News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Puisi Pilihan Bayu Win

Puisi Pilihan Bayu Win

Puisi Pilihan Bayu Win
KAWACA.COM | Bayu Win, adalah nama pena dari pemilik nama lengkap Bayu Winarno. Saat ini pria kelahiran Jakarta, 30 Januari 1979 berdomisili di Cibinong, Bogor. Mulai aktif menulis puisi setelah media sosial facebook ditemukan. Bergabung dengan komunitas Dapur Sastra Jakarta pada tahun 2012. Meskipun tidak mempunyai latar belakang sastra dan berprofesi sebagai driver, tidak mengurangi minatnya untuk terus berproses kreatif dalam menulis puisi.

Puisi-puisinya beberapa antologi bersama, antara lain Metamorfosis, Palagan Sastra, Ketika Sebutir Garam Di Secangkir Air, telah dimuat dalam Makna, Berlipat Κατα dan Aku Menuju-Mu. Bayu Win aktif dalam komunitas Dapur Sastra Jakarta, sebab baginya DSJ menjadi rumah kedua setelah keluarga.

PENYAIR JALANAN

(I)
Ia menggantungkan mimpi
Di sepanjang jalan yang dilalui
Sesekali dituangkannya hidup
Ke dalam secangkir puisi

Lelaki itu menjelajahi waktu
Terbelah empat dimensi

Garis-garis hidup telah terlukis
Di tapak-tapak tangan manusia
Garis kita beda..

Bias aksaramu aksaraku menguap
Di antara riuhnya deru jalanan ibukota.

(II)
Lelaki itu terdiam
Di bawah temaram lampu jalan
la datang untuk menghapus
Semua luka di atas luka

Lewat goresan aksara
Yang mengalir dari ujung pena
Kulihat, dia tengah bercengkerama
Dengan semesta.

Jakarta, 171013-230814

KATAMU

Aku cemburu pada malam
Yang tak bosan kau jelajahi tiap lekuk tubuhnya
Tempatmu melepas sepi hingga pagi berganti

Aku cemburu pada kata-kata
Yang selalu kau selami kedalaman maknanya
Hingga terlahir sajak para pujangga

Aku cemburu pada hari
Dan tak ingin kau berbagi hati.

Jakarta, 301218

SUBUH MEMANGGIL

Lir ilir lir ilir
Kusingkap tabir
Memuntir embun yang getir
Sudut malam mulai berakhir

Lir ilir lir ilir
Layang seta layang kumitir
Kulayangkan bibir penuh zikir
Hidup seorang fakir

Lir ilir lir ilir
Embun mulai mencair
Malam pun hampir akhir
Larut zikir seorang fakir.

Jakarta, 031114

SAJAK EMBUN

Kita masih sama menimang bulan
Saat azan berkumandang di kuburan
Jerit ayam jantan melepas malam
Mana paling lantang?
Deru mesinku tak lagi garang.

Jakarta, 051l17

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.