak

Tiba-tiba aku melihat lukisan itu
cerminan bangsa ini.
Bangsa yang indah
beragam suku dan bangsa
dan budaya
Masyarakat majemuk laksana warna-warni
Mari padukan warna itu
tiada yang mesti hilang
perbaiki bingkai yang retak

        Tidak sulit bagi kita memahami retaknya keindahan bangsa Indonesia yang beragam suku, bangsa, dan budaya saat ini. Bangsa ini sedang dilanda perpecahan berbasis SARA. Pilkada Jakarta 2017 –juga Pilkada di daerah-daerah lainnya-- menyuguhkan secara vulgar dan kasar retaknya bingkai lukisan Indonesia karena perbedaan horizontal yang di-tajam-kan sebagai alat politik kekuasaan. “Lukisan itu indah,//sayang bingkainya retak,” kata Panjikristo.
        Dalam puisi “Semangat Cinta Negeri”, Immaculata Is Susetyaningrum menggambarkan fenomena menyatunya masyarakat “menyalakan ribuan lilin”. Semangat cinta negeri dengan menyalakan ribuan lilin merupakan sebuah fenomena penting yang terjadi sebagai dampak Pilkada Jakarta 2017 yang penuh nuansa SARA. Petahana Basuki Cahaya Purnama (Ahok) yang terkenal bersih, tegas, berprestasi, dan berani melawan korupsi tidak hanya dikalahkan dalam Pilkada Jakarta 2017 melainkan juga dikalahkan di pengadilan atas tuduhan “menista agama”.  Jutaan masyarakat, bukan hanya di Jakarta dan di seluruh Indonesia tetapi juga di empat benua melakukan gerakan perlawanan moral dengan menyalakan ribuan lilin di berbagai kota dan pelosok negeri.  

Semangat Cinta Negeri

Tumpah bangsaku
Menyatu seluruh
Nyalakan ribuan lilin
Tanda harapan

Mulut-mulut menggemuruhkan nasionalisme dalam lagu
Terbakar semangat bangga dan cinta negeri

Bergandeng tangan
Indah bhinneka
Gelora cinta negeri
Menyatukan semua hati

Satu nusa
Satu bangsa
Satu bahasa
Tanah air pasti jaya
Untuk selama-lamanya

Bangkel, Yogyakarta, 17/7/17, 01:23

Fenomena menyalakan jutaan lilin dilaksanakan bersamaan atau mengikuti ritual mengirim ribuan karangan bunga ke Balai Kota Jakarta kemudian ke Monas dan ke Mabes POLRI. Ritus pengiriman bunga ini pun merupakan bentuk perlawanan moral atas kekalahan menyakitkan Gubernur DKI Jakara Basuki Cahaya Purnama. Acara itu biasanya diikuti dengan doa lintas agama dan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Tak salah bahwa bersimpati pada nasib Gubernur Ahok diartikan sebagai “semangat cinta negeri”. Julia Daniel Kotan mengungkapkannya dalam puisi “Papan Bunga Balai Kota.”

Papan Bunga Balai Kota
                        Untuk Ahok

Hamparan permadani membentangkan serenada
Tak menyapa subuh sampai senja memanggil
Beribu kepala menyembul
Tangan terulur
Apa yang kau cari bapa, mama dan semua?

Kepak sayap elang hendak
Bertengger di puncak
Kotak-kotak menarikan air mata
Aksara bermakna lara dan suka
Serta asa yang teraniaya
Cinta terpatri di gunungan bunga
Tertancap di papan yang setia
Menerima apa yang tebersit
Dari hati pengirimnya…

Beribu papan bunga membanjir
Semilir terukir benih terima kasih
Dan bakti dari ksatria yang kalah
Yang lemah bukan karena payah
Tetapi melawan kekuatan

Aksimu memburu tumbuhkan cintamu
Kesucianmu dalam kasus bancaan
Melibatkan rombongan predator
Yang bukan lagi sekadar koruptor
Adamu bersih suci murni
Kan kami temani berdiang
Dalam abu dingin
Membakar kayu pilihan pada tersuci
Kau akan makin berkilau karena ditempa
Di kawah candradimuka yang membara

Zaman ‘kan membuktikan perumpamaan
Siapa emas yang menahan panas
Menziarahi hidup dengan perubahannya
Mengundang mata dengan tenang
Bergetar dada meratapi wajah senyum
Dipeluk penuh cinta oleh sang pencipta
Berjejal manusia mengulurkan tangan
Menyentuh seujung bajumu
Bahagia
Ditingkah teriakan bernada pedis
Perlambang ketabahan dan kesakitan
Tertahan tangisan anak negeri

Biarlah mengalir sampai ke hilir
        Air mata
        Simpati
        Empati
        Belas kasih
        Kerinduan
        Dukungan
Untukmu
Cinta itu telah menemukan
Tempat pelariannya

Catatan: kisah heroik yang tak kentara

Depok, 26042017

Ketiga puisi di atas menunjukkan dengan tegas keberpihakan para penyair pada hati nuraninya yang menghargai prestasi dan kerja keras di atas segala propaganda berbasis SARA.  Para penyair ini menolak penggunaan SARA sebagai alat politik kekuasaan yang sangat berbahaya (lethal weapon) karena meruntuhkan integrasi dan keharmonisan sosial yang dengan susah payah dibangun para pendiri bangsa.

Keragaman Indonesia
        Salah satu keunikan bangsa Indonesia, dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia adalah keragaman suku, bangsa, bahasa, agama, dan budaya. Dalam puisi “Ada Kita”, Buanergis Muryono menegaskan eksistensi bangsa Indonesia yang multikulturalis. //Perbedaan itu kekuatan//Keragaman sebagai kekayaan//tentang rajutan benang kehidupan//agar menjadi sempurna mendapat ragam jawaban...//. Seperti ditegaskan juga oleh Ezra Tuname dalam puisi metaforis “Mulutku Bukan Harimaumu”: //Meski berbeda,//kita satu mulut//.
Panjikristo dalam “Warisan Sang Mpu” secara lebih terinci mengungkap filosofi leluhur para pendiri bangsa yang menganggap perbedaan sebagai sumber kekuatan, bukan kelemahan. //Berbeda buat mereka kuat,//jika saling menggengam erat//… //karena Bhinneka Tunggal Ika,//jangan sampai lapuk tergerus zaman//.
Bagaimana menyikapi keragaman bangsa ini? Heru Marwata dalam “Satu Rasa dalam Kebersamaan” menyadari resiko dari bangsa yang beragam, yang bisa saja berebut “kebenaran”. Heru mengungkap fakta bahwa di bumi Nusantara ini jelas ada perbedaan, pertengkaran, saling cakar dan berebut kebenaran, terkadang pertengkaran yang tidak perlu dan tidak bermutu. Bagaimana mengakhirinya? Cinta, satu hati, laku komunikasi, silaturahmi, merenda benang harap, dan satu rasa dalam kebersamaan. Simak dalam puisi Heru Marwata selengkapnya berikut ini.

Satu Rasa Dalam Kebersamaan

aku sadar
di bumi bulat bundar
kita sering berbeda dan bertengkar
tak jarang kita lanjutkan dengan saling cecar
dan bahkan kadang kita pun saling cakar berebut benar

aku tahu
di jalur panjang sejarah waktu
negeri majemukku begitu biasa dilanda duka-pilu
oleh perselisihan tak berujung, tak perlu, bahkan tidak bermutu
sayang, kadang kala semua dianggap ritual dan sekadar buru pematang rindu

aku pinta
kita selaraskan kata
tempat menaburbaitkan benih cinta
mendesir arti menderas wacana bahasa makna
melagudendangkan jiwa kebersamaan dalam balada anak bangsa

satu hati
citra tanah air menghias diri
terpantul indah di langit laku komunikasi
tergenggam mesra di jari tangan kalbu silaturahmi
anak negeri merenda benang harap kain sutra bumi pertiwi

demi martabat bangsa, kita adalah pengelana di segala medan perjuangan
pelacak jejak, pengarung laut, juga penakluk gunung pengharapan
pengemas asa, petarung tangguh penganyam kesadaran
demi wajah negeri yang kita damba idamkan
ikrar kita: satu rasa dalam kebersamaan

Yogyakarta, #pondokulusikatatanpaarti, 12 Juli 2017

Sebagaimana di dalam wacana nasionalisme, bangsa Indonesia juga membutuhkan nilai-nilai dasar yang merekat-hubungkan keanekaragaman itu. Kita paham bahwa Indonesia mengakui five principles lima dasar NKRI yang tertuang di dalam Pancasila. Ezra Tuname dalam “Perempuan Bersanggul Pancasila” memberikan ilustrasi dengan sebuah metafora yang menarik yang melukiskan Indonesia dan ideologinya ibarat perempuan bersanggul Pancasila. Di antara bangsa-bangsa, Indonesia begitu cantik dan anggun. Tak ada yang berani menggoda dan mengusili perempuan berkebaya bhinneka ini. Dengan wajah damainya, ia tak merunduk malu dan kikuk, ia tengadah menyapa cakrawala.

Perempuan Bersanggul Pancasila

Berjalan di antara barisan mata berwarna
Ia cantik menyapa
Dengan salam

Senyum sederhana
Tangan terkepal
Ia perempuan bersanggul Pancasila

Tak ada yang bersiul
Atau sekadar mencolek
Sebab ia anggun berkebaya bhinneka

Perempuan bersanggul Pancasila
Berwajah damai
Tatapannya menyapa cakrawala

Borong, 2017

        Keharmonisan Indonesia dengan ideologi Pancasilanya yang diibaratkan sebagai perempuan bersanggul Pancasila, kini terancam oleh pemaksaan kehendak standardisasi moral. Dalam puisi “Bhinneka”, Heru Marwata memotret fenomena penyimpangan perilaku orang Indonesia yang tidak lagi menghargai keberagaman bangsa. Suka memaksakan kehendak, tebang pilih dalam bertindak, menolak keberagaman, berteriak di jalanan sebagai manusia paling benar, menuduh orang lain cemar, berani membela yang bayar, meniupkan perpecahan, mengehembuskan kebencian, mengkafirkan teman, dan menghakimi tanpa fakta. Semua fenomena ini, menurut Heru Marwata,  mengancam marwah Garuda Pancasila.

Bhinneka

jangan pernah percaya jiwa bhinneka
jika masih suka memaksakan kehendak
jika masih tebang pilih dalam bertindak
jika pada keberagaman sering berkata tidak

jangan pernah percaya jiwa bhinneka
jika di jalanan berteriak sebagai yang paling benar
jika di ruang sidang menyebut orang lain penuh cemar
jika motto hidupnya tak pernah gentar asalkan dibayar

bhinneka itu berteman dengan timbang rasa
berjabat erat dengan saling beri terima
berkarib dengan kesediaan berbagi
bersaudara dengan budi sehati

bhinneka teramu dalam semangat saling tampung
tanpa meniadakan kuat kawat anyam jejaring
bhinneka menghadirkan saling mendulang dukung
tanpa menghapus  jejak juang teman seiring

jangan syairkan lagu bhinneka
jika mulutmu tiupkan perpecahan
jangan lafalkan doa bhinneka
jika napasmu hembuskan kebencian

jangan pernah meneriakkan kebhinekaan
jika begitu mudah mengkafirkan teman
mudah menghakimi tanpa penelusuran
mudah mengecap melempar tuduhan

bhinneka itu tersemat di dada
terukir di jiwa, terpahat penuh makna
mematri semangat juang Garuda Pancasila
dalam ramu serta rima Bhinneka Tunggal Ika

Yogyakarta, #pondokilusikatatanpaarti, 7 Juli 2017

Hapan untuk Negeri
Apa sajakah harapan para penyair untuk masa depan Indonesia Raya? Waty Sumiati Halim dalam “Damba Seorang Anak Negeri” mengungkapkan harapan-harapannya sebagai seorang anggota masyarakat Indonesia ‘biasa’ yang tak terpandang dan bukan orang bijak. Sebagai orang biasa, penyair ini mengungkapkan ‘kebijaksanaan’ hidup di bumi Indonesia:  persahabatan dalam keberagaman (silih asih), persaudaraan dalam perbedaan (silih asah), dan persatuan bangsa (silih asuh). Bukankah saling asih, asah, dan asuh merupakan kearifan leluhur bangsa Indonesia yang terkenal toleran dan harmonis?




Damba Seorang Anak Negeri

Aku bukanlah seorang terpandang
Terlahir, tumbuh dan mengenal arti hidup
bermula dari tangis pertamaku
Selepas dari katup suci ibuku
di negeri ini

Aku bukanlah seorang bijak
Belajar hal sederhana tentang dunia
Bermula di sebuah taman kanak-kanak
dengan ketulusan bocah mungilnya
Melangkah ke luar pagar rumahku
Membaur dalam keberagaman di sekitar rumah ibuku

Memintal benang persahabatan dalam keberagaman
– “silih asih-lah,” kata ibuku
Merajut jaring persaudaraan dalam perbedaan
– “silih asah-lah,” pesan ibuku
Menenun selimut persatuan dalam gerak langkah bangsa ini
– “silih asuh-lah,” harap ibuku

Mengukir sejuta mimpi pada kanvas sejarah bangsa
Menggubah senandung melodi pada cakrawala persada

Pada relung hati terdalam menyimpan sebuah damba
untuk bangsa dan negara yg tercinta ini...
Semua hati merunduk teguh bersatu giat membangun
Negeriku yang kaya, rakyatnya sejahtera
Bangsaku yang besar, rakyatnya rukun dan damai
Namanya disebut oleh dunia dengan hormat : INDONESIA

Bandung, 5 Juli 2017

Penyair senior Jose Rizal Manua menegaskan harapannya dalam puisi “Kurindukan Sebuah Indonesia”. Terasa benar pandangannya yang arif, bijak, dan penuh kasih. Ia berharap umat beragama hidup rukun dan damai sehingga pembakaran rumah ibadah tak terjadi lagi. Ia berharap manusia Indonesia semakin beradab dan menjunjung tinggi keadilan juridis, sehingga “vonis bebas macam badutan tak lagi terjadi”. Rakyat Indonesia bersatu sehingga hasutan perpecahan tak lagi mempan. Koor setuju wakil rakyat tak terjadi lagi. KKN tak terjadi lagi. Harapan dan cita-cita luhur ini begitu indahnya. Akan tetapi, di ujung puisi ini, Jose Rizal Manua bertanya kecut, “Mungkinkah itu terjadi?”

Kurindukan Sebuah Indonesia

Kurindukan sebuah Indonesia
Di mana umat beragama
Hidup rukun bertetangga
Sehingga pembakaran
Rumah ibadah
Tak lagi
Terjadi

Kurindukan sebuah Indonesia
Di mana manusia beradab
Menjunjung daulat hukum
Sehingga vonis bebas
Macam badutan
Tak lagi
Terjadi

Kurindukan sebuah Indonesia
Di mana semangat persatuan
Tertanam di kalbu insan
Sehingga perpecahan
karena hasutan
Tak lagi
Terjadi

Kurindukan sebuah Indonesia
Di mana setiap pemimpin
Berlomba membangun peradaban
Sehingga koor setuju
Wakil rakyat
Tak Lagi
Terjadi

Kurindukan sebuah Indonesia
Di mana keadilan sosial
membuat rakyat sejahtera
Sehingga epidemi Korupsi
Kolusi dan Nepotisme
Tak lagi
Terjadi

Kurindukan sebuah Indonesia
Di mana umat beragama
Hidup rukun bertetangga
Di mana manusia beradab
Menjunjung daulat hukum
Di mana semangat persatuan
Tertanam di kalbu insan
Di mana setiap pemimpin
Berlomba membangun peradaban
Di mana keadilan sosial
Membuat rakyat sejahtera
Namun, lagi-lagi
Mungkinkah itu
Terjadi?
Jakarta, 11 Maret 1999


Penutup
        Dalam puisi, wajah Indonesia di tahun 2017 berbeda dengan di tahun 1920-an, 1940-an, dan 1960-an. Ekspresi rasa cinta dan bangga akan tanah air Indonesia juga berbeda getaran dan semangatnya. Bumi Nusantara yang indah dan megah tetap sama dari zaman dahulu kala. Tetapi semangat orang yang menghuninya ternyata berbeda-beda.
Terbitnya antologi puisi “Kita Adalah Indonesia” mendapat momentum yang tepat justru ketika bangsa Indonesia merayakan peringatan 72 tahun usia negeri ini. Tahun 2017 adalah tahun yang menyimpan begitu banyak pengalaman pahit perjalanan negeri ini. Ancaman keberagaman terkoyak dengan hadirnya kaum radikalis yang tak segan-segan melakukan persekusi terhadap ‘lawan’ siapapun dia. Paradigma lama “kawan-kawan” yang diwariskan leluhur bangsa ini diganti dengan paradigma “kawan-lawan”. Garis demarkasi suku, agama, ras, golongan ditarik dengan tajam, direkayasa, dan dijadikan alat politik kekuasaan.
Para penyair yang menghadirkan puisi-puisinya di dalam antologi ini memberikan peringatan kepada para pemimpin bangsa ini untuk mengutamakan kerja, prestasi, dan kebaikan seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali. Bermain-main dengan SARA demi perebutan kekuasaan politik merupakan sebuah senjata yang sangat berbahaya, yang akan membunuh kita semua sebagai saudara sebangsa setanah air. Kita mendambakan pemimpin bangsa yang memiliki integritas moral dan keberanian yang teguh untuk memimpin bangsa ini keluar dari berbagai keterpurukan.
Antologi ini hadir di tahun politik 2017 sebagai sebuah ajakan untuk melakukan perjalanan rohani (spiritual journey) menimba kekayaan spiritual bangsa yang tersimpan dalam khazanah pemikiran berbagai ajaran agama dan kepercayaan komunitas lokal. Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika didengungkan dengan kuat dalam antologi ini. Kearifan, keutamaan, dan kebijaksanaan hidup warisan leluhur terbukti tahan uji dan memiliki daya hidup yang sangat tinggi yang mampu membuat masyarakat kita mampu mengatasi berbagai tantangan zaman.
Melalui Antologi Puisi Kita Adalah Indonesia, para penyair yang terdiri dari Eka Budianta , Timur  Suprabana, Jamal Rahman Iroth, Ahmad Setyo, Setyo Widodo, Maya Azeezah, Wayan Jengki Sunarta, Eddy Pramduane, A Slamet Widodo, Muhammad De Putra, Riri Satria, Jose Rizal Manua, Dian Rusdi, J.  Edward Tampubolon, Waty Sumiati Halim, Heru Marwata, Bambang Widiatmoko, Immaculata Is Susetyaningrum, Buanergis Muryono, Panjikristo, Kurnia Effendi, Eko Kuntadhi, Kristina Sirait, Julia Daniel Kotan, Ezra Tuname mencoba menjaga nurani merawat negeri.

*Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. Dosen Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
















Baca Juga:
Buku: Abadi dalam Puisi, 54 Puisi Pilihan Eddy Pranata PNP
Gerakan Donasi Buku Apa & Siapa Penyair Indonesia
Ketakutan-Ketakutan Manusia Zaman Now

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.