News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Teluh - Khairul Umam

Teluh - Khairul Umam

Teluh
oleh Khairul Umam
Teluh - Khairul Umam

KAWACA.COM | Sudah kubilang, jangan sekali-kali datang ke kampungku. 
Kamu masih belum tahu banyak tentangnya. Kamu pun anak kota yang tahunya hanya kemacetan dan keramaian tiada henti oleh pengendara yang datang silih berganti. ”Entah dari mana,” tuturmu pelan ketika menyikapi kemacetan di kotamu. Namun, selalu saja kamu memaksa dan mendesakku untuk membawamu serta ke kampungku. Kamu bilang ingin bertemu dengan kedua orang tuaku.

Saat itu, kulihat sorot matamu tajam menghunjam mataku. Aku tahu kamu tidak pernah main-main dalam hal perasaan. Aku tahu betul seperti kutahu kamu punya trauma mendalam tentang cinta. Namun, menyanggupi permintaanmu dan menerima lamaranmu aku masih belum siap. Bukan karena aku tidak mau padamu. Bukan pula aku tidak ingin selalu berdekatan denganmu. Sungguh bukan itu alasannya.

Kecerdasanmu dalam menangkap pelajaran dan ketekunanmu dalam belajar sudah cukup membuat hampir setiap gadis di kampus kita tertegun dan berlomba-lomba mendekatimu. Tidak terkecuali aku. Perlu kamu ketahui, saat kulihat dua orang gadis keturunan arab duduk di sampingmu sambil mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasanmu tentang strukturalismenya Lèvi-Strauss, aku tertunduk cemburu. Meski engkau tidak tahu itu. Kamu memang tidak boleh tahu. Cukuplah menjadi rahasiaku.

Suatu ketika, saat liburan hampir tiba, kamu kembali memaksaku untuk membawamu serta ke kampungku. Aku terdiam. Menatapmu dalam. Kulihat sinar kuat memancar begitu tajam ke mata sipitku. Namun, terpaksa kembali kutolak. 

Sebelum aku benar-benar pergi dan meninggalkanmu sendiri, kamu kembali memaksa. Kali ini, kamu lebih meminta iba dari sekadar memaksa. Kuhirup udara dalam-dalam dan kuempaskan kuat-kuat. Bukan karena aku membencimu. Bukan. Aku hanya ingin membuat lega dadaku yang begitu sesak oleh kengototanmu untuk datang ke rumahku.
Kali ini aku terdiam. Namun, sebelum aku benar-benar menyanggupi permintaanmu, aku harus benar-benar bisa memastikan kamu akan memenuhi permintaanku. Kutatap kembali matamu yang legam. Ada bening yang menyejukkan.

”Kamu boleh ikut dengan satu syarat.”
”Oke.” Kulihat matamu berbinar. Mungkin saja kamu telah membayangkan indahnya hidup di sebuah perkampungan, jauh dari kota. Bisa menikmati malam dengan taburan bintang dan udara dingin yang menyegarkan. Berbicara dengan kedua orang tuaku. Namun, aku semakin khawatir.
”Kamu tak boleh melamarku saat itu. Kamu pun harus tinggal dengan sepupuku yang laki-laki. Kalau malam tak boleh main ke rumah.”

Kulihat senyummu surut dan tertunduk lesu. Bukankah tujuan utamamu memang melamarku. Ah, aku tahu itu dan aku sangat ingin menjadi bagian dari hidupmu. Namun, sabarlah dulu, ini bukan waktu yang tepat. Aku pun terlahir di tempat yang juga tidak begitu tepat untukmu. Kamu hanyalah anak kota yang tahu menghitung angka dan bermain logika. Kamu masih belum tahu seperti apa sulitnya hidup di desa sepertiku. Tidak semua bisa dilogikakan dan tidak semua bisa diterka dengan akal semata. Ada banyak misteri yang sama sekali belum kamu ketahui dan mungkin saja tidak ada di kota metropolis seperti di kotamu ini.

”Baiklah,” jawabmu datar dengan intonasi lemah dan wajah setengah pucat. Kutahu kamu tidak begitu bergembira. 

Namun, mengetahui kampungku dan datang ke rumahku itu sudah cukup sebagai perkenalan pertama. Kamu pun memahami itu. Kamu memang keras kepala. Sama kerasnya dengan saat mempertahankan makalahmu di depan dosen yang mencoba mencari celahnya. Hasilnya, kamu menang dan dosen itu memberi jempol untuk sebuah kegigihan dan kecerdasan.
***

”Kampungmu sepi, adem, ayem, dan tenteram. Aku merasa seperti di surga.” Di antara deret lampu-lampu, dibalut gedunggedung menjulang, dan berbenturan dengan suara knalpot dan klakson yang ingar, setelah beberapa hari kepulanganmu ke kotamu ini, di warung kopi langganan kita yang tempatnya menjorok ke kali, kamu kembali membuatku geli dan merasa begitu lucu.

Hampir saja kutumpahkan es teh yang sedang kuminum. Hampir saja aku tertawa seandainya tidak segera menahannya. Sedikit minuman yang telah telanjur membasahi kerongkongan membuatku tersedak. Kamu segera menangkap kejadian ganjil itu. Menatapku tajam seperti sedang meminta penjelasan. Aku memberimu isyarat dengan tangan, kamu boleh melanjutkan ceritamu. Tidak ada yang perlu kujelaskan. Ini bukan waktu yang tepat. Toh, walaupun kujelaskan kamu tidak akan memahaminya. Mungkin saja menyangkalnya.

”Tak ada kemacetan, udaranya sejuk, dan orang-orangnya ramah. Berkumpul di malam hari setelah seharian pergi ke ladang membuat hidup lebih berarti.” Diam.
”Kulihat bintang begitu jelas memancarkan cahayanya. Keindahan malam itu terasa semakin lengkap ketika pada beberapa jam di malam itu kulihat beberapa cahaya berpendar kemerahan melesat-lesat berseberangan, saling silang tak jauh di langit kampungmu. Ia timbul-tenggelam, kembali bersinar, dan bersilangan. Beberapa di antara mereka kulihat terjatuh di sebuah tempat yang entah di mana.”

Ah, kamu memang cerdas dan pandai membaca suasana dengan cepat. Hanya saja ada yang luput dari pembacaanmu tentang warna langit di malam hari itu. Sebuah keramaian. Keramaian yang jauh dari ribut, keramaian yang jauh dari gaduh, apalagi macet seperti di kotamu ini. Keramaian itu hanya terjadi di malam menjelang semua mata terlelap dan telah kamu lihat dengan mata kepalamu. Keramaian itu adalah peristiwa yang tidak bisa dilogikakan seperti pengalamanmu selama ini. Ini murni di luar kemampuanmu. Maka, berhati-hatilah karena keramaian itu akan menyebabkan malapetaka jika tidak waspada.
Keindahan yang kamu sebutkan itu, bukanlah bintang jatuh atau hiasan gratis yang tidak punya dampak. Itu namanya teluh. Menurut orang-orang di kampungku, cahaya itu adalah api membara yang keluar dari sebuah telur yang sudah diambil isinya dan digantikan dengan jarum dan paku berkarat yang siap membunuh mangsanya. Cahaya-cahaya itu memang akan beterbangan hampir setiap malam menjelang orang-orang akan menikmati tidurnya.

Menurut penuturan kakek dan nenek, mereka yang punya ilmu sihir itu bertarung untuk membuktikan siapa yang paling jago di antara mereka. Namun, perlu kamu ketahui, mereka pun juga bisa bekerja sama ketika didapati di kampung mereka pendatang baru. Tahap pertama memang tidak untuk membunuh. Mereka hanya ingin memastikan pendatang baru itu apakah orang yang sakti atau tidak. Mereka juga ingin mengatakan bahwa pendatang baru tidak boleh banyak tingkah. Namun, ketahuilah, mereka juga tidak jarang tega membunuh. 

Entah dengan alasan apa.

”Kamu jangan berbohong.”
Jawabmu datar, persis seperti yang telah kukira sebelumnya. Apa pun yang telah kamu lihat telah kucoba jelaskan seperti yang telah kakek dan nenekku menjelaskan padaku. Namun, dasar kamu orang kota yang sepertinya sulit percaya jika tidak masuk akal. Tapi, apa boleh buat jika kamu tetap membandel dan tidak mau percaya pada penjelasanku.
Sepanjang pengalamanku di kampung, sudah banyak orang meninggal dengan penyakit yang selalu gagal didiagnosis oleh dokter sekaliber spesialis pun. Mereka memilih menyerah dan menggelengkan kepala saat ditanya apa sebenarnya penyakit keluarganya. Sesekali mereka memberikan jawaban. Namun, jawaban itu selalu saja berubah setelah beberapa hari mereka kembali periksa. Begitulah terus hingga penyakit itu dibawa mati. Maka, dukunlah alternatif selanjutnya yang menjadi tumpuan di kampungku. Namun, hanya sedikit dari mereka yang bisa disembuhkan dan kembali normal. Karena, setelah penyakit itu berhasil dibuang, tidak begitu lama mereka akan kembali menderita penyakit aneh yang lain lagi.

Untuk menyelamatkan keluarganya, kakekku memberikan satu alternatif untuk penangkal. Jangan pernah tidur di atas kasur yang ada kolongnya dan selalu membaca kalimat-kalimat toyyibah sesaat menjelang tidur. Itulah mengapa sampai saat ini aku terbiasa tidur di lantai dan selalu berkomat-kamit sebelum benar-benar terlelap. Namun, kamu hanya tersenyum dan meninggalkanku sendiri setelah mengucapkan tiga kata.
”Aku akan melamarmu.”

Kutahu ini berat, namun kamu terlalu nekat.
***

Bukankah sudah kuperingatkan, hanya saja kamu tetap saja membandel. Kutawarkan padamu tempat tinggal lain. Kita bisa hidup damai dan indah di sana. Namun, tetap saja kamu memaksa tinggal di kampungku yang kamu sebut seperti surga itu. Maka, setelah beberapa bulan menikah kamu benarbenar mengalaminya. Rusukmu sering sakit, staminamu mulai menurun, dan perkembangan terakhir, perutmu mulai membesar.
Sudah kuusahakan berobat ke beberapa dokter dan spesialis penyakit dalam. Hasilnya kamu tahu sendiri. Tidak ada penyakit bersarang. Lalu, kubawa kamu ke beberapa dukun dan mereka bersepakat bahwa kamu sedang dalam pengaruh ilmu jahat yang berpotensi membunuh. Kamu memang telanjur menganggap setiap orang di kampungku baik dan periang, namun itu salah. Hanya sebagian kecil yang tulus. Selebihnya, mereka berpurapura. Kamu bercanda dengan mereka hampir setiap hari, kamu berinteraksi dengan mereka juga hampir setiap hari, bahkan sesekali kamu saling gojlok ketika kebetulan ada bahan untuk dijadikan gojlokan.

Sudah kuperingatkan, jangan keterlaluan. Kamu malah tak mengacuhkannya. Kamu memang belum paham atau tidak mau paham tentang kampungku ini. Orang-orang yang memiliki ilmu teluh selalu mencari mangsa untuk dijadikan objek. Namun, mereka tidak bisa melakukannya kepada sembarang orang. Hanya orang-orang yang membuat hatinya tersinggunglah yang mereka tenung. Maka, orang baru sepertimu sangat tepat untuk mereka pancing.

Sekarang, semuanya sudah telanjur. Tidak mungkin mengembalikan apa yang sudah terjadi. Kulihat wajahmu meringis menahan sakit. Kutahu itu sangat sakit. Seperti disayatsayat sebuah pisau, bukan? Ya, karena itu memang pisau yang menyayat lambungmu. Begitulah tutur beberapa orang yang sempat kutangkap pembicaraannya. Aku dan keluarga hanya bisa pasrah dan berdoa. Kamu pun sepertinya mulai menyadari kekeliruanmu dan membenarkan perbincangan kita beberapa bulan lalu di warung kopi yang menjorok ke kali itu. Namun, semuanya sudah telanjur. Aku dan keluarga hanya bisa berharap dan menunggu. Semoga saja kamu cepat sembuh.

Tagena Tengah, Oktober 2017

Sumber: 
Buku: Matahari di Bumi Blambangan - Cerpen dan Puisi Pilihan Radar Banyuwangi 2018

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.