Live KAWACA TV
Tonton
wb_sunny

Kebodohan adalah Kemiskinan yang Sesungguhnya - Muhammad Syafii Antonio

Kebodohan adalah Kemiskinan yang Sesungguhnya - Muhammad Syafii Antonio

Kebodohan adalah Kemiskinan yang Sesungguhnya
oleh Muhammad Syafii Antonio


KAWACA.COM | Banyak orang yang takut hidup dalam kemiskinan. Tapi, tidak sedikit pula orang yang tenang-tenang saja dalam hidupnya meskipun mereka berada dalam kebodohan. Padahal, kebodohan adalah bentuk lain dari kemiskinan. Bahkan, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Tidak ada kemiskinan yang melebihi kebodohan“.

Mengenai hal ini, Plato (427 SM 347 SM), seorang filsuf Yunani mengatakan, “Better off not being born than not educated, because ignorance is the root of poverty”, artinya;  lebih baik tidak terlahir daripada tidak terpelajar, karena kebodohan merupakan akar dari kemiskinan. Kebodohan adalah sumber dari segala sumber kemiskinan. Tidak saja miskin dalam hal ilmu, melainkan juga penyebab dari kemiskinan akhlak dan harta benda. Memang, tidak ada jaminan bahwa orang yang berilmu itu berakhlak mulia serta banyak harta (kaya). Namun, tidak ada akhlak yang terpuji tanpa dilandasi suatu pemahaman ilmu (agama), serta tiada orang yang berhasil meraih kesuksesan materi (kekayaan) tanpa dicapai melalui pengamalan ilmu (pengetahuan untuk meraihnya). 

Membekali diri dengan ilmu, ternyata juga merupakan sarana dalam meraih kedudukan yang terhormat. Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya ilmu (pengetahuan) menempatkan pengamalnya dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat”. Bagimana dengan orang yang tidak berilmu alias bodoh? 
Orang yang berilmu, pikiran, ucapan serta perbuatannya penuh hikmah. Orang bodoh (tidak berilmu), pikiran, ucapan, dan perbuatannya bisa menyesatkan bahkan mencelakakan. Tidak hanya dapat mencelakan dirinya, melainkan bisa juga berdampak pada orang lain. Menurut fi lsuf Jerman, Johann Wolfgang Von Goethe (17491832), “Tak ada yang lebih mencelakakan daripada bekerja (melakukan sesuatu) tanpa dilandasi ilmu (pengetahuan).” 

Memang, banyak orang berilmu tapi menyalahgunakan ilmu yang dimilikinya. Mereka adalah orang-orang yang ilmunya tidak bermanfaat, kecuali dalam kedzaliman demi meraih atau memenuhi nafsu destruktifnya. Orang berilmu tapi tidak bermanfaat ilmunya, serta orang bodoh namun merasa puas dengan keadaan dirinya, sama-sama membawa diri mereka dalam bahaya kesesatan dan kezaliman. Perihal ilmu yang tak bermanfaat, pepatah Arab mengatakan, “Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah.” Padahal dari buah yang dihasilkan ini terkandung biji-bijian yang menjadi cikal bakal tumbuhnya pohon-pohon baru. 

Selain itu, buah-buahan tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh makhluk lain termasuk manusia. Filosofi  ini menyiratkan; ilmu seharusnya membuahkan hasil yang memberi manfaat, baik dalam mendukung keberlangsungan hidup dirinya maupun bagi orang lain. 

Singkatnya, ilmu yang bermanfaat lagi membaikkan memberkahkan kehidupan pengamalnya. Ada yang mengartikan bahwa berkah merupakan kebaikan yang melimpah dan menetap. Keberkahan hidup tidak diukur dengan melimpahnya harta, tingginya jabatan, atau pun kehebatan status keduniawian lainnya. Begitu berharganya ilmu (yang bermanfaat), Rasul Saw memotivasi semua pengikutnya untuk mencari ilmu. Sabdanya, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang Islam laki-laki maupun perempuan.” HR. Ibnu Mājah, no.224

Hebatnya lagi, ilmu yang bermanfaat adalah kekayaan yang tidak pernah berkurang, apalagi habis menghilang. Ia laksana air hujan membasahi bumi. Dengan air itu kehidupan di bumi bisa tetap berlanjut. Sebagaimana diceritakan Abu Musa, Nabi Saw bersabda, “Petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan lebat yang mengenai tanah. Tanah itu ada yang gembur dan dapat menerima air, lalu tumbuhlah rerumputan yang banyak. Daripadanya ada pula yang keras dan mampu menahan air, sehingga dengannya Allah memberi manfaat kepada manusia; mereka minum, menyiram, dan bertani....”. HR. Bukhārī, No. 79

Dari hadits yang diriwayatkan Ar-Rabii’, beliau bersabda, “Tuntutlah ilmu. Sesungguhnya, menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla, sedangkan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat.” akhirat.”

Sikap dan perilakunya yang senantiasa mengarah pada perbaikan diri dan kemajuan kehidupan, layak menimbulkan perasaan iri bagi siapa pun yang menghendaki kesuksesan dan kebahagiaan. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Nabi Saw bersabda, ‘Tidak boleh iri hati kecuali pada dua hal, yaitu; seorang yang diberi harta oleh Allah lalu digunakan dalam kebenaran, dan seorang diberi hikmah (ilmu) oleh Allah di mana ia memutuskan perkara dan mengajar dengannya.” HR. Bukhārī, No. 73, Kitāb Al Ilmi, Bāb Al Ighthibāt fi l ilmi wal hikmati. 

Allah juga meninggikan derajat orang yang berilmu (QS. Al-Mujadilah : 11). Secara logika, naiknya derajat ini dikarenakan adanya pemahaman; berkat ilmunya ia menjadi pribadi yang berakhlak mulia, berkarakter produktif/profesional, serta selalu berpandangan positif dalam menghadapi setiap masalah dan kehidupan. Allah juga meninggikan derajat orang yang berilmu (QS. Al-Mujadilah : 11). Secara logika, naiknya derajat ini dikarenakan adanya pemahaman; berkat ilmunya ia menjadi pribadi yang berakhlak mulia, berkarakter produktif/profesional, serta selalu berpandangan positif dalam menghadapi setiap masalah dan kehidupan.

Laksana siang dengan terang benderangnya, dan malam dengan gelap gulitanya; itulah kira-kira analogi antara orang yang berilmu (dan mengamalkannya) dengan orang yang tidak berilmu. Keduanya tampak berbeda; baik dari cara berpikir, dalam hal berkata, maupun dalam bertindak. Mengingat begitu jelas di antara keduanya, sehingga dalam suatu kalimat tanya retoris, Allah Swt berfirman; 

“… Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (bodoh)?...” QS. Az-Zumar: 9

Tags

GRATIS BERLANGGANAN

Dengan berlangganan, kamu tidak akan ketinggalan postingan terbaru Kawaca setiap harinya.