News Kawaca TV
Tonton
wb_sunny

Breaking News

Belajar Bahasa Indonesia Melalui Kenakalan Susu Bikini - Ema Afriyani

Belajar Bahasa Indonesia Melalui Kenakalan Susu Bikini - Ema Afriyani

Belajar Bahasa Indonesia Melalui Kenakalan Susu Bikini
oleh Ema Afriyani

Judul Buku      : Susu Bikini
Penulis             : Encep Abdullah
Penerbit           : #Komentar
Cetakan            : Pertama, Juli 2019
Tebal                 : xii + 139 halaman
ISBN                  : 978-623-91021-6-6

Judul buku ini mbelink, tapi isinya wow amazing.
Jangan menilai buku dari sampulnya, begitu kata banyak orang ketika rampung membaca sebuah buku, dan mendapati buku tidak sesuai ekspektasi saat hanya jatuh cinta melalui berpandangan dengan sampulnya saja. Tapi kalau untuk buku ini, saya simpulkan bahwa, jangan menilai buku dari judulnya. Walaupun judulnya terkesan nakal, tapi buku ini sehat untuk dikonsumsi akal.

Pilihan judul pada buku ini sukses membuat saya tertarik sehingga mampu melahapnya dalam waktu tidak lebih dari satu hari. Ditambah bahasa yang digunakan sangat ringan membuat setiap tulisannya mudah dipahami. Tidak hanya itu. Tulisan Encep Abdullah dengan cetusan ide-ide gilanya juga membuat saya sering tergelak.

Misalnya pada tulisan berjudul susu. Awalnya pada tulisan ini penulis menceritakan tentang Susu Kental Manis. Penulis benar-benar meneliti sampai ke akar-akarnya dengan memberikan informasi yang dikutip dari berbagai sumber (situs BPOM, pendapat Holy Adib di Facebook pada 8 Juli 2018, juga melalui Wikipedia). Mungkin karena keasyikan menulis sampai ke akar-akarnya, dan ingin menyajikan informasi yang lengkap, sampai Encep Abdullah ngelantur dengan pikiran jahilnya, dari mana asal kata susu? (Hal. 16)
Dalam tulisan tersebut, Penulis menuangkan gagasan yang briliant karena bersusah payah membuatkan hiburan tapi masuk akal. Penulis mengaitkan bahwa kata susu bisa saja berasal dari kata pada bahasa Inggris so so, atau show show. Dengan membaca buku Susu Bikini, teman-teman seperti belajar menyelam ke dasar laut ditemani badut. Karena belajar tidak melulu harus serius. Asal candaan yang dihasilkan memiliki sebuah ilmu yang dapat dipetik.

Membaca buku Susu Bikini yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis dengan dunia kebahasaan, membuat teringat bahwa di sekitar saya memiliki permasalahan sama seperti dalam tulisan bertajuk Pada.

Sewaktu masih mengenyam pendidikan di SMK, teman-teman bahkan saya sendiri sering menambahkan sebuah ujaran dengan kata pada. Sama persis seperti contoh yang diberikan penulis. Yaitu, (1) "Kalian mau pada [pergi] ke mana?", (2) "Ah, nggak asyik lu pada!" (3) "Kok, pada sepi, sih?" (4) "Aku cinta padamu", dan (5) "Tersimpan pada laci". (Hal. 47)

Ujaran yang digunakan dalam sehari-hari biasanya juga sering terbawa ketika mendapat tugas membuat tulisan. Yang ternyata contoh ujaran tersebut menyalahi kaidah ketika diaplikasikan pada bahasa tulis. Karena tidak digunakan pada tempatnya. Seharusnya ujaran (1), (2), dan (3) kata pada dihilangkan. Ujaran (4) kata pada diganti dengan kepada. Dan ujaran (5) kata pada diganti dengan di. Sungguh, ada satu ilmu baru yang dapat saya petik dengan membaca buku sekumpulan esai bahasa ini.

Permasalahan tidak hanya dijumpai dalam tajuk Pada, tapi juga tulisan berjudul Kamar Mandi. Bahwa masih banyak murid di sekolah yang menggunakan kalimat, "Permisi, Pak. Saya mau izin ke kamar mandi", saat hendak buang air kecil atau buang air besar. Merujuk dalam KBBI, kamar mandi berarti bilik tempat mandi. Sedangkan tidak mungkin ada murid yang izin ke kamar mandi untuk mandi.

Membaca Susu Bikini, kita mendapat panduan belajar bahasa Indonesia. Bagaimana menempatkan sebuah kata agar menjadi bacaan dengan bahasa yang benar.
Jika menurut André Möller, buku Susu Bikini layak dibaca oleh setiap orang yang memiliki ketertarikan kepada bahasa Indonesia, tapi kalau menurut saya, buku ini harus dibaca oleh semua orang Indonesia walaupun tidak memiliki ketertarikan dengan bahasa Indonesia. Apalagi para remaja. Walau bakatnya cuma menulis caption, tapi setidaknya tulisan yang mereka bubuhkan untuk foto yang di-upload, sesuai dengan kaidah bahasa yang benar. Agar enak dibaca.

Pengaplikasian itu tidak harus langsung pada hal besar. Karena semua berawal dari hal kecil. Dan belajar kebahasaan tidak harus menjadi seorang yang memiliki ketertatikan dengan dunia kebahasaan. Karena apa yang dipelajari akan memiliki kegunaan suatu saat nanti. Dan dengan belajar bahasa Indonesia yang benar menjadi salah satu bentuk kecintaan kita pada negara ini.

Terimakasih Encep Abdullah yang telah menyajikan bahan pelajaran bagi saya, pemerhati bahasa, dan seluruh orang di Indonesia.

____
Tentang
Ema Afriyani lahir di Kendal, Mei 2001. Alumni SMK Negeri 1 Bintan jurusan Teknik Elektronika Industri. Hobi menulis dan bermaik sepak bola. Mari berkomunikasi agar menjadi erat melalui Facebook Ema Afriyani. IG @e.maaf. Email emaafriyani11@gmail.com.

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.