News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Pelajaran Mengarang di Sekolah, Bermasalah! - Maman S. Mahayana

Pelajaran Mengarang di Sekolah, Bermasalah! - Maman S. Mahayana

oleh Maman S. Mahayana

Pelajaran Mengarang di Sekolah, Bermasalah!

KAWACA.COM | Problem akut dalam pelajaran mengarang (di sekolah) adalah terjadinya kesesatan dalam menentukan titik berangkatnya. Belum-belum kita sudah diteror serangkaian pertanyaan: Bagaimana mengawalinya? Bagaimana struktur atau sistematikanya? Bagaimana pula mengakhirinya? Adanya tiga bagaimana itu menggiring pelajaran mengarang memulainya dengan segala pengandaian. Andai kita hendak mengarang, maka idealnya, bla … bla … bla …. Lalu, ditentukanlah langkah-langkahnya seolah- olah proses kreatif menulis itu berjalan linier. Keluarlah resepnya: tetapkan dahulu topik karangan atau tema (: masalah) yang akan digarap, lalu rumuskan tujuannya. Selepas itu, bikin semacam outline (kerangka karangan). Konon, outline ini penting agar dalam proses penyelesaian karangan, kita (: si penulis) tidak terperosok pada godaan setan: melenceng ke kiri atau ke kanan. Atau lagi, tanpa sadar, terjerat melakukan lanturan (digression), sehingga data dan informasi apa pun bisa dijejalkan di sana.

Mengapa boleh terjadi begitu? Inilah riwayat perjalanannya.

Pada akhir tahun 1970-an sampai pertengahan dasawarsa 1980-an, dunia karang-mengarang (di sekolah) tersihir pada metode yang dikembangkan Gorys Keraf lewat bukunya yang fenomenal, Komposisi! Buku itu kemudian disusul dengan buku sejenis sebagai tahap lanjut pelajaran mengarang, yaitu Deskripsi, Narasi, Eksposisi, dan Argumentasi. Sebagai buku teori mengarang, buku-buku tadi memang menyihir, pesonanya begitu kenceng, dan sifat ilmiahnya, tidak terbantahkan lagi. Lalu, seketika mereka—buku-buku itu—menjadi semacam buku putih teori pelajaran (mengarang) jenis karangan tertentu untuk tingkat Perguruan Tinggi. Para dosen bergembira atas kehadiran buku-buku yang disebutkan tadi. Sebab, pelajaran mengarang menjadi begitu sistematik, runtut, dan segalanya tampak mudah dan simpel!

Untuk pegangan penulisan karya ilmiah semacam makalah atau skripsi, buku- buku tadi memang dapat digunakan sebagai panduan yang cerdas. Para dosen begitu konviden menjelaskan bagaimana menulis karangan ilmiah. Sang Dosen dengan modal mahakaryanya, skripsi atau tesis, begitu tabah mengajar model mengarang dengan paradigma itu. Sadar atau tidak, terjadi pergeseran pada pemahaman konsep mengarang sebagai “hanya” menulis karya ilmiah. Lalu bermunculanlah buku-buku sejenis yang semangatnya mengusung baju yang sama: karya ilmiah!

Sementara itu, mahasiswa –dengan bekal pelajaran mengarang di sekolah yang berselimutkan teori—terpukau selalu oleh performa sang dosen yang menguraikan teknik mengarang yang begitu canggih dan ilmiah itu. Selama beberapa tahun, paradigma model mengarang ilmiah semacam itu berjalan baik-baik saja, meskipun dalam kenyataannya, mahasiswa tetaplah tidak beranjak jauh dari kualitas menulisnya yang gagap, terbata-bata, dan kerap disergap penyakit pusing tujuh keliling.

Celaka dua belas! Model pengajaran mengarang di Perguruan Tinggi itu, ditiru- jiplak (copy paste) oleh guru-guru di sekolah. Akibatnya, pelajaran mengarang di sekolah yang bercita-cita agar para siswa terampil menulis, hasilnya jauh panggang dari api. Para siswa dijejali pengetahuan teoretis bertubi-tubi. Maka, teori menjadi lebih penting dari praktik. Itulah senjata pamungkas para guru dalam pelajaran mengarang!

Beginilah (kira-kira) yang diajarkan di sekolah (dan perguruan tinggi): 

Buat dahulu judulnya.
Tentukan topik (karangan) atau temanya. 
Rumuskan tujuannya.
Simpulkan tesisnya (dengan kalimat lengkap) 
Susunlah kerangka karangannya.
Silakan mengarang (karya ilmiah)! 
Maka: simsalabim, abrakadabra!
Jadilah sebuah karangan (karya ilmiah)!

Begitu simpel, begitu mudah … (… Ah, teori!) Ketika disadari bahwa pelajaran mengarang di sekolah bermasalah; ketika disadari pula bahwa para mahasiswa (bahkan juga guru) dalam kenyataannya— mengambil istilah Taufiq Ismail—lumpuh menulis, para pakar pendidikan seperti kebakaran jenggot. Seminar dan pertemuan ilmiah untuk mencari solusi pemecahan masalah itu, muncul di sana-sini, timbul-tenggelam, heboh sendiri, bingung sendiri!

____
Dikutip dari: "Memasabodohkan Teori", Maman S. Mahayana, Esai Pengantar Program Penulisan Esai, Mastera (Majelis Asia Tenggara), Bandung, Lembang, 19—25 Agustus 2019.

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.