News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Perempuan yang Selalu Memandang ke Luar Jendela - Muhtadi.ZL*

Perempuan yang Selalu Memandang ke Luar Jendela - Muhtadi.ZL*

Perempuan yang Selalu Memandang ke Luar Jendela
oleh Muhtadi.ZL*


KAWACA.COM | Tak lama lagi senja akan redup, seperti biasa, Mirna akan duduk didekat daun jendela yang lurus menghadap kiblat. Ia melihat matahari yang tampak muram, menyamakannya seperti tebing sungai selatan rumahnya yang curam dan bila malam lebih seram . Ada apa gerangan? Tanya Mirna pelan pada desir angin yang berseliweran. Karena iba melihat matahari yang suram.

“Aku sudah tidak kuat, bisa kau bantu aku, Mirna?”tiba-tiba gendang telinga Mirna mendengar suara. 
“Siapa itu?”sergahnya cepat.
“Hey! Mirna, di depanmu!”suara itu semakin jelas.
Mirna melihat sekitar, tak ada orang, yang ada hanya matahari bersinar merah temaram. Namun pelan suara itu kembali terdengar. Ia tatap lamat matahari itu, meski terpicing-picing, Mirna tetap memaku pandang. Sontak Mirna tidak percaya.
“Apa tadi kau yang berbicara?”tanya Mirna ketika melihat sungging senyum di bibir matahari.
“Iya itu aku, kenapa kau lama sekali mengenali suaraku? Mirna,”balasnya membuat Mirna tidak enak hati.
Mirna yang salah tingkah dan merasa canggung menunduk menghilangkan rasa malu agar tidak nampak di hadapan matahari yang ia terka punya masalah akhir-akhir ini.
“Kenapa menunduk? Hey! Mirna berbicaralah. Bukankah kita setiap hari selalu tatap pandang?”lamunannya buyar begitu mendengar suara matahari yang terdengar sumbang. Mirna mendongak mencoba bersikap baik, menutupi canggungnya yang masih bersemayam dalam tempurung kepalanya. 
“Maaf, iya kau lupa, soalnya untuk hari ini kau tampak berbeda, suaramu pun begitu, membuat aku iba dan tidak sempat mengingat percakapan hari-hari kemarin.”dengan gelagapan Mirna berucap dan berharap matahari tidak mengetahuinya. “Kamu kenapa hari ini?”sambungnya dengan tanya yang menggantung sedari tadi.
“Aku tidak kuat.”
“Kenapa?”
“Dari pagi tadi, aku menyinari orang-orang berdemo, tua muda sama saja, mereka tidak terima dengan kebijakan baru yang hendak ditetapkan oleh orang berdasi,”dengan mimik tampak muram matahari menjelaskan kegelisahannya pada Mirna.
“Bukankah itu tindakan yang benar?”
“Menurut mereka—tua dan muda—iya. Tapi bagiku itu tetap salah. Seharusnya mereka membicarakan hal itu secara baik-baik, di tempat yang nyaman pula,”sinar matahari semakin buram. Mirna bisa melihat mata beling matahari.
“Sebenarnya aku setuju denganmu, tapi pejabat negara mau seenaknya saja membuat kebijakan, mereka ingin melemahkan semua yang ada di dalamnya, lagian mereka juga acuh terhadap tua-muda yang koar-koar di halaman kantor kerjanya,”dengan sekelumit pengetahuan yang Mirna tahu,  ia utarakan pada matahari agar tahu masalah yang sebenarnya.
“Tetap saja hal itu salah. Sekali lagi itu tetap salah,”suaranya terasa hangat serasa bibir matahari dekat dengan gendang telinganya.
“Lalu, yang benar bagaimana?”
“Yang pasti, bila seseorang merasa tidak nyaman dengan sesuatu yang baru, mereka akan datang kerumah orang yang menetapkan kebijakan terlebih dahulu, membicarakannya dengan santai ditemani kepulan asap rokok, secangkir kopi atau teh hangat, dan aku kerap melihat hal itu, sebagian sukses, sebagian lagi tidak karena mereka menghadapi orang-orang yang berkepala batu.”
“Kurasa itu benar juga, untuk apa mereka mengeluarkan  keringat dan urat-urat mereka, jika dengan seperti apa yang kau katakan tadi itu sukses,”jawab Mirna sambil menyunggingkan senyum. 
Matahari mengangguk-angguk, Mirna kurang tahu kenapa ia memikirkan hal itu. Pelan sinar matahari agak cerah kembali, bahkan lebih merah dari sebelumnya, mungkin ia bahagia dengan kerelaan Mirna yang mendengarkan curahan hatinya. Karena setiap hari ia harus mengeluarkan sinar ultravioletnya dengan maksimal pada petani garam, tembakau, padi dan lebih dari itu, ia harus menyinari keseluruhan yang ada di bumi permai ini.
“Lalu kenapa denganmu, mengapa setiap sore kau selalu di tempat kamu duduk sekarang?”matahari yang merendah di barat tiba-tiba bertanya tentang keadaan Mirna.
“Aku memikirkan suamiku?”
“Kenapa dengan suamimu, apa dia sedang sakit atau...?”matahari menggantungkan kalimatnya, mungkin ia akan bertaya macam-macam tentang penyakit. Pikir Mirna mengada.
“Tidak, suamiku sedang mengadili perkara yang kita bicarakan sedari tadi.”
“Maksudmu, suamimu pejabat negara?”dengan mimik yang binar, matahari bertanya.
Mirna mengangguk pelan dengan gelisah yang menyelimuti tubuh resahnya.
“Benar dia sedang mengurusi hal itu, sebenarnya aku ingin berbicara sesuatu padanya, tapi ia tidak punya banyak waktu,”ujarnya terkatung-katung.
Waktu itu tak ada percakapan yang mereka lontarkan. Keadaan hening, sehening keseharian Mirna yang selalu ditinggal sendiri. Entah kenapa saat Mirna mengatakan pekerjaan suaminya, tiba-tiba mata Mirna berkaca-kaca, bibirnya kalu tak bisa bicara, tubuhnya lesu bak selesai berolah raga hari minggu. Kenapa ini Tuhan! Jeritnya dalam hati. 
“Kenapa kamu menjerit?”Mirna terperenjat ketika mendengar ucapan matahari.
Kenapa matahari tahu isi hatiku, bukankah yang tahu isi kalbu hanya Tunah selalu. 
Dengan wajah pura-pura datar Mirna berucap.
“Tidak, aku tidak menjerit, dari tadi aku menunduk meratapi kegudahan yang melanda ini.”
“Iya tah? Tunggu dulu...?”matahari menggantungkan kalimatnya lagi.
Mirna heran dan berharap matahari tidak tahu isi hatinya.
“Tidak itu bukan jeritanmu, itu jeritan anak burung yang merindukan induknya, dan ia ada di pohon yang tinggi itu,”ujar matahari dengan suara lembut dan melirik pohon tinggi yang ia sebut tadi.
Mirna menghela nafas panjang, beruntung matahari tidak tahu apa yang dialami hatinya. Seandainya ia tahu, apa yang harus ia katakan, dan tidak mau jika matahari tahu kalau suaminya termasuk dalang yang meresahkan keadaan negeri.
Matahari mulai menurun di ufuk barat. Burung-burung berseliweran kembali ke sarang. Kunang-kunang satu dua mulai tampak di kegelapan. Desir angin terasa sejuk, awan-awan tampak jingga kemerahan.
“Tak lama lagi kau akan pergi,”ucapku memecah keheningan.
“Iya kamu benar, dan ini yang aku harapkan, karena aku tidak kuat dari pagi hanya menyinari kerusuhan yang merusak fitrah bumi,”dengan sinar jingga kemerahan, matahari menjawab.
“Terus, kapan kau akan kembali?”tanya Mirna lagi.
“Mungkin setelah kerusuhan ini menemukan benang merahnya,”dengan suaranya yang tertelan malam, matahari berujar diiringi senyum ranumnya. 
“Itu terlalu lama,”celetuk Mirna dengan segumpal resah.
“Kau benar, karena aku tidak mau membuang sinarku hanya untuk kerusuhan. Padahal andai kau tahu, sinarku adalah rahmat, bukan untuk orang yang laknat, melainkan untuk orang yang berlaku terhormat,”Mirna tertegun mendengar kalimatnya, ia sadar selama ini Mirna termasuk orang laknat, karena banyak orang yang ia acuhkan.
“Sebelum aku pergi, negeri ini akan kekal jika para pejabat negara tidak mengabaikan kehormatannya?”pesannya sebelum pergi dari bumi yang dihuni pendusta.
“Maksudmu?”
“iya, negeri ini akan permai dan damai, karena banyak koruptor yang tidak lalai dengan pekerjaannya. Coba kau bayangkan jika koruptor tidak lalai dengan mandat negara, betapa tentramnya negeri ini,”matari turun sangat pelan, suara lesap tertelan kebisuan.
Mirna menunduk, meratapi kepergian matahari pada malam gulita. Matahari benar, apa yang matahari katakan. Dalam hati Mirna tidak tega melihat matahari yang geram, wajahnya muram. Berapa kepedihan yang ia tanggung dan bersemayam di lubuk hatinya yang dalam. Ia adalah makhluk pemberi rahmat. Hati kecilnya pedih, mata Mirna terasa perih. Ingin sekali Mirna menitikan air mata, tapi tak ada guna, mereka keras kepala dan pembuat letih. Sungguh indah jika koruptor tidak mengabaikan mandat negara. Batinnya sambil membayangkan negeri yang damai.

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.